Dewangga tak menyangka di usianya yang menginjak 42 tahun, dia harus menikahi sahabat putrinya karena kesalahan pahaman. Pernikahan mereka pun harus dirahasiakan dari sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Escendol94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9~ Kembali tidur dalam pelukan
Bibir itu terasa sangat manis, seperti madu yang membuat candu, Dewangga ingin terus merasakannya, tapi ia sadar batasan agar tidak bertindak lebih jauh. Ibu jarinya mengusap bibir basah itu lembut, kedua netranya menatap lekat wajah cantik istrinya yang terlelap.
"Kau tidur seperti pingsan. Bahkan saat aku menci um mu kau tidak bangun." Dewangga mengusap pelan pipi kemerahan Riri. Rasanya ia ingin menggigit pipi itu. "Tidurlah." Kecupan lembut ia labuhkan ke kening istrinya.
Dewangga menarik tubuh Riri ke dalam pelukan. Nyaman, Dewangga mengeratkan pelukannya. Perasaan hangat memenuhi hati. Dulu, dia susah sekali untuk tidur, tapi sekarang semenjak memeluk tubuh kecil istrinya tidurnya menjadi sangat nyenyak. Matanya terpejam dan bibirnya tersenyum tipis.
Pagi harinya Riri terpaku dalam dekapan Dewangga. Lagi-lagi dia tidur di pelukan Dewangga. Riri merutuk dalam hatinya saat teringat mimpinya semalam. Bisa-bisanya dia mimpi bercium4n dengan Dewangga. Saat mengingat wajahnya terasa panas.
'Apa yang kau pikirkan, Riri?! Itu hanya mimpi!' batinnya.
Dia tidak berani bergerak sama sekali, padahal sudah setengah jam yang lalu dia bangun. Bahkan bernapas saja rasanya sulit.
Bukannya tidak tahu istrinya sudah bangun, Dewangga menyadarinya, tapi masih enggan untuk membuka mata. Dia masih ingin memeluk lebih lama. Sampai suara adzan terdengar dia baru melepaskan pelukan.
"Sudah bangun?" Dewangga mengecup kening Riri.
Matanya melotot mendapat kecupan tiba-tiba. Riri mengangguk kaku. "S...sudah, Om." Riri meneguk ludah saat melihat da da bidang suaminya tepat di depan wajah. "Om, apa aku tidur sambil jalan lagi?" tanyanya.
"Hem, dan kamu memaksa saya untuk memelukmu," jawab Dewangga. Diam-diam bibirnya menyunggingkan senyum.
Riri mendongak. "Kenapa Om nggak nolak? Om bisa kok menolak," ucapnya.
Dewangga menunduk melihat wajah Riri yang memerah. Melihat wajah cantik istrinya membuat Dewangga tak tahan, ingin sekali menerkamnya saat ini juga.
'Dia sangat cantik, membuatku gemas,' batin Dewangga.
Kenapa dulu Riri terlihat biasa saja, tapi sekarang terlihat begitu cantik? Apa karena dulu dia tidak pernah memperhatikan gadis ini?
Riri kembali menunduk melihat tatapan Dewangga yang terlihat aneh. "Kenapa Om nggak nolak sih!" gerutunya.
"Mandilah, kita shalat bersama." Bukannya menjawab Dewangga malah memberi perintah.
Tanpa menunggu lama Riri bergegas bangun dan segera kabur dari kamar Dewangga. Sampai di kamarnya dia memegang dada. "Kenapa lagi-lagi aku tidur di kamar Om Dewangga?" Dia menghela napas. "Kalau pulang ke Jakarta aku harus periksa ke Dokter." Dia harus mengobati tidur berjalannya, begitu pikirnya.
Riri segera membersihkan diri dan kembali ke kamar Dewangga. Begitu masuk ke dalam kamar, Riri terpaku melihat Dewangga sudah menunggu di sana. 'Nura, apa kamu bisa memaafkanku kalau aku jatuh cinta pada papamu?'
Pria dewasa itu terlihat sangat tampan dengan penampilan seperti itu. Jantung Riri sampai berdebar tak karuan melihatnya.
Dewangga menoleh. "Kemarilah," ucapnya.
Meksipun wajah itu tanpa ekspresi, tapi di mata Riri justru terlihat sangat mempesona. Dia segera berjalan mendekat sambil memeluk mukena miliknya.
Mereka menjalankan ibadah bersama untuk pertama kali sebagai pasangan suami-istri.
*,*
Siang hari Dewangga mengirim pesan, menyuruh Riri bersiap karena mereka akan kembali ke Jakarta sore nanti.
Perasaannya sedikit gelisah mengingat akan bertemu Nura. Sudah satu Minggu dia selalu menolak panggilan vidio dari sahabat baiknya itu. Sampai sekarang Nura tidak tahu jika dia ikut ke Jepang.
"Om...." Riri menyambut suaminya yang baru saja pulang.
"Kita mampir dulu ke Singapura menjemput Nura," kata Dewangga.
Kedua mata Riri melotot. "Aku ikut, Om?" tanyanya panik. Bagaimana dia bisa ikut ke Singapura? Jika dia ikut, Nura pasti akan bertanya-tanya.
