NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku

Status: tamat
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:254.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Dayang Rindu

Halo readers semuanya..!
Othor kembali dengan kisah rumah tangga yang penuh liku-liku. Perjodohan, penghianatan, dan banyak lagi kisah di dalamnya.

Kisah seorang gadis yang menikah karena perjodohan yang membawa pada kekecewaan. Harapan terakhir sang kakek cucu satu-satunya akan hidup bahagia bersama pria pilihan, putra dari asisten pribadinya.
Namun takdir kehidupan tak sejalan dengan apa yang ia harapkan.

Bram tak mencintai Habibah!

"Aku meminta hak ku sebagai seorang istri!" Begitu Habibah sudah tidak tahan ketika mendapati suaminya sedang bersama wanita lain.


Walaupun terus saja terjadi.

"Ternyata..." ucap Habibah di tengah guyuran air, dia tersenyum getir, menangis bersamaan membayangkan betapa hangatnya ciuman mereka. Dadanya bergemuruh seolah sedang terisi penuh dengan bara api.

"Ku rasa neraka tak hanya ada di perut bumi, tapi di dadaku." ucapnya pelan, mengadukan kekecewaan yang sudah sangat keterlaluan.

Bagaimana kisah Habibah selanjutnya?

Yuk baca>>

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buat jatuh cinta

Pagi itu tak secerah biasanya, matahari masih bersembunyi di pukul 07:00 sama seperti Habibah yang enggan beranjak dari ranjang empuk kamar itu. Mata indahnya perlahan terbuka walau sedikit terasa sulit karena sudutnya masih sedikit bengkak karena sisa tangis semalam.

Tangannya terasa kaku namun tetap berusaha beranjak dengan tubuh juga yang terasa pegal karena posisi yang tak pernah bergerak apalagi bergeser setiap malamnya.

"Bangunlah."

Habibah menoleh asal suara tersebut, merasa aneh ketika seorang Bram memintanya bangun di pagi itu. Biasanya dia akan menghindar atau bahkan berdebat karena masalah yang sepele.

Teringat semalam ia pulang dan menangis.

'Banyak sekali jumlah kesedihan di dalam hidupku. Bahkan baru ku ketahui bahwa pernikahan ini tak akan bertahan lama.'

Habibah beranjak menuju kamar mandi, mencuci muka dan melihat bagaimana wajahnya pagi ini.

"Aku tidak memakai kerudung." gumamnya memegang rambut lurusnya.

Tapi kemudian tersenyum kecut. "Tidak ada dosa diantar suami istri, lagi pula dia tidak menyukaiku." Habibah melanjutkan aktifitas di kamar mandi tersebut.

Lama ia mendinginkan kepalanya yang masih terasa panas, entahlah. Apakah pagi ini ia masih punya semangat untuk bekerja?

"Hanya ada handuk." Habibah bergumam karena ia lupa membawa pakaian ganti.

Ia melilitkan handuk dan meraih kembali baju yang sudah kotor, paling tidak bisa menutup bagian atas tubuhnya.

Habibah keluar dari kamar mandi, tapi Bram belum juga pergi padahal sejak tadi ia melihat Bram sudah siap dengan pakaian rapi.

"Siapa yang membelikan tas ini?" tanya Bram kepada Habibah. Mengangkat tas tersebut sejajar dengan wajahnya.

"Untuk apa kau menanyakannya, aku tidak akan membuatmu malu dengan berhutang atau mencuri." jawab Habibah tetap dengan suara pelan.

"Tidak, aku hanya melihatmu begitu menyayanginya. Ku rasa ini pemberian seseorang." ucap Bram masih penasaran.

Habibah mengambil pakaian dan kembali lagi ke kamar mandi.

Hanya beberapa menit kemudian ia kembali dengan pakaian lengkap dan merapikan kerudungnya di depan cermin hias.

"Ini bernilai ratusan juta." Bram masih memperhatikan tas tersebut, Habibah melihatnya di dalam cermin.

