NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Pak RT Budi tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Akbar sambil tersenyum palsu.

"Wah, kelihatannya enak sekali makan siangmu hari ini Nak Akbar," sapa Pak RT Budi sok akrab.

Akbar hanya melirik Pak RT itu sekilas tanpa menghentikan kunyahannya.

"Lumayan Pak RT, daripada makan nasi aking seperti yang bapak sarankan tadi," sindir Akbar tajam.

Senyum palsu di wajah Pak RT Budi langsung luntur sedikit mendengar balasan pedas itu.

Tapi karena melihat uang merah yang masih tergeletak di meja kasir, Pak RT Budi berusaha menahan harga dirinya.

"Ah, kamu ini suka bawa perasaan kalau diajak bercanda," elak Pak RT Budi mencoba mencairkan suasana.

"Begini Nak Akbar, kebetulan kas RT kita bulan ini sedang kosong blong tidak ada isinya."

"Karena kamu sekarang kelihatannya sedang banyak rezeki, bagaimana kalau kamu menyumbang seratus atau dua ratus ribu untuk kas desa?"

Mendengar permintaan tidak tahu malu itu, Akbar langsung menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang sendok.

Akbar menatap wajah tua Pak RT Budi dengan pandangan yang sangat dingin dan merendahkan.

"Menyumbang untuk kas desa kata bapak?" tanya Akbar dengan suara pelan namun terdengar oleh seluruh warung.

"Iya Nak, buat perbaikan jalan gapura dan beli lampu jalan yang mati," jawab Pak RT Budi mengangguk antusias.

Akbar mendadak tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya merasa takjub dengan ketidakmampuan manusia di depannya ini.

"Waktu saya kelaparan selama tiga hari karena tidak punya uang, apakah kas desa pernah membelikan saya sebungkus nasi kering?"

Pertanyaan telak dari Akbar langsung membuat Pak RT Budi terdiam membisu seperti patung.

"Waktu atap rumah saya bocor parah sampai banjir, apakah kas desa pernah membelikan saya satu lembar seng bekas?" cecar Akbar lagi.

"Ti... tidak pernah," jawab Pak RT Budi terbata-bata menahan malu yang luar biasa.

"Lalu dengan muka tembok macam apa bapak berani meminta sumbangan dari orang yang kalian sebut pembawa sial ini?"

Kata-kata Akbar meluncur sangat tajam bagaikan pisau daging yang memotong urat malu sang ketua RT.

Warga yang menonton kejadian itu tidak ada satu pun yang berani ikut campur atau membela Pak RT Budi.

Karena apa yang diucapkan oleh Akbar barusan adalah fakta seratus persen yang tidak bisa dibantah.

Selama lima tahun hidup menderita sebatang kara, tidak ada satu pun warga kampung atau perangkat desa yang peduli padanya.

Pak RT Budi yang sudah terlanjur malu setengah mati akhirnya tidak bisa membalas kata-kata Akbar lagi.

Dia buru-buru berbalik badan dan berjalan cepat keluar dari warung tanpa menyelesaikan makanannya.

Akbar kembali melanjutkan makan siangnya dengan sangat tenang seolah tidak terjadi keributan apa-apa barusan.

Setelah piringnya bersih tak bersisa, Akbar meneguk air es teh manisnya hingga tandas.

Ahhh.

Akbar mengelap mulutnya dengan tisu dan berdiri dari tempat duduknya.

Dia berjalan kembali ke arah meja kasir tempat Bu Tejo masih berdiri dengan wajah canggung dan salah tingkah.

"Berapa total makananku tadi Bu Tejo?" tanya Akbar datar.

"Eh, totalnya cuma lima puluh lima ribu rupiah saja Nak Akbar," jawab Bu Tejo ramah dan menunduk sopan.

Bu Tejo berniat mengambil satu lembar uang seratus ribu dari empat lembar yang dijatuhkan Akbar tadi untuk dikembalikan sisanya.

Namun tiba-tiba Akbar menahan tangan Bu Tejo dengan isyarat gerakan pelan.

"Ambil saja semua uang empat ratus ribu itu, anggap saja sisa kembaliannya sebagai uang sedekah dariku," ucap Akbar tersenyum sinis.

"Sedekah untuk biaya ibu mencuci mulut dengan sabun agar tidak mudah menghina orang sembarangan lagi ke depannya."

Jleb!

Hati Bu Tejo rasanya seperti tertusuk duri tajam mendengar kalimat penutup yang sangat menyakitkan dari Akbar.

Diberi uang dalam jumlah besar tapi disertai hinaan langsung di depan umum rasanya sangat mempermalukan harga dirinya.

Namun karena rasa serakahnya lebih besar, Bu Tejo tetap mengambil uang empat ratus ribu itu dan menyimpannya erat-erat.

"Te... terima kasih banyak Nak Akbar," ucap Bu Tejo pelan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Ding!

Suara mekanis sistem yang sangat jernih tiba-tiba bergema di dalam kepala Akbar.

Layar biru holografik muncul mengambang di udara tepat di depan matanya saat dia berjalan keluar dari warung.

[Selamat Tuan telah berhasil menyelesaikan Misi Harian dengan hasil yang sangat memuaskan.]

[Level pamer kekayaan dan dominasi mental yang ditunjukkan Tuan di depan umum dinilai sangat sempurna.]

[Hadiah Penyelesaian Misi telah ditambahkan secara otomatis.]

[Tuan mendapatkan imbalan: 30 Poin Hoki.]

[Tuan mendapatkan imbalan: Peningkatan Skill Pasif Mata Hoki ke Level 2.]

