NovelToon NovelToon
My Love My Bride

My Love My Bride

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:484.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: el nurmala

Visual cast di eps 20.
_______

Menikahi adik sahabat, mengapa tidak?
Kisah cinta beda usia antara Riky dan Alena.

Ikuti kisah mereka ya.
Selamat membaca!
Cerita ini merupakan sekuel 'Permainan Takdir 1&2'.

-------------
Cerita ini hanya fiksi. Jika ada nama, tempat, atau kejadian yang sama. Itu hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kebersamaan di rumah Wira

Happy reading...

Di dalam mobil yang dikemudikan Maliek, Meydina masih terlihat sangat kesal. Mereka saat ini sedang menuju rumah sakit untuk memeriksakan memar di kening Amar. Pak Budi diminta untuk mengantarkan Queena dan tidak menceritakan banyak hal tentang kejadian hari ini.

Sesekali Maliek menoleh pada Meydina yang terduduk di kursi belakang bersama Amar. Sedangkan Zein di kursi depan di samping kursi kemudi. Pria itu tersenyum melihat raut wajah istrinya yang kesal bercampur dengan rasa khawatir.

"Papi apaan sih? Senyum-senyum," ujar Meydina pelan namun terdengar ketus.

"Sudah lama Papi nggak lihat Mami semarah itu. Kak, Mami cantik ya kalau marah."

Zein menoleh pada maminya. Anak itu sepertinya bingung dengan pernyataan Maliek.

"Oh ya, Sayang. Memangnya kamu kenal sama bapaknya anak tadi. Kok dia langsung meminta istri sama anaknya minta maaf?"

"Nggak. Mami bingung deh, itu anak terlalu dimanja atau gimana sih? Dia suka banget iseng sama teman-temannya. Seingat Mami, dia anak yang dulu nubruk Amar kan?" tanya Meydina yang diangguki oleh Amar.

"Iya Mi, dia. Yang dulu nubruk Amar, terus dia nangis. Mamanya marah-marah," sahut Zein.

"Tuh kan, Pi. Sejak awal dia suka banget iseng sama Amar."

"Dafa kan ingin jadi ketua kelas sejak kelas satu, Mi. Tapi Kakak yang menang," sahut Amar.

"Oh, gitu. Ya sudah, maafkan saja ya. Kalau memang dia masih seperti itu, lebih baik jauhi."

Zein dan Amar mengangguk. Maliek mengacak pelan rambut Zein dan cepat-cepat dirapikan lagi oleh anaknya tersebut.

Di tempat lain...

Alena dan Nindy baru saja keluar dari kelas. Keduanya berjalan mengarah ke kantin. Alena terkekeh karena Nindy yang menggodanya atas kepulangan Riky.

"Pesan bakso yuk!" ajak Alena.

"Boleh. Aku apa kamu yang pesan?"

"Kamu deh. Aku nunggu di sana ya," tunjuk Alena pada kursi di dekat kantin.

"Oke. Porsi biasa kan?" tanya Nindy sebelum berlalu dan dijawab acungan jempol oleh Alena.

Sambil menunggu, Alena terduduk memainkan ponselnya. Ia tersenyum melihat pesan dari suaminya yang memberi kabar bahwa pria itu sudah sampai di kota tujuan.

"Hai, Len. Kelas kamu sudah selesai?"

Alena menoleh dan menanggapi datar pertanyaan seorang teman prianya yang tak lain adalah Agam.

"Sudah. Kamu?"

"Sama, aku juga sudah. Lagi nunggu Nindy ya?"

Alena mengangguk pelan. Ia merasa ada yang berbeda dengan sikap Agam hari ini. Pria itu senyum-senyum nggak jelas apa yang di senyuminya.

"Len, maaf ya. Tadi subuh telepon dari kamu nggak ke angkat, aku sedang di kamar mandi." Dustanya.

"Aku? Nelpon kamu? Kapan?" tanya Alena bingung.

Agam tersipu, ia berfikir mungkin Alena merasa malu jika dirinya terlalu terbuka seperti itu. Sementara itu Alena yang bingung melihat-lihat panggilannya. Ia merasa heran, karena tidak menemukan riwayat panggilan atas nama Agam.

