Alundra Kylie patah hati saat mengetahui Arsenio Ghaisan, cinta pertamanya, ternyata dijodohkan dengan sepupunya, Alora Eleandra.
Untuk melupakan cinta pertamanya itu, Alundra memutuskan untuk kembali ke luar negeri menyusul orang tuanya yang menetap di sana. Namun, saat perjalanan menuju bandara, Alundra tidak sengaja menabrak seseorang hingga mengalami koma.
Masalah kian rumit saat orang yang Alundra tabrak ternyata adalah kekasih Qireia Zhavara, seorang Nona kaya yang terkenal arogan.
"Aku akan mengampunimu, tapi dengan satu syarat, kamu harus menggantikanku menemui calon tunanganku. Kamu harus berpura-pura menjadi aku." Qireia Zhavara.
Apa yang akan terjadi, jika tunangan Qireia tahu Alundra menyamar sebagai Qireia?
Apa yang akan Alundra lakukan saat mengetahui tunangan Qireia ternyata dosen killer baru di kampusnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
"Kamu harus pura-pura jadi aku, dan temui calon tunanganku."
Mata Alundra terbelalak saat mendengar ucapan Qireia. Wanita cantik itu bukan hanya terkejut, tapi menurutnya ide Qireia itu tidak masuk akal.
"Jadi maksud kamu, aku harus menyamar jadi kamu, begitu? Apa kamu sudah gila?" Alundra benar-benar tidak habis pikir, dari sudut pandang mana pun ide Qireia memang gila. "Terus, kalau ketahuan, gimana?" Tanyanya lagi.
"Kamu tenang saja, aku jamin semuanya aman, tidak akan sampai ketahuan," ucap Qireia.
Wanita itu mulai melancarkan rencananya, menjebak Alundra adalah satu-satunya cara supaya bisa terbebas dari perjodohan itu. Dengan begini ayahnya tidak akan lagi memaksanya.
Sementara Sabiru tidak akan pernah tahu jika wanita itu sebenarnya bukanlah dirinya. Sekalipun Sabiru tahu, pria itu akan menganggap Alundra lah yang sudah menipunya. Qireia hanya perlu berakting dan menjadikan Alundra sebagai tersangka.
Qireia akan meminta Alundra untuk menggantikan dirinya. Alundra harus menemui Sabiru dan meminta pria itu untuk mengulur waktu supaya pernikahan mereka yang sudah disepakati, tidak dilaksanakan dalam waktu dekat ini.
Jika Sabiru tetap menolak, dengan terpaksa Qireia akan menumbalkan Alundra, dan menjadikan wanita itu sebagai penggantinya seumur hidup.
"Bagaimana caranya, bukankah dia tunanganmu? Dia pasti mengenaliku, dan dia akan tahu, kalau aku bukan kamu."
"Kamu tidak perlu khawatir soal itu, dia tidak akan mungkin mengenalimu. Karena aku sendiri belum pernah bertemu dengan dia."
Alundra semakin tercengang, kenapa di jaman modern seperti sekarang masih ada orang tua yang menjodohkan anaknya, untung saja orang tuanya tidak berpikiran kolot seperti orang tua Qireia, pikir Alundra.
"Jadi, kamu dijodohkan dengan orang yang tidak kamu kenal?"
Tiba-tiba saja Alundra merasa iba pada Qireia. Walaupun wanita di depannya ini sangat menyebalkan, tapi Alundra mulai memahami perasaan wanita itu.
"Hmmm," gumam Qireia. Wanita itu menganggukkan kepalanya. "Tadinya, aku dan Leon berencana untuk kawin lari. Tapi gara-gara kalian, semuanya berantakan. Leon bahkan masih sekarat di ruang operasi," ucap Qireia.
Qireia tidak lagi bersikap arogan seperti sebelumnya. Ucapan wanita itu bahkan terdengar lebih lembut dan mengiba.
"Maafkan aku, aku benar-benar menyesal," ucap Allano penuh penyesalan. Setelah mendengar cerita Qireia, pria itu ikut merasa kasihan dengan nasib yang dialami wanita itu.
