🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)
•••
Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.
Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.
Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Lelah yang tak terucap
Dua hari berlalu sejak malam yang terasa panjang di rumah sakit itu. Selama dua malam itu juga, Keanu berjaga di rumah sakit, sementara Anindia beristirahat di rumah dengan Shaka.
Perlahan, keadaan ibu Anindia mulai membaik. Kabar yang selama ini dinanti akhirnya datang juga, ibu Anindia dinyatakan pulih dan diperbolehkan pulang. Sebuah kelegaan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, terutama bagi Anindia.
Rumah yang sempat dipenuhi dengan kekhawatiran, kini kembali terasa hangat, dipenuhi dengan perbincangan santai. Tapi di balik semua itu, ada hal lain yang diam-diam menunggu untuk diselesaikan.
Rutinitas yang tertunda membuat Anindia dikejar deadline. Tugas-tugas yang sebelumnya terabaikan, kini mulai menumpuk. Ia kembali pada meja belajarnya, mencoba mengejar waktu yang sempat tertinggal.
Di sudut ruangan, Keanu duduk bersandar di lantai dengan Shaka dalam pangkuannya. Tangannya menggoyangkan mainan kecil, sesekali mengeluarkan suara lucu hingga membuat Shaka tertawa.
Tawa kecil Shaka membuat Keanu tersenyum. Namun di sela-sela itu, pandangannya tertuju ke arah meja belajar.
Anindia duduk di sana sejak tadi. Tubuhnya sedikit membungkuk, matanya fokus pada layar laptop, dan beberapa lembar catatan di sebelahnya. Tangannya bergerak cepat, seolah sedang berpacu dengan waktu.
Keanu memperhatikan cukup lama, hingga akhirnya ia menghela nafas sejenak. "Sayang," panggilnya lembut.
"Iya Mas?" Jawab Anindia sembari menoleh sekilas.
Keanu menggeser duduknya sedikit, dengan tangan yang masih menopang tubuh mungil Shaka yang saat ini sedang asyik dengan mainannya sendiri.
"Mau dibantu?" Tanya Keanu penuh perhatian. "Tugasnya banyak, kan?"
"Gak apa-apa, Mas," jawab Anindia cepat dengan gelengan kepala. "Aku bisa kok."
Keanu tidak langsung menjawab. Tatapannya menelisik jauh, seolah sedang membaca lebih dalam dari sekedar jawaban sederhana itu.
"Kalau capek, bilang ya?" Lanjut Keanu. "Jangan terlalu dipaksakan."
Anindia tersenyum tipis, meski tatapannya masih tertuju pada tugasnya. "Siap, Mas," jawabnya singkat.
Hening, tidak ada perkataan apapun lagi. Tapi, pandangan Keanu masih tertuju pada istrinya. Sesekali ia melirik Shaka yang masih aktif bermain, wajar saja karena baru saja memasuki malam.
"Maaf ya, Mas," ujar Anindia di sela-sela keheningan, membuat Keanu refleks mengernyitkan dahinya. "Aku cuma gak mau ngerepotin kamu. Kamu juga pasti capek." Lanjutnya sebelum Keanu sempat berkata-kata.
"Aku sama sekali gak merasa direpotkan, sayang." Ujar Keanu kemudian. "Kalau butuh apa-apa bilang aja, aku disini memang ada untuk kalian."
Anindia menundukkan kepalanya, senyum tipis terukir di wajahnya. Tangannya yang tadi bergerak di atas keyboard sempat berhenti, lalu ia menoleh ke arah Keanu sejenak.
"Terima kasih banyak, Mas," ujarnya.
Setelahnya, Anindia kembali menghadap layar laptopnya. kali ini gerakannya tidak secepat sebelumnya, seolah hatinya baru saja ditenangkan oleh sesuatu yang begitu sederhana.
Sementara itu, Shaka mulai menarik-narik baju Keanu, meminta perhatian. Keanu akhirnya mengalihkan fokusnya kembali, mengangkat Shaka lebih tinggi dan mengajaknya bermain lagi.
Malam itu di dalam kamar mereka, semuanya terlihat biasa saja. Tapi tugas yang dikerjakan oleh Anindia sudah cukup menunjukkan bahwa ia tidak setenang itu. Pikiran tentang ibunya sudah membuatnya menarik nafas lega, tapi tidak dengan tugas kuliahnya.
Di sela-sela keheningan kamar itu, mata Anindia menangkap bayangan kecil Shaka yang bergerak kesana-kemari, diikuti tawanya yang menggemaskan. Tanpa sadar, Anindia tersenyum melihat tingkah putranya itu.
Keanu kembali duduk di lantai, satu tangannya sesekali menggapai Shaka. "Sini... Sini nak," terdengar sangat lembut.
Shaka justru terkekeh, lalu merangkak menjauh. Keanu menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang begitu aktif. Ia menjaga Shaka dengan baik, sesekali arah pandangnya tertuju pada Anindia untuk sekedar memastikan.
