NovelToon NovelToon
DEKEKOUI

DEKEKOUI

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Vampir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muka Kanvas

Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?

Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.

Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Sel di bawah Vila

“Bukankah aku sudah memintamu untuk menjauh?” Nyonya Huron berdiri di depan sel, sel itu berada di bagian bawah bangunan vila pribadi di pulau pribadi yang kepemilikannya tidak diketahui secara pasti, tapi dari mulut kemulut mereka mengatakan bahwa pulau itu milik orang yang sangat kaya dan tidak tersentuh, bahkan pemerintah setempat.

“Aku tidak bisa, kau tahu alasannya.”

“Dan apa kau pikir Dani mengingatmu? Dia bahkan mencabik lehermu dan lihat sekarang Lira, apakah kau pikir akan bisa lolos dari sel milik Jagabaya Kasipin ini? Karena tempat ini adalah tempat pengurungan utama untuk Dekekuoi, kau pikir kau akan selamat dari penjara paling ketat ini? Lihat lehermu saja masih bolong karena Dani!”

“Sebagai Dekekuoi, kami hanya menjalankan tugas dan tidak jika takdir telah memutuskan aku gugur di tempat ini, setidaknya kelak jika Dani ingat, dia akan tahu kalau aku tidak menyerah!”

“Perempuan bodoh ini ternyata masih dimabuk cinta!”

“Tidak hanya soal cinta nyonya Huron, tapi ini soal keteguhan hati, Dani juga dulu begitu terhadapku dan aku hanya membalas apa yang dia lakukan dulu.”

“Perempuan gila! Aku tidak bisa menologmu kali ini karena akan membahayakan anakku, suamiku akan cari cara supaya kau bisa kabur, tapi hanya cara, setelahnya berhasil atau tidak itu urusanmu.”

Nyonya Huron berjalan keluar dari sel itu, sel yang terisi hampir 20 Dekekuoi yang ditahan, mereka semua kurus kering dan terliat putus asa.

Begitu pintu besi tertutup, terdengar suara kunci diputar.

Klik.

Satu suara kecil, tetapi cukup untuk membuat ruangan itu kembali sunyi.

Penjara itu memang dibuat khusus untuk mereka.

Dindingnya tidak terbuat dari batu biasa. Ada lapisan logam yang ditanam di balik tembok, kemudian diberi ukiran-ukiran tua yang dipercaya dapat menahan aliran Sila. Bahkan lantainya memiliki pola yang berbeda. Tidak ada satu bagian pun yang dibiarkan tanpa perlindungan.

Tidak ada jendela, tidak ada cahaya matahari, hanya lampu kecil yang menyala sepanjang hari dan malam, membuat para Dekekuoi tidak tahu apakah saat itu pagi atau malam, sehingga mereka hanya mengetahui waktu dari pergantian penjaga, setiap beberapa jam pintu kecil di bagian luar akan terbuka, makanan dimasukkan, air diberikan secukupnya, lalu pintu kembali ditutup, tanpa ada yang boleh berbicara dengan penjaga maupun keluar dari tempat itu.

Dan yang paling menyulitkan, mata dan mulut mereka ditutup, tadi saat Lira bicara dengan Nyonya Huron, mulutnya dibuka sebentar, alasannya karena Nyonya Huron ingin menginterogasi siapa tahu dapat informasi keberadaan Dekekuoi yang lain. Tentu saja itu bohong karena kisah panjang mereka jauh lebih rahasia dibanding keberadaan Dekekuoi itu sendiri.

Satu sel itu berisi 3 sampai 4 Dekekuoi. Antar sel masih terkoneksi dengan satu dan sel lain, tapi terkadang dibatasi, terkadang dibuka hingga sesama Dekekuoi bisa berkumpul, tapi tentu itu untuk satu tujuan yang menguntukan para Kasipin.

Terkadang, satu per satu Dekekuoi dibawa keluar.

Kemudian diperiksa dengan keadaan tangan diikat, mata dan mulut ditutup, mereka tak bisa mengeluarkan tongkat sihir hitam yang tidak panjang itu, karena tongkat itu sekali keluar akan sangat berbahaya, tongkat itu seolah tertanam ditubuh mereka dan jika keluar hanya saat mereka perintahkan, mirip seperti senjata ghaib, tapi mereka menggunakan mantra dan sihir.

