Pernikahan tanpa cinta yang terpaksa di jalani Erich dan Julia untuk menyenangkan hati orang tua mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meisye Cristin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan
Mengingat ancaman bundanya Erich setelah pulang kerja langsung bergegas untuk pulang ke rumah.
Tiba di rumah Erich langsung menuju ke dapur untuk menemui Julia. Terlihat Julia sedang sibuk memasak.
“Lia!” Panggil Erich.
“Iya mas!” Julia yang mendengar panggilan itu langsung menjawab.
"Aku mau bicara." Dengan ekspresi datar Erich memulai perbincangan.
"Mau bicara apa mas?"
"Bisa duduk dulu, baru kita bicara.” Kata Erich sambil menunjuk kursi yang ada di situ.
Juliapun menuruti perkataan Erich dan langsung duduk.
"Mau bicara apa mas?"
"Besok kita pergi liburan.” Tanpa basa-basi Erich langsung ke intinya.
"Liburan?” Julia sedikit kaget dengan ucapan Erich yang benar saja Erich mengajak Julia liburan apa tidak salah dengar.
"Ya! Bukan hanya kita berdua tapi liburan bersama Ricat dan teman-temanku juga.”
"Ricat siapa mas?" Tanya julia.
"Dia sepupu sekaligus staf aku di kantor."
"Kok aku gak kenal?"
"Sewaktu pernikahan dia gak bisa datang karna ayah ngutus dia untuk perjalanan bisnis. Nanti aja kalau kamu mau kenalan sama dia pas liburan."
"Kalau aku ga ikut, gimana?"
"Sebenarnya bukan masalah jika kamu tidak ikut, hanya saja bunda memaksa aku untuk kamu harus ikut. Jadi ini harus kamu gak boleh sampai gak ikut.”
"Baiklah tapi aku minta hadiah."
"Hadiah?" Bertanya dengan wajah bingung.
"Iya, hadiah kalau ga mau aku gak ikut." Jawab Julia ketus.
Erich sejenak berpikir kira-kira hadiah apa yang akan di minta julia padanya. "Palingan dia sama saja dengan wanita-wanita matre di luar sana yang akan meminta tas, baju atau barang-barang branded lainnya." Batin Erich.
"Udah ah, gak usah kalau gak mau."
"Eh iya-iya, tapi selain ikut ke liburan kamu juga harus berpura-pura."
"Maksudnya?"
"Kamu harus berpura-pura bahagia dengan pernikahan ini, saat liburan nanti nikmatilah dan bertingkah seperti pasangan biasanya yang bahagia."Lugas menjelaskan.
"Baiklah aku setuju."
"Kamu bisa mendapatkan hadiah kalau actingmu berhasil."
"Ya, udah kalau gitu nanti malam aku packing barang-barangku."
“Baguslah, dengar jangan sampai ada yang tahu bagaimana kondisi pernikahan kita apalagi Ricat.”
"Baiklah, aku janji gak akan ada yang tahu termasuk sepupu kamu itu."
"Bagus, kalau gitu aku mau naik ke atas."
"Iya mas." Dan Erich berlalu dari hadapan Julia.
Tak mengapa jika pergi liburan bukan inisiatif Erich sendiri yang penting bagi Julia adalah setiap moment yang dia lewati bersama Erich itu berharga karena Julia tidak perna tahu kapan pernikahannya berakhir mengingat bagaimana perlakuan Erich di hari pertama pernikahan mereka membuat Julia tidak terlalu bayak berharap tapi juga tidak ingin menyerah dengan semuanya, Julia hanya berdoa semoga suatu saat semua bayangan keluarga bahagia yang ada di pikirannya selama ini bisa terwujud bersama Erich. Entah kapanpun itu Tuhan mengabulkan Julia akan selaku menunggu namun, jika nanti semuanya tidak sesuai dengan apa yang Julia semoga kan maka ia pun harus bisa menerima apapun itu karena sejatinya berusaha adalah kewajiban setiap manusia dan perihal kabul mengabulkan itu urusan Tuhan.
Hallo Readers Semoga kalian terhibur ya, aku harap novel ku bisa jadi salah satu novel favorit kalian, maaf loh kalau masih banyak kurangnya harap dimaklumi karna ini merupakan novel pertama aku, dan jangan lupa mampir ke novel kedua aku judinya True Love. Terima kasih☺
biar klepek2 tu erich
ijin promosi ya..
karya pertamaku
judulnya
harapan yang tak diimpikan.
yuk mampir
mohon kritik dan sarannya ya..