Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Dadakan
BAB 22
Lamaran Dadakan
Malam pun tiba. Sesuai janji, Mayang dan Rendra datang ke rumah tetangga mereka untuk membicarakan lebih jauh urusan serta rencana kedua keluarga.
Dinda yang berada di tubuh Daffa sebenarnya tidak tahu apa yang sedang direncanakan kedua orang tuanya. Ia hanya mengikuti mereka tanpa banyak bertanya.
Untungnya, rumah mereka memang benar-benar bersebelahan. Mereka cukup berjalan kaki beberapa langkah untuk sampai di rumah Dinda.
Keluarga Daffa disambut dengan ramah seperti biasanya. Mereka pun dipersilakan duduk, sementara berbagai hidangan yang sudah dipersiapkan tersaji begitu banyak di atas meja.
Dinda dan Daffa duduk berdampingan di hadapan para orang tua dadakan mereka. Keduanya masih tampak bingung dengan situasi yang sedang terjadi.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berani banyak bicara. Dinda hanya sesekali melirik ke arah Daffa, begitu pula sebaliknya.
Pada akhirnya, mereka memilih diam dan hanya menyimak percakapan para orang tua yang terdengar semakin serius. Mereka sendiri masih belum benar-benar memahami ke mana arah pembicaraan tersebut.
“Mengenai pembicaraan kita lewat telepon waktu itu, Pak, kami selaku orang tua Daffa ingin menyampaikan bahwa anak kami akan bertanggung jawab atas hal tersebut. Karena itu, malam ini kami datang ke sini untuk melamar Dinda sebagai calon istri Daffa.”
“Haah?!”
Melamar?!
Seruan keterkejutan itu hampir bersamaan keluar dari mulut Dinda dan Daffa.
Keduanya langsung saling pandang dengan mata membulat. Tidak ada satu pun yang menyangka pembicaraan para orang tua malam itu akan sampai pada sebuah lamaran.
Dinda menelan ludah dengan gugup. Sementara Daffa yang biasanya tenang pun untuk sesaat terlihat kehilangan kata-kata.
Mereka bahkan masih sibuk memikirkan bagaimana cara mengembalikan tubuh masing-masing. Sekarang, para orang tua justru sudah membicarakan pernikahan mereka.
Dinda dan Daffa kembali saling pandang. Keduanya sama-sama merasa belum siap menghadapi sesuatu yang disebut pernikahan.
“Kenapa tiba-tiba mendadak begini? Kenapa nggak tanya pendapat kami dulu?” protes Dinda yang saat ini berada di dalam tubuh Daffa.
Wajahnya tampak syok sekaligus tidak terima. Ia masih berusaha mencerna kenyataan bahwa dirinya baru saja dilamar oleh keluarga Daffa, padahal tidak pernah sekalipun ia membayangkan hal tersebut akan terjadi.
Bagaimana mungkin mereka membicarakan pernikahan seolah-olah semuanya sudah diputuskan?
Dinda bahkan masih belum menyelesaikan sekolahnya. Masa mudanya masih panjang dan masih banyak hal yang ingin ia lakukan. Ia belum siap jika tiba-tiba harus berhadapan dengan sebuah pernikahan hanya karena keputusan orang-orang dewasa di sekitarnya.
Rasa marah dan sedih bercampur menjadi satu.
“Dinda belum siap kalau harus menikah sekarang,” lanjutnya dengan suara bergetar.
Namun, karena ia sedang berada di dalam tubuh Daffa, ekspresi kecewa dan suara protes itu justru keluar dari wajah seorang pemuda. Hal tersebut membuat suasana di ruangan semakin canggung.
“Daffa!”
Satu kata tegas dari Pak Rendra langsung membuat Dinda terdiam.
Sesaat, Dinda baru menyadari kesalahannya. Ia terlalu terbawa emosi sampai lupa bahwa dirinya sedang berada di dalam tubuh Daffa. Ia bahkan tidak sempat menjaga sikap dan image Daffa yang selama ini dikenal lebih tenang dan tidak banyak membantah.
