NovelToon NovelToon
Aku Hamil Anak Raja Vampir

Aku Hamil Anak Raja Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:340
Nilai: 5
Nama Author: Latief_ayra

hiduplah seorang penyihir cantik yang bernama Elizabeth bertemu dengan raj vampir .dan dia diam" mngandung ada vampir . sampai dia Terusir oleh ayahnya sendiri .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Latief_ayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 4

Leon berlari sekuat tenaga menembus hujan deras, tubuh kecilnya basah kuyup dan gemetar. Namun satu penyihir tak berhenti mengejarnya. Tiba-tiba, rantai api melesat dan melilit kaki Leon!

"AAAKHH!" Leon terjatuh tersungkur ke tanah berlumpur.

Pria itu mendarat di hadapannya, menyeringai kejam. "Kena kau, monster kecil! Darah vampir bangsawan memang tak bisa disembunyikan!"

Saat Leon terbaring lemah terlentang, pria itu mengangkat pedang berkilau tajam siap menghujam ke dadanya. Namun tiba-tiba.

sebuah cahaya menyilaukan meledak dari dalam tubuh Leon! Gelombang kekuatan dahsyat melesat ke segala arah, melontarkan tubuh pria itu terpental jauh hingga menabrak batang pohon besar. Darah segar menyembur dari mulutnya saat terhempas keras.

Di tengah cahaya yang meredup, sosok Leon berubah. Tubuhnya yang kecil perlahan memanjang, wajahnya berubah menjadi tampan namun dingin layaknya seorang pemuda remaja. Dan dari punggungnya... tumbuh sepasang sayap hitam pekat yang sangat besar, membentang gagah persis seperti sayap seorang vampir!

Pria itu terbelalak tak percaya, namun segera bangkit dan melontarkan sihir api yang melingkar mengurung Leon di dalam tembok api. "Apa pun wujudmu, kau tetap akan mati!"

Leon berdiri tegak di tengah kobaran api tanpa sedikit pun terluka. Ia menatap tajam ke arah pria itu, suaranya kini berat dan berwibawa:

"Tidak sakit sama sekali."

Pria itu tertawa sinis meski matanya penuh ketakutan. "Bagaimanapun juga... kau tetap anak kemarin sore! Hahaha!"

Belum selesai tawa sinis pria itu menggema, tiba-tiba udara di sekitar mereka berubah dingin menusuk tulang. Dari kegelapan hujan, sesosok bayangan tinggi besar melesat turun dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat mata. Di punggungnya, sepasang sayap hitam raksasa membentang gagah . persis seperti milik Leon, namun jauh lebih megah dan menggetarkan.

Pria itu belum sempat bergerak, lehernya sudah dicengkeram erat oleh tangan kekar yang tak kenal ampun. Sosok vampir itu mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi hingga kaki pria itu melayang di udara. Wajahnya tampak dingin dan mengerikan, matanya memancarkan amarah yang membara.

"Berani-beraninya kau mengancam nyawaku putraku..." desisnya berat dan menggelegar, membuat si jahat itu tersentak hebat.

Pria itu tercekik napasnya, kedua tangannya meronta berusaha melepaskan cengkeraman yang sekuat baja itu. Di belakangnya, sayap besar itu perlahan terlipat tenang, namun tatapan matanya tertuju lembut sejenak pada sosok Leon yang kini berdiri terpaku, menatap sosok yang sepertinya... ayahnya.

Leon terpaku menatap, napasnya tertahan. Tubuhnya tiba-tiba terhuyung lemas, hampir jatuh tersungkur—namun seketika, tangan kekar itu dengan sigap menangkap dan menopang tubuhnya agar tidak terjatuh.

Saat mata mereka bertemu... mata merah menyala sang vampir perlahan melembut. Tatapannya menelusuri wajah Leon dengan takjub, seolah sedang melihat sesuatu yang sangat ia rindukan. Dalam benaknya, seketika bayangan wajah seorang wanita yang ia temui lima tahun lalu melintas jelas , wanita yang menari di bawah sinar rembulan malam itu.

"Ya... dia mirip sekali dengan wanita itu..." gumamnya lirih dalam hati, matanya tak lepas dari wajah Leon. Wajah itu, sepasang mata itu... persis seperti Elizabeth.

Raja Vampir menatap tajam, suaranya berat dan penuh tanda tanya bergema di antara rintik hujan.

"Anak siapa kau?!"

Leon terbatuk hebat, tubuhnya terguncang lemah. Darah segar merembes dari sudut bibirnya, matanya mulai sayu namun penuh cemas. Di tengah lemah yang melanda, satu-satunya nama yang terucap lirih disertai tangis ketakutan:

"Mama... Mama... Tolong selamatkan Mama..."

Raja Vampir tertegun. Mendengar panggilan itu, hatinya seakan tertusuk sesuatu. Ia kembali menatap wajah Leon lekat-lekat. Mama...

Tiba-tiba meluncur sepasang pengawal bersayap hitam, mendarat dengan hormat di belakang sang Raja. Salah satu dari mereka menatap lekat-lekat ke arah Leon, lalu berucap dengan takjub:

"Tuanku... resonansi kekuatan anak ini... jauh lebih kuat dari yang pernah aku rasakan seumur hidupku... namun..."

Belum sempat pengawal itu menyelesaikan ucapannya, Leon tiba-tiba meronta sekuat tenaga dari pelukan tangan sang Raja. Wajahnya pucat namun matanya menyala penuh kecemasan.

"Lepaskan! Lepaskan aku!!" teriaknya lantang, suara pecah namun penuh tekad. "Aku ingin menyelamatkan MAMAAAAA!!!"

