NovelToon NovelToon
Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:981
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.

"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Pagi itu, udara di Istana Bulan Giok terasa lebih berat dari biasanya. Kabut tipis menyelimuti taman peoni, membuat bunga-bunga merah muda itu tampak seperti hantu yang pucat.

Putri Li Yuexin duduk di depan cermin, membiarkan Qingyu menyisir rambutnya dengan lembut. Tidak ada kata-kata yang terucap antara mereka, namun ketegangan di ruangan itu bisa dipotong dengan pisau.

Malam tadi adalah pertaruhan besar. Mereka berhasil lolos, tapi jejak basah dan lumpur di saluran pembuangan mungkin masih tersisa. Dan yang lebih berbahaya, Marquis Han pasti sudah menyadari kotaknya hilang.

"Nona," bisik Qingyu sambil menyelipkan jepit rambut sederhana ke sanggul Putri Li Yuexin. "Kasim Zhou mengirim pesan pagi ini. Penjaga gerbang barat diperketat. Ada laporan tentang 'penyusup' yang terlihat melompat dari tembok dekat aliran sungai semalam."

Putri Li Yuexin menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tenang, meski matanya menyimpan kewaspadaan tajam. "Siapa yang melaporkan?"

"Seorang penjaga baru, Nona. Dia mengaku melihat bayangan dua orang mengenakan pakaian abu-abu."

"Pakaian abu-abu..." gumam Putri Li Yuexin. Itu warna standar pelayan tingkat rendah. Jika penyelidikan dimulai, semua pelayan di istana akan diperiksa. Termasuk Qingyu. Dan jika Qingyu diperiksa, jejak akan mengarah ke Istana Bulan Giok.

"Tidak apa-apa," kata Putri Li Yuexin dingin. "Kita tidak meninggalkan bukti yang mengikat kita langsung. Tapi kita harus bersiap-siap. Hari ini, jangan pergi dari sisiku. Dan siapkan tinta hitam. Aku ingin menulis surat."

"Surat untuk siapa, Nona?"

"Untuk Paman Mingyuan."

Sementara itu,

Disisi lain istana, suasana di Istana Zamrud sangat berbeda. Selir Rong Shufei duduk di singgasananya, memegang sebuah cawan teh. Di hadapannya, berdiri Marquis Han Cheng, wajahnya merah padam karena amarah yang ditahan.

"Kotak itu kosong, Yang Mulia Selir," lapor Han Cheng dengan suara bergetar. "Seseorang menukarnya. Seseorang di dalam istana pasti sudah tahu rencana kita."

Selir Rong tidak segera menjawab. Dia meniup uap tehnya pelan, matanya setengah tertutup. "Kosong? Atau kau yang ceroboh, Han Cheng?"

"Hamba tidak ceroboh!" bantah Han Cheng, keringat dingin mengalir di dahinya. "Hamba menjaganya sepanjang malam! Hanya ada momen singkat ketika seorang pelayan kasar menjatuhkan gelas di kedai itu. Mungkin... mungkin penyusup itu memanfaatkan kekacauan itu."

"Penyusup," ulang Selir Rong pelan. Dia membuka matanya, tatapannya dingin seperti es. "Di dalam tembok istana ini, tidak ada penyusup yang bisa masuk dan keluar tanpa sepengetahuan kasim atau penjaga. Kecuali... dia memiliki bantuan dari dalam."

Han Cheng menelan ludah. "Apakah Yang Mulia menduga ada pengkhianat di kalangan pelayan?"

"Aku menduga ada tikus yang mulai berani menggigit," kata Selir Rong sambil meletakkan cawannya dengan bunyi ting yang nyaring. "Perketat pengawasan di semua gerbang. Periksa latar belakang setiap pelayan baru yang masuk dalam enam bulan terakhir. Dan terutama... perhatikan gerakan di sekitar Istana Bulan Giok."

Han Cheng terkejut. "Istana Bulan Giok? Putri Li Yuexin?"

"Dia sudah berubah," kata Selir Rong, suaranya rendah dan penuh curiga. "Beberapa hari terakhir, sikapnya terhadap Gu Wenhao aneh. Dan kemarin, dia menolak lamaran putramu dengan cara yang... terlalu cerdas untuk seorang gadis manja. Aku merasa ada sesuatu yang bergerak di balik wajah cantiknya itu."

"Hamba akan memerintahkan mata-mata kami untuk mengawasi setiap langkah Putri Yuexin," janji Han Cheng.

"Lakukan dengan segera," perintah Selir Rong. "Dan jika kau menemukan seutas benang saja yang menghubungkan dia dengan kehilangan kotak itu... tariklah. Tarik sampai seluruh jaringnya terbuka."

Kembali di Istana Bulan Giok,

Putri Li Yuexin telah selesai menulis suratnya. Surat itu bukan tentang konspirasi atau pencurian. Isinya tampak biasa, pertanyaan teknis tentang material batu untuk bendungan Utara, disertai dengan kutipan dari kitab klasik tentang pentingnya fondasi yang kuat.

Namun, di antara baris-baris kaligrafi yang indah, tersembunyi kode rahasia yang hanya dipahami oleh Paman Shen Mingyuan dan Kakek Shen Guotai. Kode itu berbunyi, "Waspadai tanah longsor dari arah timur. Ular sedang menggali lubang."

