Hidup tak pernah memberi pilihan mudah pada Regatta Aulia, atau yang biasa dipanggil 'Ega'. Dia adalah seorang gadis berusia 21 tahun, yang tumbuh di dalam lingkungan sebuah panti asuhan sejak dilahirkan.
Suatu malam, Ega berhasil menyelamatkan seorang pria. Pria itu adalah Raka Adinata (27 thn), seorang pengusaha muda kaya raya yang baru saja kehilangan segalanya akibat pengkhianatan orang-orang terdekatnya.
Ega hanya berniat untuk menyelamatkan pria tersebut, namun dia tidak menyangka ... jika usahanya malam itu malah menjebaknya di dalam putaran arus kehidupan pria itu lebih dalam.
Di tengah pertengkaran, rahasia masa lalu, perebutan perusahaan, dan perasaan yang perlahan tumbuh, Regatta dan Raka mengerti akan satu hal:
"Keluarga bukan selalu tentang darah, akan tetapi tentang seseorang yang memilih untuk tinggal."
↔ UPDATE 2X SEHARI, JAM 12 SIANG DAN JAM 3 SORE.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PITB - 09.
...꧁✿ 🅷🅰🅿🅿🆈 🆁🅴🅰🅳🅸🅽🅶 ✿꧂...
Keesokan harinya, sinar mentari menyapa lembut saat Regatta sibuk di dapurnya, memberikan semangat baru di dalam hatinya.
Dia sedang menyiapkan sarapan favorit ketiga minions kesayangannya dan pria yang telah meruntuhkan semua egonya.
Aura dingin sang 'Ratu' seakan lenyap sepenuhnya, berganti dengan sebuah senyuman hangat yang jarang ditunjukkan oleh wajah cantik nan datar itu, kala Dewanta, Dionata, dan Dewinta berlarian menghampirinya sambil tertawa riang.
Kaylin dan Kalista hanya bisa menggelengkan kepalanya, ketika melihat Queen mereka berubah.
"Pelan-pelan ya, Sayang! Nanti jatuh, loh!" tegurnya lembut, saat Dionata mencoba memanjat kursi untuk mengambil sarapan miliknya.
Raka tersenyum saat melihat pemandangan itu, pagi ini hatinya terasa penuh dengan lembaran baru. Sarapan pagi itu terasa nyaman, ketika mendengar ocehan ketiga anak kesayangannya itu.
Anak dari Istri pertamanya yang kabur begitu saja, saat mendengar perusahaannya jatuh.
Setelah sarapan itu selesai, mereka berdua bekerjasama dengan baik dalam memakaikan seragam si kembar.
Membetulkan letak dasi si sulung Dewanta dan si tengah Dionata yang miring, mengikat rambut si bungsu Dewinta dengan sebuah pita yang cantik, sampai memastikan tas dan bekal sekolah mereka sudah lengkap.
Setelah semuanya siap, mereka pun turun dari dalam Penthouse-nya bersama Kaylin dan Kalista, karena mobil jemputan khusus mereka sudah tiba di lobi.
"Masuklah, Minions! Jangan nakal di sekolah, oke? Tidak boleh berkelahi, dan harus fokus belajar dengan baik!" pesan Regatta, sambil mencium pipi mereka satu-persatu.
"Oke, Mommy! Dadaaaah, Mommy! Dadaaah, Daddy!" seru mereka serempak dari dalam mobil tersebut.
"Dadaaaah, Kesayangan! Hati-hati dalam membawa mobilnya, Pak!"
"Baik, Tuan dan Nyonya!"
Mereka masih berdiri di luar lobi, sampai mobil tersebut menghilang ditikungan.
"Saatnya kita berangkat ke perusahaan sekarang, Nyonya Adinata!" seloroh Raka kepada Regatta.
"Hahahaha! Baiklah! Mari kita bereskan semuanya hari ini, Tuan Adinata ..."
...꧁༺✿ 💚 ✿༻꧂...
GEDUNG PUSAT ADINATA GROUP.
Suasana di dalam ruang rapat utama hari itu terasa sangat menyesakkan.
Di sekitar meja bundar ruangan itu sudah duduk para direksi dari berbagai divisi, dan dua orang yang sudah menjadi sumber masalah bagi perusahaan Adinata.
Mereka adalah Dwipangga Adinata dan Leonard Adinata, yang duduk dengan wajah angkuh sambil tersenyum penuh kelicikan.
Mereka menyangka, jika keponakannya itu datang sendirian kesana, karena mereka sudah menyiapkan sebuah diskusi yang akan menyudutkannya. Mereka lupa, jika seluruh saham perusahaan itu sudah dilibas habis oleh Regatta beberapa hari lalu di lantai pasar bursa.
Namun, alangkah terkejutnya mereka saat melihat wanita yang telah mengalahkan argumen mereka saat di Penthouse.
Wanita itu melangkah tegap dan berwibawa di samping Raka, mengenakan dress hitam selutut dengan blazer dan sepatu senada. Riasan tipis di wajah cantiknya, membuat aura mahal langsung menguar dari dalam tubuhnya.
