"Karena sudah terlanjur. Bagaimana jika menambah bumbu di atas omong kosong itu?"
Asha menatap Abiyan, mencoba mengulik maksud dari lawan bicaranya. Kedua mata Asha bertemu dengan milik Abiyan, ada sirat semangat yang tergambar di sana.
"Menikahlah denganku, Ash!"
Asha seorang wanita yang hidup sebatang kara menginginkan pernikahan yang bahagia demi mewujudkan mimpinya membangun keluarganya sendiri. Namun, tiga hari sebelum pernikahannya Asha diberi pilihan untuk mengganti mempelai prianya.
Abiyan dengan sukarela menawarkan diri untuk menggantikan posisi Zaky. Akankah Asha menerima ide gila itu? Ataukah ia tetap memilih Zaky dan melajutkan pernikahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cha Aiyyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Asha mematung di tempat, wanita itu linglung. Dari sekian banyak kalimat yang Abiyan ucapkan tidak ada satu pun yang masuk telinganya. Seolah telinganya menutup otomatis, pandangan matanya bahkan seolah kabur. Wanita itu berada di tengah-tengah batas kesadaran.
Abiyan memanggil-manggil nama Asha beberapa kali, dan entah pada panggilan ke berapa Asha akhirnya bisa kembali mendapatkan lagi pandangannya yang semula kabur.
"Ash, kamu baik-baik saja?"
Asha mengangguk dan pria di hadapannya terlihat lega. Lalu seolah tanpa menunggu Asha mencerna kembali apa yang terjadi, pria itu lagi-lagi menarik tangan Asha dengan lembut namun menuntut. Asha terpaksa berdiri mengikuti.
"Karena waktunya sangat mepet aku dan Asha akan berangkat sekarang menuju butik dan toko cincin. Ibu tolong konfirmasi pada pemiliknya! Kami berangkat," pamit Abiyan pada kedua orang tuanya, tanpa peduli jika mereka semua kebingungan. Bahkan sepertinya pria itu juga tidak sadar jika Asha masih sangat kebingungan dengan semua hal yang terjadi dengan begitu tiba-tiba itu.
Semua hal terjadi begitu cepat dan Asha masih berada di antara batas kesadarannya, mengikuti apa pun yang Abiyan lakukan tanpa protes. Ia bahkan tidak sadar jika sudah memakai gaun yang menjadi pilihannya, sebelumnya Asha hanya melihat dan memilih melalui gambar yang di kirimkan oleh pihak butik padanya sewaktu dirinya masih berada di Paris.
Rambutnya ditata sedikit lalu dipasangkan hiasan kepala. Kemudian tiba waktunya untuk tirai di buka, tirai panjang menjuntai yang menjadi pembatas antara dirinya dan Abiyan yang menunggu di luar sana.
Asha berdiri dengan gaun Elysia Bloom, gaun yang hanya pernah ia dengar sekali tanpa tahu bentuk aslinya. Tapi kini, gaun itu seolah menyatu dengan tubuhnya.
Bagian atas gaun terbuat dari renda tipis, menjalar dari bahu hingga dada atas yang membentuk garis leher. Membingkai kulit pucatnya dengan begitu lembut.
Lengan kecilnya nyaris tak tersentuh lengan baju, hanya dilindungi ujung renda yang menggantung. Di bagian pinggang, aksen peplum kecil dari kain yang dilipat rapi membentuk kerutan anggun, menciptakan ilusi kelopak mawar yang mekar pelan. Menyiratkan sebuah harapan baru yang ia bawa sendiri.
Lalu siluet A line klasik mengalir dari pinggang, menyamarkan detak jantung yang gugup di balik wajah tenang Asha. Gugup. Ya, tentu saja. Wanita itu gugup, haruskah ia melanjutkan kesepakatan yang ia buat dengan Abiyan atau tidak. Ia ingin sekali menunjukkan bahwa dirinya tidak bodoh untuk hanya berdiam diri di balik pengkhianatan sehingga ia berani untuk mengambil kesempatan dengan mengantungi harapan baru.
Pernikahan. Asha tidak akan pernah main-main dengan itu. Baginya pernikahan hanya cukup sekali dalam hidupnya, dan itu berarti Asha harus siap menerima Abiyan sebagai partner hidupnya selamanya. Atau jika ada kemungkinan terburuk, Asha harus siap untuk tidak lagi mengharap adanya pernikahan ke dua. Itu prinsip yang ia pegang teguh sejak remaja.
Asha berhadapan dengan Abiyan. Tubuhnya yang di balut gaun pengantin pilihannya tampak memukau, seolah gaun itu dibuat memang hanya untuk dirinya. Begitu pas dan indah.
Abiyan menatap Asha dalam hening. Seolah napasnya berhenti pada momen di mana wanita itu kini berdiri di hadapannya.
Napasnya berhenti bukan karena sakit, bukan pula karena gugup dan debar layaknya mempelai pria yang menantikan momen bahagia pernikahannya. Namun, menatap Asha yang yang tampak begitu pas dengan gaun pilihannya membuatnya berpikir bahwa seharusnya wanita itu tengah berbahagia dengan gaun pilihannya bersama mempelai pria yang asli.
