NovelToon NovelToon
Bolehkah Luna Memanggilnya Mama?

Bolehkah Luna Memanggilnya Mama?

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ranaraworld

Di mata dunia, Stellan Alistair Caelmont adalah CEO dingin yang tak tersentuh. Namun di balik kekuasaannya, Stellan terancam kehilangan Luna, putri kecilnya yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup. sebuah ancaman dari masa lalu datang untuk merebut Luna dari pelukannya.

Kekuatan dan uang Stellan tak lagi cukup. Ia butuh sebuah keluarga utuh di mata hukum.

Hingga hadir Elara Vivienne Moreau, wanita hangat yang secara ajaib menjadi satu-satunya orang yang mampu meluluhkan benteng trauma Luna. Melihat itu, Stellan menawarkan sebuah kesepakatan gila: Pernikahan Kontrak.

Satu tahun. Hanya di atas kertas.

Elara menerima demi melindungi Luna, berjanji tak akan melibatkan perasaan pada pria sedingin Stellan. Namun, hidup di bawah satu atap perlahan membongkar rahasia kelam yang Stellan sembunyikan rapat-rahasia.

Saat ikatan palsu itu mulai terasa nyata, mampukah mereka bertahan ketika masa lalu menuntut pembalasan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranaraworld, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Pintu

​Bab 9: Rahasia di Balik Pintu

​Keputusan Nyonya Seraphina Caelmont untuk menginap di mansion selama satu minggu mendadak mengubah seluruh keteraturan rumah megah itu. Bagi Elara dan Stellan, kehadiran Mami bukan sekadar kehadiran seorang tamu VIP, melainkan sebuah ujian ketahanan 24 jam untuk mempertahankan sandiwara besar mereka.

​Namun, mengelabui seorang wanita pemikir sekelas Seraphina ternyata jauh lebih rumit daripada menghadapi tim evaluator pengadilan.

​Malam kedua kepindahan Mami, masalah yang paling dihindari akhirnya terjadi.

​Pukul sebelas malam, ketika seluruh isi mansion sudah hening, Elara melangkah keluar dari kamarnya mengenakan gaun tidur katun longgar berwarna krem. Ia berniat turun ke dapur lantai dasar untuk mengambil segelas air hangat karena tenggorokannya terasa kering.

​Langkah kaki Elara yang tanpa alas sepatu melangkah pelan menelusuri koridor lantai dua. Namun, saat melewati lorong depan kamar utama tempat Stellan tidur, langkah Elara mendadak terhenti.

​Di sana, di bawah pendar lampu dinding yang temaram, Seraphina berdiri mengapit kedua tangannya di pinggang. Wanita paruh baya itu berdiri tepat di depan pintu kamar Stellan yang sedikit terbuka, lalu beralih menatap pintu kamar Elara yang berada di samping kamar Luna, beberapa meter di belakangnya.

​Mata Seraphina berkilat tajam di balik keheningan malam.

​Elara menelan ludahnya yang terasa seketika membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga dadanya terasa sesak. Ketahuan.

​Sebelum Elara sempat berbalik atau menyusun kata-kata rakitan untuk berdalih, pintu kamar Stellan terbuka penuh. Stellan keluar mengenakan kaus hitam santai dan celana kain panjang, hendak mengambil berkas di ruang kerja. 

Pria tinggi itu membeku seketika saat menemukan maminya berdiri tegak di depan pintunya, dan Elara berdiri mematung di ujung lorong.

​Atmosfer di koridor lantai dua itu mendadak mendingin dan berubah menjadi sangat kaku.

​"Mami?" suara berat Stellan terdengar menegang, ada kelelahan dan keterkejutan yang tak bisa ia tutupi lagi. "Belum tidur?"

​Seraphina tidak menunjukkan ekspresi histeris atau ledakan emosi seperti biasanya. Sebaliknya, Mami Caelmont itu justru menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman yang jauh lebih menakutkan karena memancarkan tingkat kecerdasan dan kontrol yang tinggi.