Kadang mereka dipaksa berdiri berjam-jam, kadang disiram air dingin, dan kadang dibiarkan tanpa makanan sampai tubuh mereka benar-benar lemah. Bukan karena mereka tidak mampu bertahan, sebab Dekekuoi memiliki tubuh yang jauh lebih kuat daripada manusia biasa, tetapi penjara itu memang dirancang untuk membuat mereka merasa seperti manusia biasa. Sila mereka ditekan, kekuatan mereka dibatasi, dan setiap kali ada yang mencoba menggunakan mantra, ukiran pada dinding akan menyala. Maka mereka belajar untuk diam, belajar menahan diri, sama seperti leluhur mereka mengajarkan selama ratusan tahun, jangan gunakan Sila ketika tidak diperlukan, jangan menunjukkan kemampuan kepada manusia, dan yang paling penting, jangan pernah meninggalkan sesama Dekekuoi.

Karena itulah ketika seorang Dekekuoi jatuh sakit, yang lain akan membagi makanan mereka.

Ketika seorang anak menangis, perempuan yang lebih tua akan memeluknya.

Ketika seorang lelaki kehilangan kesadaran setelah pemeriksaan, mereka akan duduk di dekatnya sampai ia kembali membuka mata.

Mereka tidak memiliki banyak hal, tetapi mereka masih memiliki satu sama lain. Lira yang lehernya masih terluka hanya bisa bersandar pada dinding, sementara seorang gadis muda menghampirinya.

“Boleh aku lihat lukamu?”

Lira mengangguk.

Gadis itu membersihkan darah yang mengering di sekitar lehernya dengan kain kecil yang disimpan diam-diam.

“Kenapa kau melakukan ini?” Lira bertanya.

“Karena kau masih hidup.”

Jawaban itu sederhana.

Namun bagi mereka, itu sudah cukup.

Di sudut lain, nenek tua yang pernah disiksa dua hari sebelumnya sedang duduk dengan kedua tangan memeluk lutut.

Tubuhnya kurus, wajahnya penuh bekas luka, tetapi matanya masih tajam saat ia memperhatikan semua orang.

“Jangan bicara terlalu keras,” katanya.

Semua langsung diam.

“Dinding ini mendengar.”

Seorang anak muda menatap dinding.

“Dinding bisa mendengar?”

Nenek itu tersenyum tipis.

“Bukan dindingnya.”

Ia menunjuk simbol yang terukir di sana.

“Yang membuatnya bisa mendengar adalah Sila orang yang membuat tempat ini.”

Semua kembali diam, karena penjara itu bukan sekadar tempat mengurung tubuh melainkan dirancang untuk memutus hubungan mereka dengan dunia luar; tidak ada yang tahu berapa lama mereka sudah berada di sana, tidak ada yang tahu apakah desa mereka masih ada, dan tidak ada yang tahu apakah nama mereka masih hidup dalam ingatan manusia, namun satu hal yang mereka tahu dengan pasti adalah mereka tidak boleh saling meninggalkan, karena jika satu orang menyerah maka yang lain akan ikut kehilangan harapan.

Malam itu, Lira memejamkan mata dan teringat Dani, teringat bagaimana tangan kecil itu pernah menggenggam tangannya, teringat bagaimana anak yang dahulu begitu manis akhirnya justru mencabik lehernya; air matanya jatuh, namun ia tidak menangis keras, ia hanya berbisik.

“Dani ....”

Tidak ada yang menjawab, lalu Lira tersenyum kecil.

“Setidaknya kau masih hidup.”

Di balik jeruji, para Dekekuoi saling menjaga, meski mereka tidak tahu kapan pintu itu akan terbuka, tidak tahu siapa yang akan datang, dan tidak tahu apakah mereka akan keluar sebagai manusia yang sama, namun mereka tetap menunggu karena selama satu saja dari mereka masih mampu mengingat siapa dirinya, Dekekuoi belum benar-benar kalah.

“Kita tak bisa menyelamatkannya.” Pak Huron berkata, mereka di kamar salah satu vila, memang hari ini selama 2 minggu ke depan adalah tugas keluarg Huron menjaga vila itu, bukan vilanya yang dijaga, lagi pula, tugas seperti itu bukan milik Bangsawan, itu cukup dilakukan oleh security dengan bayaran sepadan.

Tapi yang mereka jaga adalah, belasan Dekekuoi yang ada di bawah vila itu. Meski dinding berukir unik yang mengandung Sila tinggi itu bisa menjaga para penyihir, tapi tidak ada yang tahu, kapan waktunya ada satu atau dua Dekekuoi yang tiba-tiba mampu lepas dari sel dan naik ke atas vila, tentu mereka hilang lagi dan butuh waktu yang panjang lagi untuk menangkap bahkan hanya 1 Dekekuoi.

“Kita tak punya kewajiban itu sebenarnya.”

“Lalu kenapa kau gusar, kau seperti ingin melakukan sesuatu tapi ragu.”

“Papa, Lira masih sangat kecil, dia seumuran dengan Dani terlebih mereka itu ….”

