Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Surat perceraian palsu
“Ad, kamu yakin Nadine tidak akan marah kalau dia tahu ini hanyalah surat perceraian palsu yang kamu berikan ke dia?”
Adinata menatap Fregy—pengacara yang membantunya memalsukan surat perceraian dan salah satu teman dekatnya yang duduk berhadapan dengannya. “Tidak yakin. Aku tahu dia akan marah ketika mengetahuinya.”
“Lalu, apa rencanamu?”
“Biarkan dia menjauh dariku dulu. Aku masih tetap mengawasinya dari kejauhan. Dan disini, aku akan memfokuskan diriku dulu untuk mengambil posisi teratas di keluarga.” Adinata memijat pelipisnya.
Fregy menganggukkan kepalanya. Ia mengerti posisi Adinata terjepit di tengah, antara cinta dan harta. “Menurutku tidak masuk akal kalau tiba-tiba ibumu bilang dia tidak menyukai istrimu, Ad.”
“Memang tidak masuk akal. Ibuku itu seperti api, gampang tersulut dan rasa irinya tinggi,” ucap Adinata. “Mungkin juga ada dari saudara ibuku yang menanaskan suasana, antara ibuku dan istriku.”
“Tindakan yang kamu lakukan sekarang sangat terlambat, Ad,” ucap Fregy. Ia menggelengkan kepalanya. “Bukan seperti itu, maksudku, kenapa tidak dari dulu saja kamu melakukannya.”
“Aku lakukan sekarang, percuma?”
“Mungkin, iya. Bagi Nadine.” Fregy mengerti Nadine juga memiliki beban yang berat ketika berada di tengah keluarga Adinata. Sang suami sering pergi keluar kota dan dia tinggal sendiri di rumah keluarga sang suami, disaat itulah muncul sang ibu mertua dengan emosinya yang membumbung tinggi.
Adinata menganggukkan kepalanya. “Aku tahu, tapi rasa sakit hatinya, bagiku itu menjadi dendam untuk aku balaskan. Belum sempat juga aku meminta maaf karena ‘ku pikir Nadina tidak akan mengajak aku untuk bercerai.”
“Kemarin aku masih berada di situasi terjepit. Perusahaan hampir bangkrut. Aku mencari sumber investasi sampai ke beberapa kota untuk sekali jalan. Fokusku terbelah, tapi aku tidak pernah sekalipun melewatkan tentang istriku,” lanjut Adinata.
“Aku tahu. Karena itu aku bersedia membantumu.”
“Aku benar-benar tidak berniat untuk menceraikan Nadine, Freg. Maaf kalau kamu sempat kesal ketika aku memintamu datang untuk mengurus surat palsu,” canda Adinata. “Bertahun-tahun aku mengenal Nadine. Bertahun-tahun juga kita tumbuh dengan luka yang kita obati bersama. Rasanya tidak mungkin aku melepaskannya secepat ini.”
Fregy menganggukkan kepalanya. Awalnya ia ikut sang papa yang merupakan pengacara keluarga Adinata dalam menangani kasus yang terungkap ke publik dan perlu diselesaikan, disaat itulah ia mengenal Adinata. Karakter Adinata tidak banyak berubah, menurutnya. Adinata lebih memilih diam dan mengamati sampai ketika ada posisi bagus, ia akan masuk dengan rapi. Selain, ia dan Adinata masih ada 2 lagi teman mereka. Xavier Borero dan Wi Seo-yeol.
“Kamu tidak menyelesaikan keluargamu dulu, Ad?”
Adinata menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku pasti tidak akan menang. Tidak ada yang bisa membelaku. Aku tidak ingin bertindak sekarang. Karena aku tahu, kalau aku bertindak sekarang bisa dipastikan namaku akan hilang dari daftar waris.”
Fregy tidak dapat menghakimi Adinata. Ia percaya dengan semua temannya dan ia lebih mempercayai jika Adinata akan berhasil dengan rencana yang sudah dipersiapkan secara matang.
“Aku munafik sekali, ya. Tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin usaha yang aku lakukan di keluarga ini tidak memberi kehidupan yang layak untuk Nadine. Aku sedang mengusahakan Nadine dan anak-anakku tidak kekurangan, Freg.” Adinata menghembuskan napasnya dengan kasar. “Tapi memang ini harga yang harus ‘ku bayar. Aku harus menjauhkan diriku dari istriku dulu agar ia tidak mendapat luka lagi.”
“Tidak ingin jujur dengan Nadine?” tanya Fregy. Fregy menyeruput kopi yang menjadi teman bicara mereka.
Adinata menggelengkan kepalanya. “Tidak. Rencanaku hanya akan menambah beban berat untuk Nadine. Biarkan aku yang mengusahakannya dan Nadine yang akan menikmati usaha yang aku lakukan.”
“Kamu terlalu setia, Ad. Kamu benar-benar jatuh ke Nadine, ya,” ledek Fregy.
Adinata tertawa kecil. Ia juga ikut menyeruput kopi hitam miliknya. “Bahkan kamu, Avi dan Seo yang menyiapkan tempat mewah untuk aku melamar Nadine, Freg.”
Fregy tertawa. “Hampir saja aku melupakannya. Itu juga pertama kalinya aku melihatmu berlutut dan menangis, Ad. Aku rasa, aku masih memiliki rekamannya.”
“Dan kamu sudah mengirimkannya di grup chat kita.”
Fregy menganggukkan kepalanya. “Aku jadi merasa tidak sia-sia mengosongkan jadwal pekerjaanku setelah waktu istirahatku selesai.”
Adinata menganggukkan kepalanya berulang kali sambil tersenyum kecil. “Terima kasih. Aku jadi merasa berkesan atas usahamu.”
Fregy tertawa mendengar ejekan dari bibir Adinata. “Bisakah kita berempat berkumpul di Apartemen milikmu, Ad? Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu untuk bersantai di Apartemen milikmu.”
“Datanglah. Tapi aku minta jangan malam ini. Karena aku tidak pulang malam ini.”
“Kamu akan tidur disini?”
Adinata menganggukan kepalanya. “Aku rasa iya.”
“Jangan terlalu memaksa dirimu untuk berkerja terus, Ad.”
Adinata menghembuskan napasnya. “Aku hanya ingin memfokuskan pikiranku ke perusahaan.”
Fregy mengerti. Pikiran Adinata masih terpaut ke Nadine. Setiap harinya Adinata selalu bersama dengan Nadine. Jadi memang berat karena Adinata harus memaksa dirinya menjauh.
“Kalau rindu, temui saja,” goda Fregy. “Peluk dan bawa pulang, Ad.”
“Seandainya semudah itu, Freg.” Adinata menimpali godaan Fregy dengan tawa.
“Jangan gila. Kamu akan dicap sebagai pelaku kejahatan oleh istrimu sendiri.” Fregy memperingati agar Adinata tidak bodoh mengambil keputusan baru. “Hampir saja aku menyebut Nadine sebagai mantan istrimu, Ad. Padahal ‘kan tidak benar-benar bercerai.”
“Aku bisa mati kalau benar-benar bercerai dengan Nadine.”