Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.
Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.
Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.
Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Pintu apartemen terbanting keras di belakang kami, menciptakan gema yang membuat bulu kudukku berdiri. Ia tidak membawaku ke ruang tamu, melainkan langsung menuju kamar mandi utama dengan langkah lebar yang menyeretku tanpa ampun. Begitu kami sampai di sana, ia menghempaskanku ke arah shower dengan satu dorongan kuat yang membuatku limbung dan jatuh terduduk di lantai keramik yang dingin.
Tanpa sepatah kata pun, ia meraih keran dan memutarnya hingga penuh. Air yang suhunya cukup dingin mengguyur tubuhku dari atas, membasahi seluruh pakaianku hingga menempel ketat di kulit dalam sekejap. Aku tersedak, mencoba menggapai pinggiran wastafel untuk berdiri, namun ia sudah berada tepat di hadapanku, menunduk dengan tatapan yang nyalang, seolah jijik melihat sisa-sisa malam yang baru saja kuhabiskan di luar.
" Kamu terlihat sangat bersemangat tadi saat tertawa bersamanya," desisnya, suaranya terdengar berat di bawah gemuruh air yang terus mengucur. Ia membiarkan air itu terus membasahi tubuhku sepenuhnya, tidak memberiku kesempatan untuk menghindar. " Setiap helaan napasmu, setiap tawa yang kamu berikan untuk pria itu—semuanya sudah mengotori dirimu. Kamu bau orang lain. Kamu harus dibersihkan."
Tangannya yang bebas mencengkeram daguku, memaksaku mendongak hingga mataku yang perih karena air harus menatap matanya yang gelap dan penuh obsesi. Ia tidak memberiku handuk, tidak memberiku ampun. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan air itu terus menyiksaku, seolah-olah dengan membasahi seluruh tubuhku secara paksa, ia sedang menghapus jejak pria lain yang menurutnya telah mengotori miliknya.
Tangisanku menyatu dengan derasnya air, namun dia hanya memandangku dengan tatapan kosong yang mencekam, menikmati pemandangan saat aku benar-benar tak berdaya di bawah kendalinya. Dia benar-benar menganggapku sebagai sesuatu yang perlu 'dicuci' agar kembali murni di bawah otoritasnya.
Derasnya air yang masih membasahi lantai kamar mandi tidak mampu meredam isak tangisku yang semakin pecah. Ia tidak peduli. Dengan gerakan yang kasar dan penuh amarah yang tak terkendali, ia mencengkeram kain pakaianku dan merobeknya dengan satu tarikan kuat. Suara sobekan kain yang nyaring terdengar di tengah gemuruh air, menyisakan kulitku yang terpapar udara dingin dan tatapan matanya yang membakar.
Aku meronta sekuat tenaga, mencoba menutupi diriku, namun ia justru menekan bahuku hingga aku kembali tersungkur di bawah guyuran shower. Air dingin itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulitku, sebanding dengan rasa sesak di dadaku.
Caca " Maaf..." lirihku, suaraku nyaris hilang ditelan air, tersendat oleh tangisan yang menyiksa.
" Kumohon... cukup... aku minta maaf..."
Aku memohon padanya, tanganku yang gemetar berusaha menggapai kakinya, memohon agar ia menyudahi semua ini. Namun, setiap permohonanku seolah menjadi bahan bakar bagi kemarahannya. Ia tetap berdiri di sana, seperti tembok yang tak tergoyahkan, menatapku yang hancur di lantai dengan tatapan yang tidak menyisakan belas kasihan.
Abhi " Maaf tidak akan menghapus apa yang sudah kamu lakukan," bisiknya dingin, suaranya sedatar es namun tajam seperti belati.
Ia tidak membiarkanku berhenti menangis, tidak membiarkan diriku meringkuk dalam ketakutan. Ia justru mencengkeram rambutku, memaksaku untuk menatapnya kembali di bawah derasnya air.
Abhi " Kamu pikir dengan menangis kamu bisa kembali seperti semula? Kamu sudah melanggar batas, dan sekarang kamu harus belajar bagaimana rasanya jika aku tidak melepaskanmu."
Setiap tetes air yang jatuh ke wajahku kini bercampur dengan air mata yang tak kunjung berhenti, membuatku merasa semakin kecil dan terkubur dalam ketidakberdayaan yang menyesakkan di bawah tatapan miliknya yang posesif.
Ia tidak membiarkan tangisanku mereda, bahkan sedikit pun tidak ada rasa kasihan yang terpancar di wajahnya. Setelah puas dengan 'hukuman' yang ia berikan di kamar mandi, ia mencengkeram lenganku lagi, memaksaku untuk berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat. Kulitku terasa mati rasa karena dingin, namun sakit di hatiku jauh lebih perih.
Dengan kasar, ia menyambar jubah mandi dari gantungan dan memakaikannya ke tubuhku yang masih basah kuyup. Ia tidak mengancingkannya dengan lembut ia mengikat tali jubah itu dengan satu sentakan kuat yang hampir membuatku kembali limbung. Tanpa membiarkanku mengambil napas, ia kembali menyeretku keluar dari kamar mandi, menyusuri koridor apartemen yang remang-remang menuju kamarnya.
Lantai marmer yang dingin terasa menusuk telapak kakiku yang tanpa alas, menambah penderitaan fisik di tengah kehancuran mental yang kurasakan. Setiap langkah yang ia paksa terasa seperti perjalanan menuju neraka pribadi. Air mataku terus mengalir, jatuh menetes ke lantai, namun ia tidak peduli. Ia tetap berjalan dengan langkah lebar, menyeretku seolah aku hanyalah sebuah barang bawaan yang tidak berharga.
Sesampainya di dalam kamar yang luas dan dingin itu, ia mendorongku hingga aku jatuh ke atas tempat tidur yang empuk. Namun, keempukan tempat tidur itu tidak memberi rasa nyaman justru terasa seperti jebakan yang tidak bisa kuhindari.
Abhi " Jangan berani-berani memejamkan mata " ucapnya dengan suara dingin yang mutlak.
" Kau belum diizinkan untuk tidur sebelum kau benar-benar mengerti konsekuensi dari kelakuanmu malam ini. "
Ia berdiri di samping tempat tidur, menatapku yang meringkuk dengan tubuh yang masih menggigil hebat akibat dingin dan ketakutan. Aku hanya bisa memeluk diriku sendiri, terisak pelan sambil merasakan setiap inci tubuhku gemetar, menunggu apa lagi yang akan ia lakukan padaku di kamar yang menyesakkan ini.