Lima tahun yang lalu dia mengubah identitasnya, membuang jauh masa lalunya karna rasa kecewa pada suaminya.
Dan kini di saat dua buah hatinya menanyakan sang ayah, apakah yang akan di lakukan ALEA, akankah dia berkompromi pada hatinya demi kebahagian buah hati tercinta. Atau dia mengabaikan demi gengsi dan harga dirinya walau sebenarnya dia masih sangat mencintai pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvi Barta Jadul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tes DNA
Setibanya di Motol University Hospital Aiden langsung di bawa ke IGD.
"Daddy, kakak kenapa ?" tanya Zeline pada Ziga.
"Kita tunggu dokter dulu ya sayang" jawab Ziga sambil mengelus kepala Zeline.
Kemudian Zeline berlari mendekati Mia yang menemani Aiden saat pemeriksaan.
"Erik" panggil Ziga.
"Ya Tuan" jawab Erik.
"Coba kau tanyakan pada gadis itu tentang ibu kedua anak ini" perintah Ziga sambil menunjuk ke arah Mia.
"Baik Tuan" jawab Erik.
"Orang tua Aiden Raffasya Pratama" panggil dokter yang merawat Aiden.
"Saya bibinya dok, Ibunya sedang bekerja" jawab Mia.
"Aiden harus melanjutkan prosedur rawat inap, dan harus dengan persetujuan orang tua" jelas sang dokter.
"Sebentar saya hubungi kembali ibunya dok" ucap Mia yang kemudian segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Leea.
Sebelum Mia sempat melakukan panggilan teleponnya, Ziga datang menghampiri mereka.
"Saya Ayahnya dok" ucap Ziga.
Mia dan Erik pun terpana, mereka tak menyangka bahwa jawaban tersebut akan keluar dari mulut Ziga.
Sedangkan Zeline tersenyum riang, dia pun menghampirinya kemudian meminta Ziga untuk menggendongnya.
"Begini Tuan, anak anda demam dan harus menjalani beberapa test untuk memastikan penyakitnya" jelas sang dokter.
"Untuk itu Aiden harus menjalani rawat inap, silahkan Tuan urus administrasinya" ucap dokter tersebut.
Ziga pun menganggukkan kepalanya. Kemudian dia memanggil Erik untuk mengurus semua masalah administrasi.
Setelah selesai di periksa Aiden segera di bawa ke ruang rawat VVIP, karna Ziga meminta perawatan yang terbaik untuk Aiden.
"Nona, bisa kita bicara sebentar ?" tanya Erik.
"Ada apa Tuan ?" tanya Mia, dia masih dalam keadaan linglung karna melihat perlakuan Ziga pada Aiden dan Zeline dan juga karna kelakuan Zeline yang selalu memanggil Ziga dengan sebutan Daddy.
"Boleh saya tahu orang tua dari kedua anak itu ?" tanya Erik.
Mia pun menjawab dan menjelaskan semua yang di ketahuinya pada Erik.
Sementara itu di ruang rawat, Aiden masih terbaring lemah dengan jarum infus yang menempel di lengannya. Mata bocah kecil itu masih saja terpejam.
Zeline memandangi sang kakak dengan perasaan sedih dan khawatir.
Ziga mengelus kepala Zeline kemudian mengajak bocah tersebut duduk di sofa yang terdapat di dalam ruangan.
"Jangan sedih litle bunny" ucap Ziga.
"Sebentar lagi kakakmu akan sembuh" hibur Ziga.
Zeline menganggukkan kepala mungilnya.
"Daddy, kenapa Daddy tak pernah pulang?" tanya Zeline kemudian.
Ziga terkejut dengan pertanyaan tersebut, dia sendiri masih bingung mengapa Zeline memanggilnya dengan sebutan Daddy. Sekarang di tambah lagi bocah tersebut menanyakan kepadanya kenapa ia tak pernah pulang.
"Sebelum Daddy jawab, boleh Daddy bertanya sesuatu padamu?" tanya Ziga kaku. Sebenarnya dia tidak terlalu bisa berinteraksi dengan anak kecil. Tapi entah mengapa berbicara dengan Zeline sepertinya membuat dia memiliki perasaan seperti seorang ayah.
"Daddy mau tanya apa ?" tanya Zeline menatap serius wajah ayahnya tersebut.
"Kenapa kamu memanggilku Daddy ?" tanya Ziga akhirnya. Karna sedari tadi pertanyaan itulah yang mengganggu benaknya.
"Karna kau memang Daddyku" jawab Zeline polos.
"Mom pernah kasih tahu kami foto Mom dan Daddy di saat menikah dulu" lanjut Zeline.
Ziga terpaku mendengar jawaban Zeline. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya.
Saat Ziga masih mencerna kata-kata Zeline tiba tiba Zeline kembali bertanya dengan air mata yang mulai menumpuk di pelupuk matanya.
"Apakah kau bukan Daddyku ?" tanya Zeline yang hampir menangis.
