Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: DI BALIK DINDING KACA DAN RASA YANG NYATA
Hujan sisa badai semalam masih menyisakan rintik tipis saat mobil SUV lapis baja milik Arlan memasuki sebuah gerbang kayu ek yang tersembunyi di kawasan perbukitan terpencil Bogor. Tempat ini berbeda dari mansion The Sanctuary yang kaku atau penthouse yang dingin. Ini adalah sebuah vila bergaya kolonial modern dengan dinding kaca besar yang menghadap langsung ke lembah hijau yang berkabut.
Arumi turun dari mobil dengan langkah lemas. Tubuhnya masih gemetar pasca penculikan Bram, namun dekapan Leon yang kembali ke pelukannya adalah obat penenang terbaik. Bayi itu tampak tidak menyadari drama hidup dan mati yang baru saja terjadi; ia hanya menggeliat kecil, mencari posisi nyaman di pundak Arumi.
"Ini rumah kakekku," suara Arlan memecah kesunyian. Pria itu berdiri di samping Arumi, tuxedo-nya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang kotor dan robek di bagian bahu. "Ibuku membenci tempat ini karena dianggap terlalu sederhana. Itu sebabnya tempat ini aman. Dia tidak akan pernah terpikir untuk datang ke sini."
"Sederhana?" Arumi menatap bangunan indah di depannya. Baginya, tempat ini tetaplah kemewahan yang tak terbayangkan, namun ada aura hangat yang membedakannya dari properti Arkananta lainnya.
"Masuklah. Kau butuh mandi dan istirahat," Arlan menuntun Arumi masuk.
Di dalam, Bi Inah sudah menunggu dengan wajah sembap karena tangis lega. Ia segera mengambil Leon dari gendongan Arumi agar Arumi bisa membersihkan diri. Arlan memberikan instruksi singkat kepada Raka untuk memperketat penjagaan di radius satu kilometer sebelum akhirnya ia sendiri melangkah menuju dapur.
Satu jam kemudian, Arumi keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan pakaian santai yang ditemukan di lemari kamar tamu—sebuah sweter rajut kebesaran berwarna krem dan celana kain panjang. Rambutnya yang masih basah dibiarkan terurai. Saat ia berjalan menuju ruang tengah, ia mencium aroma yang tidak biasa.
Aroma bawang putih ditumis dan mentega.
Arumi terpaku di ambang pintu dapur. Di sana, sang CEO Arkananta Group, pria yang biasanya hanya menyentuh pena emas dan dokumen miliaran rupiah, sedang berdiri di depan kompor. Arlan telah mengganti pakaiannya dengan kaos hitam polos yang pas di tubuhnya, memperlihatkan otot lengan yang kencang. Ia sedang mengaduk sesuatu di dalam panci.
"Tuan... Anda memasak?" Arumi bertanya dengan nada tidak percaya.
Arlan menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat tipis—sebuah senyum yang tidak dingin, tidak palsu, melainkan hampir... tulus. "Kakekku mengajariku bahwa pria yang tidak bisa memberi makan dirinya sendiri adalah pria yang lemah. Duduklah. Ini hanya sup ayam sederhana, tapi setidaknya ini akan menghangatkanmu."
Arumi duduk di kursi bar dapur, memperhatikan punggung Arlan. Keheningan di antara mereka kali ini tidak terasa menyesakkan. Ada rasa nyaman yang aneh merayap di hati Arumi.
Arlan menyodorkan semangkuk sup hangat di depan Arumi. "Makanlah. Kau butuh tenaga untuk menyusui Leon nanti malam."
Arumi mencicipi sesendok. Rasanya luar biasa enak, atau mungkin karena ia memang sedang sangat lapar dan lelah. "Terima kasih, Arlan."
Arlan duduk di hadapannya, hanya dipisahkan oleh meja marmer. Ia menatap lebam di pipi Arumi yang kini berwarna keunguan. Tanpa peringatan, Arlan mengulurkan tangannya.
Jemarinya yang panjang dan hangat menyentuh pinggiran luka itu dengan sangat lembut.
