NovelToon NovelToon
Bad Girl In The School

Bad Girl In The School

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:63.6k
Nilai: 5
Nama Author: kdk_pingetania

Gimana ya rasanya punya empat kakak yang bad boy? Ditambah satu sahabat dari kecil yang sama bad boy nya?

Itu yang Clarissa rasakan. Awalnya gadis itu merasa senang, karena ia merasa terlindungi dengan adanya cowok-cowok itu. Tapi lama kelamaan ia merasa terkekang karena sifat protektif kakak dan sahabatnya itu. Apalagi saat Clarissa jatuh hati kepada seorang laki-laki yang awalnya adalah musuh bebuyutannya.

Akankah Clarissa diijinkan untuk merasakan manisnya jatuh cinta di masa putih abu-abu ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kdk_pingetania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjanjian

“Tiga permintaan.”

Gue mengernyitkan dahi.

"Maksud lo?"

"Lo gak lupa kan sama perjanjian kita?"

"Janji?"

Flahsback On

"Kita taruhan yuk!"

"Taruhan apa?" tanya gue saat berjalan masuk ke dalam klub.

"Kita banyak-banyakan minum. Yang duluan mabuk dia yang kalah, dan yang kalah harus kabulin tiga permintaan yang menang," ujar Darrel.

Gue mengangguk setuju. Kapan lagi gue bisa dapet kesempatan nyuruh-nyuruh Darrel.

Nah setelah itu kita mesen satu botol vodka. Darrel ngebuka botol itu terus nuangin ke gelas gue, “silahkan,” kata dia.

Gue langsung minum dengan sekali teguk. Gini doang mah gampang kalau kata gue. Orang gue sering adu kuat-kuatan minum sama kakak-kakak gue. Terus Darrel nuangin ke botolnya sendiri. Dia juga minum sekali teguk. Dari ekspresi Darrel yang santai banget, gue tebak dia juga kuat minum.

Terus dia nuangin minuman itu lagi ke gelas gue, berulang terus sampai akhirnya gue udah minum sepuluh gelas dan si Darrel udah minum sebelas gelas. Gila, si Darrel kuat banget. Darrel lagi-lagi nuangin minuman ke gelas gue, tapi kepala gue udah oleng, dan akhirnya gue kalah.

Flashback Off

"Woy melamun aja kerjaannya!"

Gue tersadar dari lamunan gue.

"Masih inget aja lo."

"Ya inget dong," katanya bangga.

"Terakhir lo minum berapa gelas?" tanya gue.

"Gue udah belasan kayanya, lo sepuluh gelas kan?" tanya Darrel.

"Tepatnya sebelas gelas, kan pas mabuk gue minum lagi,” kata gue bangga.

"Tapi tetep aja gue yang menang! Gue salut sama lo, gue kira lo bakal mabuk saat minuman kelima," katanya meremehkan.

"Apa permintaan lo?"

"Lo harus matuhin semua yang gue suruh!"

Sialan.

“Nggak mau!”

“Ga ada penolakan.”

***

Darrel Pov

Sekarang gue lagi main basket dan Rissa ikut sama gue. Oh iya, gue sekarang manggil dia Rissa, soalnya nama dia kepanjangan.

"Lo nggak ikut main?" Gue ngehampirin Rissa yang duduk di pinggir lapangan.

"Kenapa nggak ngajak dari tadi?" tanya Rissa bersemangat.

Gue akhirnya main bareng sama Rissa. Ternyata dia jago juga mainnya.

"Gue capek," ujar Rissa lalu duduk di kursi yang ada di ujung lapangan basket.

“Sa,” panggil gue.

“Apa?” tanya dia sambil natap gue dengan ekspresi muka yang capek banget.

"Lo ada lap ga?” tanya gue.

Rissa ngasi lap yang dia bawa. “Nih!”

“Lap in keringet gue," kata gue enteng sambil menunjukkan bagian leher gue yang basah.

"Enak aja lo! Bau tau!"

"Lo harus nurutin perintah gue!" Muka Rissa nampak kesal.

"Sialan emang lo!” Dia ngarahin lap itu ke leher gue. Gue emang sengaja minta kayak gitu sama dia, biar gue bisa deket terus sama Rissa.

Tiba-tiba Rissa mengarahkan lap ke muka gue. Dia mengusap kasar muka gue.

