Berawal disalahpahami hendak mengakhiri hidup, kehidupan Greenindia Simon berubah layaknya Rollercoaster. Malam harinya ia masih menikmati embusan angin di sebuah tebing, menikmati hamparan bintang, siangnya dia tiba-tiba menjadi istri seorang pria asing yang baru dikenalnya.
"Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menjadi istriku."
"Kau gila? Aku hanya sedang liburan, bukan sedang mencari suami."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan Baru
Greenindia menatap Rex Carson dengan mata terbelalak, wajahnya kembali pucat. Rasa lelah dan jengkelnya mencapai puncaknya. Situasi ini benar-benar absurd.
“Apa katamu?” tanya Greenindia, nyaris berbisik. "Melepas celana? Aku... aku tidak akan melakukan itu."
Rex bersandar santai di kursi rodanya. Wajahnya jelas menunjukkan keletihan, tetapi ia menutupinya dengan aura arogan yang kini terasa menjengkelkan bagi Greenindia.
“Jangan dramatis, Nyonya Carson. Kau pikir aku akan melakukan pelecehan saat aku demam tinggi dan kakiku tertusuk pisau lipatmu?” Rex mendengus. “Aku kesulitan menggerakkan kaki. Antonio menyuruhmu merawat lukanya. Dan, ya, untuk itu kau harus melepaskan celana training yang aku pakai. Kau harus merobeknya, kurasa.”
Greenindia menelan ludah. Ini adalah situasi paling canggung dan gila yang pernah ia hadapi, bahkan melebihi pernikahan paksa mereka. Namun, rasa bersalah dari sebelumnya—ketika ia menyalahkan Rex yang membawanya ke rumah sakit—masih menghantuinya. Ia tahu Rex kesakitan dan terluka karena kebodohannya.
Greenindia menghela napas, kalah. “Baiklah. Di mana kotak P3K?”
Rex menunjuk ke koper hitam besar yang dibawa Antonio dan anak buahnya tadi malam. “Di dalam koper itu. Di bagian atas. Cepat, Green. Aku tidak punya waktu seharian.”
Greenindia menyeret koper itu ke tengah ruang tamu. Beratnya terasa tidak masuk akal. Ketika ia membukanya, ia terkejut melihat isinya: bukan hanya peralatan P3K canggih, tetapi juga beberapa set pakaian desainer mahal, tablet mahal, dan dokumen-dokumen bisnis. Apartemen kecilnya yang hanya berisi sofa usang dan TV jadul mendadak terasa seperti gudang penyimpanan barang-barang jutawan.
“Kau yakin ini hanya koper biasa?” gumam Greenindia, mengambil kotak P3K dan beberapa perlengkapan medis steril.
"Aku tidak bepergian dengan barang-barang biasa, Green," jawab Rex, seringai tipis muncul di wajahnya.
Greenindia membungkuk di depan Rex, berusaha keras memusatkan perhatiannya hanya pada luka. Ia mengabaikan fakta bahwa ia berhadapan dengan seorang pria bertelanjang dada dengan tubuh yang terbentuk baik. Jantungnya berdebar tidak nyaman.
“Aku tidak bisa melepaskannya,” kata Greenindia, nadanya dingin. Celana training itu terlalu ketat di sekitar lututnya yang bengkak karena luka, dan ia tidak ingin membuat Rex kesakitan.
"Robek saja," Rex menyuruh tanpa peduli.
"Robek? Ini celana mahal, kan? Apa kau punya uang untuk membelinya lagi?" Greenindia menuduh dengan nada sarkas.
"Aku bisa membeli seribu celana seperti ini hanya dengan uang yang ada di saku jas Antonio. Itu hanya sepotong kain, Green. Cepat. Ambil gunting di kotak itu dan robek bagian lututnya," perintah Rex, suaranya mulai menunjukkan ketidaksabaran.
Dengan wajah cemberut, Greenindia mengambil gunting dan merobek celana training mahal itu. Kain itu robek dengan suara keras dan memalukan di keheningan pagi. Robekan itu memperlihatkan perban putih yang kini ternoda merah gelap di beberapa bagian.
“Lihat? Berdarah lagi,” kata Greenindia, nada suaranya sedikit mengandung rasa bersalah yang tulus. “Ini salahku. Aku terlalu keras kepala.”
Rex menatap Greenindia, terkejut mendengar kata maaf yang tulus dan pengakuan kesalahan. Ia biasanya mengharapkan perdebatan yang sengit, bukan kelembutan. Rex tiba-tiba merasa canggung dengan perhatian wanita itu.
"Jangan minta maaf," Rex menyuruh, berusaha mengembalikan suasana dingin. "Aku tidak suka wanita yang meminta maaf. Ganti saja perbannya."
Green mulai bekerja. Ia dengan hati-hati melepaskan perban lama, membersihkan luka tusukan yang kini terlihat jauh lebih dalam dan mengerikan daripada yang ia kira. Luka itu memang perlu dijahit, tetapi perawatannya dilakukan dengan sangat baik di rumah sakit. Ia membersihkan area luka dengan teliti, menuangkan cairan disinfektan. Rex hanya sesekali mendesis menahan sakit.
