Dear diary...
Siapa yang akan mati selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Far Choinice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permen Karet
31 Agustus 2020
Headline News media cetak dan elektronik sama, semua menceritakan tentang kematian tragis, pembunuhan misterius yang menimpa Sherin, vocalist Harmonia. Tidak ada bukti, tidak ada saksi, tidak ada petunjuk. Sebuah pembunuhan misterius, Pembunuhan hantu. Para fans tampak berduka. Harmonia pun terlihat lesu dan tidak menyangka akan kematian Sherin.
Hati Dei mencelos, bergetar, berdesir halus mendapati kalimat itu, Pembunuhan hantu. Hantu.
Dei duduk di kursi yang ditata, berjejer rapi di halaman rumah Sherin. Garis kuning polisi terbentang di beberapa tempat. Beberapa artis nampak datang, berbelasungkawa. Dei melirik Langit yang duduk di sampingnya dengan gurat terkejut bercampur sedih dan kemarahan. Dei menggenggam tangan Langit yang dingin dan mencoba tersenyum menenangkan. Langit hanya menatapnya datar sekilas lalu kembali tenggelam dengan pemikirannya sendiri. Kecewa.
Yuna nampak datang bersama Deka, gitarist Harmonia. Sepertinya, berita kematian Sherin pun membawa sedikit angin segar bagi kedua muda mudi yang tengah kasmaran itu.
“Hei,” sapa Yuna sambil memelukku kecil, membuatku melepas genggaman dari tangan Langit.
“Sherin masih diautopsi, tapi acara pemakaman tetap berlangsung sekarang,” desah Deka sambil duduk di samping Langit.
“Siapa yang tega ngelakuin ini sama Sherin? Apa salah Sherin?” tanya Yuna dengan nada sedih.
Dei menghela napas panjang. Dia tidak tahu harus berkata apa—tidak sanggup—. Ia memandang getir garis kuning polisi yang melambai di depan kamar Sherin, di depan lokasi ditemukannya tubuh Sherin tanpa nyawa. Yang paling mengenaskan, dua bola mata Sherin lenyap. Dei bergidik kecil, ia terpejam dengan kerutan di dahi. Ia mencoba menepis bayangan itu. Mimpi itu. Mimpi yang menjelma jadi nyata, menyisakan kengerian dalam ingatan Dei.
“Aku bersumpah. Aku akan menemukan pembunuh itu,” erang Langit.
“Seandainya bisa,” sahut Deka.
Dei mengernyit kecil melirik ke arah Deka yang baru saja menatapnya. Deka nampak berubah. Rambutnya diwarnai kemerahan dan dia memiliki tubuh lebih besar dari terakhir mereka bertemu. Tapi, suara Deka terdengar tegas dan mendiskriminasi. Para personil Harmonia nampak bertekad untuk mengungkapkan siapa yang melakukan ini pada Sherin. Dei hanya bisa terdiam dan tenggelam dalam rasa takutnya sendiri.
“Lama nggak ketemu. Aku suka warna rambutmu, Deka,” ucap Dei basa-basi.
“Yah, semerah darah Sherin yang tumpah di dalam kamar itu,” ucap Deka yang syarat kemarahan. Memandang lurus jendela kamar Sherin. Deka tampak masih kesal dan marah.
Dei ikut menatap jendela kamar itu dan seketika tercekat. Dei, melihat sesosok perempuan berada di balik tirai jendela itu. Samar namun serasa membuat Dei takut, bergidik perlahan. Dei yakin, sosok itu menatapnya dengan tatapan tajam yang menusuk. Sosok yang bersembunyi di balik bayangan. Mama.
Dei nyaris memekik, namun ia menahan diri. Gadis itu mencengkeram tangannya dan kembali memandang jendela Sherin. Lenyap. Sosok itu telah lenyap. Rasa takut Dei bercampur aduk dengan sebuah tanda tanya besar yang jujur, membuatnya cemas.
Apakah mama yang membunuh Sherin? Tapi, kenapa? Apa ini mimpi buruk yang dijanjikan dari takdir?
-oOo-
Kling Kling.
“Selamat datang. Silahkan memilih rotinya.”
Dei mengulas sebuah senyuman sambil menatap seorang wanita paruh baya yang baru memasuki toko roti. Wanita itu nampak menatap Dei sekilas sambil tersenyum kecil. Wanita itu berbelok menuju rak berisi kue ulang tahun. Dei melihat setelan pakaian resminya yang sederhana namun elegan. Wanita itu tampak sibuk memilih kue yang hendak ia beli. Lalu menunjuk sebuah kue cokelat dengan topping buah strawberry.
“Saya mau beli yang ini. Tolong dibungkuskan,” ucap wanita itu. Suaranya cukup merdu dan berat, tegas.
“Baik,” sahut Dei seramah mungkin sembari menghampiri wanita itu, meraih nampan dan mengambil kue pesanan wanita itu.
