NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Selera Makan Malam Kliwon

Waktu bergulir tanpa ampun, menyeret kalender fana menuju titik rotasi ghaib yang paling ditakuti. Malam Sabtu Kliwon kembali tegak berdiri di atas langit lereng Gunung Raung. Seolah tahu bahwa penguasa sejati tanah kutukan sedang menagih sisa upeti jiwa, alam semesta menarik seluruh tanda kehidupan dari sekitar pekarangan rumah Sekar.

Sejak matahari terbenam di balik punggung bukit, suara jangkrik, tonggeret, bahkan lolongan anjing liar yang biasanya bersahut-sahut di pinggir hutan mendadak padam total. Kesunyian yang tercipta begitu tebal, menyumbat rongga dada siapa saja yang berani terjaga. Udara malam itu tidak sekadar dingin; ada rasa lembap yang lengket, membawa bau pekat lumpur sungai purba yang bercampur aroma anyir sisik ular busuk.

Di dalam rumah, kegelapan terasa berlapis-lapis. Lampu di ruang tamu berkedip lemah, memancarkan pendaran kuning redup yang nyaris mati tertelan kepekatan sudut-sudut ruangan.

Bintang duduk bersila di atas tikar pandan ruang tamu. Kedua tangannya bertumpu di atas lutut, mencoba mengumpulkan sisa-sisa energi batin yang porak-poranda pasca ritual lalu. Di depannya, potongan Keris Tirto Menggolo yang patah menjadi tiga bagian dibungkus kain mori putih yang mulai bernoda kelabu. Karomah pusaka itu telah mati, menyisakan logam dingin tak berdaya. Setiap kali Bintang memejamkan mata, kepalanya berdenyut gila—sisa racun batin Wisa Sengkolo masih bercokol di pembuluh darahnya, meninggalkan rasa perih seperti disiram air raksa panas.

"Bintang..."

Sebuah bisikan gemetar memecah kesunyian. Rahayu berjalan keluar dari arah kamar depan dengan langkah goyah. Wajah perempuan itu kian mengerikan untuk dilihat; pipinya kempot, kantung matanya hitam legam akibat berhari-hari tidak pernah menyentuh tidur yang lelap. Tangannya memeluk sebuah bantal kumal, seolah mencari perlindungan dari sesuatu yang tak kasat mata.

"Tidurlah, Bu. Biar saya yang berjaga malam ini," kata Bintang dengan suara parau.

"Bagaimana Ibu bisa tidur, Le..." ratap Rahayu, air matanya kembali meleleh, membasahi kain sarungnya. "Anakku... Sekar... sejak maghrib tadi, dia tidak bergerak sama sekali dari posisinya. Dia melingkar di bawah ranjang, Bintang. Dia tidak mau di atas kasur. Dia merayap masuk ke sela-sela kolong yang berdebu..."

Bintang tidak menjawab. Dia hanya bisa menatap pintu kamar belakang yang tertutup rapat. Dari balik celah bawah pintu kayu yang lapuk itu, tidak ada cahaya sedikit pun. Namun, batin Bintang yang peka bisa mendengar suara tarikan napas ganda yang teratur—panjang, kering, dan berat. Setiap embusan napas itu keluar, suhu udara di luar kamar ikut merosot jatuh secara ekstrem.

Pukul sebelas malam. Malam Kliwon mencapai puncaknya ketika kabut pegunungan mulai menyusup masuk melalui celah-celah dinding tripleks yang jebol. Ibu Sekar yang akhirnya terkulai lelah di atas bale-bale bambu ruang tamu mulai terbuai ke dalam trans tidur yang gelisah. Napasnya terengah-engah, diganggu oleh mimpi-mimpi buruk kiriman dari dasar sendang.

Bintang sendiri berjuang keras menahan kantuk yang tidak wajar. Matanya terasa berat seolah-olah dilapisi timah. Dia tahu ini bukan kantuk biasa; ini adalah Sirep Sisik, sejenis pukulan ghaib tingkat rendah yang dilepaskan untuk melumpuhkan kesadaran para penjaga raga. Bintang menggigit bibir bawahnya sendiri hingga pecah, membiarkan rasa sakit dari darah segar yang mengalir di dagunya menjaga kesadaran manusianya tetap terjaga.

