Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga-bunga yang tersingkir
Isi tulisan itu seolah menjadi pisau tajam yang merobek perlahan segala harapan yang selama ini ia simpan. Selama ini Amira selalu mencoba berpikir positif, meyakini bahwa Farhan benar-benar mencintainya. Namun, kertas kecil di balik foto itu mematahkan segalanya. Ia bukanlah istri yang dicintai, melainkan sekadar orang yang dipaksa masuk.
Amira duduk lemas di pinggir kasur empuk milik Farhan. Isak tangisnya tertahan di tenggorokan, takut terdengar meski ia tahu Bi Sumi sudah pergi meninggalkannya sendiri. Matanya menelusuri kembali setiap sudut ruangan itu. Di sini, di tempat yang menjadi ruang pribadi suaminya, nama Clarisa terasa ada di mana-mana dalam setiap goresan sketsa, dalam setiap senyum di foto-foto lama, dalam aroma ruangan yang seolah menyimpan kenangan masa lalu mereka.
"Jadi selama ini... aku hanya pengganti?" bisiknya lirih di sela tangis. "Semua kebaikan, semua sikap sopan santun Mas Farhan padaku selama ini... semuanya hanya rasa bersalah? Hanya rasa takut menyakiti?"
Pikiran Amira melayang kembali ke momen-momen singkat kebersamaan mereka. Saat Farhan mengantarnya pulang, saat mereka makan bersama, atau saat laki-laki itu berbicara padanya dengan nada lembut. Selama ini ia mengira itu adalah awal yang baik, tapi nyatanya semua itu hanyalah topeng yang dikenakan Farhan demi menutupi rasa bersalahnya sendiri. Laki-laki itu mencintai orang lain, tapi terikat pernikahan denganya. Dan Amira, tanpa sadar sudah menjadi orang ketiga
Rasa sakit itu berubah menjadi perih yang mengiris hati. Ia memegangi dadanya yang terasa semakin sempit, seolah udara di kamar itu pun menolak keberadaannya. Tulisan di belakang foto itu kembali berputar di kepalanya Aku takut menyakitinya.
"Terlambat, Mas..." gumamnya dengan suara bergetar, air mata semakin deras membasahi pipi. "Kamu sudah menyakitiku,"
Di luar pintu, ternyata Bi Sumi berdiri diam. Ia mendengar samar-samar isak tangis yang tertahan dari dalam kamar. Wanita tua itu menunduk sedih, hatinya ikut perih melihat nasib wanita muda itu.
Perlahan Amira bangkit berdiri. Ia menghapus kasar air matanya, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang masih tersisa. Ia meletakkan kembali foto itu ke tempat semula, seolah tidak pernah disentuh. Namun, rasa perih yang baru saja ia rasa begitu melekat.
Langkah kakinya berat meninggalkan kamar Farhan. Saat pintu tertutup rapat kembali, Amira tahu satu hal dengan pasti pernikahan ini bukanlah sebuah awal kebahagiaan, melainkan sebuah penantian panjang untuk sesuatu yang tidak akan pernah ia dapatkan.
Bi Sumi berdiri seperti sedang menyambut kekalahan Amira. Ia memeluknya erat tanpa kata-kata.
"Bi, makasih ya udah izinin aku masuk ke sini. Tolong jangan kasih tau siapa pun kalau aku pernah masuk ke kamar ini. Aku janji ini yang pertama dan terakhir. Sekali lagi makasih ya, Bi. Tanpa bantuan Bibi, mungkin aku masih berharap pada sesuatu yang tidak mungkin. Aku pulang ya, Bi. Jaga kesehatan Bibi," ucap Amira penuh ketegaran, seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun.
Sedangkan Bi Sumi hanya mengangguk tanpa bertanya apa pun, lalu mengantar Amira keluar dari rumah mewah itu.
Sesampainya di rumah Farhan, Amira mengurung diri untuk menenangkan apa yang baru saja hancur . Ammar dan Amara merasa khawatir, namun kakaknya sudah berpesan bahwa ia ingin istirahat, sehingga mereka pun tidak mengganggu Amira.