Abiyan sadar, ia yang menyeret Asha dalam pernikahan tanpa rencana hanya karena perasaan tidak rela. Abiyan menanamkan pada dirinya sendiri, ia akan bertanggung jawab. Segala hal yang menyangkut Asha ke depannya adalah prioritas dan tanggung jawab yang harus ia pikul.
"Cantik." Sebuah gumaman yang lolos tanpa sadar membuat senyum Asha mengembang.
"Gaun ini menemukan pemiliknya," ucap salah satu pegawai yang sebelumnya membantu Asha mengepas gaun.
Abiyan tersadar sepenuhnya dari lamunan. "Kamu terlihat cantik Asha."
Asha kembali tersenyum, "Kamu juga terlihat ... um. Gagah," puji Asha, ini pertama kalinya Asha melihat Abiyan memakai tuxedo. Sebelumnya pria itu lebih sering menggunakan hoodie maupun kaos sebagai pelindung tubuhnya, dan tentu saja pujian yang dilontarkan Asha benar adanya.
Keduanya saling menatap beberapa saat sampai akhirnya Abiyan mendehem pelan dan berbicara pada pegawai butik untuk melakukan pembayaran. Asha kembali masuk ke dalam tirai untuk mengganti gaunnya dengan pakaiannya sendiri.
Setelah pembayaran selesai dilakukan Abiyan dan Asha kembali ke dalam mobil. Tujuan selanjutnya adalah toko perhiasan. Selain untuk membeli cincin pernikahan Abiyan berniat untuk membeli kan Asha set perhiasan sebagai mahar pernikahan.
"Tolong tunjukkan cincin pernikahan terbaik yang kalian miliki!" seru Abiyan pada pegawai toko yang menyambut mereka.
Pegawai toko meletakkan beberapa pasang cincin kawin ke atas etalase setelah Abiyan menyebutkan ukuran jarinya dan Asha. Asha menatap Abiyan dengan bingung. Bagaimana bisa pria itu menyebutkan ukuran jarinya dengan akurat? Namun, jika Asha bertanya sekarang, bukankah itu hanya akan menjadi bahan gunjingan para pegawai toko. Tidak. Asha tidak ingin itu terjadi.
Abiyan mencoba cincin miliknya, cincin twisted band yang ramping namun terlihat elegan dengan motif infinity yang melambangkan cinta abadi dan ikatan tak terputus antara dua orang. Asha masih diam, wanita itu mengamati apa pun yang Abiyan lakukan.
"Cobalah milikmu, Ash!" Abiyan berbicara tanpa menoleh, pria itu masih menatap lekat cincin yang ia sematkan di jari manisnya.
Asha menatap pada cincin di atas penyangga, cincin polos dengan motif infinity miring yang dibuat di atasnya dengan tiga buah diamond kecil, terlihat begitu elegan. "Mengapa memilih motif ini, Ian?"
Abiyan menoleh lalu tersenyum kecil. Kemudian ia mendekat, tubuhnya condong ke samping Asha lalu berbisik tepat di telinga wanita itu. "Meski pun kita terikat pernikahan bukan karena cinta akan tetapi tanggung jawabku dan ikatan di antara kita tidak akan pernah terputus, Ash." Setelah mengatakannya Abiyan kembali menjauh dari Asha dan juga kembali bicara. "Dan, tentu saja karena aku suka."
Dering ponsel Abiyan terdengar nyaring, pria itu mengangkatnya namun tidak langsung berbicara. Abiyan memilih untuk beralih pada pegawai toko dan kembali berbicara. "Untuk cincin pernikahannya aku pilih yang ini, kalau untuk istriku biarkan dia memilih dulu. Dan tolong berikan kami beberapa set perhiasan dengan berlian terbaik yang ada di toko ini. Biarkan istriku memilihnya!"
Istriku?
"Tapi, Ian— " Asha berniat protes namun urung ketika Abiyan menunjukkan ponselnya.
"Aku harus menerima telepon, Ash. Pilih apa pun yang kamu mau!" Abiyan berlalu tanpa menunggu jawaban Asha.
"Calon suami Anda sepetinya sangat mencintai Anda, nyonya," ucap pegawai wanita yang sejak tadi melayaninya dan Abiyan. Pegawai itu mengeluarkan set perhiasan terakhir ke atas etalase.
Ucapan pegawai toko membuat Asha teringat lagi pada bisikan Abiyan yang mengungkapkan bahwa pria itu akan bertanggung jawab dan ikatan yang tak akan pernah putus di antara mereka. Hal itu membuatnya sedikit berdebar, bolehkah Asha memegang kata-kata yang seperti sebuah janji itu?
Pipi Asha memerah, ia lalu menggelengkan pelan kepalanya. Asha memilih untuk mencoba cincin pernikahan dengan motif infinity itu di jarinya. Terlihat indah dan cocok di jarinya. Mengangkat jemarinya ke udara dan menatapnya kagum.
Sebuah suara yang begitu familier mengejutkan Asha. "Siapa ini? Bukankah ini sahabatku yang tiba-tiba menghilang sejak pulang dari Paris?"