NovelToon NovelToon
Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:642
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB


Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?

Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.


Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!


Karya Author// DILARANG PLAGIAT//

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Masa Lalu dan Babak Baru Hubungan Mereka

Suasana di ruang makan penthouse lantai empat puluh berangsur-angsur mencair setelah insiden salah paham dan cemburu buta yang sukses membuat Reina Lunox mati kutu karena malu. Sisa-sisa air mata di pipi gadis itu telah berganti dengan rona kemerahan akibat salah tingkah yang luar biasa.

Jino West, di sisi lain, tampak menikmati kemenangan kecilnya. Pria itu sesekali melirik ke arah istrinya sambil menyunggingkan senyumen tipis penuh kemenangan, membuat Reina mendengus kesal dan menimpuk suaminya menggunakan sepotong roti panggang yang langsung ditangkap sigap oleh tangan kokoh Jino.

"Jangan menatapku seperti itu terus, Tuan Muda!" protes Reina dengan bibir mengerucut manja, berusaha menutupi rasa malunya. "Sudah untung aku tidak jadi minggat dari rumah ini."

Jino tertawa renyah, menggigit roti panggang yang dilempar Reina tadi, lalu bangkit dari kursinya. Ia berjalan mendekati Reina, menarik kursi gadis itu agar sedikit bergeser, lalu memeluk pundak istrinya dari samping.

"Minggat ke mana lagi, hm?" bisik Jino lembut tepat di telinga Reina. "Di dunia ini, tidak ada tempat paling aman untukmu selain berada di dalam pelukanku. Lagi pula, kalau kau benar-benar berani kabur, aku akan mengerahkan seluruh armada perusahaan untuk memburumu sampai ke ujung dunia."

Reina mencibir pelan, namun sudut bibirnya tak kuasa menahan senyuman manis. "Bucin akut," cibirnya pelan.

Meski badai cemburu pagi itu telah berhasil dilewati dengan damai, sebuah kenyataan lain tetap ada di balik layar. Kedatangan Vanessa Vance di kantor pusat kemarin bukanlah sebuah kebetulan semata. Wanita itu sengaja datang membawa misi masa lalu yang belum sepenuhnya tuntas.

Beberapa jam kemudian, setelah Jino menyelesaikan sarapannya dan bersiap berangkat ke kantor, ia menyempatkan diri duduk di ruang kerja pribadinya di dalam penthouse. Reina menyusul masuk membawakan secangkir teh hijau hangat untuk suaminya.

Jino menerima cangkir itu, namun manik mata kelamnya tampak menyipit serius menatap layar tablet di hadapannya. Ia sedang membaca laporan berkas investigasi latar belakang perusahaan keluarga Vance yang baru saja dikirimkan oleh tim kepercayaannya.

"Ada apa?" tanya Reina penasaran, menarik kursi di seberang meja kerja Jino dan duduk di sana. Ia memperhatikan ekspresi suaminya yang mendadak berubah kaku.

Jino mendongak, menatap Reina sejenak sebelum menghela napas berat. Ia menyodorkan tablet tersebut ke hadapan istrinya.

"Tentang Vanessa," ujar Jino serius. "Meskipun dia bertindak sok akrab kemarin, sebenarnya ada alasan lain kenapa dia tiba-tiba kembali dari Paris dan muncul di kantorku."

Reina mengernyitkan kening, mengambil tablet itu dan membaca detail teks di layar. "Maksudmu... kedatangannya bukan cuma sekadar tebar pesona atau ingin bernostalgia masa kecil?"

"Bukan," jawab Jino tegas. "Perusahaan properti milik keluarga Vance saat ini sedang menghadapi krisis likuiditas yang cukup parah akibat investasi bodoh yang dilakukan oleh ayah Vanessa di Eropa. Mereka butuh suntikan dana segar senilai ratusan juta dolar dalam waktu dekat, atau perusahaan mereka akan dipailitkan oleh bank."

Reina manggut-manggut pelan, insting penulis novelnya langsung bekerja dengan cepat. "Ah... pantas saja dia berani mendekatimu lagi dan bersikap seolah-olah kalian punya hubungan spesial di masa lalu. Dia sedang mencari 'pohon besar' untuk berlindung, dan mengira kau bisa dimanfaatkan karena masa kecil kalian."

"Tepat sekali," sahut Jino dingin. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi kerja, melipat tangan di dada. "Tapi dia salah besar jika mengira aku akan membiarkan perasaannya atau masa lalu kami mempengaruhi keputusanku. Aku sudah menolak tawarannya secara mentah-mentah kemarin sebelum kau datang."

Reina menatap suaminya lekat-lekat. Ada rasa lega yang menyelimuti dadanya, meski ia tahu masalah ini mungkin belum sepenuhnya selesai sampai di situ. Orang-orang serakah seperti keluarga Vance atau Ethan Sterling biasanya tidak akan menyerah begitu saja sebelum mereka benar-benar hancur atau mendapatkan apa yang mereka inginkan.