"Woi pelanan dikit dong!” protes gue.

"Rasain tuh! Keenakan kalau gue lap keringet lo lama-lama, secara gue Clarissa cewek yang paling cantikzl Dia ngelempar asal lap itu ke arah gue.

"Kepedean lo, najis gue," ejek gue. Sebenernya dia itu cantik. Tapi kalau gue akuin yang ada dia makin pede lagi.

"Dih gengsi amat ngakuinnya,” kata Rissa. “Anterin gue pulang! Ini udah jam sepuluh," kata dia.

Baru juga jam sepuluh pagi.

“Masih jam segini juga.”

“Gue takut kakak-kakak gue makin khawatir.”

"Oke, oke.” Gue mutusin buat setuju sama permintaan dia itu.

***

Clarissa Pov

Setan banget tuh si Darrel. Masa gue disuruh bawa tasnya sih!? Dan sekarang gue lagi nungguin dia di mobil. Sedangkan dia lagi ngobrol sama mantan-mantannya yang sekarang udah dianggap sahabatnya, itu sih katanya. KATANYA! Mana semuanya pada cantik lagi! Tapi tenang, masih cantikan gue, itu FAKTA ya. Pasti Darrel lebih milih gue daripada mantannya.

Eh?

Gue ngomong apa barusan?

Mungkin gue lagi error! MUNGKIN! Siapa tau gue cemburu! Kan bisa jadi!

Kok jadi ngaco sih?

"Woi, bengong aja!" kata Darrel sambil menutup pintu mobil.

Sejak kapan dia masuk ke dalem mobil?

"Gue tuh lagi nungguin orang yang kurang ajar banget sama gue, masa cewek secantik gue ditinggal di mobil sendirian sementara dia lagi bernostalgia sama mantannya yang cabe itu."

Kok gue jadi emosi gini ya? Apa gue lagi PMS ya? Atau mungkin gue marah gara-gara ditinggal sendirian dimobil!

"Kok lo marah-marah sih? Apa lo ...”

"Gue gak cemburu!"

"Gue gak ada bilang gitu,” ujar Darrel. “Jangan-jangan bener lagi!”

"Apaan sih?" pipi gue tiba tiba memanas kayak sambel lalapan. Astaga gue blushing, mau taruh dimana ni muka? Mbak kunti pinjem rambutnya buat nutup ni muka!

"Cie... gue tau gue ok, tapi ga usah pake blushing juga kali," katanya yang buat gue semakin salting,

Ciee ... salting nih ye!

Astaga suara siapa itu? Apa jangan-jangan mbak kunti beneran dateng?

***

"Gue pulang dulu ya! Bye!" Gue segera turun dari mobilnya Darrel.

"Besok jangan ada pelanggaran di sekolah!"

"Enak--"

"Lo harus nurutin semua perintah gue!"

"Iya! Iya!”

Ah sumpah si Darrel ngeselin banget. Tapi gue udah males debat sama dia. Lebih tepatnya gue sekarang lagi malu banget, makanya gue iyain aja. Abis itu gue langsung masuk ke dalem rumah. Dan tebak, gue langsung disambut oleh para kakak-kakak gue.

"Pagi!" kata gue.

Eh kok ada koper?

"Kamu udah pulang? Nginep di rumahnya Ulan ya?" tanya Mama sambil berlari memeluk gue, cipika-cipiki dan narik gue ke sofa.

"Iya. Mama kapan pulang kok gak bilang sih?" Gue masang muka cemberut.

"Udah kemarin malem, tapi karena kamu lagi di rumahnya sahabat mama jadi mama biarin aja kamu di sana. Mama denger-denger anaknya Si Ulan ganteng lho!" Mama tersenyum jahil.

Sementara kakak-kakak gue yang denger ucapan mama yang terselubung itu langsung melotot. Keluar dah tu mata!

"Nggak boleh!" ucap mereka serempak. Kompak banget dah!

"Apanya yang gak boleh? Adek kalian udah besar lho. Mau sampai kapan kalian ngelarang-larang dia?" tanya Mama.

"Udah ah, jangan bahas kayak gituan, mama bawa oleh-oleh buat aku?" tanya gue buat ngalihin topik pembicaraan. Karena gue yakin topik yang satu ini bakalan buat suasana rumah jadi nggak tenang.

