HIATUS
"Pilihlah masa depanmu, dan yakinlah ada aku di dalamnya..."
Sekarang Luna sudah punya pacar! Bagaimana rasanya mendapatkan apa yang selama ini dia idam-idamkan?
Season 1 sudah tamat.
Luna, seorang siswi SMA biasa. Kehidupan sekolah yang biasa. Teman-teman yang biasa. Tidak ada yang spesial. Yang berbeda cuma kenyataan bahwa ia memiliki 4 orang adik laki-laki. Adik-adik usil ini selalu menggagalkan rencana kisah cinta SMA nya.
Bak cerita Cinderella yang selalu diganggu kakak tirinya, Luna selalu diisengin adik kandungnya.
"Dek,,, pleaseeeeee,, biarin kakak pacaran sekali aja!" ~Luna
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewiluna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Buah Simalakama?
"Mau saya antar?"
Pertanyaan El berhasil membuat jantung Luna terjun bebas sampai ke dasar perutnya. Bukankah tadi dia sudah dimaafkan? Kenapa sekarang El bersikap seperti tidak ingin melepaskannya begitu saja? Apakah El hendak meminta ganti rugi? Luna sangat miskin saat ini. Lihat saja dompet tipisnya kalau tidak percaya. Luna kaget, bingung, takut di saat yang sama. Ia ingin lari secepatnya dari tempat ini, kalau itu mungkin.
Gimana nih? Harus jawab apa? Kalau ditolak nanti dia tersinggung terus marah gimana? Kalau diterima ternyata cuma basa-basi terus ngerepotin enggak tau diri gimana?
Luna sangat bingung. Ini pertanyaan yang sangat sulit, bahkan lebih sulit dari soal Try Out ujian yang selama ini sudah dia kerjakan. Pertanyaan yang membuat otaknya korslet dan kepalanya mengeluarkan asap tak kasat mata. Ia berpikir lalu menimbang, kemudian berpikir lagi lalu menimbang lagi, begitu terus tapi masih juga tidak menemukan jawaban yang baik untuk pertanyaan yang satu ini. Apa ini yang namanya makan buah simalakama? Dia merasa tidak mampu menjawabnya.
El masih memperhatikan ekspresi Luna yang lucu. Sesaat dia mengerutkan dahinya, sesaat kemudian dia melonggarkan dahinya dan bergumam tak jelas. Tangan Luna tampak gelisah. Tatapannya juga sudah berlarian ke kanan dan ke kiri. Tampaknya itu adalah kebiasaan gadis ini kalau sedang bingung.
"Sudah gelap, bahaya kalau pulang sendirian. Yuk, saya antar. Saya juga mau pulang..." El berusaha memberikan alasan yang paling masuk akal agar ia bisa mengantar Luna. Tapi Luna masih ragu dan belum menanggapi ucapan El. Dia masih sibuk menimbang dan berpikir.
El yang mulai tidak sabar menarik Luna untuk segera berdiri. Dia tidak ingin mendapatkan penolakan. Pokoknya, harus mengantar. Masih mau bersama, belum mau mengucapkan selamat tinggal. Diambilnya tas kerjanya dengan cepat sambil tetap memegangi tangan Luna, tidak ingin gadis itu kabur ataupun sekedar menghilang dari pandangannya. El menggenggam tangan Luna erat, berjalan mendahului melangkah keluar ruangan. Mereka melalui meja-meja kantor yang sudah sepi dan mulai berjalan menuju lift. El sengaja mengecilkan langkahnya, tidak ingin membuat Luna berjalan tergesa apalagi berlari. Jangan sampai terjatuh.
Di dalam lift, El berdiri menghadap pintu berkilau itu tanpa kata. Ia sengaja tidak mengucapkan apapun agar Luna tidak bisa membalas ucapannya ataupun menolaknya. El melirik Luna lewat pantulan dinding lift di depannya, diperhatikannya Luna dengan seksama. Tapi yang diperhatikan tampaknya sama sekali tidak sadar akan tatapan El.
Luna berdiri menjauh dari El, membuat tangan mereka melebar. Ia sengaja merapat di pojokan lift, sibuk membenturkan kepalanya kesana. Membuat suara ketukan kecil yang hampir tak terdengar. El yang bisa melihat pantulan bayangan Luna berpura-pura tidak tahu dan menahan tawa dalam hati. Gadis itu sedang frustasi.
Suasana kantor sudah lengang karena jam kerja sudah berakhir sejak pukul 5. Luna yang sebelumnya sudah siap menutupi wajahnya dengan sebelah tangan, bisa bernafas lega dan memutuskan untuk melangkah biasa saja. El memimpin Luna menuju mobilnya yang terparkir rapi. Sebuah sedan hitam berbunyi dan lampunya menyala saat El memencet tombol di tangannya. Luna sempat terpesona sesaat melihat mobil mewah El. Bukan mobil kaleng-kaleng, betulan kendaraan kalangan atas.
