NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Namun entah kenapa kakinya terasa berat mendekat. Amira mengetuk pintu pelan. “Nurul?”

Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi. “Nurul… ini aku.”

Sunyi. Tetapi beberapa detik kemudian terdengar suara benda jatuh dari dalam rumah.

Brak. Lalu suara langkah tergesa. Amira langsung mengernyit. “Nurul?”

Tak lama kemudian pintu terbuka sedikit. Dan di sana Nurul berdiri dengan wajah pucat. Jilbabnya tidak rapi. Napasnya sedikit memburu. “Mi… Mira?”

Amira langsung bingung melihat sahabatnya. “Kamu kenapa?”

“Eh, enggak…” Nurul cepat-cepat membetulkan jilbabnya. “Kaget aja.”

Tatapan Amira otomatis bergerak ke dalam rumah. Dan tepat saat itu ia melihat sosok laki-laki keluar dari arah dapur. Tubuh Amira langsung membeku. Mirza.

Suaminya sendiri juga berhenti melangkah begitu melihat Amira berdiri di depan pintu. Wajah lelaki itu langsung berubah. Pucat. Sangat pucat.

Ruangan mendadak terasa sunyi. Tak ada yang bicara. Amira memandang sandal di teras. Lalu memandang Mirza. Lalu Nurul. Dan perlahan sesuatu di dadanya seperti runtuh begitu saja.

“Mas…” Suara Amira keluar sangat pelan.

Mirza buru-buru mendekat. “Mira, dengar dulu,”

Namun Amira mundur setengah langkah. Tatapannya mulai bergetar. “Apa yang Mas lakukan di sini?”

“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.” Kalimat itu. Kalimat paling klise yang selalu Amira dengar dari cerita orang-orang. Dan sekarang suaminya sendiri yang mengucapkannya.

Nurul langsung ikut panik. “Mira, sumpah, bukan begitu,”

“Diam!” Untuk pertama kalinya Amira membentak. Air matanya langsung jatuh begitu saja. Dadanya sesak sampai sulit bernapas. Baru seminggu ia pergi. Baru seminggu ia berusaha bertahan dari kehilangan anak mereka. Dan saat ia pulang ia justru menemukan suaminya di rumah perempuan lain. Rumah sahabatnya sendiri.

“Mira, kamu salah paham.” Mirza melangkah mendekat dengan wajah panik. “Sumpah, ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Amira menatap suaminya dengan napas gemetar. Kalau memang tidak ada apa-apa kenapa mereka terlihat sekaget itu saat melihat dirinya? Kenapa Nurul tampak berantakan? Kenapa Mirza ada di sini diam-diam? “Kamu ngapain di rumah Nurul, Mas?” suara Amira pecah. “Ibu katanya ke pasar.”

Mirza cepat menjawab, terlalu cepat. “Aku tadi cuma, cuma bantu Nurul benerin rak dapur.”

“Benerin rak?” Air mata Amira makin deras. “Sampai pintunya dikunci?”

“Itu karena,”

“Mirza.” Suara Nurul tiba-tiba memotong. Ruangan langsung sunyi. Nurul berdiri di dekat pintu dengan wajah pucat, tetapi matanya mulai berubah. Tidak lagi sepanik tadi. Justru seperti seseorang yang lelah bersembunyi.

Mirza langsung menoleh tajam.“Nurul, jangan!”

Tetapi perempuan itu sudah lebih dulu bicara. “Mira…” Suaranya pelan. Dan justru itu yang membuat hati Amira semakin tidak tenang. “Aku capek bohong.”

Mirza langsung mendekat cepat. “Nurul!”

“Apa gunanya disembunyikan lagi?” lanjut Nurul sambil menahan napas gemetar. “Kamu juga tahu cepat atau lambat Amira bakal tahu. Toh kamu harus bertanggung jawab, kan!"

Wajah Mirza berubah keras. “Saya bilang diam!”

Namun Nurul malah menatap Amira langsung. Tatapan yang membuat jantung Amira seperti jatuh sedikit demi sedikit. “Aku sama Mas Mirza…” suara Nurul mulai bergetar. “Memang ada hubungan.”

Kalimat itu membuat dunia Amira seperti berhenti. Ia memandang Nurul tanpa berkedip. Berharap perempuan itu menarik kembali ucapannya. Bilang kalau semua ini cuma bercanda buruk.

Namun Nurul justru mulai menangis. “Maaf…”

Amira perlahan menoleh pada Mirza. Dan lelaki itu tidak membantah. Tidak ada penolakan. Tidak ada kemarahan karena dituduh. Hanya wajah panik dan napas berat seperti seseorang yang ketahuan menyimpan dosa besar.

