SEQUEL dari Novel BOSKU SUAMIKU
Zia putri reyga, putri bungsu dari pasangan Zara almeera reyga dan Alfatih reyga. Gadis berparas cantik yang berkepribadian periang harus menerima perjodohannya dengan seorang pria yang ia sukai di masa lalu, yang saat ini menjadi dosennya.
Nathan himawan, pria berpostur tinggi tampan yang merupakan seorang dosen di sebuab Universitas tempat Zia menuntut ilmu. Perjodohannya dengan Zia mampu menggetarkan hatinya yang sempat mati.
Namun pernikahan yang mereka jalani cukup rumit, kehadiran orang ke tiga di antara mereka mampu membuatnya saling menjauh.
Saling mencintai namun tak terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Alifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIDUR BERSAMA
Karena paksaan dari Zara dan Al, Zia dan Nathan harus menginap di rumah utama. Dengan alasan sedari menikah mereka berdua belum pernah menginap di rumah itu maka Zia dan Nathan pun tak bisa menolaknya.
Setelah makan malam, seperti biasanya tradisi di keluarga konglomerat itu akan berkumpul di ruang keluarga untuk sekedar berbincang-bincang hangat. Tak ada yang penting dari perbincangan mereka, hanya membicarakan seputar kegiatan mereka hari ini.
Nathan yang duduk selonjoran di karpet bulu menyandarkan punggungnya pada kaki sang istri yang duduk di atas sofa. Pria itu tengah menemani opa bermain catur.
Sedangkan pasangan Rafa dan Rea duduk merapat dia tas sofa. Mereka tak pernah bisa berjauhan walau hanya sekedar duduk saja.
Sementara Zara dan Al tengah menemani Nara mengerjakan tugas sekolahnya, mereka kompak duduk lesehan di karpet bulu.
"Oma kemana ma??".
Zia bertanya, tangannya menyugar rambut sang suami yang berada di bawahnya.
"Katanya Oma udah ngantuk, jadi ke kamar duluan". Zara menjawab, kemudian kembali fokus pada sang cucu yang tengah menulis di atas buku tugasnya.
"Jadi kapan kalian berangkatnya??".
Zia menoleh pada Rafa yang bertanya, sang Abang tengah mengusap-ngusap perut istrinya yang belum terlihat membuncit.
"Lusa kayanya bang, ada yang harus kami urus dulu".
Mendengar jawaban Zia, Nathan mendongak, ia tahu maksud dari ucapan sang istri.
"Apa? perlu Abang bantu gak? Biar cepet selesai".
"Gak usah bang, cuma hal kecil kok". Nathan yang menjawab, pria itu diam-diam menyimak pembicaraan sang istri dengan Abang iparnya itu.
Zia menghela nafas panjang, hal kecil katanya?? Nyatanya hal kecil itu membuat mereka belum menyatu hingga sampai saat ini.
Mereka membubarkan diri saat malam sudah mulai larut, dengan rasa kantuk yang sudah mulai terasa dan membuat mata perih.
Nathan mengikuti langkah Zia menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Sepertinya mereka harus tidur satu kamar malam ini, tidak mungkin mereka tidur di kamar yang terpisah dan akan menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan di mata seluruh keluarganya.
Nathan menutup pintu dan menguncinya, hal itu membuat Zia menoleh, gadis itu tampak mengerutkan dahinya menatap sang suami. "Kok kamu ikutin aku?". Pertanyaan bodoh itu meluncur dari bibir mungil gadis itu.
"Terus aku harus ikutin siapa? Masa aku ikutin Ijah, yang istri aku tuh kamu, bukan Ijah".
Zia terbahak, namun kemudian menutup mulutnya ketika tatapan Nathan menghujam jantungnya. "Jangan liatin aku kaya gitu, serem amat".
Zia mengusap wajah tampan sang suami dengan telapak tangannya dengan lembut, agar pria itu memutus tatapannya, namun Nathan menahan tangan Zia. Pria itu semakin mendekat, dan semakin dalam juga Nathan menatap Zia.
Zia di buat terpaku saat Nathan mengecup bibirnya sekilas, tubuhnya seakan kaku tak mampu bergerak. hanya kedipan mata yang dapat ia lakukan.
Nathan menahan tawanya, kemudian berucap lembut. "Jadi aku harus tidur dimana? Di sini atau di kamar Ijah?? Pastinya di sini kan?".
Zia masih terpaku dengan tatapan kosong, gadis itu mengangguk tanpa berkata apa-apa.
"Good". Nathan mengacak puncak kepala Zia kemudian kembali memberikan kecupan singkat di bibir gadis itu.
Zia tersadar saat mendengar pintu kamar mandi tertutup, gadis itu meraba dadanya sendiri, debaran itu masih ada dan masih sama. Entah mengapa setiap perlakukan dan sentuhan Nathan selalu membuatnya tak berdaya dengan jantung yang terpompa lebih cepat. Padahal bukan hanya kali ini saja Nathan melakukannya, tapi setiap pria itu melakukan hal yang sama, Zia selalu di buat meleleh.
