NovelToon NovelToon
Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: S.Lintang

⚠️⚠️

Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.

⚠️⚠️

~•~

Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -

Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Disty keluar dari kamar mandi dengan handuk nya sebagai penutup tubuh. Sepulang sekolah tadi, Javeno tidak melakukan apa-apa pada dirinya. Tapi pemuda itu mendiamkan dirinya.

"Jav," panggil Disty mencari keberadaan Javeno.

Tadi sebelum ia mandi, Javeno masih duduk di ranjang. Tapi sekarang pemuda itu tidak ada.

Disty mengidikkan bahunya, lalu melangkah masuk ke walk in closet untuk memakai baju. Mengambil celana pendek dan tanktop saja karena cuaca memang sangat panas sampai sore ini. Jadi lebih baik memakai pakaian yang pendek saja.

Grep

Disty sedikit terkejut saat ada yang memeluknya dari belakang dan mencium leher jenjang nya. Disty merasa geli karena napas Javeno menerpa lehernya, membuat dirinya meremang.

"Kamu ganti sabun?" tanya Javeno dengan suara serak.

"Iya, wangi anggur kan?" Disty tersenyum dan hendak melepaskan pelukan Javeno tapi pria itu tidak mengizinkan nya.

Javeno menghisap kuat penuh nafsu leher putih mulus itu, membuat Disty memejamkan matanya.

"Ssstt." Disty berdesis dengan napas yang mulai panas.

Javeno berhasil membuat tanda kepemilikan di sana, tapi belum berhenti, ia juga mulai menjilat telinga Disty yang memejamkan mata menikmati permainan Javeno.

Javeno melepaskan handuk yang melilit tubuh Disty, di mana gadis itu baru memakai celana dalam saja, untuk bra_ dia belum memakainya.

Satu tangan Javeno naik dan meremas lembut gundukan kenyal yang selalu membuat Javeno terlena.

"Ahh." Desahan Disty akhirnya lolos.

Javeno melepas kecupan di leher yang sudah meninggalkan beberapa jejak kepemilikan. Tapi tangannya masih meremas lembut.

"Semakin besar," bisik Javeno.

Disty memegang tangan besar Javeno. "Udah," lirihnya.

Javeno membalik tubuh Disty, menatap wajah yang semakin hari semakin cantik. Javeno mulai mendekat dan melumat bibir manis itu dan Disty membalasnya dengan lembut juga.

Kecapan dan desahan Disty mengalun dengan tangan Javeno yang tidak berhenti meremas dua gundukan itu. Satu tangannya menyelinap ke celana dalam Disty yang mendesah keras sekarang.

Jari panjang Javeno membuatnya gila, pikir Disty.

"Basah," bisik Javeno juga menggila. Tapi Javeno berhenti, ia hanya ingin mempermainkan Disty saja, tidak ingin lebih.

Napas Disty tersengal setelah jari Javeno keluar dari sana. Matanya masih terpejam, lalu saat membuka mata. Javeno yang terus memperhatikan dirinya. Dengan tatapan penuh damba.

Disty yang malu di tatap seperti itu langsung memeluk dan menyembunyikan wajahnya. Setahun ini selalu bersama Javeno, tapi ia masih sering malu.

Dan Javeno selalu senang setiap kali Disty salah tingkah seperti ini.

"Aku rasa kamu memang lebih baik nggak perlu pakai baju," ucap Javeno masih dengan suara serak sambil meremas bokong sintal Disty sebentar.

"Sekolah juga nggak perlu pakai?" Disty mendongak menatap wajah tampan itu.

Javeno mengulas senyum. "Aku akan menggantung mu," ucapnya santai.

Disty mendengkus dan menggigit dada bidang Javeno itu. Melepas pelukan dan mulai memakai pakaian nya. Sebelum itu Disty juga mengganti celana dalam yang basah dengan sesuatu yang keluar tadi, membersihkan kemaluannya dengan tisu.

"Kenapa nggak keramas?" tanya Javeno, menarik lembut tangan Disty yang sudah selesai memakai baju.

Membawanya duduk di sofa kecil, duduk di atas pangkuannya.

"Males," jawab Disty sambil mengelus rahang Javeno.

