Zielga Nadine adalah seorang forensik kepolisian yang terkenal karena kecerdasannya dalam memecahkan kasus-kasus tersulit. Kemampuannya membawa banyak penghargaan dan membuat namanya dikenal sebagai salah satu ahli forensik terbaik.
Namun di balik sosoknya yang brilian, Zielga menyimpan masa lalu yang kelam. Semasa SMP, ia mengalami perundungan brutal dan kehilangan harga dirinya berkali-kali. Luka itu tak pernah sembuh—dan menjadi api yang membakar seluruh hidupnya.
Bagaimana jika forensik jenius yang dipercaya semua orang ternyata menyimpan agenda gelap?
Inilah kisah benturan antara dendam yang membara dalam diri Zielga dan upaya polisi mengungkap kebenaran.
Siapa yang akan menang: Zielga, yang bertekad membalas semua rasa sakitnya, atau aparat kepolisian yang tanpa sadar sedang memburu rekan mereka yang paling mereka hormati?
Di atas kertas bertuliskan “Keadilan”, sebuah pertempuran dimulai.
cerita ini hanya fiksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gdc Hb vl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Malam hari di kota roves terlihat Gedung-gedung pencakar langit berdiri seperti raksasa yang terbangun, memamerkan ribuan mata bercahaya yang menembus pekatnya malam.
Di tepian atap sebuah gedung, seorang gadis duduk sendirian, membiarkan kakinya menjuntai bebas di atas jurang kegelapan kota.
Itu ziel Setelah melakukan transaksi dengan sam, ziel pergi ke sebuah gedung yang kosong.
Wajahnya mengarah ke atas menatap langit dengan tatapan yang sulit di artinya.
Pandangnya tertuju pada bulan yang bersinar terang bersama bintang-bintang yang menemani nya.
Sirnar bulan itu mengenai mata ziel memantulkan cahaya lewat matanya.
Ziel hanya diam namun matanya yang awalnya terlihat sedikit terang kini cahaya nya meredup secara perlahan.
Cairan bening mulai keluar melalui tepi bawah kedua mata ziel.
Saat dia menatap bulan ingatan masa lalunya mulai keluar ingatan di mana sebuah bulan dan bintang menjadi saksi bisu malapetaka dirinya.
Ingatan di mana dirinya kehilangan hal yang paling dia jaga, teriakan, tangisan dan permohonan yang telah ziel keluar kan waktu itu tak dapat menghentikan kebejatan seseorang.
Kini air mata ziel telah lolos di matanya mengalir melalui pipinya hingga menetes ke tangan ziel yang memegang tepi gedung.
Ziel menoleh ke arah punggung telapak tangannya ketika merasakan sesuatu yang menetes mengenai tangannya.
Setelah melihat cairan bening tersebut, tangannya terangkat mengusap air matanya yang terus keluar tanpa henti.
"Menyebalkan!" Umpat ziel pada dirinya sendiri, dia kesal, marah pada dirinya sendiri, yang masih begitu lemah hanya karena masa lalu.
Batinnya mulai berkata kenapa dia menangis lagi dan lagi hanya untuk kenangan yang lama.
"Tenang saja ziel, sebentar lagi merea akan merasakan hal, yang lebih dari yang kau rasakan" ucap ziel pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba tangan berhenti mengusap airmata nya, dan membiarkan mereka mengalir melalui pipinya.
Mata ziel kembali menatap bulan, air matanya menalir dengan tatapan kosong ke langit.
Semakin lama, matanya semakin gelap dengan air mata yang terus mengalir melalui pipinya, saat itu secara perlahan bibirnya melengkung ke atas menampilkan senyuman yang begitu aneh namun memancarkan kepuasan dari hasil pikiran nya saat itu.
***
Pagi hari telah tiba
Ziel merapikan Berkas-berkas nya yang ada di mejanya, menatap ulang tempat pada berkas tersebut agar lebih mudah di gunakan.
"Kak ziel ada pembunuhan!!" gerakannya terrhenti ketika mendengar ucapan azri. Dia dengan cepat menghentikan kegiatan nya dan pergi bersama azri ke perkara kejadian.
Skip
Tak lama kemudian mereka telah sampai pada tkp ( tempat perkara kejadian ).
Di sana terdapat seorang laki-laki yang masih terlihat muda tergeletak tak bernyawa di lantai ruang tamu rumahnya sendiri.
Cairan merah keluar melalui area bekas tusukan pisau pada lehernya bagian samping kanannya.
Laki-laki itu telah kehilangan nyawanya dengan mulut yang mengeluarkan darah, matanya terpejam serta tangan kanannya yang memegang pisau bekas tusukan pada lehernya.