Keesokan harinya, Amira sudah terlihat segar. Wajahnya sudah tidak semurung sebelumnya. Ia berniat mengembalikan apa pun yang sebelumnya telah ia ubah. Amira sadar, ia bukanlah pemilik sebenarnya tempat itu.
"Ammar, yang subuh tadi Kakak kirim pesan, kamu udah kasih tahu Pak RT?" tanya Amira.
"Udah, Kak. Kata Pak RT, dia dengan senang hati menerima tanaman bunga Kakak untuk ditaruh di taman komplek. Kebetulan taman itu baru diperbaiki dan tanamannya masih sedikit," ucap Ammar.
"Alhamdulillah, kalau begitu jadi nggak mubazir. Nanti Pak RT mau ambil jam berapa?"
"Jam sepuluhan, Kak. Sekitar satu jam lagi."
Amira mengangguk. "Ya udah, nanti bantuin Kakak keluarin bunga-bunganya, ya."
"Iya, Kak."
Amira berjalan masuk ke taman belakang dan taman depan rumah Farhan. Bunga-bunga yang selama ini ia rawat dengan penuh kebahagiaan, kini harus ia relakan karena tempat ia memelihara bunga-bunga ini bukanlah miliknya.
"Kalian pasti senang di tempat baru. Sinar mataharinya lebih hangat daripada di sini," ucap Amira tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. Bagaimana tidak? Bunga-bunga yang ia tanam mulai dari benih hingga kini sudah berbunga cantik, namun siapa sangka, tidak semua orang menyukai keindahan.
Ammar melihat adegan kakaknya yang berbicara dengan bunga-bunga. Di dalam hatinya, ia bertekad suatu saat nanti akan mengembalikan apa yang pernah hilang, seperti bunga-bunga ini.
Tak lama kemudian, Pak RT datang bersama beberapa warga yang memang sedang bergotong royong pada hari Minggu itu. Mereka membawa tiga gerobak untuk mengangkut bunga-bunga milik Amira.
"Mbak Amira, saya mau ambil bunga-bunga yang tadi pagi Ammar sampaikan ke saya," ucap Pak RT.
"Oh, iya, Pak. Itu bunga-bunganya udah saya keluarin, tinggal dibawa aja," ucap Amira.
"Baik, Mbak." Saat masuk ke halaman depan rumah Farhan, Pak RT terkejut melihat bunga-bunga yang begitu banyak dan cantik.
"Lho, Mbak, banyak sekali. nggak sayang kalau diberikan gitu aja? Saya beli aja ya, tapi dengan harga wajar. Kebetulan taman komplek tanamannya masih sedikit," ucap Pak RT dengan rasa sungkan. Bunga-bunga Amira terlihat bagus dan terawat bisa dipastikan jumlahnya ada lebih dari 50 pot.
"Nggakusah, Pak RT. Dibawa saja semuanya. Hari ini selesai, kan, ya?"
"Kalau begitu, saya sangat berterima kasih. Insya Allah selesai, Mbak. Nanti saya minta bantuan warga untuk bawa mobil pikap, kalau pakai gerobak akan memakan waktu lama. Oiya, kenapa bunga-bunganya dihibahkan, Mbak?"
"Hmm, saya mau kerja, Pak RT. Jadi nanti saya akan sibuk dan tidak bisa merawat bunga-bunga ini. Daripada mati karena tidak terawat, lebih baik saya berikan saja. Di taman komplek ada yang mengurus, kan, Pak RT?"
"Oh, begitu rupanya. Baiklah, saya mengerti. Komplek kita punya tukang kebun, Mbak. Insya Allah bunga-bunga Mbak akan kami rawat dengan baik. Sekali lagi terima kasih ya, Mbak."
"Dengan senang hati, Pak RT. Semoga bermanfaat."
Sebelum waktu Zuhur, taman bunga milik Farhan sudah kembali seperti semula. Tidak ada lagi bunga-bunga hias, yang tersisa hanyalah tanaman hijau asli milik Farhan. Amira menarik napas lega.
"Bertahap saja. Aku balikin keadaan rumah ini seperti semula," batinnya.
Ia pun merasa penasaran dengan respons Farhan nanti setelah pulang ke rumah.