Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.
Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?
Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?
Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja
27 Oktober 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
WARNING TYPO BERTEBARAN
***
Melisa POV
Sinar mentari menyilaukan mata. Suara bel mengema diseluruh penjuru. Siswa sekolah menengah atas berhamburan keluar gedung. Mengendong tas mereka sambil bercanda gurau melepaskan beban yang dimiliki. Berjalan bersama kawan atau sendiri mengikuti langkah kaki.
Hari yang indah tanpa ada masalah. Aku merindukan kehidupan normal seperti ini tanpa harus bermain peran. Aku senang seharian ini tidak berinteraksi dengan pemain protagonis. Aku bisa melangkah dengan ringan ke rumah. Sampai rumah aku akan maraton drama korea true beauty ditemani popcorn dan minuman soda.
Aku sampai gerbang sekolah yang besar melangkah keluar. Aku terdiam sementara waktu memperhatikan mobil sport putih menghampiriku. Mobil putih bermerek ferrari berhenti tepat didepanku. Kaca hitam berlahan turun menampilkan pemiliki mobil tersebut. Pemuda tampan dengan rambut hitam dan mata setajam elang. Pemuda itu menoleh kearahku dengan tatapan tanpa minat “Masuk.” Satu kata penuh dengan perintah tanpa penolakan.
Helaan nafas keluar dari bibir tipisku. Aku membuka pintu dengan kepercayaan diri. Membawa seluruh tekat dan keberanian untuk menghadapi rintangan didepanku. Aku duduk disamping pemilik mobil. Memasang pengaman bersamaan dengan laju mobil putih ini.
“kita akan kemana?” Akhirnya aku membuka mulutku setelah sekian detik terdiam. Aku bertanya untuk mengetahui lokasi tujuan. Hanya sebagai bentuk antisipasi atas hal-hal yang tak terduga.
“Haneul Park” ucap Elgartara singkat tanpa menoleh kearahku.
Aku menoleh kearahnya menampilkan ekspresi tercengang. Mengapa ia mengajakku ketempat seperti itu? apakah ia mengajak seorang Melisa kencan? Itu mustahil.
“ Jangan salah paham, ini karena tugas pak Agus” kata Elgartara menjelaskan ucapan sebelumnya.
Seperti dugaanku “Mustahil kau mengajakku jalan.” Aku menolek kearah Elgartara yang tampak tidak tersinggung dengan perkataanku. Hal itu terbukti tanpa adanya perubahan pada wajahnya. Aku mengalihkan pandanganku keluar kaca mobil. Aku memperhatian bangunan yang berjejer rapi sepanjang-jalan bersamaan dengan lalu lalang manusia.
Aku menginggat kejadian kemarin saat pak Agus memberikan tugas kelompok. Tugas kami membuat sebuah film pendek mengenai sebuah tempat. Satu kelompok beranggotakan enam orang. Untuk tempat pelaksanaan akan ditentukan melalui undian.
Aku tidak beruntung satu kelompok dengan Elgartara. Elgartara si tukang perintah, tidak mengalah dan dominan. Nasib pemain pendukung yang selalu nempel kepemain utama. Aku keluar kelas untuk menghilangkan badmood tentu saja dengan alasan yang masuk akal. Aku berhenti disebuah taman mini. Aku duduk disebuah kursi panjang memandangi warna-warni bunga dengan tatapan kosong. Aku kembali saat pergantian jam pelajaran.
Aku berhenti melamun saat Elgartara menepikan mobilnya ke tempat parkir. Aku keluar dari mobilnya, menyamakan langkahnya "Apakah teman-teman sudah datang?" .Aku mencoba membangun percakapan yang berakhir keheningan. Aku menghelan nafas pelan 'mencoba ramah berakhir sakit hati'. Aku mengikutinya dalam diam 'tidak ada untungnya berbicara dengan balok es'.
Kakiku menginjak taman Haneul yang memajakan mata. Hamparan bunga yang luas dengan berbagai bentuk menjadi spot foto. Aku berjalan ditingah hamparan bunga kochia yang merah menawan. Melewati pink muhly yang yang mulai mekar dengan warna merah mudanya. Selain itu ada bunga cosmos yang memiliki berbagai warna cerah yang menyegarkan mata.
