Bagaimana rasanya saling mencintai tapi tidak bisa bersama?
Padahal sudah di jodohkan dan di sayangi kedua belah pihak keluarga, tapi tetap perjodohan yang sudah di rancang itu tidak bisa di teruskan.
Apa alasannya? Padahal pernikahan itu adalah impian dari keduanya.
Kenapa tiba-tiba Fatih melepaskan perempuan yang telah di carinya selama belasan tahun lalu?
Mungkinkah mereka bisa bersama lagi setelah melalui banyak hal?
Perjalanan mereka untuk bisa bersatu kembali tidak mudah, mengalami banyak konflik dan drama kehidupan sehari-hari yang menguras air mata dan menyakitkan dada karena terlalu banyak tertawa.
Ya benar, kalian bisa merasakan salah satunya atau kedua-duanya secara bersamaan.
Kalau belum tahu rasanya tertawa dengan meminum air mata, kalian bisa coba baca novel ini, semoga kalian suka😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pura-pura Tertidur
“Billi ada disini?” tanya Rumi saat bertemu di jalan kampung menuju rumah warga.
“Eh Rumi aku cariin dari tadi,” Billi tersenyum senang.
“Ada apa nyariin aku?” jawab Rumi.
“Gaaak, kangen aja,” Billi mengedipkan matanya untuk menggoda Rumi.
“Eh apaan sih,” Rumi menjawab gugup.
“Aku lagi bantu pak Usman betulin genteng nya, banyak yang harus diganti karena pecah-pecah,” kata Billi sambil berjalan memberikan genteng pada pak Usman.
“Dilempar pak!” kata Aldo yang berada di atas atap.
Pak Usman mencoba melempar genteng nya namun genteng yang dilempar tidak sampai ke tangan Aldo malah kena tembok dan mantul kembali ke arah luar, genteng yang terlempar terjatuh dan menuju Rumi yang pas sedang berada di bawah.
“Awww,” Rumi menjerit dan menutup wajah nya dengan tangan.
Merasa tidak ada yang mengenai tubuhnya, pelan-pelan Rumi membuka tangan yang menutup wajah nya.
“Astagfirullah Bil,” Rumi berteriak kaget melihat tangan Billi mengalirkan darah.
“Ya Allah maaf mas Billi, cerobohnya saya,” kata pak Usman menyesal dan langsung menolong Billi.
“Bantu saya ke Puskesmas pak,” jawab Billi meringis menahan sakit.
Rumi berjalan cepat meminta tolong ke Perawat yang ada di Puskesmas untuk menolong Billi. Suster dan Reno langsung datang menangani Billi.
Billi harus mendapat jahitan karena kulit pundak tangan kanan nya sobek, itulah yang membuat nya mengalirkan darah sampai ke tangan.
“Billi, maaf ya?” Rumi berkata dengan cemas.
“Tidak perlu minta maaf Rum, aku justru akan sangat sakit kalau genteng itu menimpa mu,” kata Billi dengan tersenyum.
“Terimakasih kamu udah menyelamatkan aku,” kata Rumi lagi.
“Bahagia deh bisa menyelamatkan calon istri,” Billi mendongakkan kepala nya ke depan wajah Rumi.
“Ih kamu apaan sih, dari tadi ngomong nya aneh,” Rumi menarik wajah nya untuk menjauh dari Billi.
“Becanda ko,” Billi tersenyum dan menegak kan lagi wajahnya.
“Emang gak boleh ya kalau beneran?” Billi berkata lagi sambil mendongakkan kembali wajah nya ke depan wajah Rumi.
“Apaan sih kamu?” Rumi cemberut dan memukul tangan Billi.
“Aaaww sakit,” ucap Billi merintih berlebihan hanya untuk menggoda Rumi dan kemudian dia pun tertawa.
Fatih yang tidak jauh dari ranjang Billi berpura-pura masih tertidur dan diam-diam mendengar percakapan mereka.