Ziga bingung harus menjawab apa, di satu sisi Ziga tak tega mengecewakan Zeline dengan berkata bukan tapi di sisi lain Ziga juga tak bisa memberi harapan pada bocah tersebut karna bisa saja orang tua anak tersebut keberatan dengan pengakuannya sebagai ayah dari kedua bocah tersebut.
Di saat Ziga sedang berdebat di benaknya tiba tiba terdengar ketukan dari pintu. Dan Erik pun masuk, kedatangan Erik bagai penyelamat Ziga untuk menjawab pertanyaan Zeline.
"Maaf Tuan, ini tentang orang tua mereka" lapor Erik.
Ziga tak menjawab, dia melambaikan tangan pada Erik dan memberi isyarat agar mereka membicarakan hal tersebut di dalam ruangan.
"Zel tunggu sebentar di sini ya, Daddy mau bicara pada Uncle Erik" ucap Ziga.
Zeline pun menurut, dia mengangguk anggukkan kepalanya.
"Temani mereka" kata Ziga pada Mia yang berada di luar ruangan.
"Baik Tuan" jawab Mia yang kemudian masuk untuk menemani Zeline dan Aiden di dalam.
"Tuan, mereka adalah anak anak dari Nyonya Via" lapor Erik, kemudian dia segera menunjukkan foto yang tadi di mintanya dari Mia. Foto tersebut menunjukkan Via sedang merangkul kedua bocah tersebut dalam suatu acara di sekolah.
Ziga menatap foto Via penuh dengan kerinduan mendalam, tapi kesakitan sekejap menyerang dadanya. Jika mereka adalah anak anak dari Via berarti Via sudah menikah. Tapi mengapa Zeline tadi berkata melihat foto pernikahan dirinya bahkan Zeline memanggilnya dengan sebutan Daddy.
"Apakah itu berarti Aiden dan Zeline adalah anak anakku" batin Ziga.
"Segera lakukan tes DNA aku dan mereka !" perintah Ziga.
Erik pun mengangguk kemudian segera berlalu untuk menemui dokter guna mengadakan tes DNA antara Ziga dan kedua bocah tersebut.
Ziga masuk kembali ke dalam ruangan Aiden.
"Coba kau hubungi lagi ibu mereka" pinta Ziga pada Mia yang sedang menunggui Aiden.
"Baik Tuan, akan saya coba kembali untuk menghubunginya" jawab Mia yang kemudian keluar ruangan untuk menelpon Leea.
Ziga mencium pipi Zeline yang kini tertidur di sofa. Bocah itu terlelap karna terlalu lelah.
Ziga mencari selimut lalu segera menyelimuti tubuh mungil Zeline agar bocah tersebut tak kedinginan. Kemudian Ziga beralih pada Aiden yang kini masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Ziga menyentuh kening Aiden. Saat merasa bocah tersebut tak lagi demam dia baru bisa bernafas dengan lega.
Ziga mencium kening Aiden, kemudian menyelimuti bocah tersebut dengan benar.
"Jika kalian memang anak anakku, aku akan menjaga kalian. Aku juga takkan melepaskanmu lagi Via" gumam Ziga.
"Kita harus hidup bahagia bersama selamanya" tekad Ziga.
Sementara itu di hotel, Leea akhirnya dapat menyelesaikan pekerjaannya. Dia merasa lelah tapi bahagia setelah melihat hasil dari pekerjaannya. Leea pun segera menemui Patrick untuk melaporkan hasil dari perkerjaannya. Setelah mendapat bayaran dari pekerjaannya, Leea ingin segera bergegas pulang untuk menemui kedua buah hatinya.
Leea pun mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, betapa terkejutnya Leea ketika mendapati ada puluhan panggilan tak terjawab dari Mia. Leea memang lupa menyalakan nada dering ponselnya sehingga dia sama sekali tak mendengar panggilan dari Mia. Saat membaca pesan dari Mia hatinya pun terlonjak. Leea segera berlari keluar hotel dan memberhentikan sebuah taxi untuk segera menuju Motol University Hospital.
Di dalam taxi Leea segera menghubungi Mia.
"Mia, bagaimana keadaan Aiden?" tanya Mia panik.
"Aiden perlu melakukan serangkaian tes dan kini Aiden tengah di rawat di ruang VVIP Aunty" jawab Mia.
"Ada seorang Tuan yang membantu mengurus perawatan Aiden" tambah Mia.
Hati Leea mencelos mendengar jawaban Mia, bagaimana mungkin dia bisa begitu bodoh tak menyalakan nada dering ponselnya sehingga dia tidak menerima kabar Aiden sakit tepat pada waktunya. Bahkan kini ada seorang pria yang membantu mengurus masalah perawatan putranya. Seketika itu juga perasaan bersalah menyergap hatinya.
"Andai saja Aiden dan Zeline memiliki keluarga yang utuh, tentu hal seperti ini takkan terjadi" batin Leea.
Leea mengusap wajahnya, tak terasa air mata pun mengalir di pipinya.