Aku melihat Elgartara duduk disalah satu Gazebo yang tersedia. Setelah puas berfoto dengan berbagai spot foto. Aku mendekatinya berlahan bertanya dimanakah teman kelompok. Aku duduk disamping Elgartara memandang arah yang sama.
“Melisa” panggil Elgartara dengan suara berat. Aku menoleh “anak-anak tidak datang kita harus mengekspor tempat ini sendiri” jelas Elgartara yang diselingi kekesalan.
“Hanya berdua?” kataku bertanya untuk memperjelas keadaan yang kita alami.
Elgartara menarik nafas kasar menahan kekesalan “Iya, ikut aku”. Elgartara bangkit meninggalkan gazebo.
“Baiklah” kataku tanpa minat. Elgartara berjalan mendahuluiku tanpa menoleh. Aku berjalan dibelakangnya dengan wajah kesal. Mengambil ponselku didalam saku mengirimi pesan meminta penjelasan ketidakhadiran mereka.
Kami sampai ditempat padang silver grass. Silver grass atau bisa disebut rumput eulalia yang memiliki tinggi kurang lebih sampai 4m. Rumput eulalia meniliki nama ilmiah Miscanthus sinensis dari family padi-padian memiliki bentuk daun runcing yang tingginya sampai 75 cm dan lebarnya sampai 3 cm. Bagian bawahnya berbentuk rimpang dengan bunga putih yang ringan. Keindahan silver grass dapat dinilmati dari atas gardu pandang. Dari sini bisa melihat keindahan silver grass berpadu dengan tingginya gedung pencakar langit dan gunung yang menawan.
Kami sudah mendapatkan beberapa gambar dari gardu pandang. Kami pun turun untuk mendapatkan foto silver grass dari dekat supaya terlihat artistik. Aku berjalan beriringan dengan Elgartara tanpa sepatah katapun. Aku sibuk memotret pemandangan sekitar dan tentu saja diriku. Kedua kakiku mulai pegal berlahan aku mencari tempat duduk. Aku menoleh kekanan dan kekiri hanya rumput eulalia atau silver grass.
Aku melihat Elgartara yang duduk diantara bunga rumput eulalia sangat menawan. Elgartara seperti model yang sedang berpose duduk diantara silver grass dengan backgroun lapangan luas.
Setelah puas mengagumi karya Tuhan aku duduk disamping Elgartara. Aku menyerahkan ponselku pada Elgartara “ini hasil foto yang aku peroleh” . Elgartara menerima ponselku memeriksa satu persatu hasil jepretanku. “mengapa kau mendiamiku?” tanyaku kepada Elgartara. Aku penasaran sejauh mana kebencian seorang Elgartara kepada Melisa.
Mata Elgartara sibuk meneliti satu persatu foto yang aku peroleh “Kau ingkar janji” .Setelah sekian lama akhirnya bibir yang terkunci itu akhirnya terbuka. Aku memperhatikan setiap sudut wajahnya tidak ada perubahan apapun. “Kau membully lagi” lanjut ucapan Elgartara dengan nada yang terdengar santai.
“Aku masih memegang janjiku walau susah. Aku berusaha untuk tidak membully dengan mencoba melakukan hal lain” jawabku dengan santai. Aku memandang bunga diatas rumput eulalia yang terbang tertiup angin “Apa ini mengenai perempuan waktu itu?” tanyaku dengan nada sedikit curiga yang dibuat-buat. Sekilas aku bisa melihat perubahan ekspresi Elgartara. Kehebatan olivia dalam menaklukan cowok tidak diragukan lagi.
Setelah sekian detik Elgartara diam kemudian membuka mulutnya “Aku hanya tidak suka melihat penindasan didepan mataku” kata Elgartara dengan tegas. Dalam hati aku menjawab 'kau tidak perlu berkata sok pahlawan seperti itu katakan iya, apa susahnya?'. Aku tidak berani melontarkan perkataanku bisa berbahaya bagi nyawaku.
