perkenalan
namanya Roman maulana satria usia dua puluh empat tahun pendidikan sarjana hukum lulusan amerika.hidup sebagai preman jalanan walau merupakan putra konglomerat pewaris tunggal satria corp. kisah cintanya tak direstui ibunya. yok kita lihat perjuangan hidupnya untuk mengungkap kasus kematian kekasihnya yang dibunuh dengan menularkan virus covid 19 yang lagi viral dan menghilang dari kedua orang tuanya. mari kita masuk dalam kisah pertama pulang ke Idonesia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisnu Arca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biarkan aku yang memilih
Malam ini malam kelabu bagi Roman, sebab dia mendapat teguran keras dari Marisa mamanya sendiri.
Jika dia masih berhubungan dengan Morrin. Maka, mamanya mengancam akan meninggalkannya pulang ke china. Kenegeri leluhurnya walau dia sendiri lahir dan dibesarkan di nusantara ini.
Ancaman ini bukan sebuah gertakan, Karena pamannya yang ada di negeri panda tersebut memberi peringatan kepada Roman, agar tidak mengecewakan adiknya(Marisa). Dari pada adiknya menderita karena wanita yang dicintai Roman sangat tidak disukai oleh Marisa.
Maka,
Sesuai permintaan Marisa lebih baik dia kehilangan suami dan anaknya serta hidup dalam kesendirian.
Satu satunya jalan untuk tidak melihat wajah Morrin yang hidup berdampingan dengan Roman adalah pergi sejauh jauhnya dan pilihannya adalah china.
Memang ini dilema bagi Roman. Sebagai anak dia tidak rela mamanya tinggal di negeri panda itu. Karena banyak sekali perbedaan cara hidup antara negeri panda itu dengan negeri nusantara ini.
Seluruh keluarga mamanya hidup tidak percaya dengan adanya tuhan dalam arti mereka semua atheis. Inilah yang menjadi beban pikiran Roman.
"Mama terlalu egois ingin menang sendiri!" tatap Roman kesal pada mamanya.
"Kamu yang egois...tidak mau mendengar mama!" bentak Marisa.
"Mama mengekang kehidupanku dengan mementingkan keinginan mama sendiri!" bantah Roman.
"Itu kulakukan untuk kelangsungan hidup masa depanmu?!!" Marisa masih tetap ngotot.
"Termasuk dengan menjodohkan aku, dengan Winda perempuan ******, yang mama belum tahu. apakah dia perempuan baik baik atau bukan!" Roman melontar kata kata sedikit tidak sopan.
"Hey...jangan ngomong seperti itu, aku tidak suka kamu berkata seperti itu!" cegah Marisa menasehati Roman.
"Memang kenyataannya seperti itu ma... aku sudah tahu siapa Winda itu!" kata Roman serius pada mamanya.
Marisa menatap putranya dengan tajam. Hatinya heran, sepertinya putranya sudah tahu siapa perempuan yang selama ini dibangga banggakan. Dan dia sendiri hanya tahu Winda adalah perempuan baik baik.
Dalam hati Marisa berkata, kalau Roman tidak pernah berbohong. Dia akan berkata apa adanya dan yang sebenar benarnya.
"Dari mana kamu tahu kalau Winda adalah perempuan ******, sampai kamu memponis perempuan itu seburuk itu!" kata Marisa mulai melemah
"Kau buktikan kepadaku!" tambah Marisa ingin Roman membuktikannya.
"Baik, akan kutunjukan buktinya!" jawab Roman dengan tenang. Lalu Roman mengeluarkan flash disk dari dalam kantungnya kemudian disambungkan ke layar televisi yang ada didepan mamanya.
"Nah, mama mengenal laki laki ini?" tunjuk Roman pada mamanya.
"Tidak!" sahut mamanya singkat.
"Namanya Ghazan, bukan asli orang Indonesia. Dia datang ke Indonesia sebagai burunan cia dan kepolisian Indonesia, dia adalah penjahat yang sangat berbahaya!" Roman menjelaskan mamanya.
"Lalu apa hubungannya dengan Winda!" tanya Marisa ingin tahu.
"Tunggu sebentar ma...mama lihat saja rekaman ini!" pinta Roman menunjukan rekaman flash disknya.
"Lihatlah ma...siapa perempuan yang terluka parah yang di bawa Ghazan!" tunjuk Roman pada sosok wanita yang terluka parah dipapah kedalam mobil.
"Biar mama tahu Ghazan adalah pacarnya, Winda telah melakukan kejahatan. Bersama sama dengan pacarnya ingin membunuh seorang wanita!" lanjut Roman menceritakan mamanya.
"Aku belum percaya bisa saja itu sebuah rekayasa agar kamu tidak menyukai Winda!" bantah Marisa.
"Rekayasa apa ma...aku sendiri yang merekam kejadian ini!" kata Roman.
"Ma...jodoh,umur dan rejeki sudah ditentukan oleh Allah. Jadi mama tidak boleh menentukan sendiri pilihan mama untukku, biarkan aku yang memilih sendiri sesuai dengan ketentuan hatiku!" Roman menasehati mamanya
"Didalam al qur'an surat an nur, ayat tiga puluh dua mengatakan nikahilah orang orang yang masih sendiri, diantara kalian. baik yang sudah merdeka ataupun yang masih budak. Lebih lebih yang pakir!" lanjut Roman.