Saat Nathan keluar dari kamar mandi, Zia tampak telah berganti pakaian dengan pakaian tidurnya. Gadis itu mendekati Nathan dengan membawa pakaian untuk Nathan kenakan, ia mendekap pakaian itu seolah tengah menyembunyikan dan menyamarkan suara detakan jantungnya yang masih saja tak karuan.
"Mas, ini baju ganti buat kamu, kamu kan gak bawa baju ganti jadi aku minjem ke Abang, tapi kata Abang ini masih baru kok, belum dia pake". Jelasnya.
Nathan mengangguk, mengambil pakaian yang istrinya sodorkan kemudian kembali memasuki kamar mandi untuk berganti pakaian. Nathan memang tidak membawa pakaian gantinya, berbeda dengan Zia yang meski tak membawa pakaian, pakaiannya masih banyak dia tinggalkan di rumah itu.
Zia tengah duduk berselonjor di atas ranjang ketika Nathan kembali dari kamar mandi, gadis itu tampak bingung, mereka sama sekali belum pernah tidur seranjang selama menikah, lalu sekarang apa yang harus ia lakukan?
Pertanyaan Nathan memecah kecanggungan di antara mereka.
"Gak papa kan kalo aku tidur di kamar ini? Kalo aku tidur di kamar lain takut mereka curiga".
Zia mengangguk, ia membenarkan hal itu.
"Gak papa kok".
Zia kembali terdiam, mengamati setiap gerak gerik sang suami yang kini nampak mengambil satu bantal dari atas kasur. Merasa penasaran, maka gadis itu pun bertanya. "Mau kemana mas?".
Nathan tersenyum seraya memeluk bantal yang ia bawa, kemudian meletakkannya di sofa.
"Kamu tenang aja, aku tidur di sofa kok".
Zia merasa tak enak, dan ia juga merasa gelisah, apa yang harus ia lakukan? Gadis itu hanya terdiam menatap sang suami yang kini telah membaringkan dirinya di atas sofa. Pria itu menyimpan sebelah tangannya di atas kening, lalu memejamkan matanya.
Ukuran panjang sofa yang tidak sebanding dengan tinggi badan Nathan membuat pria itu sedikit menekuk kakinya.
Zia menggigit bibir bagian dalamnya, tidur semalaman dengan keadaan yang seperti itu tentu tidak akan membuat pria itu tidur dengan nyenyak, dan tentu juga tak nyaman.
"Mas".
"Hemmm". Nathan bergumam, namun ia sama sekali tak menoleh.
"Di sini aja tidurnya".
Nathan yang terkejut dengan tawaran sang istri pun menoleh. Dan mendapat anggukan dari gadis itu justru membuatnya terdiam. Zia menepuk tempat kosong di sebelahnya, barulah pria itu tersadar dan bertanya. "Kamu serius? kalo kamu gak nyaman tidur sama aku, gak papa kok, aku di sofa aja."
"Aku gak nawarin dua kali loh mas".
Nathan tersenyum, dengan tergesa ia bangkit. Membawa bantalnya kembali dan menyimpannya di sebelah sang istri.
Mereka kemudian berbaring, menatap langit-langit kamar yang bernuansa putih dengan saling terdiam dan melayang dengan pikirannya masing-masing.
Glek
Bahkan menelan ludah pun terasa sulit bagi keduanya. Zia sampai menahan nafasnya ketika tanpa sengaja Nathan memegang tangannya.
"Maaf sayang, aku gak sengaja". Ucap Nathan.
Zia hanya mengangguk.
"Mas".
"Zia".
Keduanya saling menoleh, kemudian tersenyum saat menyadari ucapan mereka yang tanpa sengaja berbarengan.
"Kamu dulu".
"Kamu dulu".
Mereka kembali mengatakan hal yang sama dan berbarengan. Keduanya kembali tertawa.
"Mau ngomong apa sayang?".
Nathan tidur miring menghadap sang istri, menjadikan sebelah tangannya sebagai bantalan.
Dan tanpa sadar, Zia pun melakukan hal yang sama. "Aku mau, besok kita selesaikan masalah kita dengan Zeny".
Zia menatap dalam manik hitam suaminya, menunggu respon apa yang akan pria itu berikan padanya atas pernyataan yang baru saja ia lontarkan.
Nathan mengangguk, walau tampak ragu, namun pria itu menyanggupinya.
"Makasih ya mas, aku gak mau kita pergi dengan membawa beban masalah itu".
Nathan kembali mengangguk, "Besok kita sama-sama temuin dia ya sayang".
Nathan membelai pipi sang istri dengan ibu jarinya, kemudian mendekatkan wajahnya mengecup singkat kening gadis itu. Ingin rasanya Nathan mengecup bibir ranum itu, namun jika ia melakukan hal itu, maka sudah dapat di pastikan jika ia tak akan bisa menahan dirinya untuk tak berbuat lebih.
Tetep dukung Zia sama Nathan yah, tekan aja semua tombol yang ada di akhir episode ini. makasih dear🙏🙏😘😘