Aku sedikit mengubah posisi dudukku memandang Elgartara tepat dimatanya “ Elgartara apa kau punya bukti akulah pelakunya?” Aku mengatakan dengan serius. Mulut Elgartara diam terkunci matanya sedikit bergetar. Aku mendengus membuang muka mengarahkan pandangan kerumput eulalia yang menjulang keatas “Kalau ingin menuduh seseorang itu sebagai pelaku harus dengan bukti yang konkret. Didunia yang fana ini, kita tidak ada yang tahu siapa yang bersalah tanpa adanya sebuah bukti. Namun terkadang bukti bisa menipu”.
Aku berlahan berdiri untuk mencari spot foto baru. Alat pendengaranku menangkap suara rintihan yang lemah. Aku berjalan meninggalkan Elgartara mencari sumber suara rintihan yang kudengar.
Aku berjalan diantara silver grass membelah dedaunan rumput yang lebat dengan kedua tanganku. Suaranya terdengar dengan jelas pada sebuah kotak. Kotak usang tergeletak ditanah berbalut lumpur yang penuh lubang. Aku mengamati dari jarak dekat untuk melihat makluk apa yang berada didalam kotak. Aku melihat sosok makluk kecil ciptaan Tuhan dengan tubuh yang lemah. Makluk kecil itu tertutup bulu berwarna oren dengan keduan mata yang menawan. “ngeongg” geraman lemah sisa dari tenaga yang ia miliki. Badan kurusnya mencoba melawanku tanpa rasa takut. Sungguh ia pantas untuk hidup.
Aku mencoba mengeluarkan kucing kecil dari dalam kotak dengan susah payah. Sekitar tiga puluh menit akhirnya aku bisa mengeluarkan kucing kecil tersebut. Sekarang ia berada digengaman kedua tanganku dengan lemah ia bergerak untuk membebaskan diri 'dasar kucing oren bar-baran' teriakku dalam hati.
Aku mencoba menenangkan kucing kecil ini dengan cara mengelusnya. setelah tenang aku segera berdiri untuk menemui Elgartara memintanya mengatarkanku ke dokter. Kalau ia menolak akan aku gunakan berbagai cara. Aku berjalan menuju ketempat kami duduk.
Aku sedikit terkejut melihat keberadaan Elgartara. Ia berdiri tidak jauh dari tempat aku menemukan kucing kecil ini.Aku terpesona dengan gaya berdiri Elgartara diantara rerumputan. Sungguh pesona tokoh utama protagonis tidak ada tandingannya.
“kita bawa kucing itu ke dokter hewan” katanya sambil berjalan mendahuluiku. Aku yang melamun seketika sadar berjalan mengekorinya. Kami sampai di tempat parkir mobil. Kita berjalan menuju mobil sport ferary putih. Aku membuka pintu mobil kemudian masuk didalamnya. Aku melihat Elgartara mengambil sesuatu didalam dasbor. Ia mengambil sebuah kotak kecil memasukkan beberapa tisu kedalamnya. Kemudian menyerahkan kotak itu kepadaku.
Untungya aku paham maksud Elgartara membuat kotak yang diisi tisu. Sehingga aku langsung meletakkan kucing kecil itu kedalam kotak. Setelah itu baru kami berangkat ke dokter hewan untuk mendapatkan pertolongan.
Kami sampai di tempat dokter hewan terdekat. Elgartara masuk ke klinik terlebih dulu. Elgartara menemui dokter dan berbincang sebentar. Aku berjalan mendekati mereka membuat Elgartara menatapku“ Serahkan kucing itu pada dokter”.
Aku menyerahkan kucing kecil itu kepada dokter dengan berlahan. Setelah dokter menerima kucing kecil ini masuk kedalam ruangan. Kami menunggu sebentar kemudian dokter keluar dari tempat pemeriksaan. “Kucing ini memerlukan beberapa pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kesehatannya ”Dokter memberi jeda “maka diperlukan beberapa hari sehingga kucing kecil ini bisa dibawa pulang."
