Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Keesokan paginya... Suasana di rumah keluarga Arganta masih terasa dingin. Matahari baru saja naik, tetapi tak seorang pun benar-benar menikmati pagi itu.
Ratna duduk di ruang tamu sambil beberapa kali melirik jam dinding.
"Harusnya Sari sudah sampai."
Tak lama kemudian... Terdengar suara bel rumah.
Ting...
Tong...
Wajah Ratna langsung berbinar. "Itu pasti Sari." Ia bergegas membuka pintu. Benar saja.
Sari berdiri di depan rumah dengan gaun berwarna putih gading. Wajahnya tampak pucat. Matanya sengaja dibuat sembap dengan riasan tipis, seolah semalaman menangis.
Begitu melihat Ratna, ia langsung memeluk wanita paruh baya itu.
"Tante..." Suaranya bergetar.
Ratna membalas pelukan itu dengan penuh kasih sayang. "Ya ampun, Sayang... kamu benar-benar kelihatan kurus."
Sari menggeleng pelan. "Aku nggak nafsu makan, Tante. Sejak Mas Danis marah... aku benar-benar nggak bisa tidur."
Ratna mengusap punggungnya. "Sudah... hari ini semuanya akan selesai."
Rania yang baru turun dari tangga ikut tersenyum. "Hari ini Danis pasti luluh."
Sari menundukkan kepala, menyembunyikan senyum tipis yang hampir terbit di bibirnya.
Beberapa menit kemudian...
Suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Danis turun dengan setelan jas hitam yang rapi. Tas kerjanya berada di tangan kiri. Begitu melihat Sari duduk di ruang tamu... Langkahnya langsung berhenti. Tatapannya berubah dingin.
Sari segera berdiri. "Mas..." Air matanya langsung menetes. "Aku minta maaf...."
Danis tidak menjawab.
Sari mendekat perlahan. "Aku tahu Mas kecewa. Tapi tolong dengarkan penjelasanku sekali saja."
Ratna ikut menyela. "Danis, Mama sudah bilang, jangan keras kepala."
"Iya, Nis," timpal Rania. "Kasih kesempatan dia bicara."
Danis mengembuskan napas pelan. "Aku sudah mendengar."
"Tapi Mas belum dengar semuanya." Sari sengaja menyeka air matanya. "Laki-laki itu memang teman kuliahku. Dia tiba-tiba memeluk aku. Aku kaget. Mas datang di saat yang tidak tepat. Aku benar-benar nggak punya hubungan apa-apa sama dia." Tangisnya semakin menjadi. "Aku cuma cinta sama Mas...."
Ratna mengangguk berkali-kali. "Nah, kan? Mama bilang juga apa. Semuanya cuma salah paham."
Namun... Danis justru tertawa pelan. Tawa yang membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.
Sari mengangkat wajah. "Mas...?"
Danis mengeluarkan ponselnya. Lalu membuka sebuah video. "Kamu yakin... hanya itu yang ingin kamu katakan?"
Wajah Sari mulai berubah. "Ma... maksud Mas?"
Danis menekan tombol putar. Dari ponsel terdengar suara yang sangat jelas.
"Aku akan lakukan apa pun demi bisa menguasai harta kekayaan Danis Arganta."
Video itu memperlihatkan Sari sedang berbicara mesra dengan pria yang sama di parkiran klub, beberapa saat setelah mereka keluar. Rupanya, tanpa sengaja kamera ponsel Danis masih merekam beberapa detik setelah mengambil foto.
Pria itu bahkan terdengar berkata, "Kalau dia sudah menikahi kamu, kita hidup enak."
Ruangan mendadak membeku.
Ratna membelalak.
Rania menutup mulutnya.
Sedangkan wajah Sari seketika kehilangan warna. "Itu... itu...."
Danis mematikan video tersebut. "Kamu masih mau akting?"
"Mas, aku bisa jelaskan!"
"Apa yang mau dijelaskan?"
"Itu cuma bercanda."
Danis melangkah mendekat. Tatapannya begitu tajam hingga membuat Sari mundur selangkah. "Cukup. Aku sudah terlalu bodoh karena pernah mempercayaimu."
"Mas..."
"Kamu bilang mencintaiku. Padahal yang kamu incar hanya hartaku."
Ratna langsung berdiri. "Danis... mungkin ini benar-benar salah paham."
Danis menoleh kepada ibunya. "Masih mau membelanya, Ma?"
Ratna terdiam. Ia tidak mampu menemukan pembelaan.
Danis kembali menatap Sari. "Dengarkan baik-baik. Mulai hari ini... jangan pernah menginjakkan kaki lagi di rumah ini."
Sari menangis histeris. "Mas... jangan seperti ini! Aku cinta sama Mas!"
"Cinta?" Danis tersenyum sinis. "Orang yang mencintai tidak akan menghitung isi rekening seseorang. Orang yang mencintai juga tidak akan menjadikan pernikahan sebagai jalan mendapatkan kekayaan. Keluar." Suaranya kini terdengar tegas dan penuh wibawa.
"Tapi Mas...."
"Keluar!" Bentakan Danis menggema di seluruh ruang tamu.
Tubuh Sari bergetar hebat. Ia menoleh kepada Ratna dengan penuh harap.
"Tante...."
Namun Ratna hanya berdiri mematung. Pikirannya masih dipenuhi rekaman yang baru saja ia lihat.
Semua air mata.
Semua kepolosan.
Semua sikap lembut Sari...
Jangan-jangan selama ini hanyalah sandiwara.
#🤭