Sebuah cinta terlarang.
Sebuah pengkhianatan dalam keluarga.
Zavier hanya ingin mencintai wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama tiga tahun — namun takdir berkata lain ketika wanita itu kini bersanding sebagai istri sang ayah.
Di antara rasa bersalah, cinta, dan kehancuran, adakah kesempatan kedua untuk hati yang sudah hancur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB-10
Saat jam kerja usai, Ardian akhirnya pulang. Begitu memasuki rumah, aroma masakan rumahan yang lezat langsung menyambutnya. Ia tersenyum tipis, merasa hangat setelah seharian lelah bekerja.
Di ruang makan, Veyra sudah menunggunya dengan setelan rumahan yang sederhana namun tetap anggun. Ia tampak sibuk merapikan meja makan, memastikan semua tersaji dengan sempurna.
"Mas sudah pulang," ucap Veyra dengan lembut, tersenyum manis ke arah suaminya.
Ardian mengangguk, mendekat dan mengecup keningnya sekilas. “Kamu masak sendiri?” tanyanya seraya melepas jasnya.
Veyra mengangguk. “Iya. Aku ingin menyiapkan sesuatu yang spesial untuk Mas.”
Ardian menarik kursi dan duduk, memperhatikan hidangan yang tertata rapi di meja. Ada sup ayam hangat, tumis sayur, dan ikan goreng yang terlihat menggugah selera. Ia mengangkat alis, sedikit terkejut.
“Kamu bisa masak sebanyak ini?” tanyanya, setengah bercanda.
Veyra tersenyum, tetapi ada sesuatu di dalam sorot matanya. "Aku dulu sering memasak untuk keluarga angkatku," katanya pelan.
Ardian tak ingin membahas hal itu lebih lanjut. Ia tahu masa lalu Veyra tidak mudah, dan ia ingin membuat wanita itu merasa nyaman di rumah ini.
“Terima kasih sudah menyiapkan ini,” ucap Ardian sebelum mulai menyantap hidangannya.
Veyra duduk di hadapannya, memperhatikan suaminya makan. Namun, pikirannya melayang ke tempat lain—ke seseorang yang mungkin masih tenggelam dalam amarah dan luka. Zavier…
Ia menggigit bibirnya pelan, berusaha menekan emosi yang berkecamuk. Malam ini, ia harus tetap berperan sebagai istri yang baik dan lugu, meskipun hatinya tersiksa.
"Tadi aku bicara dengan Zavier," suara Ardian memecah lamunannya.
Sekelebat rasa panik melintas di wajah Veyra, tapi ia segera menutupinya dengan senyum tipis. "Oh? Apa katanya?"
"Dia menolak perjodohan yang aku rencanakan." Ardian menghela napas, meletakkan sendoknya. "Anak itu keras kepala. Katanya dia lebih baik melajang."
Veyra menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan gejolak yang menyerangnya. Ia tahu alasan sebenarnya. Itu karena Zavier hanya menginginkan dirinya.
"Mas yakin Zavier nggak punya seseorang yang dia cintai?" tanyanya hati-hati.
Ardian terdiam sejenak, lalu menggeleng. "Kalau ada, dia pasti sudah cerita dari dulu."
Veyra mengangguk, berusaha menelan gumpalan di tenggorokannya.
Makan malam ini begitu sunyi. Ardian menikmati makanannya, sementara Veyra berusaha menenangkan hatinya yang kacau. Dan di luar sana, Zavier masih menunggu—menunggu dalam luka yang ia sendiri tidak tahu bagaimana menyembuhkannya.
Ardian meletakkan sendoknya, tiba-tiba teringat sesuatu yang sempat terlupakan. “Oh iya, hampir saja aku lupa,” ujarnya sambil menatap Veyra.
Veyra yang sedang membereskan meja makan mengangkat kepalanya. “Lupa apa, Mas?” tanyanya, berusaha terdengar santai.
“Teman kecil Zavier, Flora Eleanor Roseline, akan kembali dari New York lusa.” Ardian tersenyum tipis, matanya berbinar dengan nostalgia. “Mereka dulu sangat dekat. Aku yakin Zavier pasti senang mendengar kabar ini.”
Veyra terdiam sejenak. Nama itu asing baginya, tapi dari cara Ardian mengatakannya, jelas bahwa Flora bukan sekadar teman biasa bagi Zavier.