Ziel berjongkok di depan mayat mengamati keadaan mayat dan juga sekitarnya.
Di saat itu arzi ikut berjongkok sambil berkata " korban di duga bunuh diri di dalam rumah, tapi kak aksa bilang ini pembunuhan!"
Jika kalian bertanya di mana aksa, davis dan mika, mereka tengah mencari petunjuk dari luar tkp mulai dari bertanya ke tetangga dan mengamati area rumah korban.
Ziel terdiam sebentar ketika mendengar ucapan azri, perasaan kesal mulai membanjiri dirinya ketika tau aska makin berkembang dalam mengamati dan meneliti sebuah kejadian,ini mungkin akan membuat ziel harus ekstra lebih hati-hati pada aksa agar dia tak di ketahuan.
Ziel segera sadar kembali matanya mulai menyelusuri kondisi mayat dengan teliti dan area sekitar mayat
"Ini memang pembunuhan!" Ucap ziel di sela penyelidikan nya.
Arzi bengong sebentar lalu bertanya "bagaimana kak ziel tau!" Tanya nya dengan penasaran.
Ziel segera mendekatkan kedua tangannya ke arah leher korban sambil mengarahkan luka tersebut ke arah arzi.
"Kau lihat luka di lehernya, luka itu memiliki satu tusuk yang lurus dan rapi yang berarti luka hanya dengan sekali tusuk, jika seseorang ingin bunuh diri biasanya Keraguan akan ada dalam dirinya hingga membuat luka pasti berantakan" jelas ziel pada arzi.
Arzi mengangguk dengan mengerti saat mendengarkan ziel, dia kemudian bertanya kembali.
"Lalu bagaimana pembunuhnya pergi, jika semua jalan keluar terkunci dari dalam"
Mendengar pertanyaan arzi, ziel hanya diam, dia kemudian berdiri mengamati sekeliling bagian dalam rumah yang di temani oleh arzi.
"Siapa yang melaporkan korban?" Tanya ziel sambil mengamati beberapa jendela yang ada di dalam ruangan.
"Seorang laki-laki yang bernama wandri yang merupakan tetangga korban melaporkan hal tersebut di pagi hari ketika sedang mengembalikan barang milik korban
Karena pintu rumah korban terbuat dari kaca, tetangga tersebut tak sengaja melihat korban yang terbaring dengan darah di sekitarnya membuat saksi segera menelepon polisi!" Jawab arzi pada ziel.
Ziel terus mengamati semua ruangan, mulai dari jalan pintu masuk dan keluar di seluruh rumah ziel perhatian.
dan dia mendapati hanya ada dua pintu masuk di rumah ini, pintu belakang dan pintu depan, dengan rumah satu lantai yang memiliki 12 jenderal kaca yang transparan dari luar.
Dari kamar korban terdapat dua jenderal, di ruang tamu ada enam, serta di dekat dapur ada dua.
Ziel kemudian memeriksa semua jendela di dalam rumah dan menemukan bahwa hanya beberapa jendela yang dapat di buka dan berfungsi, yaitu jendela kamar, satu jendela dekat dapur dan 2 jendela di dekat ruang tamu jadi total hanya ada 5 jendela yang berfungsi dan yang lainnya di paku dengan kuat hingga tak dapat di buka.
Jari-jari ziel kemudian memeriksa setiap paku pada jendela yang tak berfungsi mencoba mencari petunjuk, namun semuanya sedikit sia-sia, semua paku yang menempel pada jendela tak berfungsi itu telah tertancap kuat dan terlihat baru semua.
Azri yang dari tadi di dekat ziel sedikit bingung dengan apa yang ziel tengah amati.
"Apa saksi sudah di interogasi?" Tanya ziel di sela pengamatan nya.
Azri mengangguk dan menjawab dengan tegas "sudah, dia bilang hanya datang untuk mengantarkan barang yang dia pinjam kemarin pada korban, saat berada di depan pintu dia tak sengaja melihat pemandangan yang mengerikan ini" jelas arzi.
"Korban dan tetangga adalah laki-laki umurnya 25 yang tinggal sendiri di pekarangan ini" tambah azei pada ziel.
Ziel hanya mengangguk mengerti dan memeriksa lagi jendela yang ada di rumah tersebut.
Di salah satu jendela rumah pada bagian ruang tamu terdapat satu jendela pintu yang engselnya terlepas dari jendela hingga bisa di katakan jendela tersebut menempel karena ada paku.
"Kak ziel ada petunjuk dari tetangga yang kami temukan" saat ziel dan azei tengah mengamati sekitar mika dan davis tiba-tiba masuk memberikan informasi kepada ziel.