"Kalau dulu kamu nggak selamatin aku, mungkin sekarang aku udah jadi pelacur yang bisa di nikmati ban...."

"Diam Disty!" Javeno selalu tidak suka pembahasan ini.

"Ya tapi sekarang aku tetap jadi pelacur, pelacur milik Javeno," kata Disty terkekeh kecil. Antara sudah berdamai atau sudah pasrah dengan semuanya.

"Itu jauh lebih beruntung," kata Javeno semakin merapatkan tubuh Disty diatasnya.

Disty mengangguk kecil. "Bener, setidaknya aku nggak kena penyakit karena banyak yang...."

"Ck," decak Javeno.

"Jav," panggil Disty dengan mata sayu.

"Hm," dehem Javeno mengusap lembut pinggang sang gadis.

"Kamu baik tapi brengsek," ungkap Disty jujur.

Dan setelah mengatakan hal itu ia memeluk dan menyembunyikan wajah di leher Javeno yang mungkin akan marah setelah ia berkata jujur.

Tapi Javeno diam, Javeno cukup sadar diri kalau yang di katakan Disty memang benar. Jauh sebelum Javeno kenal dengan Disty, ia sudah brengsek, dan setelah mengenal gadis yang sudah ia klaim sebagai miliknya ini, ia jadi semakin lebih brengsek.

Karena Javeno yang menghancurkan kesucian gadis itu. Dengan paksa.

"Kamu menyesal?" tanya Javeno pelan.

Disty menatap Javeno tanpa melepas pelukan. "Mungkin," jawabnya.

"Tapi kayaknya juga enggak," lanjutnya.

"Dulu pas awal kamu ngelakuin itu, aku sempet benci, bukan ke kamu tapi lebih benci ke diri sendiri. Tapi kalo di pikir-pikir terus menerus ya nggak ada gunanya juga, mau benci seumur hidup juga aku udah kotor kan? Jadi yaudah, pasrah aja, toh cuma sama kamu, bukan orang lain. Mungkin kalau kamu nanti udah nikah baru deh bakal lepas aku."

"Aku nggak kepikiran untuk menikah, jadi kamu nggak akan bisa lepas dari aku. Dan seandainya menikah pun, itu udah pasti sama kamu," ucap Javeno memejamkan matanya.

Disty diam, lalu ia meniup-niup telinga Javeno yang membuat pemuda itu menggeram tertahan.

"Kamu mau bertanggung jawab dan mandi lagi?" tanya Javeno berat.

"Nggak," jawab Disty. "Aku ngantuk."

Javeno membuka mata dan berdiri dengan Disty yang semakin mengeratkan pelukan. Keluar dari ruang walk in closet dan merebahkan tubuh Disty di atas kasur.

"Kamu kemana?" tanya Disty pada Javeno yang malah hendak pergi. Tidak ikut tidur di sampingnya.

Javeno diam.

"Aku ngantuk Jav!"

"Tidur."

Disty berdecak karena Javeno malah keluar dari kamar. Javeno jelas tau kalau dia tidak akan bisa tidur tanpa di peluk, tubuhnya sudah terbiasa dengan pelukan Javeno sebelum tidur. Tapi Javeno malah keluar meninggalkan nya.

Disty menghela napas. "Dia itu soft kalau semua aturan nya nggak di langgar. Tapi besok udah hari Senin, ck Zaffar selalu jadi pihak utama yang bisa buat gue kena hukuman," dengkus nya kesal.

Disty tidak jadi tidur, ia juga keluar dari kamar dan menuruni anak tangga dengan cepat.

"Jav," panggil Disty saat melihat Javeno yang duduk bersama Anggun.

Anggun yang sedang mencium leher pemuda itu yang sedang merokok.

"Nona!" Anggun gugup dan segera berdiri.

Disty sendiri masih terkejut. Javeno membiarkan?

"Lanjutkan," kata Disty dingin dan berbalik kearah kamar lagi.

Disty tidak mengunci pintu, karena itu malah akan memicu amarah Javeno nantinya. Tapi hati Disty sedang bergemuruh sekarang.

Jadi ia tidak peduli dan memilih mengunci pintu dari dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!