Siapa yang tidak kenal dengan Jordan Mikhael Anderson. Pria berkharisma itu adalah pemilik perusahaan MA Group. Perusahaan besar di dunia, memiliki banyak cabang di setiap negara.
Dewi keberuntungan sedang tidak berpihak padanya, Alana Jovanka. Alana menelan saliva dengan susah payah melihat kopinya yang tumpah pada tuksedo pria yang kini menatapnya, tatapan itu seperti laser yang siap membelah tubuhnya.
Alana menahan nafasnya, saat Jordan mendekat dan membisikan sesuatu di telinganya.
"Jangan harap kau bisa lepas dariku, bodoh!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Milky Strawberry
Alana mengerjapkan matanya, saat merasakan tangan seseorang yang melingkarkan di perutnya.
Tuan muda membalikan tubuh Alana agar menghadapnya, bola mata coklat itu tampak malu-malu menatapnya.
Tanpa bersuara tuan muda membawa Alana kedalam dekapannya.
Alana mencium aroma maskulin dari tubuh tuan muda, dia semakin membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu.
Rasanya nyaman
Alana pun heran kenapa rasa takutnya lenyap begitu saja. Alana merasa beruntung, setidaknya dia tidak harus hidup dengan rasa cemas dan ketakutan.
Dada bidang milik tuan muda terasa sangat nyaman, membuat Alana dengan mudah kembali ka alam mimpinya.
***
Pagi itu Alana menikmati sarapannya. Sesekali dia melirik tuan muda menggunakan ekor matanya. Kini wajah tuan muda terlihat tenang, dan lebih bersahabat menurutnya. Karena sejak bangun Alana tidak mendapati wajah mengintimidasi dari tuan muda.
Alana menghentikan sarapannya, saat tuan muda bangkit dari duduknya.
“Tetap lah di rumah,” titah tuan muda.
Alana menganggukan kepalanya, dia ikut serta mengantar tuan muda hingga kedepan pintu utama. Setelah mobil tuan muda mengilang di balik pintu gerbang, Alana memilih kembali ke dalam.
Kepalanya tiba-tiba memikirkan susu strawberry, air liur memenuhi rongga mulutnya. Saat membayangkan betapa nikmatnya susu strawberry, Alana hanya bisa menelan ludahnya.
Di rumah sebesar ini masa tidak ada susu
Alana berjalan kembali ke ruang makan, dia menghampiri lemari pendingin berwarna dark grey. Tanpa sungkan Alana membuka lemari pendingin itu, namun bibirnya mengerucut saat tidak menemukan susu keinginannya.
Di dalam lemari pendingin itu hanya berisi buah-buahan.
“Ada yang bisa saya bantu nona?”
Alana terkejut, dia membalikan tubuhnya. Alana ragu untuk menceritakan keinginannya, dia merasa bukan siapa-siapa di rumah ini.
“Nona sedang mencari apa? biar saya bantu.” Wanita yang memakai baju pelayan itu kembali mengulangi ucapannya sambil tersenyum ramah.
“Mmmm, apa di rumah ini ada susu strawberry?”
“Sebentar saya ambilkan, nona mau menunggu di sini atau nanti saya antarkan ke kamar?”
Alana tampak berpikir sebentar sebelum menjawab, “Tolong bawakan ke kamar saja.”
“Baik nona.” Pelayan tersebut menunduk hormat sebelum berjalan meninggalkan Alana.
Alana berjalan menuju kamar yang pertama dia tempati, tetapi pintunya terkunci. Dengan sangat terpaksa Alana berjalan ke kamar yang di tempatinya bersama tuan muda semalam.
Pipi Alana bersemu merah saat membayangkan tubuh kekar tuan muda, rasanya Alana ingin menyentuh otot lengan tuan muda.
Karena semalam dia tidak memiliki kesempatan untuk meraba otot yang menonjol di lengan tuan muda.
Astaga kenapa aku jadi memikirkannya
Suara ketukan di pintu kamar membuyarkan lamunan Alana, pelayan tadi tersenyum ramah sambil memegang nampan.
“Ini nona susunya.”
Alana mengangguk, dengan antusias dia menerima susu strawberry keinginannya. “Terima kasih.”
Alana kembali masuk ke kamar dengan senyum mengembang, dia merasa gembira karena keinginannya terpenuhi dalam waktu sekejap.
Alana mencium aroma wangi susu strowbarry di tangannya. Indra perasanya sudah tidak sabar memcicipi susu strowberry yang ada di tangannya.
Dalam sekejap susu itu di teguk Alana dengan tidak sabaran, hingga tidak tersisa sedikitpun.
Tidak beberapa lama perut Alana terasa mual, dia berjalan menuju kamar mandi.
Hooek hooek
Alana memuntahkan maknan yang ada di labungnya, keringat bercucuran dari pelipisnya. Tubuhnya terasa lemas, Alana menggunakan telpon di kamar tuan muda untuk memanggil pelayan.
***
Niko masuk ke ruangan tuan muda, dia berjalan tergesa-gesa. “Tuan, nona Alana muntah-muntah, barusan saya dapat kabar dari pelayan.”