NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24 lorong keputusasaan dan lahirnya lengan logam Abadi

Suara dentuman gerbang besi raksasa yang tertutup di belakang punggungnya bergema layaknya palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Cahaya dari dua matahari Dunia Tengah terputus sepenuhnya, digantikan oleh kegelapan pekat yang hanya sesekali diterangi oleh lumut fosfor berwarna hijau pudar di dinding gua.

Lin Chen berdiri diam selama beberapa menit, membiarkan matanya beradaptasi dengan transisi cahaya yang ekstrem. Udara di dalam Tambang Batu Hitam sangat berbeda dengan udara gurun di luar. Di sini, oksigennya begitu tipis, digantikan oleh gas belerang beracun dan Miasma Abadi yang tebal. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serbuk kaca yang dicampur dengan cuka.

Ia menekan dada kanannya menggunakan tangan kirinya. Tiga tulang rusuknya yang patah bergesekan satu sama lain, mengirimkan gelombang rasa sakit yang membuat pandangannya sesaat berkunang-kunang. Lengan kanannya masih tergantung kaku tanpa nyawa di balik jubah. Pertarungan beruntun di Koloseum Jalur Darah telah menguras sembilan puluh persen cadangan energinya.

Lin Chen mulai melangkah turun menyusuri tangga batu alami yang melingkar ke arah perut bumi. Di tingkat-tingkat awal tambang, ia bisa mendengar suara dentingan beliang yang beradu dengan batu. Itu adalah suara para budak yang bekerja tanpa henti di bawah cambukan para pengawas. Lin Chen menekan hawa keberadaannya menggunakan *Selubung Bayangan*, bergerak bagai hantu menyelinap melewati pos-pos penjagaan. Segel Penambang Bebas di sakunya memberinya akses legal, namun dalam kondisinya yang sekarat, menunjukkan diri sama saja dengan mengundang perampokan dan pembunuhan.

Tiga jam ia terus menuruni kedalaman tambang. Suhu udara semakin meningkat, sementara suara para penambang perlahan menghilang. Ia telah melewati zona aman. Kini, ia memasuki wilayah perantara menuju Jurang Kehampaan.

Tiba-tiba, kaki Lin Chen terhuyung. Ia harus bersandar pada dinding batu yang lembap. Batuk hebat menyerangnya, dan ia memuntahkan segumpal darah hitam yang bercampur dengan jaringan paru-paru yang rusak. Racun miasma mulai menembus pertahanan *Napas Karang Esensi* miliknya yang melemah.

Layar cahaya holografik biru berpendar di tengah kegelapan tambang, menerangi wajahnya yang pucat pasi dengan cahaya dingin.

**[Kondisi Kritis Terdeteksi: Kegagalan Organ Internal Akut.]**

**[Peringatan: Berjalan sejauh satu mil lagi dalam kondisi ini akan menyebabkan jantung Anda berhenti berdetak.]**

**[Silakan tentukan metode kelangsungan hidup Anda:]**

**[Pilihan 1: Temukan celah persembunyian di sekitar sini. Gunakan sisa Salep Akar Giok dan meditasi statis selama 12 jam untuk menyambung tulang rusuk dan menstabilkan racun miasma.

Hadiah: Kelangsungan hidup terjamin. Anda kehilangan waktu berharga. Predator tambang atau Penambang Bebas lainnya mungkin menyusul posisi Anda.]**

**[Pilihan 2: Terobos lurus memotong rute melalui Sungai Asam Bawah Tanah yang mematikan untuk menghemat jarak.

Hadiah: Waktu tempuh terpangkas 80%. Risiko terjatuh karena kelelahan dan tubuh Anda hancur meleleh tanpa sisa mencapai 95%.]**

**[Pilihan 3: Gunakan teknik terlarang 'Pembakaran Esensi Darah' untuk mematikan seluruh saraf rasa sakit selama 2 jam dan paksakan diri berlari ke dasar Jurang Kehampaan.

