Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Pulang dari Rumah sakit
Pagi di Rumah Sakit Medika terasa jauh lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Cahaya matahari masuk hangat melalui jendela besar kamar rawat inap. Langit biru terlihat bersih tanpa mendung. Bahkan suasana rumah sakit pagi itu terasa lebih tenang.
Di dalam kamar, Aurel sedang merapikan meja kecil di dekat ranjang. Botol obat disusun rapi.
Air minum diganti baru.
Sementara Arvano duduk bersandar di ranjang sambil diam memandang ke arah jendela. Wajahnya masih sedikit pucat, tapi jauh lebih baik.
Lukanya mulai mengering. Pertama kalinya sejak kecelakaan itu Arvano terlihat tidak terlalu tegang.
Namun ada satu hal yang berbeda, yaitu dipikirannya.
Entah kenapa, beberapa hari terakhir, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Penyebabnya, belalu bersama Aurel.
Tok tok tok. Pintu kamar diketuk.
Seorang dokter masuk bersama perawat. “Selamat pagi.”
Aurel langsung berdiri. “Pagi, Dok.”
Dokter tersenyum kecil lalu mulai memeriksa kondisi Arvano. Tekanan darah. Luka di lengan.
Dan beberapa pertanyaan ringan. “Masih pusing?”
“Sedikit.” Sahut Arvano.
“Nyeri?”
“Sudah mendingan.”
Dokter mengangguk pelan. “Kalau begitu, sebenarnya kondisi Anda sudah cukup stabil.”
Aurel langsung menoleh cepat. “Maksudnya, Dok?”
Dokter tersenyum. “Pasien bisa pulang hari ini atau besok. Tinggal pilih saja untuk observasi tambahan atau istirahat di rumah.”
Aurel terlihat lega.
Sementara Arvano menjawab cepat, “Hari ini.”
Aurel langsung menoleh. “Sekarang?”
“Iya.” Sahut Arvano singkat.
Dokter tertawa kecil. “Baik. Tapi tetap jangan terlalu capek.”
“Iya.”
Setelah dokter pergi, suasana kamar kembali tenang.
Aurel membereskan beberapa barang. “Berarti nanti saya hubungi Bu Indah?”
Arvano mengangguk. “Dan Pak Satrio.”
Aurel sedikit bingung. “Pak satpam?”
“Sekarang dia jadi supir sementara.” Sahut Arvano yang datar.
“Oh…” Aurel baru tahu.
Aurel langsung mengambil ponsel dan menghubungi Indah sesuai permintaan Arvano.
Tak lama kemudian, semuanya sudah siap.
Sekitar satu jam kemudian, mobil hitam keluarga Argas berhenti di depan rumah sakit.
Satrio turun cepat membantu. “Mas Arvano sudah boleh pulang?”
“Hm.” Arvano menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Bagasi dibuka. Barang-barang dimasukkan.
Dan beberapa menit kemudian, mereka pulang.
Di dalam mobil, suasana sangat sunyi. Satrio fokus menyetir. Aurel duduk di samping belakang bersama Arvano. Namun tidak ada yang bicara.
Aurel sesekali melirik Arvano dengan diam-diam. Arvano terlihat memandang keluar jendela dalam diam, tapi bukan diam seperti biasanya. Tatapannya kosong. Seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat dalam.
Dan sebenarnya— Memang begitu. Karena sejak tadi pagi, pikirannya terus kembali pada satu hal.
Semua perhatian kecil Aurel.
Cara gadis itu memaksa Arvano makan. Membersihkan lukanya. Menemaninya tanpa mengeluh. Tidur tidak nyaman di sofa hanya untuk menjaganya. Hal-hal kecil, tapi justru itu yang membuatnya kacau.
Arvano memejamkan mata sebentar. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arvano menyadari sesuatu yang tidak pernah di bayangkan. Yaitu jatuh cinta, dengan Cepat. Terlalu cepat. Dan itu membuatnya sendiri bingung.
Mobil akhirnya masuk ke halaman rumah besar keluarga Argas.
Begitu turun, Feni langsung keluar menyambut. “Mas Arvano!”
Indah juga ikut keluar. “Sudah sampai.”
Bagaskara yang baru pulang dari kantor ikut berdiri di dekat pintu. “Masih sakit?”
“Enggak.” Jawaban khas Arvano, singkat.