Malam itu terasa hangat, namun diam-diam melelahkan. Tidak ada keluhan yang keluar, tidak ada kata lelah yang terucap. Namun, semuanya terasa dari cara Anindia memijat pelipisnya. Ia juga berusaha untuk tetap fokus, meski matanya mulai berair.
Beberapa menit berlalu, Keanu akhirnya mengambil alih Shaka yang sejak tadi terlihat mulai rewel. Shaka yang tadinya aktif, kini hanya mengeluarkan ocehan kecil. Tubuhnya tampak mulai kehabisan energi.
Keanu duduk di sofa, memangku Shaka dengan hati-hati. Tangannya mengusap punggung putranya perlahan, seolah sudah paham betul bagaimana cara menenangkannya.
"Udah ngantuk, ya?" Gumam Keanu pelan.
Tentu saja Shaka tidak menjawab. Namun, kepalanya mulai bersandar di dada Keanu, tangan mungilnya menggenggam kaos ayahnya.
Keanu tersenyum tipis, sesekali ia menepuk pelan punggung Shaka. Beberapa saat kemudian, Shaka benar-benar tertidur dalam pangkuan ayahnya.
Anindia sendiri terlihat begitu fokus pada tugasnya. Cahaya dari layar laptop memantul di wajahnya. Ia masih berjuang dengan tugasnya, masih memaksakan diri untuk tetap kuat.
Keanu menghela nafas pelan. Di pangkuannya, Shaka sudah terlelap. Sementara di hadapannya, Anindia masih belum sempat beristirahat. Ia hanya diam, terlebih ia tahu pasti bahwa Anindia begitu teguh pada pendiriannya, bahkan sejak ia mengenal Anindia di SMA.
Perlahan, suasana semakin hening. Hanya terdengar suara detak jam di dinding kamar, serta nafas teratur dari Shaka.
Di meja belajar, jari-jari Anindia mulai bergerak melambat. Sesekali matanya terpejam, lalu terbuka kembali. Anindia menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan rasa kantuk yang datang tanpa permisi.
Satu tangan Anindia menopang kepalanya. Ia masih berusaha membaca tulisan di layar, namun huruf-huruf itu terasa mulai kabur.
Hingga akhirnya, kepala Anindia jatuh di lengannya sendiri. Laptop masih menyala, tugasnya belum selesai, tapi tubuhnya lebih dulu menyerah. Ia tertidur di atas meja.
Keanu yang sejak tadi memperhatikan, langsung menyadari perubahan itu. Lelah Anindia terlihat jelas, bahkan tanpa harus diucapkan.
Keanu menunduk perlahan, melihat Shaka yang sudah tertidur pulas dalam pangkuannya. Dengan hati-hati, ia bangkit dari duduknya. Langkahnya pelan, nyaris tanpa suara.
Ia membaringkan Shaka di atas tempat tidur. Lalu, ia menyelipkan bantal kecil di samping tubuh mungil itu, memastikan posisinya aman. Setelahnya ia menarik selimut hingga menutupi dada Shaka.
Keanu mengusap kepala kecil itu perlahan, lalu tatapannya kembali tertuju pada Anindia. Masih dalam posisi yang sama. Tertidur di meja, dengan posisi yang jelas tidak nyaman.
Keanu menghela nafas pelan. Lalu, ia beranjak dengan hati-hati menuju ke arah Anindia. Tangannya terulur, menyibakkan sedikit rambut Anindia yang menutupi wajahnya.
"Capek banget, ya," gumam Keanu lirih, nyaris tak terdengar.
Tanpa ingin membangunkan, Keanu menyelipkan satu tangannya di punggung Anindia, sementara tangan yang satunya ia letakkan di bawah lutut Anindia.
Dengan hati-hati ia mengangkat tubuh Anindia, membawanya ke tempat tidur. Lalu, membaringkannya tepat di samping Shaka. Selimut kembali ditarik, kali ini untuk keduanya.
Sebelum beranjak, mata Keanu tertuju pada lantai kamar. Beberapa mainan Shaka masih berserakan. Ia berbalik, berjalan pelan mengambil satu persatu mainan itu.
Tangan Keanu bergerak cepat, tapi tetap hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan keduanya. Ia meletakkan mainan itu ke dalam keranjang mainan Shaka, terletak di sudut kamar.
Setelah semuanya rapi, Keanu menoleh sekali lagi ke arah tempat tidur. Tanpa sadar, seutas senyum tipis terukir di wajahnya. Dua orang yang menjadi dunianya, kini tertidur dengan damai.
Keanu kembali berjalan ke arah meja belajar. Ia merapikan kertas-kertas yang berserakan di atasnya, lalu pandangannya tertuju pada layar laptop di depannya. Tulisan yang belum selesai, tertera jelas di hadapannya.
