" Aku siap menikahimu kapanpun kau mau.. " Andrian berteriak kepada gadis yang berjalan menjauhinya.
" Tapi aku yang sekarang tidak mau.. Kakak terlalu dingin untuk gadis sepertiku. "
Indah, gadis ceria yang manja dan cerewet dihadapkan dengan perjodohan oleh ayahnya dengan anak dari salah satu sahabatnya sedari kecil. Pria dingin yang Indah sebut manusia kulkas satu pintu yang menjabat sebagai CEO di perusahaan perdagangan terbesar se-Asia. Bukan hanya kaya, dia juga pria tampan idaman kaum hawa.
Tapi akan seperti apakah kisah cinta mereka berdua ?? Bisakah dua pribadi yang berbeda itu bersatu dalam ikatan suci pernikahan ?? Mampukah Indah bertahan dengan sifat Andrian ??
Akankah masalalu yang membuat Andrian tidak lagi mengencani wanita akan muncul lagi di kehidupannya setelah berumah tangga dengan Indah?
Ikutin terus cerita Andrian dan Indah yang akan semakin seru untuk disimak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgoanz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha Indah
"Mamiii... Papiiii... Yuhuuuu.. Indah cantik datang..." rumah keluarga Dawson masih sepi padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Indah sudah sering datang, bahkan sebelum dia tau akan dijodohkan, dia sering datang bersama orang tuanya, jadi pegawai rumah Dawson sudah tahu Indah adalah calon menantu keluarga tempat mereka bekerja. Sehingga jika Indah datang sudah seperti rumahnya sendiri.
"Wahh anak perempuan papi pagi-pagi sudah disini." Alex Dawson langsung keluar saat mendengar suara Indah yang meramaikan rumahnya yang biasanya sepi.
Indah langsung mencium tangan calon mertuanya. "Dimana mami pih?"
"Mamimu di dapur. Dia sedang membuat cheese cake terlezat untuk putrinya yang datang berkunjung ini." Alex mengusap rambut Indah.
Sudah sangat lama Alex tidak merasakan kehadiran anak perempuan. Setelah anak perempuan satu-satunya yang dia miliki tinggal di London semenjak sekolah menengah atas sampai kuliah dan memutuskan menikah dan menetap di sana. Sekarang kehadiran Indah dalam keluarganya mengembalikan lagi keceriaan anak perempuan dalam rumah mereka.
"Oke pih.. Aku ke dapur dulu."
"Bawalah mami dan cake'nya ke ruang keluarga. Papi tunggu di sana." seru papi Alex setengah berteriak saat Indah mulai menjauh. Indah mengacungkan jempolnya dan kembali berlalu menuju dapur.
"Hmmm wanginya...!!" Mami Riana yang mendengar seruan Indah langsung tersenyum dan meregangkan tangannya menyambut Indah dengan pelukan.
"Kok mami gak denger kamu dateng?"
"Rumah mami aja kegedean. Jadinya Indah udah teriak-teriak aja gak kedengeran!" Indah selalu saja bisa membuat Riana tertawa.
"Ini cheese cake'nya mih? Wangi banget. Ayo kita bawa ke papi.. Papi udah gak sabar katanya mau makan cake rasa cinta bikinan mami."
"Kamu tuh ada-ada aja. Ya sudah kamu bawa ke ruang keluarga biar mami bikin teh dulu." Indah langsung membawa piring yang berisi cake ke ruang tamu dimana calon papi mertuanya menunggu.
***
Andrian melihat kedua orang tuanya dan Indah yang sedang tertawa bersama dari lantai dua. Awalnya ia ingin bergabung. Tapi dia ingin mengawasi mereka dari jauh terlebih dahulu. Sudah lama orang tuanya tidak tertawa seperti itu setelah anak-anaknya besar dan sibuk belajar.
Andrian dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka obrolkan.
"Bangunin sana calon suami kamu. Dia itu kalau libur pasti tidur terus!"
"Gak mau ah mih. Aku kan kesini mau ketemu mami sama papi bukan buat nemuin manusia kulkas satu pintu itu.. Bosen mih ketemu dia tiap hari!" Indah mengerutu membuat pasangan Alex dan Riana tertawa melihat ekspresinya. Andrian yang juga mendengarnya mencebik kesal.
"Memangnya tidak kangen, setiap hari biasanya bertemu tapi weekend dua hari tidak?" goda Alex pada calon menantunya.
"Gak lah. Ngapain kangen! Malah aku jadi bebas gak kena omelan dan ngeliat muka dinginnya sepanjang hari!"
"Hahaha lihat mih. Mau cari dimana lagi coba calon menantu yang menjelekkan calon suaminya didepan mertuanya sendiri. Menyebalkan tapi papi malah gemes." tawa Indah meledak mendengar kalimat calon papi mertuanya.
"Memang hanya Indah satu-satunya yang begini. " timpal Riana yang memeluk bahu Indah dan menggoyangkan ke kanan dan kiri.
"Tapi papi sama mami gak nyesel kan dapet mantunya yang model Indah begini? Mungkin kalau orang lain Indah udah ditolak saat masih dipintu Hehehe."
"Mana mungkin papi menyesal. Rumah kami sudah terlalu sepi. Papi butuh menantu kaya kamu yang bisa bikin rumah ini rame."
Indah mencebik. "Mau rame mah ngundang aja badut sama anak-anak kecil. Gak perlu meminang Indah pih.."
