NovelToon NovelToon
Anaknya Disusui, Daddy-nya Yang Terpikat

Anaknya Disusui, Daddy-nya Yang Terpikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Janda / Cinta Seiring Waktu / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ita Yulfiana

Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.

Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Taktik Manipulatif

"Mbak Rahmi, kamu baru pulang jam segini?" Firda mendongak menatap jam dinding. Sudah pukul 15.23, dan babysitter itu baru pulang padahal berangkatnya sebelum jam delapan tadi pagi.

Rahmi meringis. Memijat kedua pelipisnya dengan sebelah tangan. "Iya. Tadi aku melewati serangkaian pemeriksaan panjang, dan resep obatku baru keluar setengah jam yang lalu, jadi aku pulangnya agak sore."

"Apa kata dokter?"

"Kata dokter aku tidak boleh kelelahan, tidak boleh begadang, apalagi sampai kurang tidur. Karena kalau tidak, lama-lama sakit kepalaku bisa akut, dan kemungkinan buruknya bisa muncul gejala komplikasi penyakit lain."

"Ya ampun, ternyata separah itu. Mbak Rahmi kasihan sekali." Firda merasa prihatin. "Padahal pekerjaan Mbak Rahmi berlawanan dengan pantangan penyakitnya Mbak. Apa tidak sebaiknya Mbak Rahmi istirahat saja dulu jadi babysitter sampai kondisinya lebih baik?" tambah Firda, coba memberi saran terbaik dari sudut pandangnya. Apalagi ini menyangkut kesehatan yang merupakan segala di atas segala-galanya. Sayangnya, Rahmi justru diam-diam emosi mendengar saran darinya.

"Sia**n! Jadi dia nyuruh aku berhenti kerja. Memangnya dia siapa?" batinnya. Meski marah, Rahmi tetap mampu menyembunyikan perasaan itu dengan baik.

"Tidak bisa. Kalau aku istirahat dari pekerjaan ini, keluargaku di kampung mau makan apa? Ini saja mereka tiap hari telepon tanya aku kapan gajian. Mereka butuh uang buat keberlangsungan hidup, sementara di sini aku baru hampir 2 minggu kerja tapi penyakitku justru malah kambuh." Tubuh Rahmi langsung luruh di lantai. Tubuhnya bersandar pada tembok. Wajahnya dia sembunyikan di balik kedua tangannya. Tak lama kemudian, punggungnya bergetar diiringi suara isak tangis. "Aku tidak tahu bagaimana nasib keluargaku kalau aku berhenti bekerja di sini. Aku takut mereka di sana mati kelaparan. Aku tidak sanggup membayangkan kehilangan orang-orang yang aku kasihi." Tangisan Rahmi terdengar semakin keras. Dia mengganti posisi menjadi memeluk lutut dan menyembunyikan wajahnya di sana, membuat Firda mau tak mau tergerak untuk menghampiri.

"Mbak Rahmi, sudah. Jangan menangis. Aku bisa mengerti perasaanmu." Firda menepuk-nepuk pelan punggung Rahmi untuk menenangkan. Matanya mulai berkaca-kaca karena merasa iba. Apalagi ini menyangkut keluarga. Dia paling lemah jika orang lain membahas hal tersebut, apalagi yang ada kaitannya dengan kehilangan orang tersayang untuk selama-lamanya.

"Bagaimana aku bisa tenang kalau keluargaku di sana kelaparan. Aku sudah berusaha pinjam uang kesana kemari, tapi tidak ada satu pun orang yang peduli. Semua teman-temanku justru menjauh saat tahu aku mau pinjam uang." Rahmi terus menangis sesenggukan. "Kalau sampai terjadi apa-apa pada mereka, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Aku akan membenci diriku sendiri. Hiks hiks hiks."

Firda menarik tangannya. Hatinya terenyuh mendengar beban penderitaan yang dialami Firda dan keluarganya yang ternyata begitu memprihatinkan. Soal kehilangan, tidak usah diceritakan, Firda sangat tahu seperti apa rasanya.

"Mbak Rahmi, sudah jangan sedih." Firda merogoh saku dress yang dia kenakan, mengeluarkan amplop berwarna coklat. Itu adalah gaji yang diberikan Arman untuk bayarannya minggu ini melalui Bi Mina sebagai perantara.

"Ini, aku punya sedikit uang. Untuk sementara waktu Mbak Rahmi tidak perlu ngutang sana-sini. Semoga uang ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga Mbak di kampung. Setidaknya sampai Mbak Rahmi terima gaji."

Tangisan Rahmi langsung terhenti. Wajah yang tadinya bersembunyi di antara kedua lututnya terangkat. Matanya yang basah terbuka lebar. Senyuman tipis tak kasat mata tersungging di wajahnya sembab. 'Wow, tebal juga.'

"Apa ini? Aku tidak bisa menerimanya." Rahmi mendorong pelan amplop itu kembali kepada Firda. "Aku takut tidak bisa membayarnya."

Firda tersenyum. "Ini bukan utang, Mbak. Aku memberikannya secara cuma-cuma untuk anggota keluargamu di kampung. Ambillah," katanya, meletakkan amplop itu ke dalam genggaman Rahmi.

Rahmi memasang wajah sok terharu. "Terima kasih banyak, Non Firda. Terima kasih banyak," ucapnya, lalu memeluk Firda. Diam-diam dia tersenyum miring.

Dasar T*lol. Gampang sekali dibodoh-bodohi. Sekarang aku tahu kelemahannya. Tinggal sentuh luka emosionalnya, dia langsung iba, dan uang pun bisa mengalir dengan lancar masuk ke kantongku. Hahaha.

...****************...