"Aku ke Jakarta saja, Om." Riri menolak.
"Nura sendiri yang minta kamu ikut ke Singapura," kata Dewangga.
Riri melotot. "Nura sudah tau kalau saya ikut Om ke Jepang?" Kedua jemarinya saling meremas.
Dewangga mengusap rambut Riri pelan. "Saya bilang sudah di Jakarta."
Riri menghembuskan napas lega mendengarnya. "Syukurlah, Nura nggak tau kalau saya ikut Om ke sini. Jangan sampai Nura tau kalau kita sudah menikah," ucapnya.
Dia menarik tangan, ekspresinya berubah dingin. "Kamu benar-benar tidak ingin orang tau pernikahan kita?" tanyanya dengan nada dingin.
Refleks Riri menganggukkan kepala. Dia menunduk takut saat melihat wajah datar Dewangga. "Nura selalu ingin Om rujuk sama ibunya," ucapnya lirih. "Saya juga tidak mau orang lain tau kita sudah menikah," tambahnya.
'Kalau orang tau kita menikah, itu hanya akan menjadi bahan tertawaan,' gumamnya dalam hati.
Dewangga mendengkus, tanpa bicara dia pergi meninggalkan Riri.
Perlahan Riri mengangkat wajah, melihat Dewangga yang pergi membuat hatinya merasa bersalah. "Kenapa dia harus marah?" gumamnya. 'Apa Om Dewangga ingin pernikahan ini diketahui semua orang? Tapi kenapa? Bukankah dia dari dulu nggak pernah suka sama aku?' batinnya.
Dulu ketika dia menginap di rumah Nura, Dewangga selalu menatapnya dingin. Bahkan lelaki itu pernah memperingatinya untuk tidak membawa dampak buruk bagi Nura. Riri kira Dewangga tidak ingin pernikahan mereka diketahui banyak orang. Tapi kenapa saat dia mengatakannya lelaki itu terlihat marah?
'Apa aku salah bicara seperti itu?'
Riri menghela napas berat. Tak mau ambil pusing, dia pun mengejar langkah lelaki itu ke luar apartemen.
Di dalam mobil keduanya saling diam. Dewangga masih dengan wajah dinginnya dan sibuk dengan ponsel. Sementara Riri sesekali akan melirik suaminya sekilas. Kedua jemarinya saling meremas mengumpulkan keberanian untuk bicara.
"Om marah?" tanyanya pada akhirnya.
Tidak ada jawaban dari lelaki itu membuat Riri mengulangi pertanyaannya. Namun, Dewangga tetap saja diam tidak merespon. Riri menghela napas pelan. “Bukankah Om nggak suka sama saya? Kenapa marah saat saya bilang nggak mau publish pernikahan kita?" Dia berkata sangat pelan.
"Dulu Om selalu memperingati saya untuk tidak berangan-angan lebih. Untuk tahu batasan dan posisi saya di mana. Kasta saya rendah jadi saya harus tau diri. Bukankah begitu? Om juga pernah bilang untuk tidak memanfaatkan situasi demi meraih keuntungan dari Om maupun Nura. Saya masih mengingatnya."
Hati Dewangga berdenyut, dia mengantongi ponselnya, membenarkan kaca mata baca lalu menatap ke arah Riri. 'Apa aku pernah berkata begitu?' batin Dewangga seakan lupa akan ucapannya sendiri.
Apa dulu ucapannya sangat menyakitkan seperti itu?
"Lihat saya," ucapnya.
Riri mendongak perlahan, menatap wajah Dewangga.
Mata sayu itu membuat Dewangga kembali merasa bersalah. Ucapannya dulu mungkin sangat menyakitkan. "Maafkan saya dan lupakan ucapan saya dulu. Sekarang kamu istri saya. Sudah seharusnya Nura tau pernikahan ini."
"Bukankah Om sudah janji kita jalani dulu selama tiga bulan? Kalau setelah tiga bulan kita enggak cocok, Om akan ceraikan saya." Riri membalas dengan suara tegas. "Aku rasa Om mengerti kesulitan saya."
Dewangga menarik diri dan kembali pada posisinya. Dia kesal karena Riri sangat keras kepala. Dia sangat yakin putrinya akan menerima pernikahan mereka.
Mereka kembali diam, tidak ada pembicaraan lagi sampai tiba di Narita International Airport (NRT). Ketika berada di dalam pesawat pun Riri tak banyak bicara begitupula Dewangga keduanya sama-sama terhanyut dalam pikiran masing-masing.
Setelah perjalanan hampir tujuh jam mereka sampai di Singapore Changi Airport (SIN). Sudah ada supir yang menjemput. Dalam mobil Riri terlihat sangat gelisah akan bertemu dengan Nura.
Melihat itu Dewangga menarik tangan Riri untuk ia genggam. "Semua akan baik-baik saja," ucapnya menenangkan.
Riri menatap tangannya yang digenggam Dewangga, lalu menatap pria itu. Dia mengangguk pelan. Ada rasa hangat menjalar dalam hati.
**,**.