“Obatnya di minum dulu pak,” salah satu suster datang membawakan Billi obat dan segelas air minum.
“Oh iya suster terimakasih,” Rumi mengambil nampan obat yang yang dibawa suster.
“Ayo dimakan dulu obatnya,” Rumi memberikan obat pada Billi.
“Susah?” Jawab Billi sambil melihat tangan nya yang terluka dan satu tangan lagi dipakai untuk infusan.
“Terus gimana?” Rumi bertanya sambil melihat kedua tangan Billi.
“Suapi?” pinta Billi manja.
“Mmmh…” Rumi merenggutkan wajah sambil memasukkan obat pada mulut Billi dan memberikan nya minum.
Billi hanya tersenyum bahagia melihat perlakukan Rumi yang begitu lembut.
Fatih yang mendengar percakapan itu hanya bisa berpura-pura tertidur, namun hati nya mendapat sakit yang tidak bisa ia tampakkan.
Menahan sakit tanpa bersuara itu tidak mudah, sebutir air mata tiba-tiba menetes di sudut mata Fatih. Fatih membalik kan badan nya untuk membelakangi Rumi dan Billi kemudian menyeka butiran air mata nya yang tiba-tiba mengalir.
Dari dekat ranjang Billi, Rumi menatap punggung Fatih dan menarik nafas panjang, di dalam hati nya ia pun merasakan sakit yang tidak bisa ia ungkapkan.
Hari sudah sore Rumi ijin ke Billi untuk membersihkan diri dan bersiap shalat magrib.
Rumi beranjak dari duduk nya dan berjalan melewati ranjang Fatih, ia berhenti sebentar dan menengok ke arah Fatih, namun Fatih berpura-pura sibuk dengan ponsel nya dan tidak mengindahkan Rumi di depan nya.
Akhirnya Rumi kembali melanjutkan jalan nya meninggalkan ruangan menuju Rumah tempat nya beristirahat.
Fatih merasa sudah mendingan, kaki nya sudah tidak bengkak lagi, ia meminta ijin kepada Reno untuk keluar dari Puskemas.
Setelah Reno mengecek nya Fatih di ijinkan keluar dengan syarat agar tidak berjalan jauh dulu, Fatih menyetujui nya dan ia pun keluar ruangan menuju masjid untuk menunaikan shalat magrib.
Shalat magrib berjamaah dan dilanjutkan dengan dzikir dan tausiah sebentar, warga dan relawan memenuhi masjid dan mendengarkan ceramah dengan seksama, jamaah bubar setelah adzan isya dan diakhiri dengan shalat berjamaah isya.
Rumi berjalan sendiri menuju Rumah tempat nya beristirahat namun dari kejauhan dia melihat Reno berjalan tergesa menuju jalan besar yang berada di ujung kampung. Rumi mengikuti nya dari belakang, dan melihat Reno menemui seseorang yang turun dari mobil. Rumi memperhatikan nya dengan seksama seperti nya ia pernah melihat laki-laki itu. Tak lama Reno naik ke mobil dan mobil pun berjalan meninggalkan perkampungan.
Rumi kembali berjalan menuju rumah tempat beristirahat nya sambil terus mengingat-ngingat wajah laki-laki yang baru dilihat nya, kemudian dia mengingat nya, bahwa laki-laki itu adalah laki-laki yang pernah menelpon Reno dan memakai foto profil mereka berdua.
Rumi mengurungkan niat nya untuk masuk ke rumah, dan berjalan cepat menuju Puskesmas.
“Sus, dokter Reno pergi ya?” tanya Rumi yang berpura-pura mencari Reno.
“Iya mba, barusan aja keluar kata nya mau ketemu teman nya,” jawab Suster itu.
“Berapa lama sus?” Rumi bertanya lagi.
“Kata dokter sih pulang nya besok pagi, mba,” jawab suster sambil ijin pergi.