Hadiah: Kecepatan maksimal sementara. Efek samping: Setelah 2 jam, Anda akan lumpuh total selama seminggu penuh.]**

Lin Chen membaca ketiga opsi tersebut dengan tatapan redup namun rasional. Di masa lalu, ketika ia berada di puncak kebugarannya, ia mungkin akan mengambil risiko gila seperti Pilihan 3. Namun saat ini, ia adalah seorang rasionalis berdarah dingin. Ia mengkalkulasi kondisinya. Masuk ke dasar Jurang Kehampaan dalam keadaan lumpuh total setelah dua jam adalah tindakan yang lebih bodoh daripada bunuh diri. Mengambil rute ekstrem (Pilihan 2) dengan tubuh yang kehilangan keseimbangan akibat satu lengan cacat adalah bunuh diri konyol.

Terkadang, langkah paling berani adalah mengakui batas kefanaan tubuh sendiri.

"Pilihan pertama," batin Lin Chen tajam. Ia menolak ego untuk terus maju, memilih jalan kesabaran.

Layar biru memudar. Lin Chen segera mencari ceruk sempit di balik sebuah stalagmit raksasa. Ceruk itu cukup dalam untuk menyembunyikan tubuhnya dari pandangan utama lorong. Ia duduk bersila, melepaskan jubah atasnya dengan susah payah menggunakan satu tangan.

Ia mengambil botol giok kecil berisi sisa Salep Akar Giok dari Shen Yu, lalu mengoleskannya langsung ke atas kulit dadanya yang memar hitam di atas rusuk yang patah. Rasa dingin yang menusuk perlahan menenangkan peradangan.

Ia memejamkan mata. Selama dua belas jam berikutnya, Lin Chen menjadi patung batu. Ia menekan ritme detak jantungnya hingga nyaris tidak terdengar. *Metode Bintang Pudar* bekerja perlahan, menyaring Miasma Abadi yang beracun, memisahkannya dari Qi murni, dan mengalirkannya ke rongga dada. Perlahan tapi pasti, serpihan tulang rusuknya mulai bergerak merapat. Ia tidak bisa menyembuhkannya seratus persen tanpa pil tingkat dewa, namun ia berhasil menstabilkannya agar tidak menusuk organ dalamnya saat bergerak.

Dua belas jam berlalu. Lin Chen membuka matanya. Rasa sakit yang mematikan kini berubah menjadi rasa ngilu yang tertahankan. Staminanya pulih sekitar empat puluh persen.

Ia kembali berdiri, mengenakan jubahnya, dan melanjutkan perjalanan turun.

Semakin dalam ia melangkah, struktur bebatuan berubah dari obsidian hitam menjadi formasi kristal berwarna merah darah yang memancarkan panas. Bau belerang tergantikan oleh bau logam cair. Ia telah tiba di batas atas Jurang Kehampaan.

Area ini tidak memiliki jalan setapak. Di depannya, sebuah jurang tak berdasar menganga lebar. Jembatan-jembatan alami berupa rantai batu raksasa saling menyilang di atas lautan magma yang berjarak ratusan meter di bawah. Udara di sini sangat berat dan panas, cukup untuk membuat senjata besi biasa meleleh menjadi cairan.

Lin Chen mulai meniti salah satu jembatan batu raksasa tersebut. Langkahnya tidak lagi diseret, melainkan ringan dan penuh kewaspadaan.

Tiba-tiba, indranya menangkap sebuah fluktuasi energi yang sengaja disembunyikan di balik sebuah pilar kristal besar sekitar dua puluh meter di depannya.

*SRAKK!*

Sebuah anak panah yang terbuat dari Qi hitam pekat melesat membelah udara, mengincar tepat ke arah tenggorokan Lin Chen.

Pemuda itu memiringkan kepalanya ke kiri. Anak panah itu berdesing melewati telinganya dan menghancurkan batu di belakangnya. Jika ia tidak menghabiskan waktu dua belas jam untuk memulihkan refleksnya, panah itu pasti sudah menembus lehernya.

Dari balik pilar kristal, melangkah keluar seorang pria bertubuh kurus kering dengan kulit seputih mayat. Salah satu matanya ditutupi oleh penutup logam hitam. Ia mengenakan zirah kulit buaya gurun dan memegang sebuah busur panah hitam besar. Fluktuasi energinya berada di ambang batas Tahap Transformasi Fana Puncak, hanya selangkah lagi menuju True Immortal.

