Bagaimana jika hubungan yang telah di jalin selama empat tahun terbentang oleh restu orangtua?
Apa harus terus bertahan hingga restu itu datang tanpa kepastian hubungan? atau memilih untuk mengakhiri hubungan dan menjalani kehidupan masing-masing? Atau malah memilih bertahan dan memantapkan hubungan itu meski harus melawan restu?
Begitu lah dengan kisah Kriss dan Delia yang hubungannya harus terombang-ambing karena RESTU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Kini Kriss dan Delia sudah sampai di kontrakan Delia.
"Makasih yah." Ucap Delia pada Kriss tepat di depan pintu kontrakan Delia.
"Kamu gak nyuruh aku masuk dulu?" Tanya Kriss.
"Udah malam Kriss, aku juga udah capek. Aku mau langsung istirahat." Balas Delia.
Kriss memicingkan matanya, ia tahu itu hanya alasan Delia untuk menghindarinya, Kriss juga tahu saat ini kekasihnya itu sedang memendam sesuatu.
Kriss tidak memperdulikan kata-kata Delia yang mengatakan sudah lelah, ia mengeluarkan kunci cadangan kontrakan Delia dari dalam kantongnya, lalu membuka pintu kontrakan itu.
"Kamu mau apa Kriss?" Tanya Delia saat melihat kekasihnya itu membuka pintu kontrakannya.
"Aku mau rebahan dulu, mau ngopi dulu, aku capek nyetir. Nanti kalau aku paksain, bisa tabrakan." Jawab Kriss.
Ceklek. Pintu pun terbuka. Cepat-cepat Kriss masuk ke dalam rumah petak itu. Sedangkan Delia hanya menghela nafasnya kasar melihat tingkah Kriss.
"Aku bikinin kopi dulu." Ucap Delia dan langsung berjalan menuju dapur.
Sedangkan Kriss, ia langsung mendudukkan dirinya di karpet.
Tak lama Delia pun datang dengan secangkir kopi untuk Kriss.
"Ini. Aku mandi dulu." Ucap Delia sambil meletakkan secangkir kopi itu di depan Kriss.
Namun, belum juga Delia melangkah, Kriss langsung menarik tangan kekasihnya itu hingga Delia terduduk di pangkuan Kriss.
"Apaan sih Kriss, aku mau mandi dulu." Omel Delia.
"Kamu kenapa? Sepanjang perjalanan tadi sampe sekarang wajah kamu gak enak banget, kamu marah sama aku?" Tanya Kriss tanpa menghiraukan omelan Delia.
Delia menggelengkan kepalanya.
"Aku capek Kriss, ngantuk." Jawab Delia berbohong.
"Jangan bohong sayang, bilang sama aku apa yang mengganjal di hati kamu. Apa karena Mama minta aku ke Singapura setelah aku wisuda nanti?"
Delia tak menjawab, ia hanya memasang raut wajah sedih sambil menundukkan wajahnya.
Melihat itu Kriss menghela nafasnya kasar, tanpa Delia menjawab, Kriss sudah tau jawaban Delia.
Kriss menarik wajah Delia agar bisa mata mereka saling bertatapan.
"Kalau kamu gak mau aku kesana, aku gak akan kesana." Ucap Kriss.
Delia menggelengkan kepala.
"Jangan Kriss, Mama kamu baru merestui hubungan kita, masa iya kamu udah mau nolak permintaan Mama kamu, pasti nanti Mama kamu jadi mikir aku yang ngelarang kamu kesana."
"Kalau gitu kenapa kamu cemberut gini? Aku lebih baik Mama gak ngerestuin hubungan kita daripada ngeliat kamu cemberut kayak gini. Kalau aku paksain kesana dengan kamu yang gak ikhlas, nanti disana aku juga gak tenang sayang."
"Aku bukannya gak ikhlas Kriss, aku cuma takut aja."
"Apa yang kamu takutin?"
"Aku takut kamu berpaling dari aku. Selama empat tahun kita pacaran kan, kita gak pernah long distance, aku takut saat kita long distance, kamu jadi gampang tergoda dan berpaling dari aku."
"Astaga Del, apa menurut mu cinta ku ini sedangkal itu? Cinta ku ke kamu tuh dalem, lebih dalam dari lautan, gak akan semudah itu buat aku berpaling dari kamu. Apalagi hubungan kita juga udah dalam." Jawab Kriss.
"Aku kan udah bilang, jangan berpikiran yang aneh-aneh tentang aku, seolah-olah aku ini laki-laki yang gak bertanggung jawab." Ucap Kriss lagi.
"Atau gak gini aja, kalau memang kamu takut aku tergoda, kita nikah secara agama dulu dan kamu ikut aku ke Singapura." Usul Kriss.
Mendengar usulan Kriss, cepat-cepat Delia menggelengkan kepalanya.
"Mama aku pasti gak akan setuju kalau kita menikah secara agama." Balas Delia.
"Ya terus mau kamu gimana?"
Delia langsung memeluk tubuh Kriss.
"Mau aku kamu tetap setia dan jangan berpaling dari aku Kriss, aku sekarang takut kamu tinggalin. Seandainya kamu gak merenggut mahkota aku, aku mungkin gak setakut ini." Ucap Delia dengan sedikit isakan.
"Hey sayang, dengar!! Percaya sama aku, aku bukan laki-laki bastard yang dengan mudah pindah kelain hati setelah mengambil mahkota mu." Balas Kriss mencoba menenangkan hati sang kekasih yang sedang di landa kegundahan.
"Inti nya agar hubungan kita bisa bertahan selama setahun kita long distance, kita harus saling percaya dan komunikasi. Yakin deh, setahun itu gak akan lama." Ucap Kriss lagi.
Delia pun menganggukkan kepalanya dalam pelukan Kriss.
Bersambung...