“Flora?” Veyra mengulang nama itu pelan. “Seberapa dekat mereka?”
Ardian tertawa kecil. “Hampir seperti saudara, tapi dulu aku sering bercanda kalau Flora menyukai Zavier. Mereka selalu bersama saat kecil, bahkan Flora sering bilang ingin menikah dengan Zavier kalau sudah besar.”
Dada Veyra terasa sesak, entah mengapa. Ia menggigit bibirnya, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
“Dan sekarang dia kembali?”
“Ya.” Ardian menyesap air putihnya. “Aku berencana mengundangnya makan malam di rumah. Aku ingin mengenalkan kamu padanya.”
Tangan Veyra yang sedang merapikan piring sedikit gemetar. Flora mungkin hanyalah masa lalu, tapi kedatangannya bisa menjadi ancaman bagi hubungan terlarangnya dengan Zavier.
Sementara itu, di kantor, Zavier masih terjebak dalam pikirannya sendiri.
Ardian menyandarkan punggungnya di kursi, menatap Veyra yang masih sibuk membereskan meja. “Aku harap kedatangan Flora bisa membuat perasaan Zavier lebih baik,” ujarnya tiba-tiba.
Veyra menghentikan gerakannya sejenak. “Maksud Mas?”
Ardian menghela napas. “Zavier masih belum bisa move on dari mantannya. Aku tahu dia tidak mau membicarakannya, tapi aku bisa melihat kalau dia masih terluka. Aku ingin dia membuka hatinya lagi.”
Veyra menunduk, menggigit bibirnya. Hatinya mencelos. Mantan yang Ardian maksud adalah dirinya.
“Dan Flora?” tanyanya pelan.
Ardian tersenyum tipis. “Hubungan mereka seperti Tom & Jerry. Selalu bertengkar, tapi tidak bisa berjauhan terlalu lama. Flora selalu bisa membuat Zavier kesal, tapi pada saat yang sama, dia juga bisa membuatnya tertawa. Itu yang aku suka dari gadis itu.”
Veyra mencoba menelan gumpalan emosi yang naik ke tenggorokannya. “Jadi, Mas berharap mereka bisa…”
Ardian mengangguk. “Siapa tahu? Mungkin ini waktunya Zavier membuka lembaran baru.”
Dada Veyra terasa sesak. Ia menunduk dalam, menyembunyikan ekspresi wajahnya. Jika Ardian tahu bahwa Zavier tidak pernah benar-benar putus darinya, bagaimana reaksinya?
Sementara itu, di kantor, Zavier duduk di ruangannya, menatap layar komputer tanpa fokus. Ia masih bisa merasakan kehangatan Veyra dari pagi tadi.
Zavier ingin sekali saat ini memeluk Veyra, merasakan kembali betapa hangatnya sentuhan sang kekasih. Yang pasti Zavier merasa bangga karena menjadi yang pertama untuk Veyra.
******
Ardian sedang bersantai di ruang kerja pribadinya setelah menikmati makan malam bersama Veyra. Baru saja ia hendak menyesap teh hangatnya, ponselnya bergetar di meja. Begitu melihat nama yang tertera di layar, Ardian mengernyit. Sudah lama sekali ia tidak menerima panggilan dari gadis itu.
Dengan sedikit penasaran, Ardian menerima panggilan itu.
"Halo, Om Ardian. Apa kabar?" Suara ceria di seberang sana terdengar begitu familiar.
"Flora? Sudah lama sekali kau tidak menghubungiku. Ada apa?" Ardian meletakkan cangkir tehnya.
"Aku akan pulang lusa. Bisa bantu aku?"
"Pulang?" Ardian sedikit terkejut.
"Iya! Aku ingin memberi kejutan untuk keluargaku. Tapi aku butuh seseorang menjemputku di bandara."
Ardian sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. Ia menghela napas kecil. "Dan kau ingin Zavier yang menjemputmu?"
"Tepat sekali!" Flora terkikik. "Aku ingin melihat ekspresi kesalnya saat tahu harus menjemputku. Dia pasti masih menyebalkan seperti dulu, kan?"
Ardian tersenyum kecil. "Kamu ini tidak berubah. Tapi, Flora, Zavier sedang banyak masalah sekarang. Aku tidak yakin dia akan setuju."
"Justru karena itu! Aku yakin kehadiranku bisa membuatnya lebih baik. Aku dengar dia baru saja putus dari pacarnya. Jadi, aku datang di waktu yang tepat, kan?"
