Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.
Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.
mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Kembar Tamat
Hawa dingin yang menusuk tulang menjadi saksi bisu pertarungan yang melampaui batas kemampuan manusia biasa. Bang Jagur, dengan kimono merah putih yang kini mulai terciprat noda merah pekat, berdiri tegak di tengah halaman. Napasnya teratur, membentuk uap tipis di udara malam, sementara tatapannya yang tajam tidak pernah lepas dari ketiga lawan di hadapannya.
Reno, Lisa, dan Bram—tiga jenderal utama Mata Malaikat—kini mengepungnya dalam formasi segitiga. Mereka bukan lagi sekadar lawan; mereka adalah mesin pembunuh yang haus darah.
"Luar biasa," desis Reno, tangan kirinya yang tersisa memutar celurit dengan kecepatan tinggi. "Ternyata legenda itu memang nyata. Tapi, sehebat apa pun pedangmu, kau tetaplah manusia yang bisa mati kehabisan darah."
Bang Jagur tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya mengeratkan genggaman pada gagang samurai hitamnya. Misik putih yang menguar dari bilahnya semakin tajam, seolah memberi peringatan bahwa nyawa akan segera dicabut.
Ketiganya saling berpandangan. Sebuah isyarat bisu berpindah dari mata ke mata. Mereka tahu, Jagur tidak bisa ditaklukkan dengan serangan frontal yang berantakan. Bram yang bertubuh raksasa menyerang dari kanan dengan belati baja yang berkilau, sementara Reno melompat dari sisi kiri, mengincar urat nadi leher. Di saat yang sama, Lisa berlari melingkar dengan kecepatan yang membuat sosoknya tampak seperti bayangan. Tangan kanannya teracung, sebuah pistol bius canggih dengan moncong yang mengeluarkan desis tipis telah siap melepaskan racun pelumpuh saraf paling mematikan.
Pertarungan meledak.
Bram mengayunkan belati dengan kekuatan hidrolik yang mampu meremukkan baja. Jagur meliuk, membiarkan serangan itu mencabik udara. Namun, Jagur melakukan sesuatu yang tidak terduga; ia justru melangkah maju, membiarkan pinggang sebelah kanannya terbuka lebar, seolah menawarkan nyawanya sebagai umpan bagi belati Bram.
"Mati kau!" raung Bram yang melihat kesempatan emas. Ia menghujamkan belati itu ke arah pinggang Jagur.
Namun, di balik wajah yang terlihat lengah, seulas senyum tipis terukir di bibir Bang Jagur. Detik di mana Bram menerjang, Jagur tidak melindungi diri. Ia justru melesat ke depan, mengabaikan serangan itu dan menghujamkan seluruh tenaga ke arah Reno yang berada di sisi kiri. Samurai hitam itu menebas udara, mengincar kepala Reno.
TRAANG!
Reno terperangah. Ia tidak menyangka Jagur akan mengabaikan serangan fatal Bram demi menebas dirinya. Dengan insting yang terlatih, Reno menangkis dengan celuritnya. Dentang logam beradu memercikkan bunga api yang menerangi malam.
Tepat saat celurit Reno menahan samurai, Jagur melakukan manuver luar biasa. Dengan tenaga dalam yang disalurkan ke pergelangan tangan, ia membalikkan arah tolakan samurai itu ke belakang, tepat ke arah Bram yang langkahnya sudah terlalu maju untuk berhenti.
Bram terperangah. Momentum tubuhnya yang besar membuatnya tak bisa menghindar. Belati yang tadi ia hunuskan terlempar lepas dari genggamannya karena guncangan energi yang membelah pertahanannya. Dalam sepersekian detik, Jagur mengangkat samurainya, memusatkan seluruh sisa napasnya ke ujung bilah.
"Bulan Sabit Membelah Samudera!"
SYUT!
Sebuah garis cahaya hitam melintang di udara. Terdengar suara mengerikan; tulang yang berderak dan daging yang teriris dengan presisi yang brutal. Bram membeku. Matanya terbuka lebar, menatap lurus ke depan dengan kekosongan yang dalam. Tubuhnya terbelah dua dari bahu hingga pinggang.
Belum sempat darah Bram menyembur.
DOR!
Sebuah suara tembakan peluru bius memecah keheningan. Peluru itu menembus punggung Bang Jagur, tepat di dekat belikat. Jagur terhuyung, rintihan keluar dari mulutnya saat cairan dingin nan mematikan itu mulai menyebar ke seluruh aliran darahnya.
"TIDAKKK!" raung Lisa yang melihat saudara kembarannya tumbang dalam kondisi mengenaskan.
Amarah menguasai Lisa. Ia berlari membabi buta, melupakan logika. Namun, Jagur, meski racun itu mulai melumpuhkan gerak sarafnya, tahu bahwa ini adalah napas terakhirnya. Sebelum ototnya benar-benar kaku, ia memutar tubuh dengan sisa tenaga yang dipaksakan. Dengan satu tebasan horizontal, kepala Lisa terlepas dari tubuhnya, bergulir di atas tanah basah, meninggalkan jejak darah yang membentuk lengkungan sempurna.
Jagur berbalik menuju Reno yang tertegun, melihat kedua rekannya tewas dalam hitungan detik. Jagur hendak melangkah, namun kakinya terasa seperti bongkahan besi. Racun pelumpuh saraf itu telah bekerja terlalu cepat. Ia tersungkur jatuh tepat di hadapan Reno, tubuhnya kaku, matanya masih menatap tajam namun ototnya tak lagi menuruti perintah otaknya.
Reno, yang wajahnya kini pucat pasi karena ketakutan, perlahan mengangkat celuritnya. Ia gemetar. Legenda itu tumbang, namun ia tahu siapa yang datang berikutnya. Ia menatap celurit di tangannya, lalu menatap Jagur yang terbaring kaku. "Kau memang hebat, Samurai. Tapi kisahmu berakhir di sini."
Tepat saat Reno hendak mengayunkan celuritnya ke leher Jagur, suara deru motor memecah kesunyian malam. Cahaya lampu sorot menyapu halaman, diikuti dengan kehadiran dua sosok yang melompat dari kendaraan.
Jalal dan Rafael.
Aura Jalal yang dingin dan murni menekan udara, menciptakan gelombang kejut yang membuat Reno terpaksa berhenti. Rafael, dengan kecepatan yang terlatih, segera melesat di antara Reno dan Bang Jagur.
"Mundur, atau kau mati sekarang juga!" suara Jalal terdengar tenang, namun mengandung wibawa yang mampu membuat nyali seorang pembunuh ciut.
Reno menatap Jalal, lalu menatap tubuh temannya yang berserakan. Ia tahu, melawan Jalal dalam kondisi mental yang hancur setelah melihat kematian Lisa dan Bram adalah sebuah bunuh diri. Tanpa berkata apa-apa, Reno memutar balik tubuhnya dan menghilang ke dalam kegelapan malam, kabur meninggalkan medan pembantaian itu.
Rafael segera berjongkok di samping Bang Jagur, memeriksa denyut nadinya. "Jalal... dia masih hidup."
Jalal mendekat, tangannya meraba tubuh Jagur yang kaku. Meski ia buta, ia bisa merasakan aliran energi Jagur yang kini sangat tipis, tertahan oleh racun yang bergolak di dalam nadi.
Rafael meloncat ke arah Reno berlari, "Aku kejar dia, ia pasti punya penawarnya."
mungkin lebih mantap lagi nanti ada karakter baru titisan wiro sableng, buat bantu jalal 🤔