“Tapi sekecil itu dia seorang Dekekuoi, kita berdua menyaksikan dengan baik bagaimana Lira menggunakan kekuatanny, kan kau tahu kalau gadis itu sedang merapal mantra, betapa mengerikannya.”

“Dani bahkan berpikir dia menangkap Lira karena dia lemah dan yang dia tebak darah putih Lira karena kemampuannya yang rendah darah itu tidak berwarna hitam selayaknya Dekekuoi yang lain. Andai dia ingat kenapa darah Lira putih, andai dia tahu kenapa Lira tak melawan dan membiarkan Dani mencabik lehernya.

Dia pasti akan menyesal telah menyeret Lira dan memberikan tubuh anak itu ke pamannya.”

“Tidak Mama, jangan pernah mengingat hal itu kembali, aku benci waktu-waktu itu, aku harap waktu itu tak perna kembali.”

“Tapi papa, kalau bukan karena Lira, Dani mungkin saat ini sudah menjadi abu!”

“Kemarin biarkanlah kemarin, sekarang menjadi sekarang, jangan pikirkan hal yang sudah lewat, aku harap kau mau berhenti untuk membantu Lira, dia bukan tanggung jawab kita, terlebih dia Dekekuoi. Aku harap kau paham.”

“Aku paham tapi … kenapa semua ini terasa salah pa? aku takut kalau kita tidak mengambil tindakan, bisa jadi ini akan menjadi alasan besar peperangan kembali muncul.

Hampir 20 Dekekuoi kita tahan, kalau mereka semua keluar untuk membantai kita, itu bukan hal yang sulit, kau tahu dengan jelas kalau mereka tidak benar-benar salah dan tidak benar-benar pantas kita perlakukan seperti ini.”

“Ma, bersikaplah seperti Jagabaya Kasipin, dalam kepala kita, Dekekuoi itu adalah makhluk buruan yang harus kita buru dan tangkap, sudah sampai situ saja, jangan pikirkan berlebihan.”

“Papa tidak paham, lihat saja keluarga Ramon, kerabat jauh kita itu, kepala dan tubuhnya bahkan sekarang belum diketemukan, sudah berpuluh tahun tapi kita masih tak menemukannya, kau sangat tahu kalau Dekekuoi itu bukan lawan kita sejak awal, kenapa nenek moyang kita ke sana, kenapa mereka melakukan itu kenapa!”

Mamanya Dani terisak, dia sungguh tak tahu harus berbuat apa, karena yang dia pahami sekarang hanyalah, Lira tak boleh terlalu lama di sini, karena kalau ketahuan dia siapa, semua akan berbahaya buat Dani dan keluarga Huron.

1
Vie Vie Sue
/Good/
Muka Kanvas: Terima kasih
total 1 replies
Betri kardina
berarti jagabaya kasipin jahat ya
Muka Kanvas: nah, akhirnya ada yang ngeh
total 1 replies
Tini Nurhenti
alurnya maju mundur ea thor,😁🤭💪💪💪
Muka Kanvas: Iya nih, stuck di 1965 dulu yaaaa
total 1 replies
Tini Nurhenti
penuh misteri 👍💪💪💪
Tini Nurhenti
hadir thor, cepy story lanjutane to ??
Tini Nurhenti: ok kk
total 2 replies
Arla
mungkin Dani atau orangtuanya
Muka Kanvas: bukan kok, bukan.
total 1 replies
Dea Suci
zombie ya kak
Muka Kanvas: Hampir
total 1 replies
Dea Suci
mei
Dea Suci
wadidaw,,, ternyata ohhh ternyata,, Dani pun sama.
Zakia
sambil nunggu PKJ3 baca ini dulu, sebenarnya heran kok eps beda karena sebelumnya sudah aku baca semua thor
Muka Kanvas: Sudah ganti judul, setelah melalui pertimbangan yang cukup berat, akhirnya aku memutuskan membawa kisah Dekekuoi jadi novel yang panjang.
total 1 replies
Arla
kenapa dihapus kak thor,, pantesan error tadi pas aku mau like🤭
Yosh Pontoh: Pantesan barusan aku cari di rak buku gak ada.
total 2 replies
Damn Nwtch
curiga sama pamannya,Napa Dani g boleh ikut
Muka Kanvas: Lanjt ya, udah ada part selanjutnya
total 1 replies
Tini Nurhenti
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Arla
kasihannya dokter itu
Arla
ngeri jiwa psikonya...
Ayuk Witanto
hiii serem
Ayuk Witanto
gila dia
Ayuk Witanto
bagus
Ayuk Witanto
seru sih...tapi gantung🤭
Wahyu ningsing: lha yaitu...gak enak digantung....pastinya sakit
total 3 replies
Tini Nurhenti
kek cerpen kk👍💪💪
Muka Kanvas: Iya betul, tapi lebih tepatnya antologi horor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!