"Hahaha jangan cemberut seperti itu dong anak kesayangan papi. Papi minang kamu karena kamu yang paling cocok buat Andrian, cocok buat keluarga kita. Dan lagi mana ada yang mau menolak menantu baik, cantik dan ceria seperti kamu!"
"Emang siapa sih pih yang punya ide buat jodohin aku sama kak Rian?" Indah penasaran juga. Tapi baru kali ini ingat untuk bertanya.
"Kami nikah hampir bersamaan dulu dengan orang tua kamu. Tapi orang tua kamu lama tidak di berikan momongan. Padahal papi sama mami sudah punya dua anak, tapi kamu belum juga hadir di hidup mereka." kali ini mami Riana yang bercerita dan lencolek hidung Indah di akhir kalimat.
"Sampai hari itu datang. Ayah kamu sangat bahagia saat kamu lahir. Kami juga di sana saat itu. Saat ayah kamu menggendong kamu untuk pertama kali dengan berurai air mata, dia bilang tidak akan menyerahkan dengan mudah putri yang sudah lama dia nantikan. Putri yang akan dia jaga dan limpahkan banyak kasih sayang."
"Dan papi menjawab. Biar nanti Indah, Andrian saja yang meminang dan menjaga. Karena papi juga akan menjaga dan menyayangi Indah layaknya putri papi sendiri." timpal papi Alex mengakhiri cerita.
"Ooh gitu pih. Tapi kan kak Rian udah punya tunangan pih, mih?" tanya Indah memandang calon mertuanya bergantian.
"Kamu tahu soal Olivia sayang?" Mami Riana tidak menyangkan akan secepat itu Andrian memceritakan perihal Olivia kepada Indah.
"Kakak cerita semuanya kemarin." Indah mengedikkan bahunya seolah itu bukan masalah untuknya. Padahal saat ini hatinya bimbang. Maka dari itu semalam dia menelfon mami Riana dan bilang akan berkunjung.
"Olivia sudah terlalu lama koma, kemungkinan untuknya bangun lagi sangat kecil. Dokter sendiri yang mengatakan hal itu! Dan dari awal juga papi tidak pernah setuju dengan hubungan mereka!" suasana yang tadinya santai berubah menjadi serius.
"Tapi pih, kasihan kak Rian. Dia tuh cinta banget sama kak Olive. Aku bisa lihat sendiri dari mata kakak saat cerita kemarin."
"Sayang.. Mami sama papi sudah tua. Umur manusia tidak ada yang tahu. Kami masih ingin bisa melihat anak-anak Andrian. Olivia belum tentu bangun. Dan kami harus menunggu sampai kapan?" Mami Riana memberikan penjelasan dengan lembut kepada Indah tentang kenapa mereka menentang Andrian yang ingin menunggu Olivia sadar.
"Kita kan bisa kasih kak Olivia dokter terbaik pih, mih. Indah juga merasa jadi pelakor kalo nikah sama kak Rian. Sedangkan kakak punya wanita yang sangat dia cintai yang juga mencintainya." Indah menunduk bimbang harus bagaimana. Disatu sisi dia merasa kasihan dengan Olivia. Di sisi lain dia merasa kasihan dengan calon mertuanya yang sudah ingin memiliki cucu dari Andrian.
"Andrian sudah mendatangkan semua dokter terbaik dari seluruh dunia. Tapi hasilnya masih nihil. Andrian memang mempunyai wanita yang dia cintai. Tapi apa kamu tidak mencintainya?" tanya Mami Riana lembut.
Indah tidak dapat menjawabnya. Cinta? Entahlah. Indah masih belum bisa mengartikan perasaanya terhadap Andrian sebagai cinta.
"Sayang.. Mami tahu mereka saling mencintai. Jika Olivia tidak mengalami hal mengerikan itu mungkin mami sama papi akan merestui mereka. Tapi nak.. Kami hanya ingin Andrian bahagia. Dia sudah terlalu lama larut dalam kesedihan. Mami yakin Andrian akan mencintaimu. Anak baik sepertimu yang mami inginkan untuk mendampingi putra mami satu-satunya." Indah tersenyum pasrah dalam pelukan Mami Riana. Dia sudah berusaha membujuk orang tua Andrian untuk membatalkan pernikahan. Tapi seperti kata Andrian, dia bisa apa. Mami sama papi terlalu menyayanginya. Dan dia juga merasa nyaman dengan kasih sayang ini.
Andrian yang mengawasi mereka sejak tadi tertegun. Ternyata Indah sungguh-sungguh untuk membantunya kembali dengan Olivia. Indah memang wanita baik. Bahkan mungkin jika di balik keadaannya, belum tentu Olivia akan melakukan hal yang sama dengan Indah.
Tapi mendengar kata-kata maminya dia merasa bersalah sudah menentang mereka perihal perjodohan ini. Mereka hanya ingin hal terbaik untuk dirinya. Mungkin sudah waktunya dia untuk mengikhlaskan Olivia dan mulai menatap Indah sebagai wanita, bukan sebagai gadis kecil menyebalkan lagi.
*
*
*
pertama baca ini dulu lanjut ke novel mamanya
sudah ta vote thor
trus ke demi dia
n terdampar di sini karena suka karakter indah di demi dia
usul bagaimana kalau Authornya kasih tahu urutan produksi novelnya... supaya fansnya bisa runut ngikutinnya.... heheheh just usul