Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 09
Berita tentang Maya menikah dengan Raka Wijaya menyebar lebih cepat daripada yang ia sangka.
Mula-mula hanya gang rumahnya.
Lalu grup arisan RT.
Lalu entah bagaimana, kabar itu sampai ke beberapa teman lama sekolahnya. Ponsel Maya yang biasanya hanya berisi pesan promo pulsa tiba-tiba ramai oleh notifikasi dari grup SMA yang sudah lama ia bisukan.
`Maya Lestari? Serius itu kamu?`
`Katanya menikah dengan orang Wijaya Group?`
`Bukan hoaks?`
`Loh, bukannya dia kerja cleaning service?`
Maya membaca beberapa pesan, lalu langsung mematikan layar.
Ia duduk di meja makan apartemen Raka, di hadapannya ada bubur kacang hijau tanpa santan dan segelas susu hangat. Wati berdiri tidak jauh, memastikan ia benar-benar makan.
“Bu, jangan lihat HP dulu,” kata Wati hati-hati. “Pak Raka pesan, kalau Ibu tidak habiskan sarapan, saya harus lapor.”
Maya menatapnya tak percaya. “Mbak Wati serius?”
“Sangat serius, Bu.”
Maya menghela napas dan mengambil sendok.
Sejak pindah ke apartemen, hidupnya seperti diawasi oleh jadwal. Jam makan, jam minum vitamin, jam tidur siang, jam jalan ringan di koridor, jam periksa tekanan darah. Raka jarang bicara panjang, tapi semua orang di rumah itu bergerak berdasarkan perintahnya.
Yang membuat Maya bingung, ia tidak merasa dikurung.
Ia justru merasa tubuhnya, yang selama ini hanya ia pakai untuk bekerja, akhirnya diperlakukan seperti sesuatu yang perlu dijaga.
Raka masuk ke ruang makan sambil memasang jam tangan. Ia sudah rapi dengan setelan abu-abu gelap.
Maya menatapnya tanpa sadar.
Pria itu tampak seperti keluar dari majalah bisnis. Dingin, mahal, dan jauh. Tapi semalam, orang yang sama duduk di sofa membaca buku panduan kehamilan sambil mengerutkan kening pada bab nutrisi ibu usia lanjut.
“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Raka.
Maya tersedak bubur.
Wati cepat memberi air.
Raka berjalan mendekat. “Pelan.”
“Saya tidak apa-apa.”
“Kamu selalu bilang begitu sebelum pingsan, muntah, atau hampir jatuh.”
Maya memegang gelas dengan wajah panas.
Raka duduk di kursi seberangnya. “Hari ini penjahit datang. Pilih baju yang nyaman.”
“Mas Raka benar-benar tidak perlu membeli banyak.”
“Kamu tidak punya baju hamil.”
“Kandungan saya belum besar.”
“Akan.”
Jawaban itu sederhana, tapi membuat Maya menyentuh perutnya. Akan. Seolah Raka sudah melihat jauh ke depan. Seolah anak itu pasti bertahan, tumbuh, lahir, dan hidup di rumah ini.
Maya takut berharap sebesar itu.
Ponselnya kembali menyala. Kali ini telepon dari Sari.
Maya mengangkat.
“May, kamu lihat grup sekolah?”
“Sedikit.”
“Ratna masuk ke grup alumni lewat temannya. Dia mulai bicara macam-macam. Katanya kamu menggoda laki-laki kaya setelah gagal dijodohkan dengan Pak Burhan.”
Maya memejamkan mata.
Raka langsung mengangkat pandangan.
Sari melanjutkan dengan suara kesal, “Mereka mau adakan reuni kecil akhir pekan ini di Hotel Kartika. Awalnya cuma makan malam biasa, tapi sekarang jadi ramai karena mereka ingin lihat kamu. Ratna juga bilang kamu pasti tidak berani datang.”
“Aku tidak perlu datang.”
“Aku tahu. Tapi dia menyebut kamu perempuan tua tidak tahu malu di grup.”
Maya diam.
Di seberang, Sari menghela napas. “Maaf, aku tidak mau membuatmu stres. Tapi aku kesal. Dari dulu si Ratna itu memang suka merendahkanmu. Sekarang masih saja.”
Maya menatap bubur di depannya. Nafsu makannya hilang.
Raka mengulurkan tangan.
“Berikan ponselnya.”
Maya menutup speaker. “Tidak perlu.”
“Maya.”
Nada itu membuat Wati langsung mundur ke dapur.
Maya menyerahkan ponsel dengan ragu.
Raka mendengarkan sebentar, lalu berkata, “Bu Sari, kirim semua tangkapan layar ke nomor asisten saya. Terima kasih.”
Sari di seberang terdiam, lalu tergagap, “I-iya, Pak.”
Raka mengembalikan ponsel.
“Kamu akan datang.”
Maya hampir menjatuhkan sendok.
“Apa?”
“Reuni itu. Kamu akan datang.”
“Tidak. Untuk apa? Mereka hanya ingin menertawakan saya.”
“Kalau kamu tidak datang, mereka tetap menertawakanmu.”
“Biar saja.”
“Aku tidak bisa membiarkan.”
Maya menatapnya. “Mas Raka tidak perlu membalas semua orang yang bicara buruk tentang saya.”
“Aku tidak membalas semua orang. Aku memilih yang paling berisik.”
Maya menggeleng. “Saya tidak mau jadi tontonan.”
Raka menyandarkan punggung.
“Selama ini kamu menghindar supaya orang lain nyaman menghinamu dari jauh. Coba sekali datang dan biarkan mereka menghina di depan wajahmu.”