Marisa terdiam menghela napas panjang. Apalagi dia tahu putranya memiliki ilmu agama yang dalam.
Sekarang, kita lihat dua rumah sakit berbeda. yakni rumah sakit bunda kasih dan rumah sakit kusuma wijaya, tempat Hadi dan Winda dirawat.
Hadi dan Winda sama sama sudah keluar dari rumah sakit tempat mereka dirawat. Masing masing keluar dengan
Misi yang berbeda.
Winda keluar dengan misi ingin membalas dendam kepada Nadira yang telah melukainya. Sedang Hadi keluar dengan misi tak ada dendam sedikitpun kepada siapapun.
Sebuah mobil warna pink melaju dengan kencang menuju bungalow tempat di mana Ghazan biasanya istirahat.
Ditempat pesanggrahan itu Ghazan dan beberapa anak buahnya, tempat berkumpul merencanakan semua kegiatan, yang akan dilakukan selanjutnya untuk menyelesaikan tugas yang telah diberikan Toni.
Zalu membisik telinga Ghazan kalau Winda sekarang sedang menghampiri mereka.
"Bos...Winda datang!" bisik Zalu.
Langsung Ghazan mengarahkan pandangannya kearah yang diberi tahu Zalu.
Ghazan berdiri menyambut Winda.
"Win!" sambut Ghazan seraya merangkul dan mencium pipi Winda dengan lembut.
"Gimana...kalian semua baik baik saja!" sapa Winda.
"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat!" jawab Ghazan senang.
"Maaf kami tidak bisa datang menjengukmu dirumah sakit!" lanjut Ghazan sedih.
"Tidak apa apa.aku ngerti posisimu!" timbal Winda.
"Aku ingin bicara empat mata denganmu!" sambung Winda menatap Ghazan serius.
"Kapan!" tanya Ghazan penasaran.
"Sekarang!" pinta Winda.
"Baik!" kata Ghazan memenuhi permintaan Winda.
Winda dan Ghazan kemudian membicarakan sesuatu yang tidak di ketahui oleh anak buah Ghazan.
Usai mereka berunding.
Tampak raut wajah Ghazan gembira sekali.
"Aku salut dengan rencanamu ini. Ini adalah rencana yang sangat brilian sekali, dan sampai sekarang tak ada satupun penjahat yang menggunakannya!" kata Ghazan bersemangat.
"Sekarang tanya siapa anak buahmu yang tahu orang yang sedang dirawat di wisma atlet!!" tanya Winda.
"Tunggu sebentar!" pinta Ghazan menepuk pundak Winda.
Ghazan memanggil Bisri salah satu anak buahnya yang istrinya sedang dirawat di wisma atlet.
Bisripun berlari kecil saat dirinya di panggil Ghazan.
"Bos...manggil saya?!!!" tanya Bisri.
"Iya,aku mau tanya apa istrimu masih dirawat di wisma atlet!" tanya Ghazan.
"Masih bos...malah, Makin gawat bos!" jawab Bisri.
"Itu lebih bagus!" timbal Ghazan serius.
"Lebih bagus gimana bos...aku tidak ngerti!" tanya Bisri lagi kebingungan.
"Nanti...kamu aku tahu!" Ghazan memberi penjelasan pada Bisri.
Ghazan mengumpullkan anak buahnya ditempat rahasia, untuk membahas rencana kerja mereka yang mengandung resiko.
Ditempat lain, Toni dan Yayan baru saja keluar dari kafe walian. Belum mereka masuk dalam mobilnya Nadira datang pas parkir disamping mobil Toni.
Dengan tenang Toni menyindir Nadira yang baru saja turun dari mobilnya.
"Yan...hati hati ada singa betina cari mangsa!" Toni tarik tangan Yayan.
"Mana?" Yayan pura pura matanya mencari yang wanita dimaksud.
"Itu!" tunjuk Toni kearah Nadira.
"Wah...kalau yang ini sih aku mau?!!" timbal Yayan dengan mata jelalatan penuh napsu.
Dengan tenang Nadira melayani dua mahluk yang dikenal busuk serta rasanya Nadira mau muntah melihat wajah Toni.
Sambil melipat dua tangan didadanya Nadira nyamperin Toni dan Yayan.
"Kasihan cintanya ditolak, sewa pembunuh bayaran!" ejek Nadira tersenyum
"Tentu saja cintaku di tolak karena kau yang hasut!" tatap toni dengan dendam.
"Ooo aku yang hasut atau mata morrin yang muak dengan wajah busukmu!" Nadira menaikan alisnya sambil memutar mutar kunci mobilnya.
"Jaga mulutmu perempuan busuk!" darah Toni akhirnya mendidih dibuat oleh Nadira.
Toni tidak dapat mengendalikan amarahnya. Diapun langsung menghajar Nadira.
Dengan tenang Nadira meladeni serangan Toni.
nah gays bagaimana kisah selanjutnya
apakah Toni berhasil menghajar Nadira atau sebaliknya Toni yang dihajar habis.
Ikuti terus kisahnya dan jangan lupa like dan share ya...trima kasih.