Dei kembali ke counter dan mengeluarkan sebuah kotak dengan corak manis seukuran kue itu dan menata kue itu ke dalam kotak itu. Dei mendongak dan menemukan wanita itu tengah berdiri di depannya, menunggu namun menatap lekat ke arah Dei seolah mengenal Dei dengan baik. Manik mata wanita itu terus menelisik setiap gerak-gerik Dei sambil sesekali mengulas senyum.
“Apa anda mau menuliskan kartu ucapan pada kue ini?” tanya Dei.
“Yah, boleh.”
Dei menyodorkan sebuah kartu ucapan berwarna krem pada wanita itu yang kemudian sibuk menulis sesuatu di atas kertas itu dengan serius lalu kembali menyodorkannya pada Dei. Dei melipat kartu itu namun terhenti untuk membacanya sekilas.
Selamat Ulang Tahun. Semoga mimpi panjangmu tetap indah. 31 Agustus 2020.
Dei tertegun. Bukan pada tulisan itu, tapi pada tanggalnya. Berita kematian Sherin dan mimpi buruk yang dialaminya membuat Dei melupakan sesuatu yang penting. Hari ini adalah hari ulang tahun papanya. Benar. Ini tepat hati ulang tahun papa.
Dei menggeleng kecil, kembali sadar jika ia sedang bekerja. Dia tersenyum tipis dan menyiapkan kotak kue pesanan wanita anggun itu.
“Selamat menikmati kuenya dan silahkan datang kembali,” ucap Dei ramah seraya menyodorkan kotak kue tadi pada wanita itu.
“Panggil saja Elisa. Elisa Anggraini. Saya seorang dokter psikiater.” Ujar wanita itu memperkenalkan dirinya dengan tegas.
“Oh. Ya, salam kenal.” Sahut Dei seramah mungkin. Wanita anggun dengan pekerjaan yang cukup bagus.
“Ini kartu namaku. Jika sewaktu-waktu aku ingin memesan, untuk mempermudah..”
“Ah... iya. Jika anda mau memesan kue lagi, silahkan hubungi nomor yang tertera di kotak kue itu,” ujar Dei ramah namun tetap menerima kartu nama yang disodorkan wanita itu. Dokter Elisa.
Dokter Elisa nampak melangkah keluar menenteng kotak kuenya dengan puas. Dei menyimpan kartu nama wanita itu ke dalam laci toko lalu ia beringsut menuju rak kue ulang tahun dan nampak menatap kue-kue itu dalam diam. Tidak, dia tidak ingin merayakan apapun. Tidak, bahkan jika itu ulang tahun papanya.
Dei hampir berbalik menuju counter saat matanya menangkap sosok Deka tengah berdiri di luar toko roti. Deka nampak terdiam datar di sana. Dei berkerut samar lalu melangkah menghampiri Deka.
“Hei, kenapa di luar aja?” tanya Dei bingung.
Deka terdiam, menatap Dei sekilas lalu bergeming, menyelipkan tangannya ke dalam saku celana, “Harmonia akan vakum sementara waktu. Penyelidikan kematian Sherin masih menemui jalan buntu. Produser tidak banyak membantu tentang karir kami selanjutnya. Aku bingung dan tiba-tiba sudah berada di sini. Kamu ada waktu?” tanya Deka.
Dei melirik jam tangannya dan mengangguk singkat. Dia bisa menemani Deka tapi dia masih harus menyelesaikan shift kerjanya.
“Tunggu aku sejam lagi. Audy akan datang menggantikanku jaga toko.”
“Oke. Thanks. Aku butuh teman ngobrol.” Deka nampak menunjukkan raut wajah yang lesu dan tidak bersemangat. Tapi kedua manik matanya syarat kemarahan. Dia masih mengomel soal pembunuh Sherin.
Dei mengangguk sekilas dan tersenyum tipis. Saat Dei berbalik hendak meninggalkan Deka, Dei sekali lagi menelisik mata Deka. Kelam. Seperti ia dalam sebuah tekanan besar.
-oOo-
“Aku turut berduka. Untuk Sherin,” ucap Dei sambil memutar cangkir berisi Machiato hangatnya.
Deka tampak tersenyum miring, lebih seperti mendesis sambil menunduk, mengaduk-aduk isi cangkirnya yang mengepulkan asap hangat. Aroma cokelat bercampur kopi menyeruak seiring mata Deka yang perlahan menatap lurus Dei.
“Menurutmu, siapa yang tega melakukan ini pada Sherin? Ini... terlalu mendadak dan... sadis. Aku, jujur... tidak menyangka.”
Dei ikut hanyut dalam nada bicara Deka yang perlahan. Semua masih tentang Sherin. Tentang kematian gadis yang tenar secara mendadak. Sadis, memang. Dei bahkan bisa merasakan kesadisan itu secara langsung. Membayangkan saja membuatnya mual dengan darah yang mencuat dimana-mana. Dei mengusap lehernya perlahan sembari mendesah pendek, ia tidak mau mengingat semua itu.