"Sayang sekali. Refleks yang bagus untuk seorang pria cacat," kekeh pria itu dengan suara serak. Ia adalah 'Mata Besi' Jiao, seorang Penambang Bebas veteran yang terkenal suka membunuh sesama penambang untuk merampas hasil buruan mereka.

Jiao menatap Lin Chen dengan tatapan menilai. "Aku menonton pertarunganmu di Jalur Darah dari atas balkon, Iblis Satu Tangan. Kau memang monster yang menakjubkan. Mengalahkan Kui adalah prestasi yang tidak bisa kulakukan. Namun, aku juga melihatmu keluar dari arena dengan tubuh yang hancur lebur. Kau membuang waktumu dengan bersembunyi selama dua belas jam di atas sana. Kini, kau tidak memiliki sisa tenaga untuk bertarung melawanku."

Lin Chen menatap pria itu dengan tenang. Posisi mereka sangat berbahaya. Jembatan batu ini hanya selebar dua meter. Jiao adalah petarung jarak jauh, sementara ia membutuhkan jarak dekat. Jika ia memaksakan diri menggunakan *Langkah Bayangan Iblis*, kakinya bisa tergelincir, atau Jiao bisa menghancurkan pijakannya, mengirimnya jatuh ke dalam magma.

Layar cahaya biru berdenting tajam, merespons kebuntuan mematikan ini.

**[Situasi Penyergapan Terdeteksi: Pertempuran di Atas Jurang.]**

**[Musuh: 'Mata Besi' Jiao (Transformasi Fana Puncak - Petarung Jarak Jauh). Keadaan Anda: Tidak menguntungkan secara posisi.]**

**[Silakan tentukan taktik perlawanan Anda:]**

**[Pilihan 1: Paksa penggunaan 'Langkah Bayangan Iblis' dan serang secara frontal.

Hadiah: Anda berhasil mendekat, namun musuh akan meledakkan jembatan batu. Anda berdua akan jatuh ke dalam magma. Kematian bersama.]**

**[Pilihan 2: Manfaatkan lingkungan dan manipulasi psikologis. Gunakan reputasi 'Iblis' Anda untuk menggertaknya. Saat ia ragu, ledakkan gas miasma di sekitar kalian menggunakan sisa energi fana Anda sebagai pengalih perhatian, lalu serang titik butanya.

Hadiah: Kemenangan taktis. Hemat stamina. Musuh tewas dengan cepat. Anda mendapatkan busur dan kantong penyimpanan musuh.]**

**[Pilihan 3: Gunakan telapak tangan kiri Anda untuk menciptakan pusaran penyerap dan tahan semua anak panahnya. Berjalan perlahan menembus serangannya.

Hadiah: Anda terlihat sangat epik dan menakutkan. Risiko lengan kiri Anda hancur akibat kelebihan beban serangan jarak jauh mencapai 85%.]**

Sistem kembali memberikan opsi yang bervariasi. Pilihan pertama adalah kebrutalan bodoh yang sering ia gunakan saat berada di tanah datar, namun di atas jembatan maut ini, gravitasi adalah musuh utama. Pilihan ketiga terlalu berisiko; jika lengan kirinya hancur, ia akan kehilangan kedua lengannya sebelum menemukan esensi logam. Pilihan kedua menawarkan perpaduan antara kecerdasan, pemanfaatan reputasi yang telah ia bangun dengan susah payah, dan efisiensi mematikan.

"Pilihan kedua," batin Lin Chen tenang.

Layar menghilang. Lin Chen tidak mengubah posturnya sama sekali. Alih-alih memasang kuda-kuda bertarung, ia membiarkan lengan kirinya tergantung santai di sisinya. Mata hitamnya yang mengintip dari balik topeng besi menatap Jiao dengan tatapan merendahkan yang sangat absolut.

"Kau menonton pertarunganku di arena," suara Lin Chen bergema pelan, memantul di dinding jurang. Nada suaranya sangat tenang, sama sekali tidak terdengar seperti orang yang sedang sekarat. "Kalau begitu, kau pasti melihat bagaimana aku membiarkan Kui menghantamku hanya untuk memastikan ia tidak bisa melarikan diri."