Krrrk... sreeet...

Tiba-tiba, dari arah dapur belakang, terdengar sebuah bunyi yang memecah keheningan murni malam itu. Bunyi itu sangat asing. Bukan suara tikus yang mencicit, melainkan suara sesuatu yang berat dan licin yang sedang diseret di atas permukaan lantai semen.

Sreeet... tok... sreeet... tok...

Bintang menegakkan tubuhnya instan. Tangan kirinya bergerak cepat menyambar gagang Pisau Sungsang Buwana yang terselip di pinggangnya. Meskipun pendaran emas pusaka itu meredup, bilahnya masih memiliki ketajaman spiritual untuk memutus urat nadi lelembut.

Secara bersamaan, Rahayu tersentak bangun dari tidurnya. Sepasang matanya melotot liar ke arah koridor sempit yang menghubungkan ruang tamu langsung menuju dapur belakang.

"Bintang... kau dengar itu?" bisik Rahayu dengan bibir yang memutih kaku. "Suara... suara itu datang dari arah kandang bambu di pojok dapur."

Di pojok dapur rumah Sekar, memang terdapat sebuah kurungan bambu kecil tempat Rahayu mengurung lima ekor anak ayam bangkok yang baru menetas tiga hari lalu. Anak-anak ayam itu sengaja ditaruh di dalam rumah agar tidak mati kedinginan atau dimakan oleh musang hutan.

Ciaaaakkk... Ciaaaakkk...!!!

Suara anak ayam itu mendadak pecah menjadi jeritan ketakutan yang luar biasa histeris. Suaranya melengking tinggi, memotong kegelapan malam, sebelum akhirnya... klek! Suara jeritan itu terputus instan, digantikan oleh bunyi tulang kecil yang patah berderit.

Krunyeeeesss... krunyeeeesss...

Suara kunyahan yang basah, kental, dan sarat akan kerakusan ghaib bergema dari kegelapan dapur. Aroma amis darah segar berhawa dingin mendadak menyerbu rongga hidung Bintang, mengalahkan bau bunga kenanga busuk yang sejak sore tadi memenuhi ruangan.

"Sekar... ya Allah, Sekar...!" Rahayu melompat dari bale-bale, mengabaikan seluruh rasa takutnya demi naluri seorang ibu. Dia berlari kencang menembus koridor gelap menuju dapur, diikuti oleh Bintang yang melangkah cepat dengan pisau ghaib yang sudah terhunus di tangan kanan.

Begitu mereka melewati tirai kain pembatas dapur yang kumal, langkah kaki keduanya mendadak terkunci mutlak.

Dapur itu tidak memiliki lampu penerang. Satu-satunya cahaya berasal dari sisa pendaran bulan purnama Kliwon yang masuk melalui celah lubang angin di dinding bambu. Cahaya perak yang tipis itu jatuh tepat di atas lantai semen dekat tungku abu.

Di sana, di atas lantai semen yang dingin dan kotor, sesosok tubuh sedang berjongkok dengan posisi yang sangat mengerikan. Itu Sekar. Dia tidak lagi mengenakan kebaya putihnya dengan rapi; kain kebayanya melorot di satu sisi bahu, menyingkapkan kulit belikatnya yang kini tampak menghitam pekat, dipenuhi oleh urat-urat besar yang berdenyut kencang seperti kumpulan ulat sutra yang sedang menggeliat.

Kedua lutut Sekar ditekuk melebar ke samping, sementara pantatnya nyaris menyentuh lantai—posisi jongkok yang sangat rendah, mirip dengan cara bertengger seekor amfibi besar atau reptil raksasa. Tangannya yang pucat dengan kuku-kuku hitam yang panjang memegang seekor anak ayam bangkok berbulu kuning yang masih hidup.

Anak ayam itu bergetar hebat, sayap-sayap kecilnya mengepak liar di dalam cengkeraman jemari Sekar yang sedingin es. Namun, Sekar sama sekali tidak memedulikan penderitaan makhluk kecil itu.

Perlahan, Sekar membuka mulutnya.

