NovelToon NovelToon
Vengeance Of A Killer.

Vengeance Of A Killer.

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Anak Genius / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Ilmu Kanuragan
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Lucas, pembunuh bayaran paling mematikan dari Akademi Bayangan Utara, adalah master pisau dengan elemen air yang tak tertandingi. Obsesinya untuk menjadi yang terbaik dan persaingannya dengan Diana, senior ahli pedang es, membentuk dirinya. Namun, kedamaian hancur saat akademi diserang. Master Loe dan Niama gugur, memicu amarah Lucas yang melepaskan kekuatan airnya menjadi badai penghancur. Di tengah reruntuhan, Lucas bersumpah membalas dendam atas kematian mereka. Dengan sebuah lambang spiral gelap sebagai petunjuk satu-satunya, ia memulai misi pencarian dalang di balik kehancuran ini. Akankah balas dendam mengubahnya atau ia menemukan kebenaran yang lebih dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebangkitan Pengguna Elemen Petir

Pagi yang cerah menyambut Sekte Pedang Berbunga. Di halaman latihan yang luas, Diana sedang mengasah kemampuan pedangnya. Ia mengayunkan dua bilah pedangnya dengan anggun, setiap gerakannya memancarkan aura es yang dingin namun mematikan. Keringat menetes dari pelipisnya, tapi tekad di matanya tak pernah pudar.

"Sudah siap, Diana? Ayo kita mulai!" sebuah suara ceria menyapa. Ellyza, murid senior yang dikenal memiliki kecepatan luar biasa, mendekat dengan senyum lebar. Rambut cokelatnya tergerai indah, memantulkan cahaya matahari pagi. Ia membawa dua pedang kayu di tangannya, selalu siap untuk mendorong batas kemampuannya.

Diana menghentikan ayunannya, menatap Ellyza. "Tentu saja, Ellyza. Aku tahu kau tidak akan menahan diri," jawabnya. Senyum tipis mengembang di bibir Diana. Ia sering melihat percikan energi di sekitar Ellyza saat temannya itu bergerak cepat, petunjuk dari elemen yang tersembunyi namun sudah dikenali.

"Bagus kalau begitu! Ayo pemanasan dulu!" ajak Ellyza, mengayunkan pedang kayunya. Kecepatan dan kelincahannya memang luar biasa, membuat setiap serangannya sulit ditebak. Gerakannya ringan, seperti embusan angin yang berputar-putar, namun terkadang ada kilatan energi halus yang menyertainya.

Diana mengangguk. Ia tahu Ellyza adalah lawan latihan yang sempurna, terutama dengan elemen petir yang kadang tak terduga. Ellyza selalu mendorongnya melampaui batas, membuatnya menemukan kekuatan yang tidak ia sadari. Mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama di area latihan.

Pertarungan latihan dimulai. Pedang kayu beradu, menghasilkan bunyi "tak tak tak" yang berirama. Diana menyerang dengan presisi, menggunakan elemen esnya untuk melapisi bilah pedang. Setiap ayunan menciptakan embusan angin dingin yang menusuk.

Ellyza menangkis serangan Diana dengan lincah, menghindar dari setiap bilah es yang melesat ke arahnya. Ia masih mengandalkan kecepatan dan kelincahan alami, sesekali membiarkan sedikit energi petir mengalir di pedangnya untuk memberikan kejutan. Gerakannya begitu cepat sehingga terlihat seperti bayangan.

"Kau terlalu menahan diri, Ellyza!" seru Diana, sedikit frustrasi. Ia merasakan Ellyza masih menyembunyikan sebagian besar kekuatannya. Diana mempercepat serangannya, mencoba mengepung Ellyza dari berbagai arah, berusaha memancing elemen petir Ellyza keluar sepenuhnya.

Tiba-tiba, Diana melancarkan serangan kombinasi yang kuat. Ia melompat tinggi, lalu menukik dengan kedua pedangnya membentuk huruf "X". Es dingin berkumpul di ujung pedangnya, siap membekukan apa pun yang disentuhnya. Ini adalah serangan yang dirancang untuk memaksa Ellyza mengeluarkan elemennya.

