Kerajaan Zorvath, sebuah negeri yang megah dan agung, dipimpin oleh Raja Reynold Arcturus Zorvath dan Ratu Aurelia Elyse Zorvath. Mereka telah mengikat janji suci selama 20 tahun, namun takdir masih belum memperkenankan mereka untuk memiliki penerus. Empat musim berganti, dari panasnya matahari hingga dinginnya salju, namun harapan akan kehadiran pewaris tahta masih belum terwujud.
Zorvath, sebuah kerajaan yang dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi, menjadi saksi bisu atas perjuangan pasangan kerajaan ini. Desakan dari berbagai pihak semakin kuat, menguji kesabaran dan cinta mereka. Namun, Raja Reynold dan Ratu Aurelia tetap teguh, memegang erat janji mereka untuk menjaga kerajaan dan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chas_chos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Masa kini 9
Dokter Andreas menundukkan kepala lebih dalam, suaranya berat oleh rasa bersalah.
“Beliau takut, Yang Mulia,” katanya pelan.
“Takut dengan keadaannya, akan membuat anda dalam masalah , ia mencoba melindungi anda .”
Kata itu menghantam lebih keras dari apa pun yang sebelumnya dikatakan malam itu.
“melindungi?” ulang Raja Reynold lirih.
Ia menggeleng perlahan, lalu tertawa pendek—tawa yang patah.
“Selama ini aku berpikir aku melindunginya dari tekanan para bangsawan,” katanya.
“Ternyata… justru aku bagian dari tekanan itu.”
Dokter Andreas mengangkat wajahnya.
“Ratu Aurelia selalu berkata bahwa Anda adalah tempat teraman baginya,” ujarnya cepat, seolah takut kata-kata itu terlambat.
“Namun justru karena itu… beliau tidak ingin menjadi alasan Anda dipandang lemah.”
Raja Reynold membisu.
Kini semuanya terasa masuk akal:
mengapa Ratu Aurelia selalu mengalihkan pembicaraan soal penerus,
mengapa ia tampak lega setiap kali perhatian publik beralih ke isu lain,
mengapa senyumnya selalu sedikit… dipaksakan.
“Apa sebenarnya kondisi medisnya?” tanya Raja Reynold akhirnya, suaranya dingin namun terkendali.
Andreas menarik napas panjang.
“Gangguan implantasi berulang,” jawabnya jujur.
“Secara sederhana, tubuh Ratu menolak mempertahankan kehamilan setelah pembuahan. Bukan karena janin cacat. Bukan karena infeksi. Melainkan respons biologis yang… belum sepenuhnya dipahami oleh dunia medis”
“Bisa diobati?”
“Mohon maaf yang mulia” jawab Dokter Andreas.
“Peluangnya kecil. Sangat kecil. Dan setiap percobaan telah kami lakukan selama ini, tetapi hasil nya selalu sama”
Raja Reynold memejamkan mata.
Di luar sana, kerajaan menuntut pewaris.
Di hadapannya, kenyataan menuntut kejujuran.
“Dan sekarang?” tanyanya.
“Kondisinya?”
Dokter Andreas ragu sejenak.
“Kemungkinan sudah sangat kecil untuk berhasil, , , semua cara sudah kami lakukan , tetapi mohon maaf yang mulia . Kondisi fisik yang mulia ratu sudah tidak bisa memungkinkan lagi untuk mengandung”
Raja Reynold berdiri.
Tidak ada ledakan emosi.
Tidak ada teriakan.
Justru ketenangan yang mengerikan.
Ia menatap dokter andreas lurus-lurus.
“Padahal kerajaan ini berdiri karena dia berdiri di sisiku.”
Ia menarik napas panjang.
“Jika para bangsawan ingin penerus,” lanjutnya, “maka mereka akan mendapatkannya lewat Olivia. Bukan lewat tubuh Aurelia.”
Dokter Andreas terperanjat.
“Itu akan memicu gejolak politik, Yang Mulia.”
Raja Reynold mengangguk.
“Aku tahu.”
Namun kali ini, di matanya bukan lagi hanya duka.
Ada keputusan.
“Aku tidak akan mengorbankan istriku hanya demi menjaga kestabilan kerajaan ini,” katanya tegas.
“Jika aku harus berperang… maka kali ini bukan melawan musuh luar, melainkan sistem yang selama ini kita biarkan.”