Sejenak Bram juga menatap Habibah melalui cermin hingga mata mereka bertemu.

Habibah beranjak dan meraih tas itu dari tangan Bram. "Berapapun harganya kau tidak perlu tahu ini dari siapa, lagi pula kita tidak sedekat itu."

"Aku hanya penasaran, aku tahu persis tas seperti ini sangat mahal, Larisa sering berbelanja barang seperti ini." Bram menunjuk tas itu lagi.

"Lalu aku tidak boleh memiliki barang mahal seperti Larisa? Dia tidak seistimewa itu." Habibah meraih tas lamanya dan memindahkan barang-barangnya ke dalam tas yang baru.

"Sepertinya kau sangat membenci Larisa." Bram masih memperhatikan gerak-gerik Habibah, bahkan sengaja memancing Habibah untuk menoleh dengan kata-kata yang terlontar baru saja.

Jari-jari lentik itu berhenti. "Aku tidak benci, hanya aku tidak suka dengan seseorang yang merebut milikku."

Habibah berlalu tanpa menoleh Bram, entah mengapa pagi ini ia tidak suka dengan rasa penasaran Bram padanya. Ia berlalu tanpa menoleh siapapun pagi ini, juga ayah dan ibu mertuanya yang sedang berada di halaman belakang, Habibah tidak menghampirinya lebih dulu.

"Nona akan terlambat." ucap Lee segera membukakan pintu untuk Habibah.

"Aku hanya kesiangan." jawab Habibah masuk lalu mobil mereka segera melaju.

Sementara di belakangnya Bram juga menyusul, sempat menyaksikan istrinya berangkat di jemput oleh opa-opa gadungan. "Dia sopirnya atau pacarnya?" gumam Bram kemudian masuk ke dalam mobil dan berangkat mengiringi mobil Habibah.

Hari menjelang akhir pekan, semua karyawan Media Utama pulang lebih awal dari biasanya. Termasuk Habibah sudah keluar dari ruangannya.

"Habibah." Kiki menghampirinya dengan wajah tersenyum seperti biasa.

"Ah, kebetulan kau belum pulang. Aku akan pergi ke pusat perbelanjaan bersama Lee."

"Kau akan mengajakku?" tanya Kiki sudah kegirangan lebih dulu.

"Ya, Dino juga." ucap Habibah mencari keberadaan OB temannya.

"Itu dia. Dino!" Kiki memanggil pria polos itu, tampak sudah bersiap pulang.

"Kita langsung berangkat saja." Habibah mengajak Kiki menghampiri Dino diambang pintu.

"Ada apa?" Dino melihat kedua wanita cantik beda profesi itu.

"Kita akan jalan-jalan." Kiki tertawa senang meraih lengan Dino dan menariknya.

"Jalan-jalan kemana Mbak?" Dino masih terlihat bingung. Terlebih lagi mereka akan masuk mobil mewah.

"Hanya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan Dino." jawab Habibah meminta teman-temannya masuk.

"Ini mobil siapa to?" tanya Dino masih tak mau melangkah masuk.

"Ini milik Lee, masuklah dan kita akan berangkat." jawab Habibah lagi.

"Tapi Mas." Dino menatap sopir Habibah yang tampan, tidak terlihat seperti seorang sopir.

"Masuklah, kau teman No_"

"Temanku." jawab Habibah memotong ucapan Lee.

"Udah ah, masuk aja!" kesal Kiki pada teman laki-lakinya yang terlalu polos.

"Sudah di lihat videonya?" tanya Kiki kemudian saat mobil mereka sudah melaju.

"Sudah." jawab Habibah menunduk. Mendadak hatinya kembali berdenyut mengingat apa yang terjadi kemarin, Bram bersama Larisa tampak begitu mesra, lalu pulang dan_. Habibah mengingat semuanya.

"Sebenarnya pernikahan kalian itu seperti apa?" tanya Kiki menatap wajah Habibah.