Kalimat itu menusuk, tapi tidak sepenuhnya salah.
Maya menunduk.
“Saya malu dengan masa lalu saya.”
“Masa lalu yang mana? Bekerja sebagai cleaning service? Membesarkan anak sendirian? Membayar sekolahnya sampai sarjana?”
Maya tidak menjawab.
Raka berkata lebih pelan, “Yang harus malu bukan kamu.”
Ruangan menjadi sunyi.
Maya menahan sesuatu di tenggorokan.
Pukul sepuluh, penjahit datang bersama dua asisten perempuan. Mereka membawa kain lembut, meteran, dan katalog model baju hamil. Maya awalnya kaku, tapi penjahit itu ramah dan tidak berlebihan. Ia menyarankan tunik longgar, dress sederhana, dan kebaya modern yang nyaman.
“Pak Raka minta semua bahan tidak panas, tidak ketat di perut, dan mudah dipakai,” kata penjahit.
Maya menatap Raka yang berdiri di dekat ruang kerja.
“Mas Raka sempat memberi instruksi sedetail itu?”
Raka tidak mengangkat wajah dari tablet. “Aku bisa membaca.”
Asisten penjahit menunduk menahan senyum.
Ketika pengukuran selesai, Maya memilih model paling sederhana. Raka menambahkan beberapa tanpa bertanya. Maya hendak protes, tapi ia lebih dulu berkata, “Untuk reuni.”
“Saya belum setuju datang.”
“Kamu akan setuju.”
“Mas Raka terlalu yakin.”
“Karena kamu marah.”
Maya terdiam.
Ia memang marah. Bukan marah yang meledak seperti Bu Ratna, melainkan marah yang lama ia kubur karena terbiasa memaklumi semua orang. Ratna, teman-teman yang dulu mencibir karena ia miskin, Dimas yang malu punya ibu cleaning service, Vina yang melihatnya seperti pembantu.
Sore itu, Bima datang membawa berkas.
“Pak, hasil investigasi Pak Rudi sudah lengkap. Dia menerima transfer dari rekening orang suruhan Pak Burhan. Ada juga bukti komunikasi dengan staf kompetitor yang ingin menjebak Bapak.”
Maya yang sedang duduk di sofa langsung menegang.
Raka membaca cepat.
“Serahkan ke polisi dan manajemen hotel. Pastikan Maya tidak dipanggil tanpa pendamping hukum.”
“Baik, Pak.”
Maya berkata pelan, “Saya harus memberi keterangan, kan?”
Raka menatapnya. “Ya. Tapi tidak sendiri.”
Kata itu lagi. Tidak sendiri.
Maya menunduk.
Malamnya, ia akhirnya membuka grup sekolah. Pesan sudah ratusan. Ratna menulis dengan gaya manis yang menusuk.
`Kasihan ya, di usia segitu masih mencari perhatian. Semoga bukan karena uang.`
`Ada yang bilang dia hamil. Kalau benar, dunia memang makin aneh.`
`Reuni Sabtu ini, semoga Bu Maya berkenan hadir. Kita semua kangen.`
Di bawahnya banyak emotikon tertawa, pura-pura terkejut, dan komentar setengah sinis.
Maya menatap layar lama.
Raka duduk di sofa lain, membaca dokumen.
“Mas Raka.”
“Hmm.”
“Kalau saya datang, saya tidak mau Mas Raka ikut.”
Raka mengangkat mata.
“Kenapa?”
“Mereka akan bilang saya berani hanya karena membawa suami kaya.”
“Mereka akan bilang begitu apa pun yang kamu lakukan.”
“Tetap. Saya ingin masuk sendiri.”
Raka menutup dokumen.
“Tidak.”
Maya mengerutkan kening. “Mas Raka tadi yang menyuruh saya menghadapi mereka.”
“Menghadapi bukan berarti membiarkanmu masuk ke kandang orang yang ingin melukaimu.”
“Itu hotel, bukan kandang.”
“Bagiku sama.”
Maya hampir tersenyum, tapi menahannya.
“Saya bisa bersama Sari.”
“Bima akan menunggu di luar ruangan.”
“Baik.”
“Dan aku akan menjemput.”
Maya ragu.
Raka menatapnya. “Itu bukan negosiasi.”
“Mas Raka memang selalu begini?”
“Iya.”
“Pantas belum menikah sampai sekarang.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Begitu sadar, Maya langsung menutup mulut.
Raka memandangnya tanpa berkedip.
Ruangan membeku.
Lalu ia berkata, “Mungkin aku menunggu perempuan yang cukup berani mengatakannya langsung.”
Wajah Maya memerah.
Ia berdiri cepat. “Saya mau tidur.”
Raka melihatnya berjalan ke kamar dengan langkah sedikit terburu-buru.
“Maya.”
Ia berhenti.
“Besok jangan lupa sarapan.”
Maya menoleh, kesal sekaligus malu. “Iya, Mas Raka.”
Ketika pintu kamar tertutup, Maya bersandar di baliknya. Tangannya menempel di dada.
Jantungnya berdetak terlalu cepat.
Ia tidak tahu apakah karena reuni, karena hinaan Ratna, atau karena cara Raka menatapnya seolah ia bukan perempuan tua yang memalukan.
Di ruang tamu, ponsel Raka menyala.
Pesan dari nomor tidak dikenal masuk.
`Raka, aku dengar kamu menikah. Aku pulang minggu depan. Kita perlu bicara. - Sabrina`
Raka menatap pesan itu lama.
Lalu ia menghapusnya tanpa membalas.
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