Perlahan, Keanu memahami setiap kata yang tertera di layar. Ia kemudian duduk di kursi yang sebelumnya ditempati Anindia. Kemudian, ia mulai mengetik.
"Duh, bener gak sih kayak gini?" Gumam Keanu lirih, merasa sedikit tidak yakin dengan usahanya. Namun, ia tetap melanjutkan demi Anindia.
Waktu terus berlalu, malam semakin larut. Lampu kamar tetap menyala, seolah menjadi saksi bisu atas seseorang yang diam-diam mengambil peran tanpa diminta. Hanya karena satu hal sederhana, ia tidak ingin orang yang dicintai merasa lelah sendirian.
Jam di dinding berdetak pelan, tanpa sadar sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Cahaya putih dari layar laptop setia menemani Keanu beberapa jam terakhir.
Keanu masih duduk di sana. Posisinya tidak banyak berubah sejak tadi. Punggungnya sedikit membungkuk, satu tangannya sesekali memijat pelipis, sementara tangan satunya tetap setia di atas keyboard.
Matanya mulai terasa berat. Beberapa kali ia menggeleng singkat, mencoba menghilangkan rasa kantuk yang mulai melanda.
Keanu menarik nafas panjang, lalu kembali mengetik. Ia membaca ulang kalimat yang ditulis, memperbaiki beberapa bagian yang salah.
Keanu melirik sekilas ke arah tempat tidur, melihat Anindia dan Shaka yang masih terlelap. Shaka meringkuk di sisi ibunya, sementara Anindia tidur dengan wajah yang lebih tenang daripada sebelumnya.
Melihat itu, ada sesuatu yang menguatkan Keanu. Lelahnya seakan tidak lagi terlalu terasa. Hanya melihat wajah keduanya sudah cukup untuk menambah semangatnya malam ini.
Keanu kembali fokus pada layar, lalu melanjutkan ketikan yang sempat tertunda sejenak. Tidak ada keluhan, tidak ada suara. Yang ada hanya seorang suami yang diam-diam menahan kantuknya, demi menyelesaikan tugas istrinya.
Satu jam berlalu, akhirnya Keanu menghentikan jari-jarinya yang tadi begitu aktif mengetik. Layar laptop di hadapannya menampilkan halaman terakhir dari tugas yang sedari tadi ia kerjakan. Tidak ada lagi yang perlu diperbaiki.
Keanu menatap layar itu cukup lama, seakan memastikan bahwa semuanya sudah rampung. Ia kemudian menghela nafas panjang, seolah melepas rasa lelah yang tertahan.
"Alhamdulillah, akhirnya siap juga," batin Keanu.
Rasa lelah itu akhirnya datang bersamaan. Pundaknya terasa berat, matanya perih, tapi tersirat sedikit rasa lega.
Keanu menyandarkan punggungnya pada kursi. Lalu ia mengusap wajahnya sejenak, seolah menyadarkan diri yang hampir kehilangan tenaga.
Tanpa sadar, sudut bibirnya tertarik sedikit. Bukan karena bangga, tapi karena ia tahu bahwa setidaknya satu beban Anindia sudah berkurang malam ini.
Keanu kemudian mematikan layar laptop. Lalu ia meredupkan lampu kamar, menyisakan cahaya temaram yang hangat.
Keanu naik ke atas tempat tidur dengan sangat hati-hati, tanpa menimbulkan suara apapun. Keanu tidak langsung tidur, tatapannya tertuju pada dua orang di sisinya.
Keanu menatap keduanya secara bergantian, cukup lama dari biasanya. Seolah ia sedang memastikan bahwa keduanya baik-baik saja.
Keanu mengangkat tangannya perlahan, mengusap rambut Anindia dengan gerakan ringan, nyaris tak terasa. Lalu ia kembali mengalihkan pandangannya pada Shaka, menyentuh pipi mungil itu dengan jarinya.
Keanu meraih tangan Anindia, menggenggamnya lembut, cukup untuk membuatnya merasa lebih tenang. Perlahan, ia memejamkan matanya, membiarkan reaksi tubuhnya mengambil alih. Setidaknya dengan beristirahat bisa mengurangi rasa lelahnya hari ini.
Malam itu benar-benar menjadi milik mereka, dengan kelelahan yang dibayar dengan ketenangan sederhana.
Tiga insan itu terlelap dalam satu ruangan yang sama, dengan caranya masing-masing. Tidak ada kata cinta yang diucapkan malam itu. Hanya tindakan kecil dan pengorbanan yang tidak terlihat, dan itu sudah lebih dari cukup.
Terkadang, cinta tidak selalu ditunjukkan dengan kata-kata. Karena pada akhirnya, cinta bukan hanya hadir di saat bahagia. Tapi tentang kebersamaan, bahkan ketika kata lelah itu tidak pernah sempat untuk diucapkan.
^^^Bersambung...^^^
Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