Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Tapi saya punya syarat," ucap Sagara tegas.
"Katakan, apa syaratmu?"
"Pertama, hubungan palsu ini hanya di depan keluarga Anda. Jangan melibatkan saya terlalu jauh dalam kehidupan pribadi Anda."
Nara mengangguk cepat.
"Kedua, jangan lagi memberi saya hadiah mahal tanpa izin."
Nara sempat mengerucutkan bibirnya pelan, tetapi akhirnya ia mengangguk.
"Dan yang terakhir ...." Sagara menatapnya serius. "Setelah semua urusan selesai, Anda harus berhenti datang mengacaukan hidup saya."
Syarat terakhir yang Sagara ucapkan membuat senyum Nara perlahan memudar tipis. Entah kenapa, mendengar kalimat itu justru membuat dadanya terasa aneh. Namun, beberapa detik kemudian, wanita itu kembali memasang senyum santainya.
"Baik," jawabnya ringan. "Aku janji." Padahal dalam hati, ia sendiri tidak yakin bisa benar-benar menepati janji itu.
Malam semakin larut saat percakapan mereka akhirnya mencapai kesepakatan. Warung bakso pinggir jalan itu mulai sepi. Hanya tersisa suara samar speaker kecil milik penjual dan bunyi kendaraan yang sesekali melintas di jalan raya.
Nara menyandarkan tubuhnya pelan pada kursi plastik. Setelah satu bulan lamanya, kini napasnya terasa sedikit lega. Akhirnya, pria keras kepala di depannya itu benar-benar setuju, meski dengan banyak syarat.
Sagara berdiri lebih dulu setelah membayar makanan mereka. "Saya antar pulang. Anda bisa mengirim sopir Anda untuk mengambil mobil di kontrakan saya nanti," ucapnya datar.
Nara ikut bangkit perlahan. Sudut bibirnya kembali terangkat tipis padahal Sagara hanya mengucapkan kalimat sederhana. Namun, bagi Nara itu sudah cukup membuat suasana hatinya membaik.
Keduanya berjalan keluar dari warung. Udara malam terasa dingin saat Sagara mengenakan helmnya.
Motor pria itu kembali melaju membelah jalanan kota. Kali ini suasana di antara mereka berbeda. Tidak secanggung sebelumnya.
Nara duduk tenang di belakang Sagara sambil memandangi lampu-lampu kota yang berjejer di sepanjang jalan. Sesekali angin malam membuat rambutnya berantakan, tetapi anehnya ia justru menikmati perjalanan itu.
Sudah lama sekali ia tidak merasa setenang ini. Sagara sendiri tampak fokus menyetir. Namun, pikirannya jelas tidak benar-benar tenang. Ia masih tidak habis pikir bagaimana hidupnya bisa berubah sejauh ini hanya karena menolong seorang wanita beberapa waktu lalu.
Kini ia malah terjebak dalam sandiwara menjadi kekasih pewaris keluarga Dhanubrata. Dan lebih parahnya lagi, ia baru saja menyetujuinya.
Motor itu akhirnya berhenti di depan apartemen mewah milik Nara. Lampu-lampu gedung tinggi itu menyala terang di tengah malam. Sangat berbeda dengan gang sempit tempat Sagara tinggal.
Nara turun perlahan lalu melepas helmnya. Tatapannya langsung tertuju pada Sagara yang masih duduk di atas motor. "Jadi mulai sekarang," ucap Nara pelan. "Kau resmi jadi kekasihku?"
Sagara langsung memijat pelipisnya pelan seolah sudah lelah lebih dulu menghadapi semuanya. "Pacar pura-pura," koreksinya cepat.
Nara malah tertawa kecil. "Iya, iya. Pacar pura-pura."
Sagara menghela napas panjang. "Saya serius, Nona. Jangan sampai sandiwara ini semakin berbuntut panjang."
"Kalau ternyata semakin berbuntut panjang, bagaimana?"
Sagara langsung menatap tajam. "Nona."
Nara terkekeh kecil melihat ekspresi pria itu. "Oke, aku bercanda."
Suasana kembali hening sejenak.
Lalu tanpa diduga, Nara melangkah sedikit mendekat ke arah motor Sagara. "Terima kasih," ucapnya kali ini lebih pelan dan tulus.
Mendengar itu, Sagara terlihat sedikit terdiam. Baru kali ini, sejak pertama kali mengenal wanita itu. Nara terdengar tidak memerintah, mengancam, ataupun menggodanya. Wanita itu benar-benar berterima kasih.
Namun, sebelum Sagara sempat menjawab, Nara sudah lebih dulu berbalik menuju pintu apartemen. "Besok aku akan menghubungimu lagi," ucapnya tanpa menoleh lagi. "Kakekku ingin segera bertemu."
Sagara hanya menghembuskan napas pasrah. Ia merasa hidup tenangnya benar-benar akan berakhir.
Keesokan paginya, suasana kantor Dhanubrata Group terasa sedikit berbeda.
Nara yang biasanya datang dengan wajah dingin dan langkah tergesa hari itu justru terlihat jauh lebih santai. Bahkan saat keluar dari lift khusus petinggi perusahaan beberapa karyawan yang berpapasan sempat melirik bingung karena wanita itu terlihat lebih cerah dari biasanya.