"Masuklah..." El membukakan pintu di sebelah kemudi. Luna sering melihat adegan seperti ini, terlihat sangat romantis di dalam drama yang ia tonton. Tapi sekarang saat ia mengalaminya di dunia nyata, malah rasanya menakutkan. Luna tidak bisa menolak, ia pasrah dan langsung duduk di dalam. Bersikap sebaik mungkin, duduk dengan sopan dan tidak berisik.
"Pakai dulu seat belt nya." El menunjuk sisi kursi dan Luna langsung memakainya cepat. Walaupun ia miskin, ia pernah naik mobil. Dia tau caranya memakai seatbelt. Lagi-lagi dari film yang ia tonton tentu saja. Terima kasih kepada semua drama yang membuatnya tidak norak.
Setelah terdengar bunyi klik dari sabuk pengaman yang dipakai Luna, El menyalakan mesin mobil dan mengeluarkan mobilnya dari tempat parkir. Suasana hening sesaat. "Rumah kamu dimana?" tanya El.
"Di komplek Diamond blok A2 No. 5," jawab Luna. Sangat cepat dan tepat, seperti sedang diinterogasi. Hal ini tentu saja membuat El tersenyum lagi. Gadis itu masih terus saja tegang rupanya.
El membuka aplikasi google map dan mencari lokasi yang dimaksud.
Emang ada ya perumahan yang namanya diamond? El bertanya-tanya dalam hati. Selama ini dia belum pernah mendengar nama tempat seperti itu.
Aplikasi tersebut mulai memberikan jawaban. El mendengarkan dengan seksama, dan ternyata memang ada. Gadis yang jujur, anak baik.
El mengikuti petunjuk jalan yang diberikan sebelum ia membuka pembicaraan lagi, karena ia yakin Luna tidak akan berani bicara apalagi bertanya.
"Kamu sekolah dimana Luna?" El berbicara ringan sambil fokus menyetir. Ia sengaja tidak menyalakan radio ataupun musik karena ia ingin berbincang dengan Luna dan mendengar suaranya. Bahkan suara Luna terdengar imut di telinga El.
"Di-Di SMA N 19, Pak..." Luna bicara terbata-bata.
(Note: nama sekolah fiksi ya, jika ada yang sama, maafkan)
"Kenapa kamu gugup banget sih? Kamu takut sama saya?" tanya El.
Luna menoleh horor. Pertanyaan langsung seperti ini membuatnya mati kutu.
Itu tau! Saya selama ini selalu jadi murid baik-baik yang bahkan belum pernah masuk ke ruang BP sekalipun. Sekarang malah harus ngomong sama manager ayah? Orang yang memegang masa depan keluarga dengan gaji ayah. Tentu saja saya takut, Pak... Huhu..
"Tenang aja, saya enggak gigit kok..." El mulai berguyon yang tentu saja tidak lucu buat Luna.
Bukan itu masalah nya! Luna memekik dalam hati. Orang ini sungguh tidak mengerti posisinya sekarang.
"Iya, Pak..." Luna menjawab singkat. Mudah-mudahan El tidak menuntut jawaban lagi. Ia sudah berusaha bicara setenang mungkin untuk mengurangi atmosfer kecanggungan yang mengelilinginya.
"Oh iya, jangan panggil saya Pak. Kamu kan bukan pegawai saya. Dan jangan panggil saya Om, saya geli mendengarnya." El bergidik sesaat. Dia menoleh melihat Luna yang bingung.
"Kamu bisa panggil saya Kak. Kak El..." Luna melotot mendengar ucapan El.
Sekalian aja minta dipanggil sayang!
"Terus jangan pakai saya lagi, pakai aja aku kamu, oke?"
Luna diam.
Tidak oke.
"Aku enggak bisa mecat ayah kamu sih, tapi kalau potong gaji sedikit kayaknya masih bisa..."
Luna setengah tak percaya mendengar ancaman dari mulut El. Dia pikir El tidak akan mengancamnya.
"Oke, kak El..." Luna akhirnya tersenyum membentuk huruf O dengan kedua jarinya. Mengalah saja, demi keselamatan.
Akhirnya ada yang manggil, kak! El bersorak dalam hati. Dia semakin tidak ingin melepaskan gadis ini.
"Kakak lapar, kita mampir makan dulu yuk, Lun..."
Apa gue harus makan buah simalakama lagi sekarang? Luna melotot untuk kesekian kalinya, ia mulai membatin pilu.
Bersambung...
krn el th, luna pgn kuliah ambil jurusan psikologi.
el mah aneh, smpe g kpikiran bln madu😒😒