Jiao mengerutkan keningnya. Tangannya yang menarik tali busur sedikit mengendur. Reputasi gila Iblis Satu Tangan memang membekas di benaknya.

Lin Chen mengambil satu langkah pelan ke depan. "Kau mengira aku bersembunyi selama dua belas jam karena aku lemah? Aku hanya sedang menunggu darah Kui yang kuminum untuk menyatu dengan meridianku. Jika kau berpikir anak panah mainanmu bisa membunuhku, lepaskanlah. Aku akan membiarkan anak panahmu menembus dadaku, hanya agar aku bisa berada cukup dekat untuk mencabut jantungmu dengan tanganku sendiri."

Kata-kata itu diucapkan dengan keyakinan yang begitu mengerikan, membuat Jiao merasa merinding. Niat membunuh Lin Chen menguar, beresonansi dengan Miasma Abadi di sekitarnya. Psikologis Jiao sebagai seorang oportunis pengecut mulai goyah. Ia tidak terbiasa menghadapi mangsa yang tidak takut mati.

"G-gertakan kosong!" teriak Jiao, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Ia kembali menarik tali busurnya hingga maksimal.

Itulah momen yang ditunggu Lin Chen.

Saat fokus Jiao terpecah oleh keraguan dan kemarahan, Lin Chen menjentikkan jari telunjuk kirinya. Ia melepaskan sepercik energi panas (Yang) yang sangat tipis namun padat, mengarahkannya bukan ke Jiao, melainkan ke arah gumpalan gas miasma tebal yang menggantung di sisi kiri tubuh Jiao.

*BOOOM!*

Gas beracun yang sangat mudah terbakar itu meledak di udara, menciptakan tirai api dan asap hijau yang membutakan sisi kiri Jiao.

Ledakan itu mengejutkan Jiao. Fokusnya hancur. Ia secara refleks melompat ke sisi kanan untuk menghindari api, melepaskan anak panahnya secara acak ke arah yang salah.

Celah sekecil itu sudah lebih dari cukup bagi Lin Chen.

*Langkah Bayangan Iblis!*

Tanpa mengeluarkan suara langkah di atas jembatan batu, Lin Chen melesat menembus kepulan asap. Ia muncul tepat di belakang Jiao yang sedang mendarat dengan tidak seimbang. Tangan kiri Lin Chen yang memancarkan pusaran Yin-Yang telah siap.

*Telapak Penghancur Bintang.*

Lin Chen mendaratkan telapak tangannya tepat di tulang belikat punggung Jiao.

*BZZZTTT!*

Energi destruktif itu melesak masuk. Jiao tidak sempat mengeluarkan suara jeritan. Jantung dan paru-parunya meledak di dalam tubuhnya. Mulutnya terbuka lebar memuntahkan darah segar yang seketika menguap terkena panas udara jurang.

Tubuh kurus Jiao membeku, lalu ambruk tergeletak di atas jembatan batu, tak bernyawa.

**[Pilihan 2 Diselesaikan. Kemenangan taktis diraih. Anda selamat dengan efisiensi maksimal.]**

Lin Chen menghela napas pendek. Ia merunduk, mengambil kantong penyimpanan milik Jiao dan menendang busurnya ke dalam lautan magma. Busur itu tidak berguna baginya. Ia menendang mayat Jiao dari atas jembatan, membiarkan tubuh pria itu jatuh dan ditelan oleh lahar panas tanpa sisa. Di dasar jurang ini, tidak ada tempat untuk meninggalkan jejak.

Perjalanan berlanjut. Tidak ada lagi penyergapan yang ia temui. Para monster tampaknya enggan mendekati pusat terdalam Jurang Kehampaan karena tekanan energi yang terlalu purba.

Dua jam kemudian, Lin Chen berdiri di ujung jembatan rantai batu. Ia telah tiba di dasar terdalam tambang.

Pemandangan di hadapannya membuat napasnya tertahan. Ini bukanlah gua gelap yang dipenuhi kelelawar atau lumpur. Ini adalah sebuah aula alami yang terbentuk dari rongga bumi. Dinding-dindingnya terbuat dari kristal berwarna keperakan yang memancarkan cahaya redup. Suhu di tempat ini anehnya sangat dingin, kontras dengan lautan magma di atasnya.