Tiwi yang sejak tadi berada di dalam ruangan direktur tengah menyiapkan tumpukan berkas pun ikut terkejut begitu melihat atasannya masuk. "Selamat pagi, Nona," sapanya cepat.
"Pagi juga, Tiwi," jawab Nara ringan sambil meletakkan tasnya di atas sofa.
Tiwi langsung berkedip pelan. Ia merasa sedikit aneh, satu bulan belakangan Nara hampir tidak pernah membalas sapaannya, wanita itu paling hanya mengangguk tipis.
Tatapan Tiwi otomatis mengikuti gerak-gerik Nara hingga akhirnya wanita itu duduk santai di kursi kebesarannya.
"Jadi apa saja jadwalku hari ini?" tanya Nara sambil membuka tablet kerjanya.
Tiwi yang sempat melamun langsung tersadar. "Hari ini Anda dijadwalkan memimpin rapat internal sampai siang. Setelah itu meninjau pabrik baru bersama Ibu Diah hingga sore, lalu selanjutnya ...."
"Batalkan jadwalku sore ini," potong Nara tiba-tiba.
Tiwi mengernyit. "Nona hanya ingin menghadiri rapat dan kunjungan pabrik?"
"Iya."
"Tapi sore ini Nona harus pergi ke salon dan malamnya, Anda sudah dijadwalkan makan malam bersama Tuan Samudra."
Nara langsung menghela napas panjang mendengar nama itu. "Batalkan makan malam itu."
Tiwi langsung membelalak panik. "Nona! Kalau Tuan besar tahu ...."
"Biarkan saja kakek tahu," potong Nara cepat. "Karena justru aku yang akan menemui beliau besok siang."
Tiwi terdiam. Namun, dalam benaknya ia merasa khawatir. Jadwal makan malam itu Tuan besar sendiri yang menentukannya. Bahkan Pria itu sendiri yang secara langsung menghubunginya untuk mengatur jadwal Nara malam ini.
"Nona ...," ucapnya pelan.
"Kau tidak perlu khawatir. Kakek tidak akan marah padamu," potong Nara lagi.
Tiwi kembali terdiam, lalu beberapa detik kemudian matanya perlahan membulat seolah baru menyadari sesuatu. "Nona ...," ucapnya penuh curiga. "Jangan bilang ...."
Sudut bibir Nara langsung terangkat tipis. "Aku akan pergi menemui kakek bersama Sagara."
Kalimat itu sukses membuat Tiwi membeku di tempat. "Dia sudah setuju?" tanyanya tidak percaya.
Nara menyandarkan tubuhnya santai. "Dengan sedikit paksaan dan situasi yang mendukungku," jawabnya ringan.
Tiwi refleks menatap iba ke arah langit-langit ruangan. "Kasihan sekali montir tampan itu ...."
Nara menaikkan sebelah alisnya. "Kau membelanya?"
"Bukan begitu, Nona." Tiwi berdehem pelan. "Hanya saja ... sepertinya hidup pria itu memang tidak akan tenang lagi setelah mengenal Anda."
"Maksudmu?" tanya Nara tak mengerti.
"Maksud saya ... bagaimana jika Tuan Besar tahu siapa sebenarnya Sagara? Tuan pasti ...."
"Aku tidak peduli," potong Nara cepat.
Tiwi langsung menunduk diam. "Maaf, Nona. Saya hanya khawatir," ucapnya pelan merasa tidak enak.
"Aku sendiri yang akan mengurusnya nanti," jawab Nara tenang. Setelah itu ia kembali menatap layar tabletnya seolah pembicaraan tadi bukan masalah besar.
Beberapa detik kemudian, Nara kembali bersuara. "Oh ya, tolong hubungi restoran langganan kita."
Tiwi segera mengangkat kepala. "Baik, Nona."
"Minta mereka mengirim paket makan siang lengkap untuk satu RT."
Kalimat itu sukses membuat Tiwi kembali terdiam. "Sa-satu RT?" ulangnya memastikan dirinya tidak salah dengar.
Nara mengangguk santai tanpa mengalihkan pandangannya dari tabletnya. "Iya."
"Untuk Siapa?"
Sudut bibir Nara perlahan terangkat tipis. "Untuk tetangga Sagara."
Tiwi langsung membelalak tidak percaya. "Nona serius?"
"Tentu saja." Nara menyandarkan tubuhnya santai di kursi. "Mereka sudah membantuku semalam."
Tiwi akhirnya paham. Ia yakin terjadi sesuatu di sana yang melibatkan para tetangga Sagara hingga akhirnya tujuan atasannya itu berhasil tercapai.
Tiwi sendiri sampai tidak tahu harus kagum atau takut melihat cara berpikir atasannya itu.
"Kirimkan juga camilan dan minumannya juga," lanjut Nara ringan. "Anggap saja hadiah Terima kasih."
Tiwi tersenyum kaku. "Kalau pria itu tahu semua tetangganya tiba-tiba dikirimi makanan sebanyak itu, saya rasa dia langsung pusing lagi, Nona."
Nara justru terkekeh kecil. "Biar saja. Lagipula dia sulit menolak jika hadiah itu tidak ditujukan langsung untuknya."
*****bersambung.
kira2 surat epa ya yg pengen dikasih ibunya viola? surat tentang kebenaran kekuarga sagara atau apa?
akhirnya sudah lebih jauh sagara masuk ke konflik para eksekutif, padahal dia cuma ingin menikmati hidupnya yg sederhana