Jarak mereka sangat dekat. Green bisa mencium aroma sabun dan cologne mahal yang masih melekat di kulit Rex, bercampur dengan aroma disinfektan yang menusuk. Ia mencoba menahan napas.
“Kenapa kau sangat membenci rumah sakit?” Rex tiba-tiba bertanya, suaranya pelan dan mengalihkan fokus Greenindia dari lukanya.
Greenindia tersentak. Ia menatap mata Rex. "Aku tidak membencinya. Aku hanya tidak menyukai baunya."
"Baunya? Baunya sama di mana-mana. Itu adalah bau kebersihan. Kau berbohong," Rex menyelidik, pandangannya tajam. "Tadi malam, kau panik. Kau bahkan tidak mau disentuh. Katakan padaku, Nyonya Greenindia Carson, kenapa kau sangat membenci rumah sakit dan tusukan jarum?”
Greenindia berdiri tegak, menjauhkan dirinya dari tubuh Rex. Ia mencoba memasang tembok yang biasa ia gunakan untuk melindungi dirinya. “Bukan urusanmu, Rex.”
“Sekarang ini adalah urusanku. Kita sudah menikah. Dan kau sudah membuatku penasaran, Greenindia. Siapa pencuri yang kau sebutkan tadi malam? Dan kenapa kau takut dituduh membunuh?” Rex menyergah, nadanya menuntut.
Greenindia merasa dadanya ditekan kuat-kuat. Kepalanya mendadak pening, bukan karena mabuk lagi, tapi karena ingatan yang menyakitkan. Ia tidak menyangka Rex mendengarkan kata-kata melanturnya.
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan,” Greenindia berbohong, kembali memasang wajah dingin yang sangat ia kuasai. “Itu hanya omong kosong orang mabuk. Lupakan saja!”
"Aku tidak akan lupa," balas Rex tajam. Ia menggerakkan tubuhnya sedikit, membiarkan tubuh bagian atasnya terlihat jelas oleh Greenindia. Itu adalah trik untuk mendominasi. "Aku akan mencari tahu segalanya tentangmu. Kau pikir kau bisa menyembunyikan masa lalumu dariku? Segala sesuatu yang ada di dirimu akan menjadi milikku."
Nyatanya, apa yang Rex lakukan saat ini adalah karena ketidakmampuannya mencari informasi tentang sang istri. Padahal, biasanya, Antonio hanya butuh waktu kurang satu hari tumpukkan data sudah ada di depan matanya.
"Cobalah!" tantang Green, matanya berkobar. Ia melemparkan perban bekas ke tempat sampah. "Sudah selesai. Kau tidak akan mati, Tuan Carson. Seharusnya aku membiarkanmu mati di tebing itu."
Rex hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang berbahaya. “Aku tahu aku tidak akan mati. Justru karena itu, aku akan tetap di sini, di apartemen kecilmu ini, sampai aku mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan aneh yang aku miliki. Dan ingat, kau istriku sekarang. Aturan di sini sudah berubah.”
Greenindia mendengus. "Jangan mimpi. Kau di sini hanya sebagai pasien yang merangkak. Kau tidur di sofa."
"Pasien yang merangkak ini adalah suamimu yang sah. Dan kau, Nyonya Carson, akan tidur di kamar bersamaku," Rex mengoreksi dengan nada tenang.
"Tidak akan!"
"Oh, ya. Aku butuh perawatan 24 jam. Siapa yang akan membantuku ke kamar mandi? Antonio tidak akan kembali sampai nanti malam," Rex menyeringai, matanya memancarkan kemenangan.
Greenindia terperangah. Ia memikirkan celah hukum dan kontrak gila yang mereka tandatangani. Jika ia menolak merawat suaminya, itu bisa dianggap melanggar kontrak.
"Baiklah. Tapi aku yang menentukan aturannya," kata Greenindia, nadanya mengeras.
"Silakan," balas Rex, memasang perban elastis di sekitar lututnya sendiri, seolah meremehkan bantuan Greenindia.
Greenindia menunjuk ke kamar. "Kau tidur di ranjang, aku tidur di lantai. Ranjangku sempit."
"Tidak. Aku tidur di ranjang. Dan kau juga. Tapi kita akan memasang sekat di tengahnya," Rex setuju dengan aneh. "Kau tidak akan bisa tidur nyenyak jika aku menendangmu saat tidur."
Greenindia menatapnya dengan curiga, tetapi ia mengangguk. "Dan jangan pernah menyentuhku. Sekali kau menyentuhku tanpa izin, aku akan menusukmu lagi, dan kali ini, aku tidak akan meleset."
"Mengancam suamimu yang terluka?" Rex tertawa pelan, tawa yang membuat Greenindia semakin kesal. "Menarik. Kau boleh mencoba. Tapi ingat, kalau kau menyentuhku, aku akan membalas. Aku tidak tahu batasanku ketika sedang marah, Greenindia."
Greenindia hanya bisa menghela napas dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Rex dan bau disinfektan yang menusuk. Hubungan mereka memang sudah tidak masuk akal sejak awal, tetapi sekarang, di tengah apartemen kecilnya, dengan Rex duduk di kursi roda dan segala rahasia yang terungkap saat ia mabuk, semuanya terasa seperti mimpi buruk yang nyata dan tidak berkesudahan.
semangat up