"Lalu, apa rencana selanjutnya?" tanya Reina tenang. "Keluarga Vance tidak akan tinggal diam. Kalau mereka tahu pintu bantuan darimu tertutup rapat, mereka pasti akan mencari cara lain untuk menekanmu, entah lewat dewan direksi atau media."

Jino menyunggingkan senyuman miring—sebuah seringai dingin yang selalu ia pasang setiap kali bersiap menghadapi musuh bisnisnya. "Biarkan mereka mencoba. Tim hukumku sudah menyiapkan dokumen gugatan atas pencemaran nama baik dan percobaan penipuan investasi jika mereka berani melangkah lebih jauh. Di dunia bisnis, tidak ada tempat bagi parasit yang ingin hidup menumpang di atas keringat orang lain."

Reina tersenyum tipis. Ia mengagumi ketegasan dan kecerdasan suaminya dalam menghadapi masalah korporat sebesar itu tanpa sedikit pun goyah.

"Baiklah, Tuan CEO yang terhormat," ujar Reina bangkit dari duduknya, menepuk pelan pundak Jino dengan gaya bos besar. "Urusan kantormu silakan selesaikan sendiri. Aku mau kembali ke kamar untuk melanjutkan bab akhir novel wuxiaku. Jangan ganggu aku sampai siang nanti!"

Jino terkekeh melihat tingkah istrinya yang kembali ceria. Ia menarik pergelangan tangan Reina sekejap, membuat gadis itu sedikit jatuh ke pangkuannya.

"Hei, sebentar..." bisik Jino, memeluk pinggang Reina erat-erat. "Jam kerja belum dimulai sepenuhnya. Cium dulu sebagai tanda semangat sebelum aku berangkat."

"Ih, modus!" protes Reina salah tingkah, namun ia tetap melingkarkan tangannya di leher Jino dan mendaratkan satu kecupan singkat di pipi suaminya.

Jino tersenyum puas, melepaskan pelan pelukannya dan membiarkan Reina pergi menuju lantai atas dengan wajah tersipu malu.

Beberapa hari berlalu tanpa ada gangguan berarti dari pihak luar. Rencana keluarga Vance untuk mendekati Jino terbukti gagal total setelah tim hukum West Corporation mengeluarkan peringatan keras secara resmi, membuat Vanessa dan ayahnya terpaksa mundur teratur karena tidak memiliki celah hukum untuk melawan kekuasaan Jino West.

Di dalam kamar kerjanya, Reina akhirnya mengetik kalimat terakhir untuk draf novel wuxianya, Gadis desa dan Lima Pangeran Tsundere. Judul novel itu kini telah resmi diumumkan ke publik melalui platform pembaca daring NovelToon, dan dalam kurun waktu kurang dari seminggu, cerita tersebut langsung menduduki peringkat pertama trending nasional dengan jutaan pembaca setia yang memuji alur cerita kocak, realistis, dan penuh intrik romantis di dalamnya.

Reina meregangkan kedua tangannya ke atas, mendesah lega. Ia menatap layar laptop dengan senyuman puas yang mengembang lebar di bibirnya.

"Akhirnya... tamat juga," gumam Reina gembira pada dirinya sendiri.

Malam harinya, untuk merayakan selesainya novel tersebut sekaligus merayakan kemenangan kecil mereka atas segala badai drama yang datang silih berganti, Jino mengajak Reina makan malam di sebuah restoran rooftop pribadi yang terletak di puncak gedung tertinggi kota metropolitan.

Di bawah naungan langit malam yang bertabur bintang, diterangi cahaya lilin temaram di atas meja kayu klasik, mereka menikmati hidangan mewah berdua saja. Tidak ada gangguan dari nenek kolot, tidak ada mantan rekan bisnis yang menyebalkan, dan tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu.

Jino mengangkat gelas kristal berisi sparkling water miliknya, menatap Reina dengan sorot mata penuh cinta dan kekaguman yang teramat dalam.

"Untuk istriku tercinta," ucap Jino lembut, memulai toast kecil. "Penulis web novel paling hebat, paling cerdas, dan paling galak di dunia. Selamat atas kesuksesan novel barumu."

Reina tersenyum manis, menyatukan gelasnya dengan gelas Jino hingga berdenting nyaring. "Terima kasih, Tuan Muda West. Dan untukmu juga... selamat karena sudah bertahan hidup mendampingi penulis galak ini selama masa pernikahan kita."

Keduanya tertawa bersama, menikmati kehangatan malam yang menyatukan jiwa mereka dalam ikatan cinta yang semakin erat. Badai mungkin akan datang lagi di masa depan, namun selama mereka berdiri berdampingan sebagai satu tim yang solid, tidak ada rintangan apa pun di dunia ini yang tidak bisa mereka taklukkan bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!