Di tengah-tengah aula kristal tersebut, terdapat sebuah cekungan kecil yang menyerupai kolam batu. Di dalam kolam itu, tidak ada air. Yang ada hanyalah sebuah gumpalan cairan kental berwarna perak kehitaman yang melayang-layang lambat di udara, seolah tidak terikat oleh hukum gravitasi. Cairan itu terus berubah bentuk; terkadang menyerupai bola padat, terkadang memanjang seperti pedang, memancarkan fluktuasi elemen logam yang sangat murni, kuno, dan tajam.

"Esensi Logam Abadi," gumam Lin Chen. Matanya memancarkan kerinduan yang mendalam. Benda yang diciptakan oleh alam semesta selama ratusan ribu tahun, yang diburu oleh para Tuan Kota, kini berada tepat di depan matanya.

Energi yang memancar dari esensi tersebut begitu kuat hingga membuat kulit Lin Chen terasa perih seperti disayat silet hanya dengan berdiri sepuluh langkah di dekatnya. Benda ini adalah harta karun tingkat tinggi di Dunia Tengah. Menyentuhnya dengan sembarangan akan mengubah darah menjadi besi padat.

Layar cahaya holografik biru kembali muncul, menandai titik balik paling krusial dalam perjalanan Lin Chen sejauh ini.

**[Objek Suci Terdeteksi: Esensi Logam Abadi (Tingkat Dunia Tengah).]**

**[Kondisi Pengguna: Cacat Lengan Kanan, Meridian Putus Total. Tahap Transformasi Fana belum dicapai.]**

**[Silakan tentukan metode Asimilasi Anda:]**

**[Pilihan 1: Bawa keluar esensi ini menggunakan wadah khusus (tersedia di kantong Jiao), serahkan kepada Tuan Kota Yan Wu sesuai kesepakatan.

Hadiah: Anda menerima perlindungan dari Tuan Kota dan hadiah ribuan Kristal Abadi. Lengan kanan Anda akan tetap cacat selamanya. Anda menjadi anjing peliharaan penguasa kota.]**

**[Pilihan 2: Potong lengan kanan Anda yang mati. Gunakan api bumi setempat untuk meleburkan Esensi Logam Abadi secara langsung, dan sambungkan cairan logam panas itu ke pangkal bahu Anda, membiarkannya membentuk tulang, otot, dan kulit baru.

Hadiah: Restorasi Lengan Iblis tercapai. Anda menerobos Tahap Kondensasi Qi Tingkat 6. Proses ini menjanjikan penyiksaan yang dapat meruntuhkan akal sehat Anda secara permanen. Peluang keberhasilan: 60%.]**

**[Pilihan 3: Telan esensi tersebut ke dalam perut Anda.

Hadiah: Organ dalam Anda berubah menjadi besi padat dalam waktu tiga detik. Anda mati sebagai patung perak yang indah di dasar tambang ini.]**

Tidak ada keraguan yang terbersit di mata Lin Chen. Sejak awal, ia menginjakkan kaki di kota ini, bertarung dengan satu tangan, mempertaruhkan nyawanya di arena, semuanya memiliki satu tujuan mutlak. Ia tidak berniat menjadi bawahan siapa pun. Ia tidak takut pada penderitaan, karena penderitaan adalah bahasa yang paling fasih ia bicarakan.

"Aku memilih Pilihan Kedua," suaranya menggema tegas di dalam aula kristal, memecahkan kesunyian abadi tempat itu.

Layar biru memudar. Ini adalah saatnya.

Lin Chen melepaskan jubah hitamnya dan topeng besinya, melemparnya ke lantai. Ia berdiri dengan dada bertelanjang, memperlihatkan tubuhnya yang dipenuhi bekas luka. Lengan kanannya yang menghitam dan menyusut bergantung tidak berdaya.

Ia mengambil pedang patah yang selama ini ia bawa. Ia menggenggam gagangnya erat-erat menggunakan tangan kirinya. Matanya menatap lengan kanannya sendiri dengan kedinginan absolut.