"Tapi menurutku, kamu tidak perlu meminta Alundra pura-pura jadi kamu. Lebih baik kamu sendiri yang menemui pria itu, dan menjelaskan semuanya. Aku yakin, dia pasti akan mengerti."
Walau bagaimanapun juga, rencana Qireia terlalu beresiko, terlalu gila. Allano tidak akan membiarkan Alundra menanggung semuanya.
Jika kebohongannya terungkap, bukan tidak mungkin pria itu akan menyalahkan Alundra dan menganggap sepupunya itu menipunya. Dan melihat sifat arogan Qireia, tidak mungkin wanita itu akan mengaku jika sebenarnya dialah yang meminta Alundra pura-pura jadi dirinya. Bisa saja wanita itu cuci tangan dan justru ikut mengkambing hitamkan Alundra.
"Aku tidak bisa melakukan itu, ayahku pasti akan membunuhku," ucap Qireia. Wanita itu berusaha terlihat menyedihkan untuk lebih meyakinkan Alundra. Bagaimanapun caranya, rencananya harus berhasil.
Padahal sebelumnya Alundra sudah termakan ucapan Qireia, tapi, gara-gara Allano, Alundra kembali terlihat ragu.
Dasar pria sialan! Jangan sampai dia merusak rencanaku, batin Qireia.
"Tapi---"
"Kalau kamu menolak, aku tidak akan segan-segan melaporkanmu ke polisi."
Allano mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, ia semakin yakin Qireia sengaja melakukan ini untuk menjebak Alundra.
Entah apa sebenarnya rencana wanita itu, namun Allano bisa melihat wanita itu sengaja memanfaatkan rasa bersalah Alundra demi kepentingannya.
"Lapor saja, aku---"
"Aku setuju."
Alundra dengan cepat memotong perkataan Allano. Sebenarnya ia belum sepenuhnya yakin untuk menerima tawaran Qireia, hanya saja Alundra tidak mungkin diam saja melihat wanita itu melaporkan Allano. Jika itu terjadi, Alundra benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya.
"Lundra!"
Allano menggelengkan kepalanya. Tangannya menggenggam erat tangan sepupu cantiknya. Pria itu berusaha membujuk Alundra supaya membatalkan keputusannya.
"Kamu tenang saja, aku hanya harus bertemu dengan tunangannya, dan memintanya untuk mengundurkan hari pernikahan. Iya kan, Nona Qireia?"
Qireia menganggukkan kepalanya. "I-iya, kamu hanya perlu melakukan itu."
Qireia berusaha menutupi kegugupannya, jangan sampai mereka berdua mengetahui rencananya yang sebenarnya.
"Tapi, Lun, kalau tunangannya tahu kamu bukan Qireia, kamu pikir dia tidak akan diam saja? Dan apa kamu pikir Qireia akan membelamu? Aku tidak yakin," sindir Allano. Pria itu menatap tajam Qireia. Ia semakin yakin wanita itu memiliki niat buruk pada Alundra.
Kurang ajar! Kenapa dia tahu rencanaku? Gumam Qireia dalam hati.
Namun, Qireia berusaha tetap mengendalikan dirinya, tinggal sedikit lagi rencananya akan berhasil. Jangan sampai Alundra terhasut oleh perkataan pria sialan itu.
"Kamu jangan berpikir kejauhan. Aku yakin, dia tidak akan mengetahuinya. Selama kamu berakting dengan baik, tidak akan ada seorang pun yang akan curiga."
"Kamu jangan hanya berpikir dari satu sisi saja, coba pikirkan dari sudut pandang lainnya, ucap Allano dengan kesal. Pria itu menjeda sejenak ucapannya.
"Bagaimana kalau tunanganmu menolak untuk mengundurkan hari pernikahannya? Dan yang lebih parahnya lagi, tunanganmu justru ingin mempercepat hari pernikahannya?" Tanya Allano.
Bukan tidak mungkin tunangan Qireia akan tertarik pada Alundra. Dilihat dari sudut mana pun, Alundra lebih cantik dari Qireia. Pria mana pun tidak akan menolak jika disandingkan dengan Alundra, kecuali Arsenio. Hanya Arsenio lah pria bodoh yang menyia-nyiakan Alundra.