Semenjak tahu bahwa Firda gajian setiap minggu, Rahmi jadi memanfaatkan hal tersebut. Setiap kali dia tahu bahwa gaji Firda sudah diberikan oleh Bi Mina, dia akan menggunakan berbagai cara untuk menarik empati wanita itu. Salah satunya dengan alasan keluarganya diteror rentenir setiap hari agar segera melunasi nominal hutang yang tidak sedikit. Jika tidak, para body guard rentenir tidak akan segan menghajar mereka sampai mati jika tidak mau segera melunasi hutang.

Sambil menangis-nangis menceritakan masalah keluarganya itu kepada Firda, dan untuk kedua kalinya Firda kembali tertipu. Tapi di minggu berikutnya, Firda mulai curiga, apalagi saat melihat Rahmi malah upgrade ponsel terbaru yang sedang tren ketimbang membantu keluarganya yang sedang kesusahan setelah menerima gaji pertamanya. Meski sekarang Firda tidak punya ponsel pintar untuk melihat perkembangan zaman, tapi dia sangat tahu kalau milik Rahmi itu adalah seri keluaran terbaru dari brand bergengsi yang harganya tidak kaleng-kaleng.

"Keluargaku di kampung sedang ada keperluan mendesak. Nenekku terjatuh di kamar mandi dan masuk rumah sakit," cerita Rahmi memulai aktingnya sambil mengelap sudut dalam matanya bergantian. "Aku tidak mau kehilangan nenekku, dia yang sudah merawat aku dari kecil hingga aku dewasa," tambahnya sesenggukan.

Firda yang mendengar itu bukannya berempati justru lama-lama jadi ilfeel. Awalnya keluhan Rahmi atas penderitaan keluarganya di kampung memang bisa menarik empatinya, tapi makin ke sini kok rasanya makin menyebalkan. Apalagi saat melihat Rahmi justru malah membeli beberapa barang mahal seperti ponsel dan tas. Meski Rahmi mengatakan bahwa tas yang dibelinya adalah KW, dan ponsel yang harganya puluhan juta itu dia beli dengan cara dicicil, tapi tetap saja itu tidak pantas jika dia masih sering mengeluh masalah keuangan. Toh barang-barang mahal itu hanyalah penunjang gaya hidup, tidak dibeli juga sangat tidak apa-apa.

"Sabar ya, Mbak Rahmi." Firda menepuk pelan punggung babysitter itu untuk menguatkan, lalu mengatakan bahwa kali ini dia tidak bisa membantu.

Tangisan palsu Rahmi sontak terhenti. Dia kesal karena tipu dayanya tidak membuahkan hasil. Beberapa hari kemudian, dia kembali menangis pilu di depan Firda, berharap kali ini ibu susu itu kembali tergerak hatinya untuk membantu.

"Nenekku yang masuk rumah sakit tempo hari harus segera dioperasi, kalau tidak, nyawanya tidak bisa diselamatkan." Sayangnya, alasan apa pun yang diucapkan Rahmi tidak mampu lagi menarik empati Firda, membuat babysitter itu marah karena tidak bisa memanfaatkan Firda lagi.

...****************...

Arman baru naik ke tempat tidur setelah lembur hingga hampir tengah malam. Saat dia mulai menarik selimut, sebuah pesan masuk di ponselnya. Pria itu segera mengecek, ada pesan dari nomor tak dikenal, Setelah dibuka, matanya langsung terbelalak. Rahangnya mengetat seketika.

"Kurang ajar!" Dengan gerakan cepat Arman menyingkap selimut dengan kasar. Setelah sekian lama, dia akhirnya mau kembali ke rumahnya.

1
Cindy
lanjut
Lisa
Good morning Kak Ita..makasih y utk updatenya..
Lisa: Sama² Kak Ita..Amin..terimakasih juga y Kak..🙏💪
total 2 replies
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Indry Saleh
bagus karya..
Ita Yulfiana: ulala Kak Indry... thanks sudah jadi orang pertama yang kasih penilaian😍🫰🥰
total 1 replies
Indry Saleh
dek firza ohhhhhh di firza🤣🤣🤣🤣
Cindy
lanjut
💕Rose🌷Tine_N@💋
lanjut dong.. aku dah kasih vote ku yg satu satu nya nih😂
Ita Yulfiana: makasih banyak loh Kak sudah jadi orang pertama yang ngasih vote🫰😘🤭
total 1 replies
💕Rose🌷Tine_N@💋
apakah org tua Firda penghianat di perusahaan Arman ya?
tp kan Firda gk tau....jd gk bisa jg melampiaskan amarah ke dia nya dong..
💕Rose🌷Tine_N@💋
jd penasaran...ada informasi apa ttg Firda ya?
💕Rose🌷Tine_N@💋
aku mampir😍
Ita Yulfiana: makasih banyak Kak Rose🙏🏼🥰 semoga suka yah😊😊
total 1 replies
Indry Saleh
sippppp ceritanya, masih dipantau bab selanjutnya
Ita Yulfiana: makasih banyak Kak Indry🙏🏼🥰 semoga suka yah😊😊
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
emng lu tau firda masuk jajaran penghianat?😏
Lisa
Padahal Arman suka sama Firda 😊🤭
Cindy
lanjut
Lisa
Nah mulai terungkap tuh kejahatannya Ibu Risma..ayo Arman bereskan masalah itu..lindungi Firda..
Sastri Dalila
😂😂😂
Lisa
😊😊😊 ya tuh 2 pria mulai memperebutkan 1 wanita 🤭
Lisa
Wah Pras mulai berani menggoda Firda y 😊🤭
Sastri Dalila
😅😅😅😅😅kocak 2 org ne
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!