Tanpa ragu, tanpa helaan napas yang gemetar, Lin Chen mengayunkan pedang patah itu dengan kekuatan penuh ke arah pangkal bahu kanannya sendiri.

*CRAAAASSH!*

Bilah pedang memotong daging mati, menghancurkan sisa tulang, dan memisahkan lengan kanannya dari tubuhnya. Darah menyembur deras mewarnai lantai kristal perak menjadi merah. Lengan kanannya yang telah menyertainya sejak lahir, jatuh terhempas ke lantai.

Lin Chen jatuh berlutut. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Wajahnya pucat pasi, rahangnya terkatup begitu rapat hingga darah menetes dari sudut bibirnya. Ia menggunakan jari-jari kirinya untuk menekan titik-titik akupunktur di sekitar bahunya, menghentikan pendarahan fatal. Ia baru saja mengamputasi dirinya sendiri.

Tidak ada waktu untuk beristirahat.

Ia merangkak maju, mendekati kolam batu tempat Esensi Logam Abadi itu melayang.

Dengan tangan kirinya, ia memutar *Napas Karang Esensi*. Ia tidak menghindar dari rasa sakit, ia merangkulnya. Pemuda itu mengumpulkan sisa energi api bumi (Yang) yang ada di dalam Dantiannya, mengubah tangannya menjadi sumber panas yang ekstrem.

Ia meraih gumpalan cairan Esensi Logam Abadi yang melayang itu.

*Cesssss!*

Saat tangannya menyentuh esensi tersebut, telapak tangan kirinya seketika hangus terbakar. Namun, ia tidak melepaskannya. Ia menarik gumpalan cairan logam perak kehitaman itu dan menekankannya langsung ke luka menganga di pangkal bahu kanannya.

"AAARRRGGGGHHHHHHH!!!"

Raungan Lin Chen menggelegar, meruntuhkan stalaktit kristal di langit-langit aula.

Penyiksaan yang sesungguhnya dimulai. Esensi Logam Abadi, saat bersentuhan dengan darah segar dan energi api bumi Lin Chen, mulai mendidih liar. Cairan logam itu tidak membakar dagingnya menjadi abu, melainkan meresap masuk, berakar ke dalam tulang belikat dan saraf-sarafnya yang terbuka.

Logam purba itu mulai membentuk dirinya sendiri. Perlahan, sangat perlahan, cairan perak kehitaman itu memanjang, menjalar ke bawah. Ia merajut serabut-serabut yang menyerupai serat otot manusia. Cairan padat mulai membentuk struktur tulang lengan atas, siku, lengan bawah, dan akhirnya membentuk pergelangan tangan serta kelima jari.

Proses ini bukanlah pembentukan ajaib yang tanpa rasa. Ini adalah asimilasi di mana logam abadi merobek sisa kemanusiaan di dalam tubuhnya dan memaksakan hukum Dunia Tengah ke dalam jiwanya. Rasa sakitnya jutaan kali lebih tajam daripada dipotong; rasanya seperti setiap sel di bahunya dimasukkan ke dalam tungku peleburan dan ditempa ulang hidup-hidup dengan palu dewa.

Lin Chen menjatuhkan tubuhnya ke lantai, mengejang hebat. Air matanya, yang tak pernah jatuh di medan pertempuran, kini keluar bercampur dengan darah yang mengalir dari matanya. Pikirannya berada di ambang kehancuran. Bayangan-bayangan gelap mencoba menarik kesadarannya ke dalam kegilaan.

Namun, di tengah badai penyiksaan itu, sebuah suara dingin menggema di relung jiwanya.

*Jika aku hancur di sini, siapa yang akan membakar langit Tiga Alam?*

Tekadnya yang sekeras karang menolak untuk takluk. Ia memaksakan Dantiannya untuk terus berputar. Energi dari Esensi Logam Abadi sangat masif dan murni. Sisa-sisa energi yang tidak terpakai untuk membentuk lengannya mulai membanjiri jalur meridiannya, membersihkan kotoran fana yang tersisa.

Pusaran energi di dalam perutnya meledak dan meluas. Dinding kemacetan menuju Tingkat Enam, yang tampak seperti gunung tinggi, dihancurkan seketika oleh tsunami energi logam abadi.

