"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 005 - Teman Sejati
Arya kembali ke kos lama menjelang sore.
Gang Mawar 3 masih sama. Sempit, ramai, bau gorengan dari ujung gang, dan suara motor lewat terlalu dekat dengan tembok. Honda Beat tuanya masih terparkir di depan kos, terlihat makin kecil setelah ia beberapa jam duduk di GR Supra.
Ia membuka pintu kamar.
Tiga kepala langsung menoleh.
Dimas Saputra duduk di lantai sambil makan kerupuk. Rizky Hakim bersandar di meja, laptop terbuka di depannya. Bayu Setiawan sedang melipat pakaian yang jelas milik Arya.
"Nah, akhirnya pulang juga calon orang hilang," kata Dimas.
Arya menutup pintu.
Dimas berhenti mengunyah. "Wajah lo serius amat."
Rizky menutup laptop. Bayu meletakkan baju.
"Ada apa?" tanya Rizky.
Arya melihat kamar kecil itu. Kasur busa, tumpukan kabel, poster lama, gelas kopi kotor. Di tempat inilah ia hidup sebagai mahasiswa biasa bertahun-tahun.
Hari itu rasanya seperti ia datang mengambil barang dari hidup lamanya.
"Aku perlu ngomong," katanya.
Dimas menepuk lantai. "Duduk. Kalau soal utang nasi Padang, gue sudah ikhlaskan setengah."
"Kirana hamil."
Kerupuk di tangan Dimas jatuh.
Rizky diam total.
Bayu menarik napas panjang.
"Anaknya aku," lanjut Arya. "Dokter sudah konfirmasi. Aku sudah bilang ke Kirana, aku akan tanggung jawab."
Dimas berdiri begitu cepat sampai hampir menabrak kipas angin.
"Bro..."
Arya bersiap menerima lelucon.
Dimas malah memukul bahunya cukup keras.
"Gila. Lo bikin hidup lo masuk mode expert."
"Dimas," tegur Rizky.
"Apa? Ini serius. Sangat serius." Dimas menatap Arya. "Lo kabur?"
"Tidak."
"Bagus." Dimas menunjuk wajahnya. "Kalau lo kabur, gue pukul dulu sebelum keluarganya pukul."
Bayu duduk di tepi kasur. "Kirana bagaimana?"
"Takut. Terutama soal ibunya."
Bayu mengangguk pelan. "Wajar. Keluarga perempuan pasti berat. Apalagi dia dari Malang, anak tunggal."
Rizky melepas kacamata, mengusap wajah, lalu memakainya lagi.
"Arya, aku tanya hal praktis. Uangmu dari mana? Biaya kontrol, tempat tinggal, makanan, persiapan bayi. Kamu masih skripsi."
Arya sudah menyiapkan jawaban yang tidak membuka sistem.
"Ada pemasukan dari proyek teknologi yang selama ini aku kerjakan. Sebagian cair hari ini."
Rizky menatapnya tajam. "Proyek apa?"
"Aku belum bisa cerita detail. Yang jelas legal. Kalau nanti butuh bukti, aku tunjukkan."
Dimas menyipit. "Lo mendadak misterius. Biasanya paling misterius cuma waktu nyembunyikan Indomie goreng di lemari."
Bayu tidak tertawa. "Kamu yakin tidak terjebak pinjaman?"
"Yakin."
"Tidak ikut judi online, investasi aneh, atau kerjaan gelap?"
"Tidak."
Rizky memperhatikan mata Arya. Lama. Lalu ia mengangguk.
"Aku percaya karena kamu berani bilang langsung. Tapi setelah ini kamu harus rapi. Uang mendadak, mobil mendadak, pindah tempat tinggal, semua bisa jadi gosip."
Arya menegang. "Kamu sudah dengar?"
"Belum. Tapi kampus punya mata lebih banyak dari CCTV."
Dimas mengangkat tangan. "Setuju. Apalagi Kirana. Salah pakai sandal saja bisa jadi bahan grup WhatsApp."
Arya duduk di lantai. "Aku butuh kalian diam dulu. Jangan cerita ke siapa pun."
Bayu langsung menjawab, "Aku diam."
Rizky mengangguk. "Aku juga."
Dimas menaruh tangan di dada. "Bro, demi semua stok Indomie di dunia, mulut gue terkunci."
"Aku serius."
"Gue juga serius." Dimas duduk di depannya. Wajahnya jarang setenang itu. "Lo teman gue. Kirana sekarang tanggung jawab lo. Berarti kami bantu sebisa kami."
Kalimat itu membuat dada Arya terasa hangat.
"Aku mau ambil barang," kata Arya. "Aku dan Kirana sementara tinggal di tempat yang lebih aman."
"Tempat apa?" tanya Rizky.
"Apartemen."
Dimas mengedip. "Apartemen?"
"Grand Surya Residence."