Dari arah kantin, Nindy terlihat membawa nampan berisi dua mangkuk bakso beserta pelengkapnya. Nindy bertanya dengan isyarat gerak mata pada Alena tentang keberadaan Agam di sana. Dan Alena hanya mengangkat pelan kedua bahunya.

"Gam, misi dong! Kita mau makan lho. Udah makan belum?" tanya Nindy saat Agam beranjak dari kursi.

"Belum. Kalau begitu, aku mau ke kantin dulu ya, Len." Pamitnya.

"Iya," sahut Alena pelan sambil tersenyum kikuk.

Setelah Agam tidak ada, Alena dan Nindy duduk sila berhadap-hadapan dengan nampan bakso berada di tengah. Kebetulan kursi yang mereka duduki tidak memiliki sandaran.

"Mau ngapain si Agam?"

"Nggak tahu. Nggak jelas banget tu anak. Masa dia bilang, tadi subuh aku nelepon dia?" sahut Alena sambil menuangkan saos, kecap, lalu sambal ke dalam mangkuk baksonya.

"Oh ya? Mungkin dia mimpi, sebegitu berharapnya sampai terasa nyata," kekeh Nindy pelan.

"Nin, kira-kira kalau udah telat empat hari udah bisa di test belum?" tanya Alena ragu.

"Test pack itu ya? Aku mana tahu, Len. Married aja belum. Memangnya nggak ada petunjuknya?"

"Ada sih. Aku coba ah besok pagi," ujar Alena antusias.

"Jangan lupa beri kabar padaku ya?"

"Siap. Tapi kamu akan jadi orang kesekian yang aku kabari," canda Alena.

"Nggak apa-apa lah, toh kesekian dari keluarga kamu." Sahutnya.

Keduanya pun menikmati makan siang mereka sambil mengobrol sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing.

***

Di kediaman Wira, sore ini nampak sangat ramai. Tidak hanya Alena yang datang, tapi juga Rendy dan keluarga kecilnya. Amiera sengaja pulang cepat setelah tahu kejadian yang menimpa Amar dari Resty.

Si kembar Nara dan Raya terlihat senang dengan kehadiran sepupu mereka. Keduanya terpaut usia hanya sekitar sembilan bulan dengan Arkana Putra Atmadja.

"Kakak Queen belum ke sini ya. Mungkin masih di rumah Kakak Zein," ujar Oma Nura.

"Bagaimana keadaan Amar, Kak Amie. Alena belum sempat jenguk."

"Memar sedikit," sahut Amiera.

"Kok bisa sih mereka berkelahi? Anak-anak sekarang suka cari perhatian," ujar Nura lagi sambil mencubit gemas ujung hidung cucu perempuannya, Raya.

"Namanya juga anak-anak, Ma. Tadinya Kak Mey berusaha memaklumi, tapi ternyata ibu anak itu bicaranya nggak dikontrol. Sampai bilang Zein sama Amar tersangka. Untung saja Kak Maliek belum datang," sahut Amiera.

"Keterlaluan sekali kata-katanya. Daddy-mu tahu?" tanya Wira.

Amiera menggeleng pelan sambil berkata, "Enggak. Kak Mey ceritanya juga waktu udah nggak ada siapa-siapa."

"Hmm, mungkin Meydina khawatir permasalahannya jadi panjang. Tuan Salman kalau sudah marah, menyeramkan. Iya kan, Ren?" tanya Wira sambil mengulumkan senyum.

Rendy tersenyum mengingat kejadian di malam ia dipukuli Salman. Tak hanya Rendy, Amiera juga tersenyum mengingat bagaimana sikap Daddy-nya saat itu.

"Ternyata ayah anak itu salah satu manager di perusahaan. Kak Alvin awalnya bingung saat dia tiba-tiba datang dan memohon untuk dimaafkan."

"Oh ya? Kak Meydina tidak cerita sama Amie."

"Mungkin saat itu Meydina tidak tahu," sahut Rendy.

"Bisa jadi. Terus Kak Alvin bagaimana?" tanya Alena.

"Terkejut laah. Langsung nelpon Meydina. Dan ternyata benar."

"Marah nggak?" tanya Amiera dan Alena hampir bersamaan. Keduanya tertawa pelan menyadari hal tersebut.

"Kompak banget. Kalau ada Meydina kalian bisa-bisa jadi trio Alvin's sisters," kelakar Rafael yang sedang bermain dengan ketiga cucu Wira.

