Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9.Pertemuan dan Catur
Langit di atas Kota Kuoh telah berubah menjadi beludru hitam yang pekat, hanya dihiasi oleh sekelompok bintang yang berkedip malu-malu di balik awan tipis. Keheningan malam ini terasa tidak wajar; tidak ada suara serangga, tidak ada desau angin yang biasanya memainkan dedaunan oak di halaman Akademi Kuoh. Sekolah yang tadinya penuh dengan hiruk-pikuk remaja kini berubah menjadi bayang-bayang raksasa yang kaku, seolah-olah bangunan itu sendiri sedang menahan napas.
Ren berdiri di tengah taman belakang, tepat di depan air mancur tua yang telah kehilangan kejayaannya. Ia tidak lagi mengenakan seragam sekolahnya. Kali ini, ia mengenakan mantel panjang berwarna hitam legam dengan kerah tinggi yang menutupi sebagian lehernya. Kacamata hitamnya tetap terpasang, namun di kegelapan malam ini, Six Eyes bekerja dengan intensitas yang lebih tinggi. Baginya, dunia malam tidaklah gelap; ia melihat aliran energi sihir yang berwarna biru pudar menyelimuti tanah, dan titik-titik merah dari sisa-sisa energi iblis yang tertinggal di udara.
Ia melangkah mendekati kolam air mancur yang retak. Setiap langkahnya tidak menimbulkan suara, seolah-olah gravitasi tidak sepenuhnya berlaku padanya. Ren berjongkok, menyentuh permukaan semen yang dingin dan berlumut dengan ujung jemarinya.
"Di sini," batinnya. "Sesuatu yang murni terkubur di bawah tumpukan dosa tempat ini."
[SISTEM: Lokasi tepat dikonfirmasi. Kedalaman: 1,5 meter di bawah fondasi utama air mancur.]
[SISTEM: Peringatan—Energi suci ini memiliki resonansi yang berlawanan dengan energi Iblis di sekitar sekolah. Ekstraksi akan memicu getaran pada penghalang Akademi.]
[REN: Biarkan saja mereka merasakannya. Aku hanya butuh waktu tiga detik untuk mengambilnya sebelum mereka bisa menentukan koordinatku.]
Ren memejamkan matanya di balik lensa gelap. Ia tidak menggunakan sekop atau alat fisik apa pun. Sebaliknya, ia mulai memanipulasi ruang di sekitar tangannya. Udara di depan jemarinya tampak bergetar, seolah-olah realitas sedang dipaksa untuk terbuka. Ini adalah aplikasi halus dari kekuatan Limitless miliknya—mengkompresi ruang agar ia bisa menjangkau objek tanpa harus merusak permukaan tanah secara kasar.
Perlahan, tangannya seolah tenggelam ke dalam semen padat tanpa perlawanan, seakan-akan air mancur itu hanyalah bayangan cair. Di kedalaman tanah, indera perabanya merasakan sesuatu yang sangat dingin namun menenangkan. Sebuah objek kecil, keras, dan memancarkan panas yang suci.
Saat jarinya menyentuh objek tersebut, sebuah pendaran cahaya putih keperakan mulai merembes keluar dari sela-sela retakan air mancur. Cahaya itu begitu murni hingga kegelapan di sekitarnya seolah-olah dipaksa menjauh.
[SISTEM: Fragmen Salib Cahaya berhasil diamankan. Proses asimilasi ke dalam inventaris ruang...]
[SISTEM: Peringatan! Deteksi pergerakan cepat dari arah gedung Klub Ilmu Gaib. Dua tanda energi iblis sedang menuju lokasi Anda.]
Ren menarik tangannya keluar dengan gerakan yang sangat luwes. Di telapak tangannya, sebuah potongan logam berbentuk salib kecil yang patah bersinar dengan redup sebelum akhirnya menghilang ke dalam dimensi penyimpanannya. Ia berdiri tegak, merapikan mantelnya, dan kembali menyilangkan tangan di dada dengan tenang.
Ia tidak melarikan diri. Sebaliknya, ia justru berbalik perlahan, menatap ke arah bayangan pepohonan yang gelap.
"Kalian datang lebih cepat dari yang kuperkirakan," ucap Ren, suaranya yang bariton membelah kesunyian malam dengan kepercayaan diri yang mutlak. "Apakah para iblis di sini memang tidak pernah tidur, atau aroma cahaya ini terlalu menyengat bagi hidung kalian?"
Dua sosok muncul dari balik kegelapan. Yang pertama adalah seorang pemuda tampan berambut pirang dengan senyum ramah yang tidak mencapai matanya—Kiba Yuuto. Di sampingnya, seorang gadis kecil berambut putih pendek dengan seragam sekolah yang tampak sedikit kebesaran—Koneko Toujou.
Kiba memegang sebilah pedang yang baru saja ia ciptakan melalui Sword Birth, sementara Koneko mengepalkan tinjunya, matanya yang datar menatap Ren dengan kewaspadaan tingkat tinggi.
"Saiba Ren-kun," Kiba menyapa dengan nada yang sopan namun penuh selidik. "Apa yang dilakukan murid pindahan di tempat sepi seperti ini pada jam satu pagi? Apalagi setelah ledakan energi suci yang baru saja terjadi di sini."
Ren memiringkan kepalanya sedikit, membuat cahaya bulan memantul di permukaan kacamatanya. "Hanya mencari udara segar, Kiba-kun. Sekolah ini terasa sedikit... pengap di siang hari. Terlalu banyak kepura-puraan yang menyesakkan dada."
Koneko maju satu langkah, aura kekuatannya mulai menekan rumput di bawah kakinya. "Kau membawa sesuatu yang berbahaya. Serahkan, atau aku akan memaksamu."
Ren terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan bagi siapa pun yang mendengarnya. "Memaksaku? Gadis kecil, kau bahkan belum bisa mengendalikan energi di dalam tubuhmu sendiri dengan benar. Mencoba menekanku hanya akan membuat tulang-tulangmu terasa sangat berat."
[SISTEM: Analisis Pertempuran—Kiba Yuuto & Koneko Toujou. Peluang kemenangan: 100%.]
[REN: Tentu saja. Tapi aku tidak ingin menghancurkan mereka sekarang. Mereka adalah mainan favorit Rias, bukan?]
Ketegangan di udara meningkat drastis. Kiba mulai merendahkan tubuhnya, bersiap untuk menerjang dengan kecepatan tinggi, sementara Ren tetap berdiri dengan sangat santai, bahkan tidak mengubah posisi tangannya yang bersila. Bagi Ren, ini bukanlah ancaman; ini hanyalah hiburan kecil sebelum ia kembali ke tempat peristirahatannya untuk merencanakan langkah selanjutnya bagi para istrinya.