Ini adalah peringatan halus dari Putri Li Yuexin, karena tidak bisa menulis secara langsung, sebab isi surat bisa saja di baca oleh orang lain. Tapi dengan kode ini, Paman Mingyuan akan tahu bahwa ada sabotase yang direncanakan, dan dia harus memeriksa ulang dokumen-dokumen kontrak serta tanda tangan kontraktor.

"Qingyu," panggil Putri Li Yuexin. "Antarkan surat ini melalui jalur pribadi Keluarga Shen. Jangan lewat jalur istana biasa."

"Baik, Nona."

Saat Qingyu pergi, Putri Li Yuexin berdiri dan berjalan menuju jendela. Dia melihat ke arah Istana Zamrud. Dia bisa merasakan tatapan dingin Selir Rong menembus jarak, meskipun secara fisik mustahil.

"Kau mencurigai saya, Bibi Rong," pikir Putri Li Yuexin. "Itu bagus, tetaplah curiga. Karena semakin kau fokus padaku, semakin kau lupa melihat pisau yang sudah kau tanam di punggungmu sendiri."

Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk keras. Bukan ketukan sopan pelayan, tapi ketukan otoriter penjaga istana.

Qingyu kembali dengan wajah pucat. "Nona! Penjaga Istana datang. Mereka mengatakan ada perintah dari Kepala Keamanan Istana untuk memeriksa semua kamar pelayan karena insiden penyusupan semalam."

Putri Li Yuexin tersenyum tipis. Cepat sekali. Marquis Han memang tidak membuang waktu.

"Buka pintunya, Qingyu," kata Putri Li Yuexin tenang. "Biarkan mereka masuk. Kita tidak punya apa-apa untuk disembunyikan. Selain... kejujuran."

Qingyu bingung, tapi dia mematuhi. Saat pintu dibuka, ada tiga penjaga berseragam hitam masuk, dipimpin oleh seorang kapten berwajah garang.

"Kami mendapat izin untuk memeriksa barang-barang pribadi pelayan di istana ini," kata Kapten itu tanpa basa-basi.

Matanya menyapu ruangan, lalu tertuju pada Putri Li Yuexin. Dia sedikit terkejut melihat Putri berada di sana, tapi segera membungkuk hormat. "Mohon maaf mengganggu Tuan Putri."

"Lakukan tugasmu," kata Putri Li Yuexin datar. "Tapi ingat, ini adalah kediaman Putri Kekaisaran. Perlakukan barang-barang kami dengan hormat. Jika ada satu saja vas bunga yang pecah karena kelalaianmu, kepalamu yang akan menggantikannya."

Kapten itu menelan ludah, ancaman dari Putri Li Yuexin jelas. Dia memberi isyarat pada anak buahnya. Mereka mulai memeriksa lemari pakaian Qingyu dan pelayan lainnya dengan kasar, mengacak-acak baju dan benda pribadi.

Putri Li Yuexin duduk di kursinya, menonton dengan tenang. Dia tidak mencoba menghentikan mereka. Dia membiarkan mereka merasa seolah-olah mereka memiliki kendali.

Salah satu penjaga menemukan sebuah bungkus kain kecil di bawah bantal Qingyu. Dia membukanya. Isinya adalah beberapa koin perak tua dan sebuah surat cinta palsu dari "kekasih khayalan" Qingyu yang sebenarnya dibuat oleh Putri Li Yuexin sebagai pengalihan jika Qingyu sering keluar malam.

"Apa ini?" tanya penjaga itu curiga.

Qingyu memerah. "Itu... itu hadiah dari sepupu saya, Tuan."

Penjaga itu memeriksa suratnya, lalu membuangnya dengan jijik. "Cinta murahan, sangat menjijikkan."

Mereka terus mencari, tidak ada pakaian basah ataupun tidak ada lumpur dan tidak ada kotak hitam. Putri Li Yuexin sudah membakar pakaian yang mereka gunakan semalam di perapian pribadi kamarnya segera setelah mereka pulang, dan abunya dibuang ke sungai melalui saluran khusus.

Setelah satu jam, para penjaga pergi dengan tangan kosong. Mereka tampak kesal karena tidak menemukan apa-apa.

Saat pintu tertutup, Qingyu menghela napas lega. "Nona... hamba sangat takut sekali."

Putri Li Yuexin berdiri, mendekati Qingyu dan merapikan kerah bajunya. "Kau melakukan pekerjaan yang baik, Qingyu. Ketakutan itu wajar. Tapi ingat, ketakutan membuat kita waspada dan kewaspadaan adalah kunci bertahan hidup."

Dia berjalan kembali ke meja tulisnya, mengambil kuas, dan mulai menulis lagi. Kali ini, bukan surat untuk pamannya. Tapi sebuah daftar nama.

Nama-nama penjaga yang tadi memeriksa kamar mereka. Nama-nama kasim yang bertugas di gerbang barat. Dan nama Kapten Penjaga yang memimpin pemeriksaan.

"Mereka berpikir mereka sedang berburu tikus," gumam Putri Li Yuexin sambil mencelupkan kuasnya ke tinta hitam pekat. "Padahal, mereka baru saja memberikan daftar nama mata-mata dari Marquis Han kepadaku. Sekarang... aku tahu siapa yang harus dijauhkan, dan siapa yang bisa dimanipulasi."

Dia menuliskan nama terakhir di daftar itu: Kapten Zhao.

Di sudut kertas, dia menggambar simbol kecil, sebuah ular yang terpotong ekornya. Permainan kucing dan tikus telah dimulai. Dan Putri Li Yuexin memutuskan bahwa kali ini, dialah yang memegang tali kekang kucing itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!