Dibelakang mereka ada dua orang pemuda berwajah dingin, yaitu Lodra dan Xion, yang membawa beberapa map hitam berisi berkas-berkas rahasia.
"Kenapa kamu membawa wanita ini, Raka? Bukankah dia hanyalah seorang 'Istri' baru yang statusnya rendah itu, ya? Apa urusan dia dengan rapat pagi ini?" tanya Dwipangga dengan nada meremehkan, sambil bersandar malas di atas kursinya.
Raka mengacuhkan pertanyaan tersebut, dia langsung duduk di kursi utama, sementara Regatta duduk tenang disebelahnya.
Dia menatap ke arah sekeliling ruangan itu, tatapannya menajam ke arah Dwipangga dan Leonard.
"Regatta adalah pemegang saham terbesar setelah aku di dalam perusahaan ini. Tentu saja dia berhak hadir dan berhak mengeluarkan suaranya di sini," jawab Raka dengan nada tegas.
"Hah?! Pemegang saham terbesar kedua?! Hahahahaha! Jangan bercanda, Raka!" ujar Leonard sambil tertawa sinis.
"Kamu pikir kami percaya begitu saja, huh?! Semua saham yang tersisa itu sudah kami amankan, dan tidak mungkin ada pihak asing yang bisa membelinya dalam waktu singkat!" lanjutnya dengan penuh percaya diri.
"Tidak ada yang bisa membelinya, huh?! Saya adalah 'pihak asing' dengan akun anonim, yang telah membeli semua saham itu! Siapa bilang tidak bisa? Semuanya sudah ada ditangan saya, loh!" ujar Regatta dengan nada penuh wibawa, membuat ruangan itu seketika menjadi hening.
"Bukan hanya saham yang telah saya dapatkan, tapi juga semua bukti-bukti tentang bagaimana kalian mencurinya, memalsukan tanda-tangan, serta menggelapkan uang perusahaan selama bertahun-tahun!" lanjutnya dengan nada tegas.
Regatta langsung memberikan kode kepada Lodra, membuat dia langsung maju kedepan, membagikan salinan dokumen penting yang dia pegang kepada setiap peserta yang ada disana.
BRAK!
"Jangan berani-beraninya menuduh kami tanpa bukti, ja-lang sia-lan!" hardik Dwipangga murka, sambil menggebrak meja.
"Kamu itu hanyalah wanita miskin dari panti asuhan, yang beruntung dinikahi oleh Raka! Tahu apa kamu tentang dunia bisnis, hah?! Kamu hanya membual untuk mencoreng nama baik keluarga Adinata kami!" lanjutnya dengan nada menghina.
Regatta langsung bangkit dari duduknya dengan elegan, lalu dia menatap tajam ke arah Dwipangga dan Leonard.
"Tidak perlu paham 'bisnis' untuk melihat semua kebohongan yang terlalu jelas, Tuan Dwipangga! Anda tidak mengenal saya, namun saya mengetahui semua keclasan Anda selama beberapa tahun ini!" ujarnya sambil menunjuk ke arah dokumen-dokumen yang ada diatas meja.
"Lihatlah semua kebenaran itu! Ada sebuah nomor rekening dengan tujuan untuk mentransfer dana proyek pembangunan 'Bandung Techno Park' disana. Uang tersebut dialihkan e rekening cangkang milik Tuan Leonard, lalu disalurkan ke sebuah investasi 'bodong' atas nama Alera Sucipto-Istri dari Tuan Dwipangga!" lanjutnya dengan nada tegas.
"Ada juga sebuah rekaman percakapan kalian berdua, yang sedang membicarakan tentang cara menekan pemasok barang dan menaikkan harga bahan baku demi keuntungan pribadi!"
"Walaupun saya berasal dari panti asuhan, namun saya tidak pernah memakan hak yang bukan hak kita! Kami belajar menjadi manusia jujur dan berakhlak, agar tidak merugikan manusia lain, paham?!" ujar Regatta mengakhiri perdebatan panjangnya.
"Hufft! Ya, Tuhan ... Aku benar-benar ingin berkata kasar dengan mereka berdua, loh! Untung saja emosiku ditekan oleh logika, sehingga ke-barbaran-ku tidak lepas begitu saja!" monolog Ega dalam hatinya.
BRAK!
"Bangshat bogel! Ya, Tuhan! Demen amat gebrak meja nih tua bangka! Untung aja jantungku buatan Tuhan, coba kalau buatan manusia, udah berapa kali aku masuk IGD!" keluh Regatta dalam hatinya, sambil mengusap-usap da-danya karena terkejut.
"Omong kosong! Semuanya hanyalah omong kosong belaka!" teriak Dwipangga, sambil menggebrak meja kembali.
Dia langsung berdiri dengan emosi yang meledak-ledak.