Kamar itu hening.
Dimas menatap Bayu. Bayu menatap Rizky. Rizky menatap Arya.
"Bro," kata Dimas pelan. "Lo yakin tidak salah sebut? Itu apartemen orang yang parkirnya lebih mahal dari hidup kita."
Arya mengambil ransel dan mulai memasukkan pakaian. "Itu alasan aku butuh kalian percaya dulu."
Rizky berdiri dan membantunya melipat charger, buku, dan hard disk. Bayu mengambil dokumen skripsi. Dimas memasukkan jaket Arya ke tas, lalu berhenti.
"Arya."
"Apa?"
"Lo takut?"
Arya memasukkan map pemeriksaan Kirana ke ransel khusus. "Takut."
"Bagus. Orang takut biasanya lebih hati-hati."
Bayu menepuk bahu Arya. "Jangan hadapi keluarga Kirana sendirian kalau butuh saksi. Minimal kabari kami."
"Aku kabari."
Sore itu, tiga teman membantu Arya memindahkan barang ke mobil sewaan kecil. Arya sengaja tidak membawa GR Supra ke gang. Dimas tetap banyak bicara, dan tangannya bekerja paling cepat. Rizky membuat daftar barang yang belum terbawa. Bayu mengecek kamar mandi, colokan, dan lemari.
Sebelum berangkat, Rizky menarik Arya ke samping.
"Mulai sekarang, jangan sembarang unggah foto. Matikan lokasi Instagram. Kalau ada nomor aneh kirim pesan, screenshot."
Bayu menambahkan, "Aku bisa bantu cek rute dari apartemen ke kampus. Cari jalan yang tidak terlalu ramai."
Dimas mengangkat dua kardus sekaligus. "Bagian gue jelas. Kalau ada yang gosip, gue jadi orang bodoh yang tidak tahu apa-apa."
Arya menatap mereka bertiga.
"Terima kasih."
Dimas mendengus. "Jangan drama. Angkat kardus."
Saat kamar hampir kosong, Arya berdiri di ambang pintu.
Hidup lamanya tertinggal di ruang sempit itu.
Dimas merangkul lehernya. "Selamat datang di mode bapak-bapak, Bro."
"Jangan panggil begitu dulu."
"Tidak bisa. Lo sudah unlock fitur."
Rizky menendang pelan kaki Dimas. "Ayo jalan."
Malamnya, di Apartemen Grand Surya Residence, Kirana duduk di sofa dengan selimut tipis. Ia terlihat lelah setelah membantu memilah barang kecil dari kosnya sendiri. Tiga teman Arya pulang setelah memastikan tidak ada yang mengikuti.
Arya berdiri di dapur.
Di meja ada ayam, bawang putih, serai, daun jeruk, seledri, dan bahan lain yang ia pesan lewat aplikasi.
Kirana memandang dari sofa. "Kamu bisa masak?"
"Kita lihat."
"Itu jawaban berbahaya."
Arya membuka ponsel, tetapi sebelum mencari resep, panel sistem muncul.
【Tindakan terdeteksi: menyiapkan makanan sehat untuk ibu hamil.】
【Hadiah diberikan: kemampuan memasak Lv.3.】
【Paket pengetahuan nutrisi dasar telah aktif.】
Tiba-tiba, bahan-bahan di meja terasa punya urutan. Ia tahu kapan menumis bumbu, kapan memasukkan ayam, kapan mengecilkan api, berapa banyak garam yang aman, dan bagian mana yang harus ia hindari agar rasa tidak terlalu tajam untuk perut Kirana.
Arya mulai bekerja.
Aroma soto ayam perlahan memenuhi dapur.
Kirana berjalan mendekat, masih berselimut.
"Serius, kamu bisa?"
"Sepertinya bisa."
"Arya, pagi tadi kamu masih hampir pingsan lihat test pack."
"Orang bisa berkembang."
Kirana tertawa kecil. Suara itu ringan sekali, pertama kali sejak pagi.
Arya menyajikan semangkuk soto ayam hangat dengan nasi sedikit, suwiran ayam, telur, dan kuah bening. Ia meletakkannya di meja makan.
"Coba sedikit. Kalau mual, berhenti."
Kirana meniup sendok pertama, lalu mencicipi.
Ia diam.
Arya menunggu.
"Jelek?"
Kirana menggeleng. Matanya merah.
"Enak."
"Syukurlah."
"Rasanya..." Kirana menelan pelan. "Rasanya seperti ada orang yang benar-benar memikirkan aku."
Arya duduk di depannya. "Memang."
Ponsel Arya bergetar di meja.
Nomor tidak dikenal.
Pesan singkat masuk.
Arya Pratama? Besok bawah gedung fakultas. Jangan bawa siapa-siapa. - DH
Arya membaca dua huruf terakhir itu.
DH.
Denny Hartono.