Ellyza melihat serangan itu datang. Ia tahu tidak bisa menghindar selamanya, dan sudah saatnya. Sebuah dorongan kuat mengalir dalam dirinya, insting untuk melepaskan semuanya. Matanya berkilat, dan udara di sekitarnya terasa tegang dengan energi yang mendesis.

Sebuah kilatan cahaya biru terang meledak dari tubuh Ellyza. Dalam sekejap, petir menyambar, mengalir deras di sepanjang pedang kayunya. Ellyza mengayunkan pedangnya ke atas, menangkis serangan Diana dengan kekuatan luar biasa. "BUGGH!" Suara dentuman keras menggema, dan tanah di bawah mereka sedikit retak.

Diana terpental mundur, pedangnya terlepas dari genggaman. Matanya membelalak kaget melihat Ellyza yang kini dikelilingi aura listrik pekat. Pedang kayu Ellyza masih memancarkan cahaya biru yang menyilaukan, percikan petir menari-nari dengan ganas di sekitarnya. Ini adalah Ellyza yang melepaskan elemen petirnya tanpa batas.

Ellyza sendiri merasakan sensasi luar biasa. Energi yang bergejolak itu terasa liar, kuat, dan membebaskan. Ia sudah tahu dirinya memiliki elemen petir, tetapi tidak pernah sekuat ini. Jantungnya berdebar kencang, merasakan aliran energi yang mampu menghancurkan apa saja.

"Ellyza, kau... kau akhirnya menunjukkan kekuatan penuhmu!" tanya Diana, suaranya tercekat. Ia mengambil pedangnya yang terjatuh, menatap Ellyza dengan campuran kagum dan sedikit takut. Ini adalah momen yang Diana tunggu-tunggu, tapi intensitasnya jauh melampaui perkiraannya.

Ellyza menatap telapak tangannya yang masih diselimuti percikan petir, lalu ke arah Diana. "Aku tidak menyangka bisa sampai sekuat ini," katanya, suaranya masih sedikit bergetar karena luapan energi. Ia berusaha menenangkan diri, mencoba mengendalikan badai petir yang baru saja ia lepaskan.

Master Brian, yang sedang berjalan melewati halaman latihan, berhenti tiba-tiba. Ia melihat kilatan petir dan mendengar dentuman keras yang menggetarkan. Matanya menyipit saat menatap Ellyza, senyum tipis yang penuh perhitungan terukir di bibirnya. "Elemen petir yang menarik," bisiknya, suaranya rendah dan penuh rencana.

Lucas berjalan menyusuri jalan setapak, langkahnya mantap menuju Sekte Pedang Berbunga. Jubah polos berwarna abu-abu yang ia kenakan menutupi tubuhnya, dan rambutnya yang rapi membuat wajahnya terlihat lebih biasa. Sorot matanya yang tajam telah ia samarkan, diganti dengan ekspresi penuh kerendahan hati.

Di benaknya, ia terus mengulang informasi yang sudah dikumpulkannya. Sekte Pedang Berbunga dikenal karena selektivitasnya yang tinggi. Ia harus menampilkan diri sebagai pemuda pengembara yang haus akan ilmu pedang, bukan seorang pembunuh bayaran ulung. Setiap detail kecil dari penyamarannya harus sempurna.

Perjalanan itu memakan waktu seharian penuh. Saat senja mulai tiba, sebuah gerbang besar yang menjulang tinggi terlihat di kejauhan. Gerbang itu terbuat dari kayu gelap, dihiasi ukiran pedang yang artistik, simbol Sekte Pedang Berbunga. Lucas merasakan getaran tegang, misi penyamarannya akan segera dimulai.

Ia mendekati gerbang itu dengan hati-hati. Dua penjaga berdiri tegak di sisi kiri dan kanan, pedang tergantung di pinggang mereka. Mata mereka tajam, mengawasi setiap orang yang mendekat. Lucas memperlambat langkahnya, mengambil napas dalam-dalam, dan memasang wajah polos.

