Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balas Dendam
Malam kemenangan di Istana Buckingham belum sepenuhnya usai, namun racun kebencian sudah menyebar diam-diam. Putri Amelia, dengan hati yang hancur karena malu dan iri, tidak menerima kekalahannya. Di balik senyum palsu saat berpamitan, otak liciknya menyusun rencana mematikan.
Saat Aulia hendak mengambil gelas sampanye dari nampan pelayan sengaja diarahkan oleh asisten Amelia sepasang mata tajam Alex menangkap gerakan jari pelayan itu. Insting mafianya berteriak bahaya. Sebelum bibir Aulia menyentuh gelas, tangan Alex menangkis gelas itu keras hingga pecah berkeping-keping di lantai. Cairan emas itu merembes, dan dalam hitungan detik, karpet tebal istana berubah warna menjadi cokelat gelap racun korosif tingkat tinggi.
Aulia menegang, darahnya dingin. Ia hampir mati.
Suasana hening seketika. Alex tidak berteriak, tidak marah. Tapi aura yang keluar dari tubuhnya jauh lebih mengerikan daripada amarah apa pun. Matanya hitam pekat, kosong, dan membunuh. Ia menoleh perlahan ke arah Amelia yang pucat pasi hendak menyelinap pergi. Tanpa kata, Alex memberi kode kecil pada anak buahnya yang menyamar di kerumunan.
Malam itu juga, saat mereka kembali ke hotel, Alex menitipkan Aulia pada pengawal terpercaya, lalu menghilang ke dalam malam London. Ia tidak akan membiarkan pelaku lolos. Bagi Alex, mencoba membunuh Aulia sama dengan mengumumkan perang mati.
Di markas rahasia keluarga Amelia sebuah gedung mewah di kawasan elit Kensington neraka terbuka. Pasukan khusus Alex masuk tanpa peringatan, menundukkan seluruh pengawal dalam diam dan kekejaman yang efisien. Alex sendiri berjalan santai menuju ruang kerja ayah Amelia, Adipati Wellington.
“Putrimu bermain api dengan gunung berapi,” ucap Alex dingin sambil meletakkan pecahan gelas beracun di meja, tatapannya menusuk tulang. “Dia mencoba meracuni nyawa satu-satunya hal yang paling kusayangi. Hukumanku sederhana: Hancurkan seluruh aset bisnis, tanah, dan gelar keluargamu. Mulai besok, nama Wellington tidak ada lagi di peta Inggris. Atau… aku bakar seluruh gedung ini bersamamu sekeluarga di dalamnya.”
Suara dingin Alex dan aura mautnya membuat Adipati tua itu berlutut gemetar, menangis memohon ampun, menyalahkan Amelia sepenuhnya. Pagi harinya, berita mengejutkan mengguncang Inggris: Keluarga Wellington bangkrut total, gelar dicabut kerajaan, dan Putri Amelia ditangkap atas tuduhan pengkhianatan & percobaan pembunuhan. Kejatuhan salah satu bangsawan tertua terjadi hanya dalam semalam kerja tangan satu orang: Alexandra Surya.
Sementara itu, di kamar hotel, Aulia menunggu dengan gelisah. Saat Alex kembali, pakaiannya bersih tapi matanya masih menyimpan sisa kegelapan. Aulia langsung berlari memeluknya, mencium wajah, tangan, dan dadanya memastikan pria itu utuh. Ia tahu Alex melakukan ini demi dia, tapi betapa mengerikannya harga yang dibayar musuh mereka.
“Kau… menghancurkan seluruh keluarganya?” bisik Aulia pelan, matanya berkaca-kaca campur takut dan lega. “Mereka hancur total, Alex.”
Alex menangkup wajah gadis itu, menatap tajam namun lembut. “Mereka memilih jalan itu saat menyentuhmu, Sayang. Di duniaku, harga nyawamu adalah seluruh kehidupan musuhmu. Aku rela disebut iblis, monster, penjahat… asalkan kau tetap bernapas, tetap tersenyum, dan tetap di sini bersamaku.”
Ia menarik Aulia masuk ke dalam dekapan erat, mencium puncak kepala gadis itu. “Maaf harus menunjukkan sisi gelapku lagi. Tapi ingat satu hal: Setiap tetes darah yang tumpah, setiap kehancuran yang terjadi… semuanya adalah benteng pelindung untukmu. Agar tak ada satu pun makhluk berani mendekat dengan niat jahat.”
Aulia merangkul leher Alex, menarik wajah pria itu mendekat hingga dahi mereka bersentuhan. Ia menghapus sisa ketegangan di wajah tampan itu dengan jari halusnya.
“Aku tidak takut padamu, Alex. Aku takut kehilanganmu,” bisik Aulia tulus. “Aku benci kekerasan, tapi aku mengerti: Kebaikan saja tidak cukup melindungi kita. Kau adalah pedangku, dan aku adalah hatimu. Tanpa pedang, hati terluka. Tanpa hati, pedang kosong dan dingin. Kita butuh satu sama lain, utuh, baik sisi terang maupun gelap.”
Kalimat itu meruntuhkan pertahanan terakhir di hati Alex. Ia menunduk, menyatukan bibir mereka dalam ciuman panjang, dalam, dan penuh rasa syukur mutlak ciuman yang mengikat janji bahwa takdir mereka sudah menyatu, takkan terpisah oleh apa pun.
Keesokan harinya, dampak kekuasaan Alex makin nyata. Bisnis Surya Corp di Eropa melonjak drastis; pengusaha, politisi, bahkan bangsawan berbaris antre bermitra, takut sekaligus hormat. Kata kunci di seluruh benua: Jangan pernah sakiti Wanita Surya.
Namun, Alex tahu, Eropa hanyalah satu medan tempur. Musuh lama di Asia masih mengintai, dan pasar terbesar dunia masih menanti. Saat mereka duduk bersama di pesawat pribadi menuju pelabuhan selanjutnya, Alex menatap Aulia yang sibuk membuat sketsa koleksi baru dengan senyum penuh ambisi.
“Siap menaklukkan benua baru, Ratu Kecilku?” tanya Alex rendah, suaranya bergetar bangga. “Eropa sudah tunduk. Sekarang saatnya kita menyeberang Atlantik. New York, Amerika Serikat sedang menunggu kita.”
Aulia menutup buku sketsanya, menatap Alex dengan sorot mata berani dan penuh cinta. Ia menggenggam tangan kasar pria itu, menautkan jari mereka erat.
“Di mana pun kau pergi, aku ikut, Rajaku. Lautan, benua, neraka sekalipun. Kita taklukkan dunia bersama, sampai akhir bahagia kita.”
Alex tersenyum lebar senyum paling tulus dan bahagia yang pernah dimilikinya. Ia mengecup punggung tangan Aulia lama.