Setelah itu, tanpa banyak bicara lagi… Arvano langsung naik ke lantai atas. Ke kamarnya.
Suasana rumah kembali berjalan seperti biasa. Namun tidak dengan isi kepala Arvano. Begitu masuk kamar, langsung duduk di tepi kasur. Tangannya memegang pelipis, bukan karena pusing. Tapi karena pikirannya sendiri.
Kenapa harus Aurel? Kenapa gadis desa itu terus muncul di kepalanya? Padahal mereka bahkan belum lama kenal.
Arvano menghela napas panjang, kemudian merebahkan tubuhnya ke kasur. Tatapannya kosong ke atap. Dan anehnya…
Yang teringat justru wajah Aurel saat panik menyuruhnya makan.
Sementara itu di bawah…
Aurel sudah kembali ke dapur bersama Feni. Mereka mulai menyiapkan makan siang. Suara minyak goreng. Piring. Dan aroma makanan hangat memenuhi dapur.
Feni melirik Aurel sebentar. “Kamu capek?”
Aurel menggeleng. “Enggak terlalu, Bi.”
“Semalaman jagain orang sakit biasanya tumbang.” Ucap Feni sambil tersenyum.
Aurel tersenyum kecil. “Mungkin karena Mas Arvano nggak terlalu rewel.”
Feni langsung tertawa kecil. “Kalau dengar itu, dia mungkin kaget.”
Aurel ikut tertawa pelan.
Setelah semua makanan selesai, Aurel akhirnya duduk sebentar. Tubuhnya memang mulai terasa lelah. Namun entah kenapa, hatinya terasa ringan.
Mungkin karena Arvano sudah membaik.
Saat waktu makan siang tiba, Indah duduk di meja makan. Bagaskara juga sudah turun. Feni mulai menata makanan. Namun satu orang belum muncul, yaitu Arvano.
Indah menoleh ke arah tangga. “Feni, panggil Arvano.”
“Iya, Bu.”
Beberapa menit kemudian Feni kembali. “Mas Arvano bilang belum lapar.”
Indah menghela napas. “Dipanggil lagi.”
Feni naik lagi.
Dan kembali lagi dengan jawaban sama.
“Masih nggak mau turun.”
Bagaskara mulai mengernyit. “Jangan dibiasakan.”
Namun Indah justru diam sebentar, lalu menoleh ke Aurel. “Aurel.”
Aurel langsung menegakkan badan. “Iya, Bu?”
“Tolong antar makanan dan obat ke kamar Arvano.”
Aurel langsung membeku. “S-saya?”
“Iya.”
“Tapi…” Sahut Aurel terputus.
“Dia lebih nurut sama kamu.” Ucapannya itu membuat Feni langsung menahan senyum.
Sementara Aurel langsung salah tingkah. “Enggak juga, Bu.”
Indah tersenyum kecil. “Sudah. Tolong saja.”
Aurel akhirnya mengangguk pelan. “Iya, Bu.”
Saat membawa nampan makanan ke lantai atas, Jantung Aurel berdebar aneh. Padahal ini bukan pertama kalinya ia masuk kamar Arvano. Tapi kali ini terasa berbeda.
Entah sejak kapan. Suasana di antara mereka berubah pelan-pelan. Bukan lagi sekadar majikan dan pembantu. Ada sesuatu yang mulai tumbuh, meski belum jelas bentuknya. Sebab itu, Diam-diam mulai membuat Aurel gugup.
Tok tok tok.
Aurel mengetuk pintu kamar pelan. “Mas…”
Tidak ada jawaban. Aurel membuka pintu perlahan.
Arvano sedang berbaring di kasur sambil memejamkan mata. Namun begitu mendengar langkah Aurel, matanya pun terbuka.
Tatapan mereka bertemu.
Aurel buru-buru berjalan mendekat. “Ini… makan siang sama obatnya.”
Arvano tidak menjawab.
Tatapannya justru terus memperhatikan Aurel.
Membuat Aurel makin salah tingkah.
“Bu Indah nyuruh saya nganter.”
Arvano Masih diam.
Lalu perlahan, Sudut bibir Arvano bergerak sedikit. “Lo, sendiri yang naik?”
Aurel mengangguk. “Iya.”
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak pulang dari rumah sakit, Arvano merasa kamarnya tidak sesepi biasanya lagi.