Akbar tersenyum lebar di balik layar biru transparan itu sambil memakai helmnya kembali.

Misi ini benar-benar sangat menyenangkan, dia bisa membalas dendam secara mental dan mendapatkan kekuatan baru secara bersamaan.

"Sistem, tolong jelaskan padaku apa bedanya Mata Hoki Level 2 dengan yang sebelumnya?" batin Akbar bertanya sambil menstarter motornya.

[Mata Hoki Level 2 tidak hanya bisa melihat aura keberuntungan pada benda mati.]

[Sekarang Tuan bisa melihat nilai angka statistik keberuntungan dan kesialan dari makhluk hidup atau manusia di sekitar Tuan.]

[Tuan bisa melihat langsung siapa orang yang sedang dirundung kesialan fatal, atau siapa yang sedang dilindungi hoki besar.]

[Durasi maksimal penggunaan Mata Hoki Level 2 meningkat menjadi dua puluh menit per hari.]

Mata Akbar sontak terbelalak kaget mendengar penjelasan dari sistem tersebut.

"Bisa melihat statistik keberuntungan manusia secara langsung?" gumam Akbar tidak percaya.

"Ini benar-benar kekuatan dewa yang sangat menakutkan kalau digunakan dengan benar."

Dengan kekuatan baru ini, Akbar bisa tahu siapa musuh yang sedang rentan dan bisa dia hancurkan dengan mudah.

Atau dia bisa mendekati orang penting yang sedang beruntung besar untuk mendapatkan keuntungan dari mereka.

"Ini sangat luar biasa sistem, kerja yang bagus," puji Akbar tulus dari dalam hatinya.

Akbar menarik tuas gas Scoopy hitamnya dan melaju perlahan meninggalkan area warung makan Bu Tejo yang masih dipenuhi warga.

Orang-orang di warung itu masih terus menatap punggung Akbar sampai menghilang di belokan jalan kampung.

Hari ini benar-benar menjadi sejarah baru bagi penduduk kampung ini.

Mereka semua akhirnya sadar bahwa Akbar yang sekarang bukanlah samsak hidup yang bisa mereka injak-injak lagi.

Akbar melirik jam digital yang ada di panel spidometer motor maticnya yang canggih itu.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas kurang sepuluh menit siang hari.

"Waktunya pas sekali, Mbak Risa pasti sudah mau selesai pergantian shift jaganya," ucap Akbar riang.

Dia memacu motornya sedikit lebih cepat menuju minimarket yang letaknya tidak terlalu jauh dari sana.

Sesuai janjinya tadi pagi, dia akan menjemput kasir cantik itu dan membawanya jalan-jalan keluar dari kampung berengsek ini.

Di saat yang bersamaan, di salah satu rumah mewah berlantai dua milik kepala desa, Dion sedang mengamuk sejadi-jadinya.

Dion melempar vas bunga mahal milik ibunya ke dinding hingga hancur berkeping-keping.

Prang!

Pecahan keramik berserakan di lantai ruang tamu rumah mewah tersebut.

Tubuh Dion sudah wangi karena dia sudah mandi sebanyak lima kali berturut-turut pakai sabun antiseptik.

Tapi secara psikologis, dia masih merasa bau busuk air comberan itu menempel di dalam hidungnya.

"Tono! Riki! Yanto! Sini kalian semua keparat bodoh!" teriak Dion memanggil ketiga anak buahnya yang sedang duduk ketakutan di teras.

Tiga preman kampung itu buru-buru masuk ke ruang tamu dengan wajah menunduk pucat pasi.

"Ada apa lagi Bos Dion?" tanya Tono dengan suara bergetar pelan.

"Kalian cari tahu informasi ke mana anak kutukan itu pergi siang ini!" perintah Dion dengan mata merah menyala.

"Aku tidak peduli kalau dia punya jimat pesugihan atau semacamnya, aku mau dia mati hancur hari ini juga!"

"Siapkan anak-anak geng motor dari desa sebelah, kita hadang dia di jalan besar luar kampung."

Yanto dan Riki saling berpandangan dengan wajah ngeri mendengar rencana gila bos mereka.

"Bos serius mau pakai orang bayaran dari desa sebelah? Biayanya pasti mahal Bos," ucap Yanto ragu.

Dion langsung menampar wajah Yanto dengan keras hingga pemuda itu tersungkur ke lantai.

Plak!

Suara tamparan itu menggema keras di ruang tamu.

"Jangan banyak mengaturku bodoh, uangku masih banyak untuk sekadar menyewa preman jalanan!" bentak Dion kalap.

"Pokoknya siang ini aku mau melihat tulang kaki si Akbar itu patah jadi dua di depan mataku sendiri!"

Tono langsung mengangguk cepat sambil membantu Yanto berdiri dari lantai.

"Siap Bos Dion laksanakan! Kami akan memantau pergerakan si Akbar sekarang juga!"

Ketiga preman itu langsung lari terbirit-birit keluar dari rumah kepala desa untuk menjalankan tugas mereka.

Sementara Dion kembali duduk di sofa mewahnya dengan nafas tersengal-sengal menahan dendam kesumat yang membara.

Dia tidak tahu saja bahwa musuh yang sedang dia targetkan saat ini bukanlah manusia normal pada umumnya.

Akbar sudah dilengkapi dengan perlindungan sistem dan Mata Hoki Level 2 yang siap membalikkan semua kesialan yang akan datang padanya.

Pertarungan sesungguhnya antara pemuda yang dijuluki pembawa sial melawan penguasa kampung kotor ini baru saja memasuki babak yang paling menegangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!