"Mau marah juga percuma. Meydina sudah mewanti-wanti agar masalahnya tidak dibesar-besarkan."

Mereka tersenyum tipis mendengarnya. Anak-anak berhamburan ke luar saat mendengar suara klakson mobil.

"Kakak Queen! Kakak Zein!" pekik mereka.

Mendengar nama Zein, Alena bergegas keluar. Entah kenapa ia selalu suka jika bisa menggoda Zein.

"Oma!" seru Queen.

"Cantik! Barbie-nya Oma." Nura menyambut kedatangan keluarga Alvin dengan senangnya. Wanita itu menggeleng pelan melihat tingkah Alena yang menghadang jalan masuk untuk Zein.

"Auntie! Kakak udah besar, jangan ganggu terus." Ucapnya ketus.

"Wah, coba sekali lagi auntie mau dengar. Kakak sudah bisa bilang 'r' ya? Hebat." Ujarnya sambil mengacungkan jempol.

"Auntie gangguin kakak terus, memangnya mau anaknya seperti kakak?"

"Mau banget," sahut Alena dengan gayanya.

"Minta aja sama Mami. Nanti dibuatkan." Ujarnya santai. Alena melongo mendengarnya, Zein berlalu melewatinya. Anggota keluarga lainnya terbahak mendengar penuturan Zein.

Terutama Rafael, pria itu sampai memegangi bagian perutnya. Namun kemudian tawanya langsung berhenti saat menyadari kedua anaknya terpaku menatap heran pada dirinya.

1
Sri Ariyanti
thor, aku suka karyamu. bagus.
lanjut ke cerita cucu sultan opa salman
Neva Yanti
bagus
Sari
cucok visualnya 👍
Sinta Mayapada
the best cerita mu author.
Sinta Mayapada
Kecewa
Fika
Ahh kamil..dewasa bnget jdi adik...thor carikan jodoh buat kamil...yg gak beda jauh dri ajeng
Fika
Riky sm Alena bener2 yach perpaduan pas sama2 gesrek jiwa humoris nya tinggi bngettt 🤣🤣 pasti mama widya dan papa salim awet muda krn tiap hri dengar guyonan anak sm menantu ditambah paijo 🤣🤣🤣
Eva NurMalla
oke visualnya 😎😎
TePe
ngga tau , suka bgt saam karya author ini
TePe
wah si babang ricky kebakaran jenggot deh😄
TePe
rada2 n8h si ajeng
bunda syifa
Zein sama zemima lumayan jauh y ka'El usia nya
bunda syifa
panggilan di ka'Zein sama Beby Mima pasti bikin yg baca ketawa" sendiri
bunda syifa
jangan d detail proses nya Thor, bikin merinding, jadi ke inget pas dulu lahiran padahal udah lima tahun tapi klo lagi baca kek gini kayak masih kerasa GT sakit nya, pengen d tahan tapi anak nya harus d keluarin tapi mau d keluarin takut segala macem jadi satu 😥😥😥
bunda syifa
puas banget Thor, apalagi klo yg ngikutin ceritanya dari awal pasti kerasa kayak baca cerita dunia nyata saking ceritanya terus berlanjut
bunda syifa
akhirnya aq maraton sampai selesai juga, habis cerita amiera agak ragu mau lanjut kesini, soalnya biasanya klo sekuel ke sekian itu suka beda ceritanya konflik nya kadang lebih berat, tapi karena rasa penasaran yg teramat besar akhirnya yoba lanjut baca apalagi d cerita ini harus kehilangan pak Salman, dn semoga sekuel selanjutnya kisah si cucu pak Salman cerita nya bagus kayak yg lain juga y ka'El, tapi aq tunggu episode nya banyak dulu soalnya aq kesel klo d gantung
bunda syifa
ini Zain umur berapa Thor, udah SD kn, udah besar berarti
bunda syifa
apa dia dokter yg malsuin hasil USG nya ibu Nita dulu itu kah, yg pernah jadi pengemis pas suaminya sakit
bunda syifa
udah lama gc nangis saat baca novel, sekarang d bikin nangis gara" pak Salman meninggal 😭😭😭
bunda syifa
yah mbak dokter nya d anggurin...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!