NovelToon NovelToon
Pernikahan Ke2

Pernikahan Ke2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratika

"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: KETUKAN PINTU YANG BERBEDA

Dua hari setelah kotak misteri berisi keripik pedas dan buku catatan bersampul kulit itu sukses mengacak-acak kerja jantung Aini, sebuah pesan WhatsApp kembali mendarat di ponselnya.

Sore itu, matahari baru saja menggelincir ke barat saat layar ponsel Aini menyala, menampilkan nama Egi. Kali ini, untaian kata yang dikirimkan pria berusia 27 tahun itu berhasil membuat napas Aini tertahan di tenggorokan.

Egi:Ai, kebetulan sore ini aku sedang ada urusan pekerjaan di dekat desamu. Kalau sekiranya tidak merepotkan, bolehkah aku mampir sebentar ke rumah untuk bersilaturahmi dengan Bapak dan Ibumu? Aku ingin berkunjung sebagai sesama orang sekecamatan.

Aini seketika dilanda kepanikan yang luar biasa. Jemarinya mendadak kaku, dan kamarnya terasa berputar pelan oleh rasa grogi yang mendera sarafnya.

Dengan langkah terburu-buru, dia keluar dari kamar menemui Ibu Naya yang sedang melipat kain di ruang tengah.

"Ibu... Mas Egi, penulis yang tempo hari mengirimkan paket, meminta izin untuk mampir bertamu sore ini. Katanya ingin bersilaturahmi dengan Ibu dan Bapak. Bagaimana, Bu?" tanya Aini dengan suara yang bergetar salah tingkah.

Ibu Naya menghentikan lipatan kainnya, menatap anak perempuannya dengan seulas senyuman yang teramat teduh. Sang ibu menangkap jelas binar kecemasan sekaligus harapan di mata Aini.

"Anakku, seorang pria yang baik dan memiliki niat yang lurus tidak akan pernah membiarkan wanitanya bersembunyi di balik bayang-bayang. Dia akan mendatangi rumahmu, mengetuk pintumu dengan terhormat. Sambut lah dia dengan adab yang baik," ujar Ibu Naya, memberikan restu yang seketika meruntuhkan keraguan Aini.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Aini akhirnya mengetikkan alamat rumahnya dan mengirimkannya pada Egi.

Tepat saat azan asar baru saja berlalu, sebuah mobil hitam yang bersih dan rapi perlahan memasuki pekarangan rumah orang tua Aini. Pintu pengemudi terbuka, dan muncullah sosok Egi. Sore itu, pria jangkung tersebut tampil sangat menawan dengan kemeja kasual yang rapi dan memancarkan aroma wangi kayu cendana yang maskulin namun menenangkan. Egi tidak datang dengan tangan kosong; tangannya membawa sebuah kantong besar berisi buah-buahan segar dan sekotak martabak manis yang masih mengepulkan uap hangat untuk dinikmati bersama.

Bapak Farhan dan Ibu Naya sudah duduk menunggu di teras depan. Ketika Egi melangkah maju dengan kepala sedikit menunduk tanda hormat, lalu menyalami tangan kedua orang tua Aini dengan takzim, sebuah getaran kesan positif langsung tercipta di udara sore itu.

"Selamat sore, Pak, Bu. Saya Egi. Mohon maaf jika kedatangan saya sore ini mendadak dan mengganggu waktu santai Bapak dan Ibu," ucap Egi dengan tutur kata yang sangat tertata rapi, rendah, dan sarat akan kesantunan seorang pria berpendidikan.

Bapak Farhan yang biasanya berwajah kaku dan dingin, menatap Egi dengan saksama.

"Tidak apa-apa, Nak Egi. Silakan duduk," sambut Bapak Farhan, suaranya terdengar berat namun menerima dengan tangan terbuka.

Aini keluar dari dalam rumah mengenakan baju tidur berwarna yellow lengan pendek celana panjang dengan rambut di jempit menampakan leher putih nya, kulit kuning langsatnya nampak sangat cerah saat ia memakai baju itu, sungguh kecantikkan yang natural.

Aini berjalan membawa nampan berisi beberapa cangkir teh hangat, meletakkannya di atas meja dengan gerakan yang teramat anggun namun matanya menolak untuk menatap langsung ke arah Egi karena rasa malu yang masih membakar pipinya. Setelah itu, Aini memilih duduk sedikit menjaga jarak di samping ibunya.Di teras rumah yang sejuk itu, sebuah percakapan berbobot antar pria dewasa mulai bergulir. Egi dengan sangat jujur dan terbuka menceritakan latar belakang dirinya, pekerjaannya sebagai penulis yang kini mulai merambah dunia wirausaha di kota provinsi, serta niat tulusnya yang ingin berteman baik serta mendukung penuh karier menulis Aini.