Bintang menahan napas di ambang pintu dapur. Rongga mulut Sekar membuka melampaui batas anatomis manusia normal. Rahang bawahnya tampak bergeser turun, menciptakan bukaan mulut yang sangat lebar seolah-olah sendi pipinya sengaja dilepaskan dari engsel tengkorak. Air liur yang sangat kental, berwarna bening keunguan dan berbau belerang panas, meleleh deras dari sudut bibirnya, menetes membasahi dagu dan dadanya.

Am!

Tanpa ragu, tanpa belas kasihan, Sekar memasukkan seluruh tubuh anak ayam hidup itu langsung ke dalam mulutnya. Kepala, sayap, kaki, dan bulu-bulu makhluk kecil itu lenyap di balik rongga tenggorokannya yang bergerak melebar secara elastis.

Krunyeeesss... krak... jleeeb...

Suara paruh anak ayam yang remuk dihantam barisan gigi Sekar terdengar sangat nyata di dalam kesunyian dapur. Sekar mengunyah dengan gerakan rahang yang berputar horizontal—bukan naik turun seperti cara manusia makan, melainkan bergeser ke kiri dan ke kanan untuk menggiling daging, tulang, dan bulu menjadi satu gumpalan basah. Darah segar berwarna merah terang menyembur dari sela-sela bibirnya, melumuri dagu pucatnya hingga menetes ke atas lantai semen.

Bulu-bulu ayam yang halus tampak keluar dari lubang hidung Sekar yang mengembang kempis gila, menandakan bahwa jalur pernapasannya kini telah terkontaminasi total oleh insting binatang ghaib.

"Ugh... hueeakkk...!" Rahayu tidak mampu lagi menahan pemandangan jahanam di depan matanya. Perempuan itu jatuh berlutut di atas lantai, memuntahkan cairan asam lambungnya sendiri karena rasa mual dan horor psikologis yang luar biasa hebat. Jeritan mual Ibu Sekar memecah keheningan dapur.

Sreeet!

Gerakan mengunyah Sekar mendadak berhenti seketika. Anak ayam ketiga yang sudah berada di tangan kirinya dilepaskan begitu saja, membiarkan makhluk kecil yang setengah sekarat itu mencicit ketakutan di atas lantai semen.

Kepala Sekar bergerak menoleh ke arah asal suara.

Horor body horror yang sesungguhnya tercipta pada detik itu. Tubuh Sekar—bahu, dada, dan pinggulnya—tetap menghadap ke arah dinding tungku, membeku kaku tidak bergerak satu milimeter pun. Namun, lehernya... leher manusianya berputar patah ke arah belakang secara ekstrem, melintasi sudut seratus delapan puluh derajat yang mustahil dilakukan oleh makhluk hidup fana.

Krrraakkk... blekkk... krrrk...

Suara urat leher yang meregang dan tulang rawan yang saling bergesekan terdengar nyaring, seumpama ranting pohon kering yang dipilin paksa hingga patah. Wajah pucatnya kini berada tepat di atas belikat punggungnya sendiri, menatap langsung ke arah Bintang dan Ibunya yang berada di ambang pintu.

Mata Sekar memutih total untuk beberapa saat, sebelum akhirnya bagian iris hitamnya muncul kembali dengan bentuk yang mengerikan: pupil matanya telah berubah menjadi garis vertikal tipis yang tajam, persis seperti sepasang mata ular kobra yang sedang bersiap melepaskan patukan mematikan.

"I... bu..." bisik Sekar.

Suara yang keluar dari mulutnya tidak lagi berupa gema pita kaset rusak seperti siang hari. Suara itu kini berlapis tiga—ada suara asli Sekar yang meratap kesakitan di latar belakang, suara desisan reptil yang berat, dan gema suara bariton Kalingga yang penuh dengan ejekan kemenangan.

“Ibu... Sekar... lapar... Di sini... sangat... dingin... Daging... ini... hangat... Ibu... mau...?”

Sekar menjulurkan lidahnya keluar. Lidah manusianya tampak memanjang secara tidak alami, ujungnya terbelah menjadi dua bagian yang bergerak-gerak liar di udara, menjilati sisa-sisa darah ayam yang mengering di sekeliling bibirnya yang pecah-pecah.

"Astagfirullahaladzim...! Kamu bukan anakku! Keluar kamu dari tubuh anakku, siluman jahanam!" teriak Rahayu gila-gilaan, mencoba bangkit untuk memukul tubuh Sekar menggunakan sapu lidi yang tergeletak di dekat tungku. namun, gerakannya langsung ditahan oleh Bintang.