"Kamu itu cuma orang asing yang tidak tahu apa-apa tentang sejarah perusahaan ini! Raka baru dua tahun ini mengambil alih posisi CEO, dan kamu baru kemarin mengambil saham itu! Sekarang kalian berani menuduh kami, yang telah berjuang bersama Suryaputra, dalam membangun perusahaan ini?! Lancang!" lanjut Dwipangga dengan nada berapi-api.
"Apa? Kalian yang membangunnya? Apa tidak salah,hah?! Kalian itu sudah menghancurkannya secara perlahan dari dalam, hanya demi isi perut kalian sendiri!" sela Raka dengan nada rendah yang menekan.
"Papa sangat percaya kepadamu, Om ... tapi kamu malah bekerja sama dengan sindikat dunia gelap, menjual informasi rahasia, dan hampir membuat perusahaan ini bangkrut total, sampai Regatta membantuku mengembalikannya ke jalur yang benar!" lanjutnya dengan suara parau karena kecewa.
Dwipangga langsung menoleh ke arah Regatta, tatapannya menajam penuh dengan kebencian.
"Jadi kamu yang telah merusak semua rencanaku?! Dasar ja-lang sia-lan!" hardiknya kasar.
"Kalian pikir bisa mengusir kami begitu saja dari dalam perusahaan ini, hah?! Seluruh direksi di dalam sini lebih mengenal kami daripada kalian! Mereka tidak akan membiarkan 'orang asing' menjalankan perusahaan Adinata Group!" lanjutnya dengan nada meremehkan.
Setelah Dwipangga selesai bicara, beberapa direksi yang hadir disana mulai bisik-bisik, sepertinya mereka mulai terlihat ragu.
Namun Regatta segera berdiri, lalu dia menatap para direksi itu satu-persatu.
"Kalian boleh memilih untuk percaya pada kebaikan, atau pada fakta yang ada dihadapan kalian," ujarnya dengan nada lantang.
"Tapi perlu kalian ketahui, jika kalian tetap memihak kepada mereka berdua, maka kalian ikut terlibat dalam kejahatan yang telah mereka lakukan!"
"Dan akan saya pastikan, jika tidak akan ada satupun dari kalian yang lolos dari sanksi hukum serta kerugian yang menimpa perusahaan ini!" lanjutnya dengan nada tegas.
Suasana kembali memanas, setelah ucapan Regatta jatuh.
Leonard berusaha untuk memutar-balikkan fakta, sementara Dwipangga berteriak menuduh Raka dan Regatta bersekongkol, hingga akhirnya terjadi pertengkaran hebat di dalam ruangan itu.
BRUAK!
Pintu ruang rapat itu sempat dibuka paksa oleh beberapa pendukung Dwipangga, yang mencoba masuk untuk membela 'Tuan' mereka, namun Lodra dengan sigap menghadang mereka di ambang pintu.
"CUKUP! HENTIKAN!" bentak Regatta dengan nada tegas, membuat kegaduhan itu langsung berhenti seketika.
Dia menatap Dwipangga dengan seringai dingin pada wajah cantiknya.
"Saya sudah memasukkan laporan ke polisi dan memanggil pihak mereka untuk datang dengan sebuah surat perintah penyelidikan. Mereka sudah menunggu di dalam lobi perusahan, jadi kalian berdua tidak usah repot-repot membela diri di sini lagi," ujarnya dengan nada dingin.
Wajah Dwipangga dan Leonard langsung pias, ketika mendengar ucapan Regatta.
Mereka menyadari, jika jalan keluar untuk mereka sudah tertutup rapat sekarang.
Tidak ada lagi 'kebohongan', yang dapat menyelamatkan mereka dari dinginnya lantai penjara.
"K-Kau ... Wanita sia-lan!" ujar Dwipangga geram, tubuhnya bergetar menahan emosi.
"Ah, terima kasih pujiannya, Tuan Dwipangga. Tapi, wanita sia-lan inilah, yang telah menyelamatkan perusahaan ini dari tangan-tangan kotor di dalamnya ..." sahut Regatta dengan wajah datar.
Tidak berapa lama kemudian, beberapa petugas kepolisian masuk ke dalam ruang rapat itu.
Setelah berbicara sebentar dengan Regatta dan Raka, mereka langsung memborgol tangan Leonard dan Dwipangga di hadapan semua orang.
Pertengkaran yang hampir memecah-belah manusia di dalam ruangan itu pun berakhir dengan sebuah kepastian: "Kejahatan tidak akan pernah bisa menutupi kebenaran selamanya".
Raka langsung mengenggam tangan Regatta, lalu menatap wajahnya dengan tatapan penuh rasa bangga.
Di luar sana masih ada sebuah ancaman besar yang menanti mereka, tapi setidaknya satu musuh di dalam lingkungan keluarga mereka sudah berhasil disingkirkan bersama.
"Aku pulang duluan, Mas. Ingin menyiapkan makanan untuk minions kita. Aku akan tunggu kamu pulang, oke? Jangan sampai telat untuk makan malam bersama ..."
"Oke, Istriku ..."
Cup!
"Eeeehhh?!"
"Hahahahaha ..."
...🍃☀†๏ вэ ¢๏и†เиµэ∂☀🍃...