Dinda menundukkan wajahnya. Perlahan, ia melirik ke arah kedua orang tua aslinya. Raut kecewa jelas terlihat di wajah mereka.
Hatinya terasa semakin tidak enak. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa, sementara dirinya sendiri bahkan belum memahami alasan di balik keputusan mendadak tersebut.
Dalam hati, Dinda mulai bertanya-tanya. Sebenarnya, kesalahan apa yang sudah dilakukan Daffa saat berada di dalam tubuhnya hingga kedua orang tuanya sampai mengambil keputusan sebesar ini?
Dan yang lebih membuatnya gelisah, apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya sendiri selama dirinya tidak berada di sana?
“Maaf ya, Sarah, Pak Bagas, atas sikap anak kami,” ujar Mayang dengan nada lembut dan ramah.
Mayang sebenarnya juga menyayangkan sikap Daffa yang baru saja berani memprotes keputusan papanya di depan keluarga Dinda. Baginya, sebagai orang yang dianggap telah melakukan kesalahan, Daffa seharusnya bisa bersikap lebih tenang dan menerima konsekuensi dari perbuatannya.
Mayang sama sekali tidak tahu bahwa sosok yang duduk di hadapannya itu bukanlah Daffa, melainkan Dinda yang berada di dalam tubuh putranya.
Sejak awal, Mayang memang sengaja tidak memberitahu tujuan mereka datang malam itu. Ia ingin melihat sejauh mana Daffa akan berusaha menutupi kesalahannya.
Bagaimanapun, dari apa yang ia ketahui, Daffa telah melakukan perbuatan yang tidak seharusnya terhadap anak teman sekaligus tetangga mereka sendiri. Karena itulah, Mayang berharap putranya mau bertanggung jawab dan tidak menghindar dari konsekuensi yang sudah menunggunya.
“Kami tidak akan menanyakan pendapatmu, Daffa. Karena kali ini kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu perbuat!”
Mayang kembali bersuara. Kali ini nada lembutnya menghilang, berganti ketegasan seorang ibu yang merasa kecewa terhadap putranya.
Dinda yang mendengar ucapan itu hanya bisa terdiam. Dadanya terasa sesak.
Apa sebenarnya yang sudah dilakukan Bang Daffa?
Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa. Namun, setiap kali hendak membuka mulut, ia kembali teringat bahwa semua orang di ruangan ini mengira dirinya adalah Daffa. Dinda merasa benar-benar terjebak di dalam tubuh orang lain.
Sejenak, keheningan pun tercipta di dalam ruangan itu. Atmosfer yang sebelumnya terasa hangat mendadak berubah mencekam. Terlebih bagi Dinda dan Daffa yang kini duduk bersebelahan dengan pikiran yang sama-sama kacau.
Dinda perlahan menoleh ke arah Daffa. Begitu pula dengan Daffa yang langsung membalas tatapannya.
Keduanya tidak mengucapkan sepatah kata pun, tetapi tatapan mereka seolah sedang berbicara.
Orang tua kita tahu?
Pertanyaan itu sama-sama terlintas di benak mereka.
Jika kedua keluarga sudah mengetahui tentang pertukaran tubuh mereka, mengapa tidak ada satu pun yang membicarakannya?
Atau jangan-jangan, semua yang terjadi malam ini justru karena orang tua mereka sama sekali tidak tahu?
“Ehem.” Suara Pak Bagas memecah keheningan. “Kami selaku orang tua Dinda juga berharap agar secepatnya mereka dipersatukan.”
“Ayah!”
Dinda spontan berseru, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Sementara Daffa hanya bisa menatap Dinda dengan wajah yang tak kalah terkejut.
Malam itu, sepertinya tidak ada satu pun dari mereka yang siap menghadapi keputusan para orang tua.