Cara Egi memaparkan sudut pandang hidupnya yang matang, dewasa, dan penuh tanggung jawab perlahan-lahan mengikis dinding ketegasan Bapak Farhan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aini melihat ayahnya bisa tersenyum lebar bahkan tertawa lepas, terlibat dalam diskusi yang seru bersama Egi tentang perkembangan daerah kecamatan mereka.

Melihat pemandangan yang teramat langka itu, Ibu Naya diam-diam menyenggol lengan Aini yang duduk di sebelahnya. Sang ibu berbisik dengan suara yang teramat pelan di dekat telinga anaknya,

"Ai... lihat itu. Ini baru namanya laki-laki yang punya adab dan tahu cara menghargai orang tua. Jauh berbeda dengan yang dulu." Aini hanya bisa menunduk, menyembunyikan senyum bahagianya yang kian merekah.

Namun, kehangatan obrolan sore itu mendadak beralih menjadi panggung komedi yang menggelitik batin. Natan, adiknya yang baru pulang dari bermain bersama teman-temannya, melangkah masuk ke pekarangan rumah. Masih mengenakan kaus oblongnya, anak laki-laki kelas 5 SD itu menghentikan langkahnya saat melihat mobil hitam mewah dan sosok pria asing yang sedang asyik tertawa bersama ayahnya di teras.

Egi yang melihat kedatangan Natan langsung melemparkan senyuman ramah. Natan dengan polosnya berjalan mendekat, menyalami tangan Egi dengan sopan. Namun, dasar bocah jahil yang memiliki insting sejelas elang, Natan tidak langsung masuk ke dalam rumah. Dia berdiri di samping meja, menatap wajah Egi dari dekat, lalu melirik ke arah Kak Aini dengan senyuman usil yang terkembang sempurna di wajah polosnya.

Natan berbisik, namun dengan volume suara yang sengaja dia keraskan hingga bisa didengar oleh semua orang di teras tersebut.

"Wah... Om Egi aslinya ternyata jauh lebih ganteng dan gagah ya daripada foto profil di WA-nya Kak Aini? Menurut Natan, Om Egi sudah sangat cocok nih kalau mau berubah status jadi calon abang ipar baru Natan, biar Kak Aini tidak melow terus di kamar, hahaha!"

Uhukk!

Bapak Farhan yang sedang menyeruput teh hangatnya seketika tersedak mendengar kepolosan anak bungsunya. Seluruh teras rumah itu seketika pecah oleh tawa riang dari Egi dan kedua orang tua Aini.

Sementara itu, wajah Aini seketika berubah menjadi merah padam semerah kepiting rebus akibat ulah jahil adiknya yang tidak punya filter tersebut.

"Natan! Masuk ke dalam sekarang, mandi!" seru Aini panik dengan suara yang tertahan, matanya melotot tajam mencoba mengusir adiknya, namun gerakannya yang salah tingkah justru membuat Egi tertawa simpul, menatap Aini dengan pandangan mata yang teramat teduh dan sarat akan makna yang tersirat.

Ketika senja mulai merayap naik dan langit Pesisir Selatan mulai dihiasi rona keemasan yang indah, Egi akhirnya berpamitan untuk pulang. Pertemuan sore itu ditutup dengan momen hangat, di mana Bapak Farhan sendiri yang menepuk pundak Egi dengan ramah, sebuah tanda bahwa pria muda itu telah mendapatkan lampu hijau dan rasa hormat yang penuh dari sang kepala keluarga.

Aini berdiri di teras samping Ibu Naya, menatap mobil hitam Egi yang perlahan bergerak menjauh membelah keheningan senja. Di dalam dadanya, ada getaran rasa bahagia yang baru, yang kini akarnya mulai menghunjam kuat dan dalam di dalam jiwanya. Sore itu, Aini menyadari satu pelajaran hidup yang teramat berharga:

Sebab, ketukan pintu dari pria yang benar tidak akan pernah membawa gemuruh ketakutan atau badai yang menyiksa mentalmu. Dia akan datang membawa keteduhan, rasa hormat yang tinggi, dan senyuman yang mampu melahirkan kembali tawa yang sempat mati di dalam rumahmu.

1
falea sezi
🤣🤣 arka arka lu sendiri ketus ehh masak. minta di baikin🤣 ngelunjak lu
Ratika duri: tau nih si arka 😅
total 1 replies
falea sezi
bner g usa ngurus orang g jelas sini 🤭 fokus krja aja biar aja ulet bulu dan si ceo g jelas itu bkin perkarw
falea sezi
lanjut
Ratika duri: oke kak😁
total 1 replies
falea sezi
wanita oon ngapain. g ngajuin cerai sendiri😒 stts gantung emank. enak bloon ya
Ratika duri: sabar kakak ku 😅😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!