Ardian menghela napas. Ia tahu betapa keras kepala Flora. Jika sudah bertekad, tidak ada yang bisa mengubah pikirannya.
"Baiklah. Aku akan mengabari Zavier besok," kata Ardian akhirnya.
"Yay! Terima kasih, Om Ardian! Sampai jumpa lusa!"
Panggilan terputus. Ardian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia penasaran bagaimana reaksi Zavier saat tahu harus menjemput Flora.
Ardian kemudian beranjak dari ruang kerjanya, menyusul Veyra yang masih menonton televisi di ruang tengah.
“Vey, belum tidur?” Ardian mendekat dan merapatkan tubuhnya pada sang istri, yang membuat Veyra terkejut dan gugup.
“Eh, Mas. Bb-belum. Kenapa?”
“Barusan, Flora menelponku. Dia memaksaku supaya Zavier menjemputnya besok di bandara. Bagaimana menurutmu?” Ardian begitu bersemangat untuk mendekatkan Zavier dan Flora.
“Mas, aku sendiri belum mengenal Zavier atau Flora. Jadi, aku tidak bisa memberikan pendapatku. Jadi, apa yang menurutmu baik saja, Mas,” jawab Veyra sambil memaksa senyumnya. Padahal ia merasakan sesak dan tidak rela jika Zavier harus dekat dengan wanita lain.
Ardian tersenyum sambil mengelus kepala Veyra. Apa yang dikatakan Veyra memang ada benarnya juga. “Ya sudah, kalau begitu, kita tunda bulan madu dulu ya. Aku ingin memastikan Zavier benar-benar bertemu dengan Flora dulu. Baru aku bisa pergi meninggalkannya bulan madu. Aku sendiri sedikit merasa bersalah karena menikah begitu saja tanpa mengajaknya berdiskusi.”
“Baiklah, Mas. Terserah kamu saja baiknya seperti apa,” tukas Veyra yang terus saja memaksa senyumnya.
*******
Keesokan harinya, Zavier masuk kantor di jam normal dan tidak terlambat. Zavier mengetuk pintu ruang kerja Ardian sebelum masuk. "Papa mencariku?"
Ardian menutup dokumen di depannya dan menatap putranya. "Ya. Duduklah sebentar, ada sesuatu yang perlu kita bicarakan."
Zavier mengangkat alis, tetapi ia menurut. "Apa ini tentang kerjaan?" tanyanya sambil bersandar di kursi.
"Bukan." Ardian menyandarkan punggungnya di kursi, menatap putranya dengan ekspresi santai. "Lusa, kamu harus ke bandara."
Zavier mengernyit. "Kenapa?"
"Tolong jemput Flora."
Ekspresi Zavier langsung berubah. Ia duduk tegak, menatap Ardian tidak percaya. "Flora? Flora Eleanor Roseline?"
Ardian mengangguk. "Dia pulang dari New York dan meminta dijemput olehmu."
Zavier tertawa sinis. "Tidak ada orang lain? Kenapa harus aku?"
"Karena dia ingin mengejutkan keluarganya," jawab Ardian. "Dan dia percaya hanya kamu yang bisa menjemputnya."
Zavier mendengus, menyilangkan tangan di dada. "Ya ampun, Papa, aku bahkan belum siap menghadapi kekacauan dalam hidupku. Sekarang aku harus berurusan dengan bocah tengil itu?"
Ardian tertawa kecil. "Kamu masih menyebutnya bocah tengil? Flora sudah dewasa sekarang, Zavier. Dan dia datang di waktu yang tepat."
"Tepat untuk apa? Untuk menambah pusing kepalaku?"
Ardian mengangkat bahu. "Siapa tahu dia bisa mengalihkan perhatianmu dari semua masalah yang sedang kamu hadapi."
Zavier mendesah panjang. Ia tidak ingin menambah daftar kekacauan dalam hidupnya, tetapi ia juga tahu bahwa menolak keinginan papanya hanya akan memperpanjang masalah.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Aku akan menjemputnya. Tapi jangan harap aku akan bersikap ramah."
Ardian tertawa. "Terserah kamu, selama kamu tetap menjemputnya."
Zavier mengusap wajahnya, sudah bisa membayangkan betapa merepotkannya menghadapi Flora.
awal nya bagus, lanjut thor