"Jangan mendekat, Bu! Percuma!" bentak Bintang, wajahnya pucat pasi, peluh dingin bercampur darah kering mengucur deras di pelipisnya. Tangannya yang memegang Pisau Sungsang Buwana bergetar hebat.

Bintang bisa melihat dengan jelas menggunakan mata batinnya: di belakang tubuh Sekar yang sedang berjongkok, seumpama bayangan raksasa di dinding, berdiri tegak siluet ular kobra hitam bermahkota emas. Ekor bayangan ghaib itu melilit kuat pinggang dan leher raga Sekar, mengendalikan setiap gerakan otot dan saraf gadis itu seolah-olah raga Sekar hanyalah boneka tali yang tidak memiliki hak atas dirinya sendiri.

Kalingga sedang berpesta di dalam raga Sekar. Kehilangan inti jiwa manusianya membuat tubuh fisik Sekar tidak lagi memiliki sistem pertahanan spiritual. Setiap kali malam Kliwon tiba, insting purba sang Raja Ular akan merembes naik menembus sisa rajah belikat, memaksa raga fana itu memuaskan dahaga darah yang menjadi bahan bakar bagi eksistensi ghaib mereka di dunia nyata.

Sekar perlahan-lahan menegakkan tubuhnya. Proses pembalikan lehernya kembali ke posisi semula diiringi oleh suara derit tulang yang tidak kalah mengerikan. Dia berdiri tegak, membelakangi tungku abu, lalu melangkah maju mendekati Bintang.

Langkah kakinya tidak lagi menyeret seperti siang hari. Gerakan tubuhnya kini meliuk-liuk halus, pinggul dan bahunya bergerak seirama dengan ritme gerakan melata yang sangat anggun namun sarat akan bahaya mematikan. Setiap kali telapak kaki telanjangnya menyentuh semen dapur, meninggalkan bekas cap kaki basah berwarna kehitaman yang langsung mengeluarkan uap belerang berbau busuk.

“Bintang... cacing... kecil...” desis Sekar, matanya yang berpupil vertikal menatap lurus ke dalam manik mata Bintang. “Kau... membawa... pulang... bagian... tubuhku... ke... rumah... ini... Sebentar... lagi... seluruh... tempat... ini... akan... menjadi... sarang... baru... bagi... anak-anakku...”

Hhhssss...!!!

Sekar menyemburkan embusan napas panjang tepat ke arah wajah Bintang. Angin embusan itu luar biasa dingin, membawa serta ratusan kutu ghaib kecil berwarna hitam yang langsung menguap begitu menyentuh pendaran tipis dari Pisau Sungsang Buwana.

Bintang terpaksa mundur tiga langkah, melindungi tubuh Rahayu yang berada di belakang punggungnya. Sesaat setelah semburan hawa dingin itu dilepaskan, tubuh Sekar mendadak ambruk, terkulai lemas seperti pakaian basah yang dijatuhkan di atas lantai semen. Dia pingsan total, kembali menjadi cangkang kosong yang tidak berdaya setelah sisa energi Kalingga menyusut kembali ke dasar bumi seiring berlalunya jam Kliwon.

Dapur itu kembali jatuh ke dalam kesunyian yang mencekam, menyisakan bangkai-bangkai anak ayam yang hancur dan dua manusia fana yang kini tahu bahwa mereka sedang tinggal satu atap dengan inkarnasi bencana yang siap melumat kewarasan mereka setiap detiknya.

1
Tina Martince
anak kandung loh 🤭,penasaran ikutin cerita ini ya...😍
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
ibu nya sekar aneh ...
jgn2 sekar anak pungut
atau sengaja di tumbalkan
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
wajah tampan kalingga terlalu mempesona yaa sekarr😂
Tina Martince: 🤭 ya terlalu mempesona
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
perjanjian apa ,
ibu nya sekar terlalu banyak diam
hubungan sekar dan ibu nya
tak harmonis ,
ada kisah rahasia apa disini
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
lahir nya sekar tibo weton wingit
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
harusnya ibu nya sekar lebih jujur
dgn keadaan sekar
mungkin ada perjanjian dgn dunia ghoib ,
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!