​"Mami baru saja mau mengambilkan selimut tambahan untuk kamar kalian," ujar Seraphina pelan namun tegas, suaranya menggema halus di koridor yang sepi. "Tapi Mami malah menemukan hal yang lebih menarik. Kenapa koper dan baju-baju Elara ada di kamar sebelah Luna, sementara kamu tidur sendirian di kamar utama ini, Stellan?"

​Stellan merapatkan bibirnya. Rahang kokohnya terkatuk kaku. Pandangan mata Elara melihat pria CEO yang biasa mengontrol ribuan karyawan itu lagi-lagi kehabisan kata di hadapan ibunya sendiri.

​Stellan menghembuskan napas panjang, melangkah satu tindak memangkas jarak, lalu menatap maminya lurus-lurus.

​"Elara butuh kamar sendiri di samping Luna, Mami," Stellan mencoba menjelaskan dengan nada suara yang terkontrol, berusaha agar tidak membakar emosi maminya. "Kondisi emosional Luna sangat rapuh. Luna sering terbangun di tengah malam karena panic attack akibat traumanya. Jika Elara tidur di kamar utama di ujung koridor, Elara tidak akan bisa merespons cepat saat Luna membutuhkan bantuan."

​Penjelasan Stellan memang terdengar sangat logis secara psikologis. Namun, Seraphina bukan wanita naif yang mudah dikelabui oleh alasan permukaan.

​Seraphina menatap putra sulungnya lama, mengamati setiap celah bahasa tubuh Stellan. Kemudian, wanita paruh baya itu menghembuskan napas pelan, bukan napas marah, melainkan napas kekecewaan yang tertahan.

​"Kamu pikir Mami ini wanita bodoh, Stellan?" bisik Seraphina rendah. "Mami yang melahirkan dan membesarkan kamu. Mami tahu betul watakmu yang keras kepala. Pria seperti kamu tidak akan pernah menikah secara mendadak hanya karena 'jatuh cinta dalam semalam' seperti cerita dongeng yang kamu susun."

​Stellan membeku. Elara di ujung lorong meremas kain gaun tidurnya erat-erat, menahan napas.

​"Sejak Mami mendarat dari Paris, Mami sudah merasa ada yang aneh," lanjut Seraphina, menunjuk dada Stellan dengan ujung jarinya. "Caramu menatap Elara memang penuh rasa hormat, dan Elara memperlakukanmu dengan sangat manis di depan Mami. Tapi kalian berdua... terlalu berhati-hati. Kalian bertindak seperti dua orang asing yang terikat dalam sebuah misi besar, bukan seperti sepasang suami istri yang dimabuk asmara."

​Stellan mengepalkan tangannya di samping tubuh, suaranya merendah serak. "Mami... ini rumah tangga kami—"

​"Dengar, Stellan Alistair Caelmont," potong Seraphina cepat, suaranya kini mengandung wibawa seorang ibu yang amat tegas. "Mami tidak peduli apa alasan mendesak di balik pernikahan kilatmu ini. Mami tahu kamu sedang memperjuangkan hak asuh Luna dari orang-orang jahat itu di pengadilan. Mami paham kamu berusaha melindungi cucu Mami."

​Seraphina memajukan tubuhnya, menatap Stellan dengan iris mata yang tajam.

​"Tapi ingat satu hal, Stellan. Kamu sudah membawa seorang wanita baik-baik masuk ke dalam rumah ini dan mengikat namanya di atas Akta Perkawinan resmi negara. Sebagai suami dan kepala keluarga, kamu wajib menghormati Elara. Jangan pernah memperlakukannya seperti alat atau pekerja sewaan! Jaga kehormatannya, lindungi dia, dan bersikaplah sebagai pria sejati."

​Stellan menundukkan kepalanya sedikit, meresapi setiap teguran tajam maminya. "Saya tahu, Mami. Saya selalu menghormati Elara."

​"Bagus kalau kamu paham," sahut Seraphina dingin. "Sekarang, kembalilah ke kamarmu. Mami mau bicara berdua dengan menantu Mami."

​Satu jam kemudian, suasana berbalik menjadi sangat sunyi di area balkon belakang lantai dua. Angin malam yang dingin berhembus lembut menyapu pepohonan taman.