Aku mengangguk “baik dok kabari saya bila ada perkembangan”. Dokter membalas dengan angukan dan senyum hangat. Aku keluar dari klinik dengan perasaan khawatir.
Elgartara yang mengetahuinya mencoba menenangkanku dengan suara yang lembut “Tenanglah kucing itu akan baik-baik saja”. Aku menatap Elgartara tak percaya apa yang aku dengar. Elgartara tampak seperti malaikat.
Kami masuk kedalam mobil untuk kembali ke haneul park. Kami harus mencari spot untuk film sebanyak-banyaknya. Berkeliling tanpa lelah sampai bunyi perut kosong menghentikan segala aktifitas. Kami memutuskan untuk mencari makanan terdekat. Aku melihat ada beberapa food truck yang berjejer. Aku memilih membeli kebab dengan berbagai varian rasa yang menjadi satu. Mulai dari daging sampai sayuran hijau yang dilelehi keju rasanya sangat nikmat.
Bumi melakukan rotasi yang mengakibatkan terjadinya siang dan malam. Sehingga nampak matahari yang tenggelam bersama cahayanya. Kegelapan mulai menyelimuti daerah ini maka lampu-lampu yang terpasang mulai dinyalakan.
Haneul park terlihat mempesona dengan beragam warna dari hiasan lampu. Aku melihat pemandangan silver grass dari gardu pandang. Padang rumput eulalia atau silver grass yang putih sekarang berubah warna sesuai lampu yang dipasang sekelilingnya. Angin malam yang terasa dingin tidak menguragi keindahan haneul park.
Aku menyatukan kedua tanganku untuk menghalau rasa dingin. Pluk sebuah jaket mendarat dipundakku. Aku menoleh kepada seseorang yang sibuk memotret. “kanapa kau memberikanku jaket?” tanyaku kepada Elgartara.
Dengan berlahan ia menjauhkan kamera dari matanya membuat gerakan menoleh kepadaku “aku tidak mau mengedong mayat beku”. Mataku melotot tidak terima “aku ini tahan terhadap cuaca apapun”. Aku membalas Elgartara dengan sombong yang dibalas dengan dengusan kecil.
HACING tak berapa lama bunyi bersin dari mulutku bersamaan dengan ingus keluar dari hudungku. Wajahku merah menahan malu. Aku melirik Elgartara yang menahan tawa melihat kebodohanku.
“ayo pulang” ajak Elgartara dengan berat hati aku mengekorinya untuk kesekian kali.
Aku masuk kedalam mobil Elgartara yang langsung disodori tisu. Aku menerima dengan berat hati “terimakasih”. Mobil yang kami kendarai berlahan berjalan. Lagu rain to me dari kolaborasi penyanyi terkenal Lady Gaga ft Ariana Geande berputar indah mengiringi keheningan perjalanan pulang.
Dret dret dret bunyi ponselku menandakan sebuah telefon masuk. Aku mengecilkan volume musik. Aku menganggat telfonnya dengan menekan icon hijau. “halo kak Elisa” sapaku kepada guru lesku.
“Melisa besok sepulang sekolah apa kamu bisa jadi model penganti lagi? Karena model kami kebetulan ada acara keluarga kalau tidak salah kakaknya menikah” Tanya kak Elisa dengan hati-hati sekaligus curhat.
“ bisa kak besok sepulang sekolahkan?” tanyaku untuk memastikan
“Iya, makasih Melisa kakak tunggu besok” katanya yang diiringi suara anak kecil pasti kak Elisa lagi les privat. Aku tidak ingin menganggu orang belajar jadi memberikan salam singkat kemudian menekan icon merah.
Aku memasukkan hpku kedalam tas. Aku menekan pengeras musik untuk mendengarkan lagu kembali.“Siapa?” tanya seseorang yang sibuk menyetir. Aku menjawab Elgartara tanpa menolehnya masih sibuk mencari lagu “Kak Elisa.” Sebuah lagu dimainkan dalam keheningan malam.
***