"Selamat sore, Tuan-tuan," sapa Lucas dengan suara rendah dan sopan, berbeda jauh dari nada bicaranya yang biasa. Ia membungkuk hormat, menunjukkan rasa hormat kepada para penjaga itu. Ini adalah bagian dari aktingnya, berperan sebagai seorang pencari ilmu yang tulus.

Salah satu penjaga dengan pedang bermata satu menatapnya curiga. "Siapa kau, pemuda? Apa tujuanmu datang ke Sekte Pedang Berbunga?" tanyanya, suaranya berat dan tidak bersahabat. Penjaga lainnya tetap diam, tapi matanya tak lepas dari Lucas.

"Nama saya Lucian, Tuan," jawab Lucas, menggunakan nama samaran yang sudah ia persiapkan dengan matang. Ia memilih nama ini agar tidak terlalu mencolok, tapi juga tidak sepenuhnya asing bagi telinga. "Saya hanyalah seorang pengembara yang mendengar kabar tentang kehebatan Sekte Pedang Berbunga. Saya ingin memohon bimbingan untuk mengasah ilmu pedang saya."

Penjaga itu mendengus. "Banyak pemuda sepertimu yang datang kemari dengan harapan kosong. Sekte kami tidak menerima sembarang orang." Ia menyilangkan tangannya di dada, menunjukkan ketidaksukaan. Lucas tahu ia harus meyakinkan mereka.

"Saya mengerti, Tuan. Namun, saya tidak akan menyerah begitu saja," kata Lucas, nadanya terdengar tulus. Ia mengambil sikap merendah, menunjukkan bahwa ia siap menerima penolakan, tapi juga pantang menyerah. "Saya siap menghadapi ujian apa pun yang Sekte ini berikan."

Penjaga itu terdiam sejenak, mengamati Lucas dari atas sampai bawah. Postur Lucas yang tegap, meskipun dengan pakaian sederhana, memancarkan kesan tertentu. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat penjaga itu sedikit ragu untuk langsung mengusirnya.

"Bakatmu harus luar biasa, atau kau harus memiliki elemen yang kuat," kata penjaga satunya lagi, yang dari tadi diam. Suaranya lebih tenang, tapi tetap tegas. "Jika tidak, kau hanya akan membuang-buang waktu kami."

Lucas tahu ini adalah kesempatan. Ia harus menunjukkan sesuatu yang bisa menarik perhatian, tanpa mengungkap identitas aslinya. Ia tidak bisa menggunakan elemen airnya secara terang-terangan karena itu terlalu berbahaya. Ia butuh cara lain.

"Saya memiliki elemen, Tuan," kata Lucas, suaranya tenang namun jelas. "Elemen air. Meskipun sering tidak terlihat, kekuatannya dapat beradaptasi dan membentuk apa saja." Ia menatap kedua penjaga itu, menunggu reaksi mereka.

Penjaga pedang bermata satu itu mengangkat sebelah alisnya, sedikit terkejut. "Elemen air, katamu? Kalau begitu, tunjukkan pada kami, pemuda. Jangan hanya bicara." Nada suaranya menantang, ingin melihat bukti dari perkataan Lucas.

Lucas tersenyum tipis di dalam hati. Ini adalah momen yang ia tunggu. Ia melangkah sedikit ke depan, mengangkat tangan kanannya ke udara. Dengan konsentrasi penuh, ia membiarkan sedikit energi air mengalir keluar.

Dari ujung jari-jarinya, tetesan air mulai terbentuk. Tetesan itu tidak jatuh, melainkan melayang di udara, kemudian mulai berputar cepat, membentuk bola air kecil yang bening. Bola air itu bersinar redup di bawah cahaya senja, bergerak seolah memiliki kehidupan sendiri.

Kedua penjaga itu saling pandang, raut wajah mereka menunjukkan sedikit kekaguman. Mereka telah melihat banyak bakat, tetapi kemampuan mengendalikan air sehalus itu cukup jarang. Bola air itu kemudian membentuk sebuah pedang kecil, lalu kembali menjadi bola, dan akhirnya lenyap begitu saja ke udara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!