Rumi memutar otak nya, kemudian menepis pikiran buruk yang tiba-tiba hinggap dalam otak nya.
“Aaah tidak mungkin, itu pasti memang teman nya,” Rumi meyakinkan diri nya dan berjalan keluar dari Puskesmas.
Rumi terus berjalan dengan pikiran yang terus berputar, meski pikiran buruk itu ditepis berkali-kali tapi ia terus muncul, Rumi mengalihkan pikiran buruk nya pada hal lain yang lebih memungkinkan.
Rumi menyimpan alat shalat nya saat sampai di kamar, dan berpikir untuk menghubungi Reno.
Rumi membolak-balikkan ponsel nya sambil terus menimbang-nimbang apakah ia perlu menghubungi Reno atau tidak, dan dia memutuskan untuk menghubungi nya lewat whatsapp.
“Ren lagi dimana?”
Tapi pesannya ceklis satu.
Rumi menunggu balasan pesan dari Reno sambil berpikir positif. Karena pesan belum sampai Rumi menyimpan ponselnya dan berkumpul bersama teman-temannya di luar.
Rumi melihat sekeliling, ia tidak melihat ada Fatih diantara teman-teman relawan padahal ia sudah tidak melihat Fatih ada di Puskesmas.
“Cari mas Fatih ya Rum?” Aldo tiba-tiba duduk di samping Rumi.
Rumi hanya diam dan melihat ke arah Aldo sebentar.
“Mas Fatih pergi,” kata Aldo sambil membetulkan duduk nya.
“Kemana?” tanya Rumi singkat.
“Kurang tau tuh, tapi tadi pergi naik mobil,” jawab Aldo.
Rumi tidak bertanya lagi dan menikmati api unggun serta petikan gitar yang di mainkan teman nya.
“Mas Fatih main gitarnya jago loh Rum,” kata Aldo lagi tiba-tiba.
“Aku belum pernah melihat mas Fatih memegang gitar selama disini?” tanya Rumi ragu dengan ucapan Aldo.
“Kamu minta aja dia main pas kalian lagi berdua, mas Fatih emang malu-malu dia jarang mengekspos dirinya pada orang lain,” jawab Aldo.
“Apa aku punya kesempatan untuk itu?” bisik Rumi dalam hati.
Malam sudah larut, angin dingin pun sudah membuat kulit tubuh Rumi menggigil, ia pun pamit pada Aldo untuk masuk. Rumi mengecek ponselnya sebelum tidur, pesan yang di kirim nya lewat whatsapp pada Reno sudah dibacanya namun tak ada balasan.
Rumi meletakan ponselnya kembali. Namun sebelum ia menggerakan tubuh nya menuju tempat tidur ada satu pesan yang masuk.
‘Jangan cari aku dalam mimpi, karena aku tidak yakin malam ini aku bisa tidur’. Pesan yang dikirimkan Billi tiba-tiba membuat Rumi teringat pada kejadian tadi siang.
‘Aku pun tidak yakin apa kamu bisa tidur, setelah membuat aku tidak bisa tidur’ tiba-tiba satu pesan lagi dari Billi masuk ke Whatsapp Rumi.
Rumi mengulang-ngulang pesan dari Billi dan mencoba mengingat-ngingat ucapan-ucapan nya tadi siang, serta pengorbanan yang dia lakukan untuk nya.
“Apa mungkin Billi menyukai ku?” tanya Rumi dalam hati.
“Haduuuuh aku pusiiiing,” teriak Rumi sambil menyimpan ponsel nya dan menenggelamkan kepala nya di bawah bantal. Di kepalanya berputar-putar tiga orang laki-laki yang dekat dengan nya saat ini, Reno, Fatih dan Billi.
“Laki-laki itu memang racun semua, sebaiknya tidak perlu didekati apalagi di telan, bisa-bisa aku mati keracunan,” coloteh Rumi pada dirinya sendiri.