Rangga melemparkan bantal keatas lantai dan menyuruh Naya untuk tidur disana. Ia tak ingin satu ranjang bersama Naya.
Dengan pasrah Naya mengikuti keinginannya tanpa perlawanan sedikitpun. Ia tak mengira jika laki-laki itu akan memperlakukannya sampai seperti ini hanya karena ia adalah anak dari kedua orangtuanya yang tadinya menjadi pembantu dirumah ini.
Naya menatapnya nanar dan berjongkok lalu duduk diatas lantai. Hatinya terasa sakit dan perih, "Demi Allah aku juga tak sudi satu ranjang denganmu!" bisiknya dengan tangis tertahan.
Bagaimana kelanjutannya?
Cerita ini mengandung konten dewasa hanya untuk usia 21+.
Penasaran dengan jalan ceritanya? Baca selengkapnya.
COVER BY PEXELS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady B, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta
Tahap akhir dari perjuangan Rangga telah tiba. Ia mulai sibuk mengerjakan skripsi. Ia juga hampir tak terlihat di rumah dan pulang dini hari karena tak bisa fokus jika mengerjakannya di rumah. Hawa rumah yang baginya terasa panas dan tak bersahabat membuatnya tak betah. Ia banyak menghabiskan waktunya di cafe atau di rumah sahabatnya. Kesibukannya menyusun skripsi membuatnya fokus hingga lupa beristirahat. Tetapi Naya selalu mengingatkannya. Dan perjuangannya pun membuahkan hasil yang manis. Ia lulus dengan predikat cum laude. Susan sangat bangga. Abdullah pun bangga namun tak sedikitpun ia memperlihatkannya.
Atas keberhasilan Rangga, Susan mengadakan pesta mewah di salah satu hotel bintang lima miliknya. Semua teman-teman Susan dan rekan bisnis Abdullah hadir. Rangga juga mengundang beberapa teman dekatnya.
Naya berdiri di samping pintu masuk. Ia berdiri terpaku dengan memegang segelas jus jeruk. Rangga sibuk berbincang bersama teman-temannya tanpa mempedulikan Naya, hingga seorang pria menghampirinya, "Ukti," sapa pria itu.
Naya menoleh.
"Masih ingat saya?" tanyanya menunjuk wajahnya.
Sejenak Naya menatap lekat wajah pria itu. Ia merasa pernah bertemu dengannya.
"Kita pernah bertemu di jalan. Waktu itu saya membantu ukhti menyeberang jalan," jelasnya dengan senyuman ramah.
Naya pun tersentak, "Oh ya saya ingat! Akhi yang menolong saya waktu pertama datang ke kota ini!"
"Iya," balas nya.
"Akhi diundang juga?" tanya Naya.
"Saya teman kecil Rangga. Saya diundang Rina. Ukthi sendiri? Teman atau...."
"Saya istrinya."
Pria itu terkejut. "Jadi ukhti yang dinikahi Rangga, Naya indriani? Saya menyesal tak datang waktu itu!"
Naya tertawa renyah.
Max yang melihat pemandangan gitu lantas menepuk lengan Rangga, "Tuh," tunjuk nya dengan dagu kearah Naya. Wajah Rangga langsung berubah kaku dengan gigi begeretak. Sorot matanya tajam.
"Kenapa selama ini tak pernah main ke rumah?" tanya Naya bingung.
"Bukankah Rangga selalu sibuk? Aku harus ngobrol dengan siapa jika datang berkunjung?"
Naya tersenyum. Melihat senyuman Naya kepada pria itu kian membuat Rangga terbakar api cemburu.
Tias yang sejak tadi memperhatikannya tersenyum senang. Ia berharap jika Rangga bisa menceraikan Naya.
"Yas," panggil Mira, tetapi Tias tak bergeming.
Maya tersenyum sinis melihat pandangan mata Tias penuh cinta kearah Rangga, "Kamu bisa dengan mudah merebut Rangga dari gadis kampungan itu," usulnya.
"Oh ya, kita belum kenalan. Nama saya Ramli." Ramli menangkupkan kedua tangannya. Ramli dan Naya terlibat obrolan hangat hingga mc acara itu mengumumkan acara dansa. Para tamu undangan antusias dan mereka segera turun ke lantai dansa bersama pasangan masing-masing. Alunan musik syahdu mulai dimainkan oleh seorang pemain piano dan biola. Naya berharap jika Rangga menghampirinya dan mengajaknya untuk berdansa. Tetapi diluar dugaannya Tias menghampiri Rangga dan meraih lengannya. Rangga menggunakan kesempatan itu untuk mrmbalas perbuatan Naya.
Tias mengalungkan kedua tangannya di leher Rangga. Rangga menjamah pinggangnya dan mendekap tubuhnya kedalam pelukan nya. Mereka terlihat intens dan begitu mesra. Sesekali keduanya melemparkan candaan dan tertawa bersama. Perjalanan waktu telah mengubah Tias yang tadinya agak lugu dan pemalu menjamah agresif dan sedikit ketus. Semua itu karena rasa cintanya kepada Rangga dan akibat pergaulannya dengan Maya dan Mira.