Seketika lutut Amira terasa lemas. “Sejak kapan…?” bisiknya nyaris tak terdengar.

Mirza buru-buru maju ingin memegang tangannya. “Mira, dengar dulu,”

Amira langsung menarik tangannya kasar. “Jangan sentuh aku!” Suara itu pecah bersama tangis yang akhirnya tak terbendung lagi. “Sejak kapan?!”

Mirza memejamkan mata sebentar.

Sementara Nurul justru menjawab pelan, “Sebelum kalian menikah.”

Amira langsung membeku. Sebelum menikah? Artinya selama ini? Air mata Amira jatuh makin deras. Dadanya sakit sekali sampai rasanya sulit berdiri. “Mas…” suaranya benar-benar hancur sekarang. “Aku ini apa buat Mas?”

Mirza terlihat frustrasi. “Aku memang pernah dekat sama Nurul dulu, tapi setelah nikah semuanya berubah.”

Nurul tertawa kecil pahit sambil menangis. “Berubah?” Tatapannya langsung menusuk ke Mirza. “Kalau berubah, kenapa kamu masih datang ke sini? Kenapa kamu tiduri aku!

“Nurul, cukup!” Suara Mirza meninggi untuk pertama kalinya. Wajahnya terlihat benar-benar panik sekarang.

Namun Nurul justru seperti kehilangan kendali. Air matanya terus jatuh sambil menatap Amira dengan wajah penuh rasa bersalah. “Aku enggak mau bohong lagi. Amira itu sahabatku. Aku ga bisa bohongi dia terus!"

Amira hanya berdiri mematung. Tubuhnya dingin. Pikirannya seperti berhenti bekerja sejak tadi.

Sampai Nurul kembali berkata dengan suara gemetar, “Kami… sudah beberapa kali berhubungan badan."

Kalimat itu menghantam Amira telak. Napasnya langsung tersendat. Ia menatap Nurul seolah tidak memahami kata-kata yang baru saja didengarnya.

Sementara Mirza tampak langsung pucat. “Nurul, diam!”

Tetapi semuanya sudah terlambat. Nurul menangis semakin keras. “Dan aku sekarang hamil…” Suara itu nyaris pecah. “Anaknya Mas Mirza.”

Dunia Amira runtuh seketika. Kakinya goyah. Ia spontan berpegangan ke dinding dekat pintu karena tubuhnya mendadak kehilangan tenaga.

“Mi, Mira!” Mirza langsung bergerak cepat ingin menahan tubuh istrinya yang hampir jatuh.

Namun Amira langsung menepis tangannya keras. “Jangan sentuh aku!” Tangisnya pecah begitu menyakitkan sampai suaranya serak. Dadanya terasa sesak luar biasa. Baru seminggu lalu ia kehilangan anak mereka. Baru seminggu lalu ia menangis sendirian di rumah sakit sambil memikirkan suaminya. Dan sekarang lelaki itu justru memberi anak pada perempuan lain. Pada sahabatnya sendiri.

Amira memegang dadanya kuat-kuat seperti ingin menghentikan rasa sakit yang menghancurkan bagian dalam dirinya. “Kenapa…” suaranya gemetar hebat. “Kenapa kalian lakukan ini ke aku?”

Nurul menutup wajahnya sambil menangis. “Maaf…”

“Jangan minta maaf!” Amira berteriak sambil menangis. “Aku percaya sama kamu, Nurul!” Tubuhnya mulai gemetar hebat. Pandangannya kabur karena air mata.

Mirza kembali mencoba mendekat dengan wajah penuh penyesalan. “Mira, dengar dulu…”

“Apa lagi yang harus didengar?!” Amira menatap suaminya dengan mata merah penuh luka. “Kalian tidur bersama sampai punya anak!”

Mirza tampak kehilangan kata. Dan diamnya lelaki itu justru menjadi jawaban paling menyakitkan.

Amira menggeleng pelan berkali-kali. Seolah tidak sanggup menerima kenyataan di depannya. “Ya Allah…” Bisiknya lirih.

Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Amira berbalik pergi dengan langkah limbung.

“Mira!” Mirza mengejar.

Namun Amira kembali menepis tangan lelaki itu saat hendak memegangnya. “Jangan dekati aku…” suaranya hancur. “Aku jijik…”

Amira berjalan keluar dari rumah Nurul dengan langkah berantakan. Air matanya jatuh tanpa henti. Dadanya terasa sesak sampai napasnya berbunyi patah-patah. Ia bahkan tidak tahu bagaimana kakinya masih mampu melangkah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!