Sekali lagi, Dinda yang berada di dalam tubuh Daffa mendadak berdiri. Saking syoknya mendengar ucapan Pak Bagas yang ternyata juga menginginkan pernikahan dadakan tersebut, ia bahkan spontan memanggil sang ayah.
“Ayah!”
Mayang langsung menatapnya dengan wajah heran.
“Kamu tadi protes, tapi sekarang sudah memanggil orang tua Dinda dengan sebutan Ayah. Artinya kamu sudah menerima keputusan ini, kan?” Mayang mengomel di hadapan calon besannya. “Dasar kamu ini bikin susah saja!”
Dinda langsung terdiam. Ia baru sadar telah melakukan kesalahan lagi.
Sementara itu, Daffa yang berada di dalam tubuh Dinda akhirnya angkat bicara. Ia merasa situasi ini sudah terlalu membingungkan untuk terus dibiarkan.
“Ayah, Ibu... biar kami nggak bingung dengan kesalahan yang kami lakukan, tolong kasih tahu sebenarnya apa yang terjadi.”
Suara Daffa terdengar lebih tenang, meskipun pikirannya sama kacaunya dengan Dinda.
Bagas yang sejak tadi menahan diri akhirnya mengembuskan napas kasar. Tatapannya tertuju kepada Daffa yang kini berwujud putrinya.
Sepertinya, sudah waktunya mereka mengetahui alasan sebenarnya di balik keputusan kedua keluarga malam itu.
“Kemarin, sebelum ibumu pingsan, ia mendengar sesuatu dari kamarmu. Saat mencoba melihat ke dalam, dia melihat kamu dan Daffa... kalian...” Bagas terdiam sejenak. “Ugh!”
Bagas kembali mengembuskan napas kasar, lalu memalingkan wajah. Ia tampak kesulitan melanjutkan kalimatnya.
Begitu pula dengan Sarah, Mayang, dan Rendra. Ketiganya terlihat canggung. Ada rasa malu, kecewa, sekaligus marah yang bercampur menjadi satu di wajah mereka.
Bagas sebenarnya tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Ia merasa terlalu malu untuk menyebutkan secara langsung apa yang sempat dilihat Sarah di kamar putrinya.
Dalam pemahaman mereka, posisi Daffa dan Dinda saat itu terlihat begitu mencurigakan hingga membuat mereka menyimpulkan telah terjadi sesuatu yang tidak seharusnya.
“Pokoknya...” Bagas kembali menarik napas panjang. “Kami melihat kalian dalam keadaan yang membuat kami berpikir macam-macam.”
Dinda langsung membeku. Sedangkan Daffa mengerutkan dahinya. Keduanya saling pandang dan tampak berpikir. Mereka mulai menyadari telah terjadi ada kesalahpahaman disini. Dan kesalahpahaman itulah yang kini membawa mereka sampai pada rencana pernikahan dadakan.
"Tunggu-tunggu, Yah! Apa saat Daffa, ehem... maksud Dinda Bang Daffa berjongkok di depan Dinda di kamar, itu yang buat Ibu pingsan?"
"Ya." Jawab Bagas singkat.
"Yah, itu Bang Daffa lagi obati lutut Dinda yang luka. Ini ni Yah, coba lihat!"
Daffa mengangkat sedikit rok hingga menampakkan kedua lututnya yang terluka. Yang satu sudah mulai mengering dan satunya lagi masih basah.
"Loh?! Jadi..."
Mayang tertegun dan tak bisa melanjutkan kata-kata. Ia masih berspekulasi pada pikirannya sendiri.
"Loh, gimana ini Bu?!" Bagas kepada istrinya.
"Ya... Ibu sebenarnya kurang jelas juga Yah, karena Ibu tidak pakai kaca mata waktu itu. Ibu pulang lagi kerumah rencananya mau ambil kaca mata. Tetapi malah melihat mereka berdua di kamar dengan posisi seperti itu." Jawab Sarah ragu-ragu.
"Duh, Bu...!"
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
salahin nggak pake kacamata itu