Kerena merasa sudah tak tahan dengan pemandang itu akhirnya Naya meninggalkan tempat itu menuju lobi dengan tangis terisak. Beberapa kali ia mencoba untuk menghentikan air matanya yang menetes tetapi ia tak mampu. Air matanya terus jatuh membasahi wajah cantiknya. Ia duduk di sofa lobi dengan tatapan nanar. Sejenak ia berpikir, "Kenapa aku harus cemburu? Bukankah selama ini ia memang tak menginginkan ku dan mencintaiku? Kenapa aku harus repot-repot sakit hati memikirkan kelakuannya?!" umpat nya menyalahkan diri sendiri.
Ilham menyusul nya dengan membawa Sulaiman. Melihat sosok Ilham dan Sulaiman yang berjalan ke arahnya Naya buru-buru menyeka air matanya.
"Tante!" pekik Sulaiman berlari ke arahnya dan memeluk kakinya.
Naya segera mengangkat tubuh kecilnya dan mendudukkannya di pangkuan nya. Ilham duduk di samping Naya.
"Siapa yang nakal sama Tante biar nanti aku pukul!" seru Sulaiman kesal. Ia mengepalkan tangannya dan memukul pahanya. Seketika Naya tertawa. Ilham pun tersenyum.
"Mau pulang atau di sini saja?" tanyanya.
"Tak apa, Kak. Di sini saja," jawab Naya dengan suara serak.
Kondisi hati Naya berangsur stabil. Akan tetapi ia tak mau melihat wajah Rangga dan wanita penggoda itu.
Rangga resah karena sosok Naya tak ada dimanapun sejauh matanya memandang. Tias mencoba membuyarkan pikirannya dengan memberinya minuman dan cemilan akan tetapi Rangga tak fokus dan masih mencari sosok Naya.
Pesta itu berakhir setelah 2 jam berlalu. Keluarga Fatahillah meninggalkan lokasi setelah semua tamu pulang. Ilham yang mendapat informasi itu dari salah satu ajudannya melaui telepon mengajak Naya kembali ke rumah.
Ketika tiba di kamarnya ternyata Rangga tak ada. Naya melepaskan perhiasan yang menempel di tubuhnya dan mengganti pakaiannya dengan piyama. Ia menggelar selimut tebal dan mulai berbaring. Suara gagang pintu terdengar diputar. Ia pun segera memejamkan matanya.
Rangga tahu jika Naya belum tidur. Ia duduk di sisi ranjang dan bangkit lalu mendekat kepada istrinya dan mencolek punggung Naya dengan halus, "Jangan pura-pura tidur!" Akan tetapi Naya tak bergeming. "Kamu cemburu padaku karena tadi aku berdansa dengan Tias?" selidik nya
Naya langsung bangkit dengan wajah kesal, "Apa Mas tahu itu salah? Itu tak pantas bagi seorang lelaki yang sudah beristri!" sungut nya geram. Ia kembali tidur dan memejamkan mata.
Rangga tak habis pikir dengan kelakuannya. Yang duluan memulai adalah dia dan Rangga hanya ingin membalasnya. Ia ingin mengutarakan pikirannya namun di urungkan karena ia tak mau jika dirinya juga ketahuan cemburu berat.
Ia bangkit dan membuka jas hitamnya lalu merebahkan tubuhnya. Ia menoleh kepada Naya tidur menyamping kearah istrinya itu.
Naya terbangun pada pukul 3 pagi. Saat terbangun ia mendapati Rangga tengah bermain ponsel di atas ranjangnya, "Kenapa bangun?" tanyanya tanpa menoleh.
Naya menguap dan mengikat rambutnya dengan karet gelang yang berada di lengan tangan kirinya, "Tahajjud," jawabnya singkat. Ia masih kesal.
Naya membasuh wajahnya dan membersihkannya menggunakan facial foam. Ia menggosok gigi dan berwudlu.
Rangga tak mengira jika Naya sekuat itu melaksanakan tahajjud hingga sebelas rakaat. Naya melanjutkannya dengan mengaji. Rangga terkejut mendengar suaranya yang begitu merdu. Ia seolah menghipnotis hingga tak menyadari jika ponsel yang sedari tadi ia mainkan baterai nya sudah hampir habis.
Naya melipat mukenanya dan menaruh nya di dalam lemari beserta Al-quran yang ia baca. Tubuhnya terasa lemas dan berkali-kali menguap. Ia kembali berbaring tanpa menghiraukan Rangga yang masih menatap dirinya karena takjub, "Saat ngantuk begini kamu masih menyempatkan untuk sholat?" batin Rangga terpukau.
Bersambung....
maju ilham lindungi naya