​Elara duduk di sofa kayu beralaskan bantal empuk, memegang cangkir teh chamomile hangat yang baru saja diseduh oleh Bi Asih. Di hadapannya, Seraphina duduk menyandarkan punggungnya dengan anggun, menatap pendar lampu taman di bawah sana.

​"Maafkan Mami kalau tegang tadi, Elara," suara Seraphina terdengar amat lembut, sangat bertolak belakang dengan nada tegasnya pada Stellan tadi.

​Elara menggeleng pelan, menyunggingkan senyum canggung. "Tidak apa-apa, Mami. Justru saya yang harus meminta maaf karena... sudah membuat Mami kecewa."

​Seraphina berpaling, menatap Elara dengan pendar mata yang teduh dan penuh pemahaman. "Mami tidak kecewa padamu, sayang. Mami hanya sedih karena tebakan Mami ternyata benar."

​Seraphina menghela napas panjang, merapatkan selendangnya. "Jujur saja, saat Mami pertama kali datang kemarin dan melihat cara kalian berinteraksi, Mami sangat bahagia. Mami melihat Stellan yang biasanya dingin seperti es mendadak punya kehangatan baru. Mami melihat Luna yang selama tiga tahun mengurung diri dari dunia luar... mau menyandarkan kepalanya di pahamu."

​Mata Seraphina berkaca-kaca menatap Elara. "Saat itu, Mami benar-benar percaya bahwa Tuhan akhirnya mengirimkan malaikat untuk menyembuhkan luka di rumah ini. Mami percaya kalian berdua benar-benar saling mencintai."

​Kata-kata jujur dari Seraphina bagaikan sembilu yang menyayat batin Elara. Rasa bersalah yang membumbung tinggi di dadanya mendadak terasa begitu menyiksa.

​"Tapi begitu Mami tahu kalian pisah kamar..." Seraphina tersenyum getir, menggeleng pelan. "Mami sadar, Stellan tidak mungkin mengambil langkah se-ekstrem ini tanpa alasan hukum yang sangat terdesak. Pernikahan ini... sengaja dibuat untuk menyelamatkan hak asuh Luna dari gugatan keluarga almarhum orang tuanya, bukan?"

​Elara menunduk dalam-dalam. Ia tidak sanggup lagi berbohong di hadapan mata seorang ibu yang begitu tulus. "Maafkan saya, Mami... Kami tidak berniat menipu Mami atau keluarga besar Caelmont."

​"Mami tahu," potong Seraphina lembut. Wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya, merengkuh jemari dingin Elara dan mengelusnya dengan kasih sayang yang utuh. "Mami tahu kamu wanita yang sangat baik, Elara. Sejak pertama kali melihat matamu, Mami tahu kamu melakukan ini bukan demi harta, kekuasaan, atau nama besar Caelmont."

​Seraphina menatap lurus ke dalam mata Elara. "Kamu melakukan ini murni demi menyelamatkan Luna, kan?"

​Elara mengangguk pelan, air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya menetes tipis di pipinya. "Luna... anak itu sangat berharga, Mami. Saya tidak bisa membiarkan Luna jatuh ke tangan orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan harta warisannya. Kondisi psikologisnya terlalu rentan."

​Seraphina tersenyum terharu, mengusap air mata di pipi Elara dengan ibu jarinya. "Terima kasih, sayang. Terima kasih sudah mau berdiri di samping Stellan dan menjadi benteng perlindungan untuk cucu Mami."

​Nyonya Caelmont itu lalu menggenggam kedua tangan Elara erat-erat, menyampaikan sebuah permohonan yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.

​"Elara... Mami tidak tahu kesepakatan rahasia apa atau berapa lama batas waktu yang kalian buat di balik pintu tertutup itu," bisik Seraphina dengan nada memohon yang begitu menyentuh. "Tapi Mami mohon padamu... apa pun yang terjadi nanti, tolong tetaplah tinggal di rumah ini. Jangan pernah tinggalkan Luna... dan jangan pernah tinggalkan Stellan."

​Deg.

​Jantung Elara rasanya berhenti berdetak seketika.