Arumi terkesiap, napasnya tertahan. Matanya bertemu dengan mata Arlan. Di dalam manik mata pria itu, tidak ada lagi kilatan "Iblis" yang selama ini ditakuti orang-orang. Yang ada hanyalah penyesalan yang mendalam.
"Maafkan aku, Arumi," bisik Arlan. "Seharusnya aku tidak membawamu ke pesta itu. Seharusnya aku tahu Bram akan menggunakanmu."
"Anda menyelamatkan kami," jawab Arumi lirih. "Anda datang tepat waktu."
"Aku hampir gila saat melihat van itu pergi," Arlan menarik tangannya, namun tatapannya tetap terkunci pada wajah Arumi. "Saat itu aku menyadari, jika sesuatu terjadi padamu... Leon bukan satu-satunya yang akan hancur. Aku juga."
Jantung Arumi berdegup kencang. Kalimat itu bukan bagian dari kontrak. Itu adalah pengakuan.
Malam semakin larut. Suara jangkrik dan gemericik air terjun kecil di luar vila menciptakan suasana yang intim. Leon sudah tertidur lelap setelah menyusu dengan tenang. Arumi berdiri di balkon kaca, menatap kabut yang menyelimuti lembah.
Tiba-tiba, sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya dari belakang. Arumi tersentak, namun ia tidak berontak saat merasakan dada bidang Arlan menempel di punggungnya. Arlan menyandarkan dagunya di bahu Arumi, menghirup aroma rambut Arumi yang wangi sampo melati.
"Dunia luar sedang kacau sekarang," gumam Arlan di dekat telinga Arumi. "Ibuku sedang mencoba mengambil alih kursiku di dewan direksi. Siska sedang mencoba membersihkan namanya dengan menyalahkan Bram sepenuhnya. Tapi di sini... aku hanya ingin menjadi Arlan."
Arumi membalikkan tubuhnya dalam dekapan Arlan. Jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter. "Kenapa Anda melakukan ini, Arlan? Kita hanya punya kontrak."
"Kontrak itu sudah terbakar di gudang tua itu, Arumi," Arlan menangkup wajah Arumi dengan kedua tangannya. "Aku tidak ingin kau menjadi tunangan palsu karena paksaan. Aku ingin kau berada di sini karena kau ingin melindungiku, sebagaimana aku ingin melindungimu."
Arlan menundukkan kepalanya, perlahan namun pasti. Arumi memejamkan mata, membiarkan nalurinya mengambil alih. Saat bibir mereka bertemu, itu bukan ciuman yang penuh tuntutan, melainkan sebuah janji. Sebuah pengakuan bahwa di tengah badai pengkhianatan dan perebutan harta, dua jiwa yang hancur ini telah menemukan kepingan yang hilang.
Namun, di tengah kemesraan itu, ponsel Arlan di atas meja bergetar hebat. Sebuah pesan video masuk.
Arlan melepaskan pelukannya dan meraih ponselnya. Wajahnya seketika berubah menjadi pucat pasi. Ia memutar video itu.
Di layar, terlihat seorang wanita cantik dengan pakaian glamor—Elina, mantan tunangan Arlan yang dikabarkan meninggal setahun lalu. Ia berdiri di depan gedung Arkananta Group.
"Halo, Arlan Sayang. Aku dengar kau menemukan mainan baru untuk menyusui putraku? Sayang sekali, 'ibu kandung' yang asli sudah kembali. Sampai jumpa di pengadilan besok pagi untuk merebut kembali hak asuh Leon. Oh, dan sampaikan salamku pada pelayan kecilmu itu."
Video berakhir. Arumi yang ikut melihat video itu merasa kakinya lemas.
"Dia... dia masih hidup?" bisik Arumi.
Arlan mencengkeram ponselnya hingga buku jarinya memutih. "Dia tidak pernah mencintai Leon. Dia meninggalkannya saat Leon baru lahir karena dia lebih memilih harta warisan dari pria lain di luar negeri. Sekarang, dia pasti kembali karena disuruh ibuku."
Badai yang baru saja reda kini kembali dengan kekuatan penuh. Musuh mereka kali ini bukan lagi pengkhianat seperti Bram atau sosialita seperti Siska, melainkan hukum dan darah daging yang sah.