Tanpa menunggu izin, Leon segera berlari menerobos hujan deras kembali, meninggalkan sang Raja dan para pengawalnya yang masih terpaku memandang punggungnya yang menjauh.

Raja Vampir berdiri mematung, kepalanya tertunduk dalam. Hatinya teriris mendengar laporan itu.

Pengawal di sampingnya melanjutkan dengan suara mendesak, penuh amarah sekaligus khawatir:

"Tuanku... garis keturunan vampir murni yang telah seribu tahun hampir punah... akhirnya muncul kembali pada anak itu. Namun mereka mengejarnya tanpa ampun hingga ia batuk darah... Dan ibunya masih berada di tangan bajingan itu. Tuanku... kita harus menemukan mereka sekarang juga, sebelum terlambat!"

Wajah Raja Vampir seketika berubah mengerikan. Matanya menyala merah padam menahan amarah yang meledak. Suaranya menggelegar penuh wibawa dan kemurkaan yang mendalam:

"PENGAWAL!! Arahkan SELURUH pasukan pengawal! Cari anak itu dan ibunya! Temukan mereka SEKARANG JUGA!!"

Raja Vampir menatap tajam, suaranya menggelegar penuh kemurkaan yang tak tertahankan:

"Temukan ibunya! Siapa pun yang berani menghalangi... bantai mereka! TANPA AMPUN!"

Tanpa menunggu lagi, sepasang sayap hitam raksasanya terbentang lebar. Dengan satu kepakan dahsyat, tubuhnya melesat tinggi menembus awan dan hujan, menghilang di angkasa yang gelap. terbang secepat kilat menuju tempat Elizabeth berada, membawa amarah dan tekad menyelamatkan keluarganya.

Di tempat lain, Elizabeth berjalan terhuyung-huyung seorang diri. Tangan kirinya terus menekan luka berdarah di dadanya, napasnya tersengal berat, wajahnya pucat pasi. Namun ia terus melanggar, berusaha menjauh demi keselamatan anaknya.

Tiba-tiba sesosok bayangan melayang turun di hadapannya. Seorang wanita vampir yang sangat cantik berdiri di sana—mengenakan gaun merah menyala, rambut panjangnya berwarna merah terang, dan sepasang matanya memancarkan cahaya merah tajam.

"Berhenti..." ucap wanita itu tegas, suaranya dingin namun merdu.

Elizabeth terhenti perlahan, menatapnya lemas namun tetap waspada. "Kau... berbicara kepadaku?"

Wanita vampir itu melangkah mendekat, hidungnya sedikit mengendus udara di sekitar tubuh Elizabeth. Matanya menyipit penuh tanda tanya dan takjub.

"Kenapa aku mencium aroma Lord Draven...?" gumamnya pelan, lalu menatap tajam tepat ke manik mata Elizabeth. "Seorang manusia... yang berbau persis seperti Raja Vampir sendiri."

Lac tiba-tiba mengeluarkan cambuk dari tangannya, dengan cepat melesatkan dan melilitkan erat ke leher Elizabeth. Ia menariknya kuat hingga tubuh Elizabeth terhuyung mendekat, napasnya tersedak terengah-engah.

Namun tepat saat itu , seketika pancaran cahaya keemasan yang sangat terang memancar dari kalung yang melingkar di leher Elizabeth! Cahaya itu menyilaukan mata, hangat dan penuh kekuatan, seketika membuat ujung cambuk itu melepuh dan terbakar. Luc terkejut luar biasa, terpaksa melepaskan tarikannya sambil memundurkan diri karena tak sanggup menahan panas dan kekuatan yang memancar dari benda itu.

Lac itu terkejut namun tak menyerah. Ia segera mengulurkan tangan, berusaha merampas kalung itu dari leher Elizabeth.

Dengan sisa tenaga yang ada, Elizabeth menepis tangan wanita itu dengan keras! Tatapannya tajam dan teguh, tak sedikit pun gentar.

"Jangan sentuh! Ini milikku!"

Suaranya terdengar lemah namun penuh tekad yang tak tergoyahkan. Kalung pemberian orang yang dicintainya itu adalah nyawanya, dan ia tak akan membiarkan siapa pun mengambilnya.

Wanita vampir itu tertawa sinis, matanya menyala merah menatap Elizabeth dengan pandangan merendahkan.

"Hanya sekian kemampuanmu? Dan kau berani melawanku, manusia lemah?"

Ia melangkah maju lagi, aura gelap yang mengerikan memancar dari tubuhnya, seolah siap menghancurkan Elizabeth dalam sekejap. Namun Elizabeth tetap berdiri tegak meski kakinya gemetar, tangannya mencengkeram erat kalung di dadanya. ia tak akan menyerah, walau nyawalah taruhannya.

Wajah wanita vampir berubah merah padam menahan amarah. Kuku-kukunya memanjang tajam berkilau hitam, siap mencabik leher Elizabeth.

"Dasar tidak tahu berterima kasih!" desisnya penuh kebencian. "Saat seorang bangsawan meminta sesuatu darimu... kau seharusnya merasa terhormat! Dan kau berani menolak?! Maka akan kuambil nyawamu sebagai gantinya!"

Tangan tajam itu melesat cepat menuju leher Elizabeth... Namun seketika, sesosok bayangan meluncur deras dari kegelapan dan berdiri tegak di depan Elizabeth!

"Jangan sentuh ibuku!"

Itu Leon! Ia datang tepat waktu, berdiri membelakanginya, kedua sayap hitamnya membentang lebar melindungi ibunya. Matanya menatap tajam penuh amarah ke arah wanita vampir itu, siap melindungi Elizabeth walau nyawanya sendiri yang menjadi taruhan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!