"Maksud kamu apa, Lan?" Tanya Alundra. Wanita itu tidak mengerti maksud perkataan Allano.
"Maksud aku, kamu itu cantik, Lun, jauh lebih cantik dari dia." Tunjuknya pada Qireia. "Kalau tunangannya suka sama kamu, gimana? Kalau tunangannya ingin menikahi kamu, gimana?"
Qireia mengepalkan tangannya, ia tidak terima Allano menghinanya. Qireia sendiri tidak memungkiri, Alundra memang sangat cantik. Tapi ia tidak terima saat Allano membandingkan dirinya dengan Alundra.
"Aku tidak punya banyak waktu lagi, kamu mau terima tawaranku, atau dia masuk penjara," ucap Qireia penuh penekanan.
"Aku---"
Ceklek
"Tawaran apa? Dan siapa yang masuk penjara?"
Tiba-tiba saja Arsenio masuk ke dalam ruang rawat Alundra, diikuti oleh Roland dan Alora di belakangnya. Arsenio menatap Alundra dan Alora bergantian, namun keduanya sama-sama bungkam.
Alundra cukup terkejut dengan kedatangan mereka, dan ia tahu siapa yang membuat mereka datang.
Pantesan Allano tidak takut masuk penjara, gumam Alundra dalam hati.
Alundra sekarang paham, kenapa Allano begitu bersikukuh membiarkan Qireia untuk melaporkannya pada polisi. Rupanya pria itu akan meminta bantuan Roland.
Namun sayangnya, sekalipun Roland membantunya, tidak akan membuat kesepakatan antara Qireia dan Alundra batal.
"Honey---"
"Jangan panggil aku seperti itu! Kita bukan lagi siapa-siapa."
Deg
Arsenio mengepalkan tangannya, entah kenapa, pria itu tidak menyukai perkataan Alundra. Padahal apa yang dikatakan Alundra tidak salah, ia dan Alundra memang sudah berakhir. Namun entah kenapa ucapan Alundra itu begitu menusuk hatinya. Sakit, perih, rasanya seperti ditusuk ribuan jarum.
Suasana di ruangan itu tiba-tiba hening. Tidak ada satu orang pun yang mengangkat suara.
Tok tok tok
"Nona Qireia, Tuan Leon sudah selesai melakukan operasi," ucap seorang perawat.
Kedatangan seorang perawat berhasil membuyarkan keheningan. Qireia pun mengangguk dan keluar mengikuti sang perawat. Namun sebelum meninggalkan ruangan itu, wanita itu menatap Alundra. Setelah Alundra menganggukkan kepalanya, wanita itu pun benar-benar pergi.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Roland. Pria paruh baya itu tampak khawatir, ia menghampiri Alundra dan Allano yang sama-sama duduk di ranjang rumah sakit.
"Kita gak apa-apa, Om. Maaf, sudah membuat Om khawatir," ucap Alundra. Wanita cantik itu menundukkan wajahnya. Ia merasa bersalah karena sudah menyeret Allano ke dalam masalah. Rasa bersalah bahkan membuat wanita cantik itu tidak bisa menatap Roland.
"Sayang, kenapa kamu minta maaf? Ini bukan salah kamu."
Alundra memberanikan diri untuk menatap Roland, dengan mata yang berkaca-kaca, wanita cantik itu menganggukkan kepalanya.
Roland bisa melihat ada kesedihan di mata Alundra, ia semakin yakin ada sesuatu yang Alundra sembunyikan, dan ini berhubungan dengan Arsenio dan Alora.
Roland mengusap air mata yang menggenang di sudut mata Alora.
"Kita pulang. Om tidak akan membiarkan kamu kembali ke Amerika," ucap Roland.
Brakkk
"Alundra memang tidak akan kembali ke Amerika. Tapi mulai saat ini, dia akan tinggal bersamaku."
To be continued
sementara alundra sedang berada diambang menuju ke move on an dari arsenio karena dia GK bakal sempet mikirin masa lalu kalo udh mulai dipepet SM pk dosen 🤣
ayo pk dosen jerat pak jerat biar alundra cepet move on dari si kadal buntung itu 🤣
ayo land bilang ke anakmu itu sebabnya krna alundra udh tau kebohongan mereka gtu 🙄