Habibah menoleh Kiki, juga dua laki-laki di depannya ikut menatap Habibah.

"Kami di jodohkan." jawab Habibah kemudian berhenti menarik nafas berat.

"Terus?"

"Mas Bram tidak mencintai aku, dan enam bulan kemudian dia akan menceraikan aku Ki." ungkap Habibah tersenyum berusaha kuat. "Aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini, aku sendiri Ki." ungkapnya lagi menahan tangis, mata beningnya berkaca-kaca.

"Kalian satu rumah kan? Terus cuek-cuek aja begitu?" tanya Kiki lagi menatap iba sahabatnya.

Habibah mengangguk.

Kiki mengusap wajahnya sendiri. "Segitu kejamnya hidup Lo Habibah." celetuknya, meringis menatap wajah Habibah yang setiap hari masih berusaha tegar menjalani kehidupan bahkan di depan mata Bram terang-terangan bersama Larisa.

"Mending cerai aja terus nikah sama dia." Kiki menunjuk Lee yang membulatkan matanya.

"Hush! Mulut Mbak Kiki suka sembarangan. Bukannya di dukung supaya membuat Pak Bram jatuh cinta begitu." Dino menyahut.

"Ya cara membuat Pak Bram jatuh cinta itu bagaimana coba? Sudah jelas terpampang di depan mata dia cuma mau sama Larisa anak bos yang sombong itu, tiap hari nempel kaya perangko."

"Ya tapi enggak di suruh cerai juga Mbak." Dino masih tidak setuju.

"Lha terus bagaimana? Kamu punya solusi?" tanya Kiki.

"Mbak Habibah harus bisa membuat Mas Bram terpesona terus meninggalkan Mbak Larisa." Dino memberi saran untuk kedua wanita di belakangnya.

"Caranya?" tanya Kiki.

"Ya buat dia sulit melupakan Mbak Habibah."

"Caranya Dodol!" Kiki mendorong kepala Dino dengan telunjuknya.

"Ya Dino enggak tau! Istrinya Pak Bram Mbak Habibah bukan aku." kesal Dino mengusap kepalanya.

Kedua wanita itu tampak pasrah mendengar ucapan Dino. Tapi tidak dengan Lee. Pria itu tersenyum tipis menatap wajah Nona majikannya dari kaca spion.

1
Nitnot
Luar biasa
Hana Nisa Nisa
top bgt
Hana Nisa Nisa
kerennnnnn
Hana Nisa Nisa
😭😭😭😭
Hana Nisa Nisa
deg degan ini
Hana Nisa Nisa
😍😍😍😍
Hana Nisa Nisa
gitu donghh
Hana Nisa Nisa
😚😚😚😚😚
Hana Nisa Nisa
okelah
Hana Nisa Nisa
tarik nafas dulu
Hana Nisa Nisa
suka
Hana Nisa Nisa
😑😑😑😑
Hana Nisa Nisa
nyimak dulu
Ayu Dwi S
konten tidak sesuai judul
Dayang Rindu: itu orang yang sengaja kak, dia bukan murni hanya menilai tapi ingin menjatuhkan. biasanya itu akun fake,
total 3 replies
Soraya
mksh y thor karyanya🙏👍
Soraya
knp sih sllu perempuan yang dibikin jatuh cinta duluan, smga karakter habibah ga lmh dn lby cm krna cinta
Soraya
permisi numpang duduk dl ya kak
Dayang Rindu: makasih kak Soraya 😍😍😍
total 1 replies
Desa Febri
ceritanya sngt bagus aku suka bngt
Sela Pertiwi
lah lee nya sama ku aja boleh gak. wkwkwkwkwkwwkwk
Dayang Rindu: boleh kak, 😁😁😁
mampir di Karya baruku ya, "Anak Kos di rumah sebelah"
total 1 replies
Dayang Rindu
jangan lupa Mampir di karya terbaru otor, " Anak Kos Di Rumah Sebelah, selingkuhan suamiku. "
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!