“Aku... aku juga tidak tahu. Semoga polisi menemukan pembunuhnya. Secepatnya.”
Deka mengangguk-angguk kecil. Dei menatap Deka. Perilakunya sedikit aneh. Hanya nampak lebih kelam dan lebih dingin. Apa kematian Sherin, melukainya? Apa mungkin... Deka menyukai Sherin? Dia sangat berduka akan kematian Sherin. Sedikit berlebihan.
“Bagaimana hubunganmu dengan Sherin, Deka? Kau... menyukainya?” tanya Dei yang kemudian membodohi dirinya atas pertanyaan konyol yang ia lontarkan.
Deka tertawa kecil seraya menyandarkan punggungnya malas di kursi Kafe, “Sherin memang sempurna. Tidak akan mudah bagi seorang pria untuk menampik pesonanya.”
Dei terdiam sambil menatap Deka kosong.
Yah, dia sempurna secara fisik, bakat dan kepribadian. Tapi, Langit tidak tertarik, khan? Jadi, analisis Deka jelas salah atau memang ditujukan untuk dirinya sendiri.
Tak lama, Dei merasakan ponselnya bergetar. Buru-buru ia membongkar isi tas, mencari letak ponselnya saat ia kemudian kembali membeku di tempat. Terdiam dengan wajah datar. Buku semerah darah itu ada di sana. Di dalam tasnya.
Napas Dei kembali tercekat, serasa terhenti di pangkal tenggorokan menatap buku itu di sana. Tiba-tiba di sana. Padahal, seingat Dei, dia masih meletakkan buku itu di sudut kamar karena masih terlalu takut dengan isinya.
Lagi. Dei menemukan buku semerah darah itu, menempelinya. Dei menyentuh buku itu dan membalik sebuah halaman, melewati halaman buku yang mengkisahkan kematian Sherin. Sebuah kalimat kembali terbentuk di sana.
Mati.
Dei menelan ludahnya sekuat tenaga, mencengkeram buku semerah darah itu dengan ketakutan sekaligus kemarahan. Dan saat ia mendongak, ia mendapati tatapan Deka terarah lurus padanya. Dalam. Kelam.
“Kau baik-baik saja?” tanya Deka dengan nada tegas dan penasaran.
“Ah, sepertinya aku punya janji. Aku ingin pergi duluan. Makasih untuk traktirannya.”
“Yah, sama-sama. Senang bertemu denganmu lagi, mengobrol banyak. Aku sedang butuh banyak pengalih perhatian... Dei.”
Dei tersenyum kecil lalu berpikir kecil, “Bagaimana jika teman ngobrol seperti... Yuna?”
Deka terkekeh kecil sambil menggeleng, “Harmonia sedang kacau. Aku kacau. Sulit memperlihatkan keadaan kacau di hadapannya.”
Seulas senyum terukir di bibir Dei. Mereka benar-benar kasmaran. Dei menarik kembali pemikirannya tentang perasaan Deka pada Sherin. Jadi, rasa kagum Deka akan kesempurnaan Sherin hanyalah sebatas rekan. Tidak lebih. Entah kenapa, kesimpulan itu membuatnya lega. Itu artinya, Harmonia memang murni batas hubungan kerja mereka semua.
“Semua dalam masa sulit memang. Lebih baik jika kita saling menenangkan. Dan, tidak ada salahnya jika kamu menghubungi Yuna.”
“Yeah... aku pikirkan nanti. Katanya kamu ada janji. Pergilah... .”
“Hmm... oke. Aku pergi dulu.
Sorry nggak bisa nemenin lama-lama.”
“It’s okay.”
Dei kembali merasakan hawa dingin menyeruak, membuatnya kembali teringat dengan kehadiran misterius buku di tasnya. Ia tersenyum singkat lalu bangkit dari kursinya dengan cepat sambil mencengkeram tali tasnya.
Dei segera menjejakkan kakinya meninggalkan Deka. Perasaannya kalang kabut. Buku merah darah itu seperti permen karet. Melekat erat dan menempelinya terus. Dei melangkah menyusuri jalanan yang mulai temaram dengan tangan bergetar mencengkeram tas yang tergantung di bahu kanannya. Langit sore berwarna orange berarak seiring langkah Dei dan sepasang kaki bayangan tak kasat mata yang terus mengekorinya, membuat Dei semakin gelisah tanpa tahu sesuatu mengintainya.
-oOo-
Bersambung
Jangan lupa like, komentar ya gaesss
Kalau berkenan, berikan sedikit hadiah dan vote... ^^
Regards Me
Far Choinice
Silence mampir kak, semangat berkarya baru 🥰💪🌹