​"Stellan itu pria yang sangat malang, Elara," lanjut Seraphina, suaranya bergetar menahan rasa sakit. "Sejak tragedi kecelakaan tiga tahun lalu yang menewaskan sahabat karibnya, ayah kandung Luna, Stellan mengunci seluruh hatinya dalam penyesalan yang sangat dalam. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian mereka dan atas bisunya Luna. Selama tiga tahun ini, Stellan hidup seperti mayat bernapas yang hanya bekerja demi menebus rasa bersalahnya."

​Seraphina menatap Elara dengan pandangan penuh harapan. "Tapi sejak kamu datang ke rumah ini... Stellan mulai belajar bernapas lagi. Mami bisa melihatnya dari caranya menatapmu. Kamu adalah satu-satunya cahaya yang sanggup meruntuhkan es di hati anakku."

​"Mami..." suara Elara tercekat di tenggorokan.

​"Tetaplah berada di sisi mereka, Elara. Jangan pergi," bisik Seraphina tulus.

​Malam semakin larut ketika Elara akhirnya kembali ke kamarnya.

​Ruangan yang tenang itu diterpa pendar cahaya bulan dari balik jendela besar. Elara melangkah lambat, lalu duduk di tepi tempat tidurnya dengan pikiran yang membumbung tinggi dalam dilema yang amat hebat.

​Perkataan Seraphina di balkon tadi terus bergema tanpa henti di dalam kepalanya.

​Tolong tetaplah tinggal... jangan pernah tinggalkan Luna... dan jangan pernah tinggalkan Stellan.

​Elara meremas kedua lututnya. Logika profesionalnya sebagai psikolog kini benar-benar berbenturan keras dengan nurani kemanusiaannya.

​Ia masuk ke rumah ini dengan kesepakatan satu tahun yang jelas di atas kertas, sebuah kontrak kerja batas waktu untuk menyelesaikan persidangan hak asuh. 

Namun kini, garis batas itu mendadak mengabur. Ada rasa sayang yang semakin mendalam pada Luna yang setiap hari menggambar dengannya. Ada rasa iba dan dorongan untuk menyembuhkan luka penyesalan Stellan yang tersembunyi rapat di balik topeng dinginnya. Dan kini... ada harapan tulus dari seorang ibu mertua yang mempercayainya dengan penuh.

​Bagaimana bisa aku pergi setelah satu tahun jika kehadiranku di rumah ini sudah menanamkan harapan baru bagi mereka semua? batin Elara meringis, dadanya sesak oleh pergulatan emosi yang kian tak terkendali.

​Tiba-tiba, pintu connecting door yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Luna berderit pelan.

​Elara menoleh. Di balik celah pintu yang terbuka sedikit, sosok mungil Luna berdiri bertelanjang kaki. Gadis kecil itu memeluk boneka beruang lusuhnya erat-erat. Mata bulatnya yang jernih menatap Elara di kegelapan kamar.

​Tanpa bersuara, Luna melangkah mendekat. Kaki-kaki kecilnya memanjat naik ke atas tempat tidur Elara, lalu menjatuhkan tubuh kecilnya di samping Elara, menyandarkan kepalanya yang mungil tepat di pangkuan Elara, memejamkan matanya dengan napas yang amat damai.

​Luna secara alami memilih Elara sebagai tempat perlindungan teramannya di tengah malam.

​Elara mematung sejenak, menatap tubuh mungil yang meringkuk di pangkuannya. Perlahan, jemari halus Elara terulur, mengelus lembut rambut coklat bergelombang milik Luna.

​Airmata Elara menetes pelan menimpa helai rambut Luna. Di tengah keheningan malam yang membungkus Mansion Caelmont, Elara menyadari satu hal yang tak lagi bisa ia bantah:

​Ia mungkin datang ke rumah ini berlandaskan sebuah kontrak gila... tetapi hatinya kini telah terikat sepenuhnya pada keluarga ini.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
Mei TResna Rahmatika
akhirnya up kak😍
Mei TResna Rahmatika
lanjut kak,baguss ceritanya 😍
Ranaraworld: makasih kak, tungguin terus ya kelanjutan nyaa
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
bab 1 udah menarik kak,lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!