.----------
Olivia Arcturus Zorvath adalah adik tiri Yang Mulia Raja Reynold, putri dari selir kesayangan mendiang raja terdahulu. Ketika sang raja wafat dan ratu terdahulu—ibu kandung Raja Reynold—meninggal lebih dahulu, selir anna diangkat menjadi Ibu Ratu. Sejak saat itu, Olivia tumbuh dalam bayang-bayang istana, dilindungi oleh nama besar ibunya dan darah kerajaan yang mengalir di nadinya.
Olivia dikenal sebagai sosok yang gemar berfoya-foya dan bersikap sombong. Hampir seluruh bangsawan muda memandangnya dengan rasa tidak suka, namun tak seorang pun berani menegurnya. Meski sang Ibu Ratu telah lama dilucuti dari kekuasaan politik, pengaruhnya masih terasa—cukup kuat untuk membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum berani menentang putrinya.
Tragedi terbesar kerajaan terjadi setelah Raja Reynold menikahi Ratu Aurelia. Sang ratu mengalami keguguran, peristiwa yang mengguncang istana dan menghancurkan hati sang raja. Penyelidikan istana kemudian mengungkap kebenaran kelam di balik musibah tersebut: keguguran itu bukan kehendak takdir semata, melainkan akibat perbuatan keji Ibu Ratu. Bukti-bukti yang tak terbantahkan akhirnya menyeretnya ke dalam aib besar kerajaan. Murka dan duka bercampur menjadi satu, Raja Reynold pun mencabut seluruh kewenangan Ibu Ratu dan menyingkirkannya sepenuhnya dari urusan pemerintahan.
Kerajaan tetap utuh, namun luka di dalam istana tak pernah benar-benar sembuh.
Banyak bangsawan yang dahulu mendukung Ibu Ratu kehilangan pijakan, sebagian memilih berbalik arah demi mempertahankan posisi mereka. Namun ada pula yang masih menyimpan kesetiaan tersembunyi, percaya bahwa pengaruh lama belum sepenuhnya mati. Di sisi lain, bangsawan yang setia kepada Yang Mulia Raja Reynold berdiri menjaga kestabilan kerajaan, sembari waspada terhadap bayangan intrik yang sewaktu-waktu dapat bangkit kembali.
Mendengar penjelasan Dokter Andreas, hati Raja Reynold seakan diremas kuat oleh rasa bersalah. Kata-kata sang dokter terus terngiang di kepalanya, menembus pertahanan hatinya. Bayangan wajah Ratu Aurelia terlintas jelas—senyumnya yang lembut, tatapannya yang selalu penuh pengertian.
Selama ini, Raja Reynold kerap mengatakan pada Aurelia bahwa ia ingin memiliki banyak anak bersamanya. Ia mengucapkannya dengan penuh harapan, tanpa pernah menyadari beban yang diam-diam dipikul sang ratu.
Kini, kenyataan itu menghantamnya tanpa ampun. Keinginannya yang terdengar indah ternyata menjadi sumber tekanan dan luka yang tak pernah ia maksudkan. Raja Reynold memandang foto ratu aurelia dengan sendu.
“Sayang…” bisik Raja Reynold lirih, jemarinya bergetar saat mengusap bingkai foto Ratu Aurelia. Senyum dalam foto itu tampak begitu nyata, seolah sang ratu masih berdiri di hadapannya, menatap dengan mata penuh kelembutan yang selalu membuatnya merasa pulang.
“Pulanglah, ya…” suaranya pecah. Mata Raja Reynold berkaca-kaca, napasnya tersendat menahan perasaan yang menyesakkan dada. Keheningan kamar seakan ikut berduka, menyisakan hanya detak jam dan suara isak yang tertahan.
“Ampuni suamimu yang bodoh ini,” ucapnya sendu, keningnya menempel pada bingkai foto itu.
“Tanpamu… apa artinya aku? Tahta ini, istana ini—semuanya hampa tanpa kehadiranmu.”
Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum pahit, seolah mencoba menghibur dirinya sendiri. “Tak apa jika kita hanya berdua,” lanjutnya pelan, namun nada suaranya mulai berubah. “Aku tak butuh siapa pun selainmu.”
Tatapan Raja Reynold mengeras, meski air mata masih menggantung di pelupuk matanya.
“Kau hanya akan membutuhkan aku,” katanya dengan nada posesif yang halus namun tegas. “Dan aku pun hanya membutuhkanmu. Tak akan ada siapa pun yang merebutmu dariku. Tidak sekarang. Tidak selamanya.”
Ia memeluk foto itu erat, seakan takut kehilangan untuk kedua kalinya.
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
25 Desember 2025
Happy Reading