"Ada dua koper!” seru gue pas liat ada dua koper di deket TV.

"Mama gak adil ah! Masa cuma Sasa aja yang dikasi!" rengek Kak Bryon.

"Gue udah besar! Jangan panggil gue Sasa lagi!" ujar gue dengan mata melotot.

"Hehehe... pis dek,"

"Ada, di mobil, udah diisiin nama kopernya jadi gak ada yang bakalan ketuker lagi," kata Mama.

Ngomong-ngomong soal ketuker gue jadi inget sama kejadian waktu Mama sama Papa ke Perancis dulu.

Flashback On

Hari ini Mama pulang dari Perancis, gue udah ga sabar banget liat oleh-oleh dari dia. Emang dasar anak durhaka, bukannya kangen ortunya, ini malah kangen oleh-olehnya.

Tin ... tin ...

Mama Papa masuk ke rumah bersamaan dengan para pelayan rumah gue yang langsung ngambil koper dan bawa masuk ke dalem rumah.

"Kak, Mama, Papa pulang!" seru gue. Kakak-kakak gue langsung lomba lari terus nyerobot koper yang baru aja ditaruh sama para pelayan.

"Ehh ... pelan-pelan, jatahnya cuma dua koper lho!" Mama berkaca pinggang saat melihat Kak Marchelle membawa tiga koper.

Sedangkan Kak Bryon dan Kak Verrel berebutan koper yang paling besar. Dan saat Kak Verrel kecapean. Kak Bryon langsung ngedorong Kak Verrel, dan lari dengan membawa dua koper.

"ANJ*R LO KAK!' teriak Kak Verrel sambil ngusap punggungnya. Kayaknya encok tuh!

Semua yang ngeliat itu termasuk Papa langsung ketawa ngakak. Dan gue hanya bisa menggeleng-geleng kepala.

"Itu kan koper Mama yang isinya piyama, baju tidur dan baju daleman," kata Mama pelan, mungkin ga ada yang denger kecuali gue yang kebetulan lagi di sebelahnya Mama.

"Ah kebagian sisa dah!" kata Kak Ryan yang baru keluar dari kamarnya.

"Gak papa kak, mudah-mudahan dapet yang bagus.” Gue ngambil satu koper dan naik ke atas.

"Wah rejeki nih dapet make up satu koper, kayaknya punya Mama deh, soalnya gak mungkin Mama beliin gue make up segini banyaknya, rejeki emang gak kemana," kata gue. Pas ngebuka koper satu lagi, senyum gue makin ngelebar. Isi koper itu sepatu, heels, baju dan celana yang kayaknya emang buat gue.

Tiba-tiba gue denger suara ribut Kak Marchelle sama Kak Bryon, gue pun segera turun.

"Hahaha” Tawa Papa. Gue yang kepo pun ikutan ngelihat apa yang sedang dibawa kakak gue yang sengklek ini, dan gue jadi ikutan ketawa juga.

Kalian mau tau?

Kak Marchele membawa dress tosca sedangkan Kak Bryon membawa baju tidur yang berisi gambar teddy bear.

"Woho! Gue dapet baju yang gue incar dari dulu!” teriak Kak Ryan.

"Lo mah enak, gue mah apa atuh," kata Kak Bryon lebay.

"Terima nasib aja," kata Kak Marchelle pasrah.

"Yee! Gue dapet sweater!" Kak Verrel keluar kamarnya lalu menunjukkan sweaternya pada kami semua.

"Wah rejeki emang gak kemana, gue juga dapet baju keren.” Kak Ryan bertos ria dengan Kak Verrel.

Flashback Off

1
Mukmini Salasiyanti
Enaknya pny abang....
Natasha
Gua iri sama rissa, dia enak bener punya abang perhatian kek gitu, ya gua punya abang perhatian kgk, baik cuma ada mau nya, dah lah komplit semua nya ☺️
Natasha
Wahhh kaya nya kakak orang Bali ya?
Tri Susanti
visualnya thoorr bikin gemes semua dech iiiihhhhh.....gemes dech gue thor
always alone 😌
serrru...
S1 GEMBEL
walah-walah orang kaya mah bebas yahh ... nama sekolah aja pake marganya, wkwk
vailyn🧚
klik favorit😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!