**Tahap Kondensasi Qi Tingkat Enam.**

Waktu berlalu tanpa makna di dasar tambang. Entah satu hari, atau tiga hari, keheningan perlahan kembali menguasai aula kristal tersebut.

Di tengah genangan darahnya sendiri, pemuda itu berhenti mengejang.

Lin Chen perlahan membuka matanya. Tidak ada lagi kepucatan, yang ada hanyalah ketajaman yang menembus batas nalar. Ia menggunakan tangan kirinya untuk menopang tubuhnya agar duduk.

Lalu, ia memalingkan wajahnya untuk melihat sisi kanan tubuhnya.

Di sana, menempel dengan sempurna pada pangkal bahunya, adalah sebuah lengan baru. Lengan itu memiliki bentuk dan proporsi yang sama persis dengan lengan manusia biasa. Namun, kulitnya tidak terbuat dari daging. Kulit itu berwarna perak kehitaman yang memancarkan kilau matte yang elegan sekaligus mematikan. Permukaannya dihiasi oleh pola-pola ukiran alami berbentuk rune purba yang menyala redup dengan cahaya biru.

Ini bukanlah sekadar prostetik. Ini adalah 'Lengan Iblis Logam Abadi'.

Lin Chen memfokuskan pikirannya. Ia mencoba menggerakkan jari-jari di lengan barunya.

Satu per satu, jari telunjuk, jari tengah, hingga ibu jari bergerak dengan sangat mulus, tanpa ada jeda atau kekakuan. Ia bisa merasakan angin yang menyentuh kulit logam tersebut. Ia bisa merasakan suhu udara di sekitarnya. Lengan ini benar-benar hidup, terhubung sepenuhnya dengan jiwa dan sistem sarafnya.

Ia mengepalkan tangan kanannya yang baru.

*BZZZZZT!*

Sebuah tekanan udara yang luar biasa padat meledak di sekitarnya. Udara di dalam aula kristal terdistorsi. Kekuatan fisik murni dari lengan ini... tidak bisa lagi diukur dengan standar fana. Bahkan tanpa menyalurkan Qi Abadi, satu pukulan dari lengan logam ini mampu menghancurkan sebuah gunung kecil.

Beban yang menyiksa selama prosesnya telah terbayar lunas. Ia tidak lagi cacat. Ia telah terlahir kembali dengan persenjataan yang jauh melampaui siapa pun di levelnya.

Layar cahaya biru berdenting merdu, memberikan notifikasi kemenangan utamanya.

**[Pilihan 2 Diselesaikan dengan Sempurna.]**

**[Misi: Restorasi Lengan Iblis TERCAPAI. Anda telah menembus Tahap Kondensasi Qi Tingkat 6.]**

**[Status Lengan Kanan: Artefak Semi-Ilahi. Kebal terhadap elemen api dan racun. Kekuatan fisik meningkat 500%.]**

Lin Chen berdiri. Ia mengambil sisa jubah hitamnya dan topeng besinya. Ia mengenakannya kembali, menyembunyikan lengan perak kehitamannya di balik kain.

Mata hitamnya yang dingin kini menatap ke arah jalan setapak yang menanjak ke atas. Ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan di dalam kedalaman neraka ini. Kini, tiba saatnya untuk kembali ke permukaan. Tuan Kota Yan Wu sedang menunggunya dengan niat untuk menjadikannya anjing peliharaan. Kota Batu Hitam masih percaya bahwa mereka bisa mendikte hidupnya.

"Yan Wu," bisik Lin Chen dengan senyum tipis yang membekukan jiwa. Tangan kanannya yang baru berderak pelan di bawah jubah. "Aku membawa setengah hasil panenku dari bawah sini. Bersiaplah untuk menerimanya."

Sang Iblis Satu Tangan telah tiada. Yang kini berjalan menyusuri kegelapan Tambang Batu Hitam menuju permukaan adalah entitas yang jauh lebih utuh, jauh lebih kuat, dan jauh lebih mematikan. Puncak Dunia Tengah perlahan menyadari kehadiran sang pemangsa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!